
"Graciella, apa kau baik-baik saja?" Suara Monica terdengar dibarengi oleh suara ketukan halus. Tapi walaupun begitu tetap membuat Graciella sedikit kaget. Mungkin masih terbawa dengan mimpi buruknya tadi. Monica samar mendengar suara teriakan kecil dari kamar Graciella, hingga akhirnya dia putuskan untuk memeriksa keadaan Graciella.
"Eh, iya Ibu, aku baik-baik saja," teriak Graciella kecil. Dia segera turun dari ranjangnya. Merasa tak sopan untuk berbicara dengan cara begini.
"Boleh Ibu masuk?" Tanya Monica lagi. Ingat perkataan anaknya untuk tidak mengganggu Graciella saat dia sedang istirahat.
"Ya, tak apa-apa, Bu, masuk saja," jawab Graciella sambil membuka pintunya dan berupaya tersenyum.
Monica menatap wajah Graciella yang sedikit pucat. Dahinya juga tampak berkeringat. "Ada apa denganmu?
"Oh, aku hanya bermimpi buruk. Jangan khawatir Bu, aku baik-baik saja," ucap Graciella melihat wajah ibu mertuanya yang sedikit khawatir.
"Begitu. Orang hamil memang lebih baik jika tidur ditemani. Apakah kau ingin tidur kembali? Jika iya, biar ibu temani sampai kau tertidur," ujar Monica lagi dengan penuh perhatian.
"Tidak Ibu, aku rasa aku sudah cukup tidur siangnya. Lagi pula aku tidak terbiasa tidur siang."
"Baiklah, kalau begitu keluar saja. Mencari udara segar. Kau sedang ingin makan apa?"
"Ehm, aku sedang ingin makan yang manis-manis sekarang," ujar Graciella lagi. Rasanya makan manis di hari yang cukup terik lumayan juga.
"Baiklah, Ibu akan mencarikan makanan manis untukmu," ujar Monica meninggal Graciella menuju ke dapur. Mencari apakah ada makanan manis yang dia beli tadi.
"Terima kasih Bu," ucap Graciella sambil mengangguk pelan. Dia tak segera pergi ke ruang tengah. Dia kembali masuk ke kamar dan mengambil ponselnya.
Dia lalu melihat ke arah ponselnya. Awalnya ingin memberi tahu Xavier tapi dia urungkan dan hanya memberikan kabar kalau dia sudah bangun. Dia tahu pria itu bisa saja tiba-tiba muncul di depan pintu rumah ini jika sedikit saja dia menyebutkan nama Adrean.
Graciella menggigit bibirnya. Dia ingin tahu bagaimana keadaan Adrean. Bukan, bukan dia menaruh perhatian dengan pria itu. Tapi dia hanya takut bahwa mimpi tadi sebagai pertanda bahwa dia harus berhati-hati dengan Adrean. Walau merasa mungkin semua ini karena traumanya. Tapi tetap saja dia harus waspada.
Graciella segera menekan nomor ponsel Stevan yang langsung diangkat oleh yang empunya.
"Halo?" tanya Stevan. Merasa aneh karena dia belum mengabari apa pun tentang kasus ini tapi kenapa Graciella sudah menghubunginya duluan.
"Halo? Ehm, Stevan?"
"Ya? Ada apa? Kami baru berhasil membawa James ke markas. Proses interogasi masih berjalan sehingga kami belum bisa memberikanmu informasi. Lagipula, Graciella, kau lebih baik banyak istirahat sekarang, jangan terlalu memikirkan hal ini," ujar Stevan yang tahu bagaimana kebiasaan Graciella. Wanita ini sangat tekun dalam pekerjaannya.
"Eh, aku tidak menelepon gara-gara itu."
"Lalu?"
"Tadi kak Daren memgatakan bahwa Adrean adalah salah satu orang yang menjadi orang yang dicurigai bukan?"
"Benar, lalu? Apa dia melakukan sesuatu padamu?" Tanya Stevan lagi.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu, kalau begitu selama ini kalian mengintai dirinya ya?" Tanya Graciella lagi.
"Ya, kami mengawasinya. Graciella sebenarnya ada apa?"
"Eh, tidak, aku hanya sedikit khawatir. Apakah selama ini ada gerak gerik yang mencurigakan darinya?"
"Benarkah? Apakah tidak ada keanehan dari jejak internet atau dia menghubungi seseorang?" Tanya Graciella lagi.
"Tidak, sejak kematian Robert Kim, tidak ada yang berubah dari dirinya. Graciella, kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengawasinya dan jika ada sedikit saja gerak geriknya yang mencurigakan, akan aku kabarkan padamu. Sekarang, kau tidak perlu cemas lagi. Wanita hamil tak boleh cemas bukan?" Ujar Stevan dengan nada sangat pengertian. Graciella yakin pria itu sedang menenangkannya.
"Ya baiklah," ujar Graciella lagi.
"Lagipula aku yakin, Xavier pasti Sudah lebih banyak mengerahkan bawahannya untuk menjagamu. Jadi kau tak perlu khawatir. Aku urus Adrean dan Xavier yang menjagamu. Lihat, bagaimana dia ingin bertindak?" Hibur Stevan lagi.
"Ya, benar. Aku rasa memang aku hanya terlalu berlebihan. Terimakasih sudah mendengarkan rasa cemasku ini," ujar Graciella mengusap dahinya, ternyata baru sadar penuh dengan keringat.
"Ya, tak apa. Seperti slogan kami, kami selalu siap membantu," ujar Stevan sambil terkekeh di ujung sana yang tentunya membuat Greciella tertular olehnya.
"Baiklah, kabari aku jika proses interogasinya selesai," ujar Graciella lagi.
"Ya, tenang saja. Kami akan langsung memberitahukannya padamu."
"Ya sudah, aku tutup dulu ya. Semangat dan selamat bekerja."
"Pasti," ujar Stevan. Mendapatkan suntikan semangat begitu saja sudah membuatnya senang. Dia langsung menarik napasnya panjang dengan senyuman sumringah di wajahnya. Lupa kalau wanita yang baru saja meneleponnya adalah istri sahabatnya sendiri.
"Graciella, ibu tak membeli makanan manis. Tapi ibu rasa buah ini cukup manis buat kau makan," ujar Monica menyuguhkan buah mangga yang dagingnya berwarna orange. Terlihat sangat menggiurkan.
"Wah, terima kasih Bu, aku rasa ini cukup," ujar Graciella mengambil piring yang dibawa Monica.
"Makanlah, ini lebih baik memang dari pada memakan makanan yang bergula tinggi. Lebih baik untuk bayimu pula," ucap Monica senang Graciella menerima apa yang dia berikan.
"Ya, terima kasih Bu," ujar Graciella yang segera mencicipi mangga itu.
"Ibu ke dapur lagi. Mau bersiap-siap untuk memasak makan malam," pamit Monica.
"Ibu, jangan repot-repot. Aku jadi sungguh tak enak," ujar Graciella.
"Tidak, ibu tidak repot. Saat kau hamil Moira, ibu tak bisa menjagamu, kali ini biar ibu menjagamu, bagaimana pun yang ada dalam kandunganmu sekarang ada sedikit dari diriku," ujar Monica lagi, wajahnya tampak berbinar.
Graciella hanya tersenyum terharu. "Terimakasih banyak, Bu."
"Ya sudah, habiskan ya!" Ucap Monica pergi dari sana. Graciella hanya mengangguk dan memakan mangga yang rasanya sama dengan visualnya, sangat manis dan segar.
****
Detak jam terdengar keras di ruangan tiga kali enam yang cukup menyesakkan siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.
Tubuh James tampak tegang. Tangannya juga terlihat gemetar hingga harus dia sembunyikan di bawah meja interogasi itu. Dia takut dengan tatapan polisi yang ada di depannya. Tadi sore, tiba-tiba saja polisi menjemputnya paksa. Karena tak bisa menolak akhirnya dia ada di sini sekarang.
"Jadi! Tuan James! Siapa yang sudah meminta Anda untuk menyewa mobil itu?" Tanya polisi itu tegas hingga membuat tubuh James semakin gemetar karenanya.