
Antony mendengar itu hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya. "Kenapa? Kau sekarang suka berduaan denganku?" Goda Antony pada Laura. Dulu saja, Laura paling susah diajak berdua dengannya.
Laura hanya diam sejenak. Dia tak tahu kenapa tapi dia sekarang merasa ingin berdua saja dengan Antony. Rasanya, sekarang jika berduaan dengan Antony yang sekarang omlmembuatnya nyaman walaupun dari tadi detak jantungnya sudah tak beraturan. Ehm? Apakah sekarang dia sudah jatuh cinta pada pria ini? Tapi jatuh cinta dengan Antony? Rasanya aneh sekali, pikir Laura sambil melihat pria ini dari belakang. Hangat tubuhnya dan juga wangi semerbaknya sangat membuat candu Laura sekarang.
"Anggap saja begitu," ujar Laura meletakkan kepalanya bersandar di bahu Antony yang tadinya tersenyum menjadi terdiam. Awalnya hanya ingin menggoda agar Laura kesal. Tapi yang dia dapatkan malah jauh dari ekspektasinya, karena itu dia jadi terhenti sejenak.
"Kenapa berhenti! Sudah malam, nanti semuanya sudah tutup," keluh Laura lagi. Dia langsung memandang kesal ke arah Antony.
Antony tak menjawab, dia hanya tersenyum lebar sambil menggeleng-gelenhkan kepalanya. Dia kembali berjalan ke arah garasi rumah ini.
"Tunggulah di sini, aku akan menyiapkan mobilnya." Antony menurunkan Laura dan segera ingin memilih tiga dari mobil yang ada di sana.
Laura menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah motor custom yang ada di sana.
"Antony, apakah motor ini masih bisa berjalan?" Tanya Laura yang melihat Antony baru membuka mobil Mercy-nya.
"Ehm? Ya, itu milik ayahku. Masih berfungsi dengan baik."
"Kau bisa mengendarainya?"
"Tentu."
"Kalau begitu boleh naik ini saja jalan-jalannya. Malam sedang cerah, pasti akan menyenangkan. Lagi pula seumur hidup aku belum pernah naik motor sebelumnya!"
Antony mengerutkan dahinya. Dia melihat wajah Laura yang berharap sangat.
"Tapi kakimu akan tidak nyaman jika di atas motor," ujar Antony yang mengerti keadaan Laura.
"Yah! Aku bisa kok! Aku akan menahannya. Jika nanti aku sakit, kau bisa kan meminta bawahanmu menjemputku? Kita naik ini saja ya! Ya ya ya!" Laura memelas dengan wajahnya yang terlihat lucu. Antony hanya mengerutkan dahinya. Sedikit keberatan karena hari sudah mulai larut dan lagi keadaan Laura tak memungkinkan, tapi wajah Laura benar-benar berharap membuat Antony merasa tak enak menolaknya.
"Baiklah."
"Yeey!" Teriak Laura kegirangan. Akhirnya dia akan bisa naik motor.
Antony hanya menaikkan sudut bibirnya dan mengambil kunci di tempat biasa mereka meletakkannya. Dia juga membawa dua buah helm full face.
"Sini, aku pakaikan," ujar Antony memakaikan helm itu pada kepala Laura. Laura hanya berdiri tegang. Baru kali ini dia menggunakan helm dan rasanya tiba-tiba saja dia merasa terkungkung.
Antony membantu Laura untuk naik ke atas motor yang cukup besar itu. Awalnya kesulitan tapi akhirnya dia bisa menaikinya.
Antony segera menghidupkan mesin motornya yang garang. Laura mendengarnya sampai terkejut tapi juga senang. Antony menekan tombol atomatis dari pintu garasi agar garasi itu terbuka.
"Pegangan," ujar Antony.
Dia sudah tak sabar ingin keluar dari sini sekaligus menikmati perjalanan dengan motor ini.
Antony hanya tersenyum mendapat pelukan dari Laura. Dengan memutar gasnya dia segera keluar dari bagasi itu dan melesat keluar dari gerbang utama villa miliknya.
Laura awalnya sedikit takut dengan hentakan yang terjadi. Tapi saat motor itu keluar dari vila yang selama ini mengurungnya. Dia langsung terpesona dengan deretan pohon Pinus. Pantas saja dia merasa villa itu ada di tengah hutan, ternyata memang ada di tengah hutan.
Laura menatap semua seolah baru kali ini dia melihat dunia. Perjalanan mereka untuk menuju ke kota cukup jauh. Tapi semuanya dinikmati oleh Laura walau kakinya mulai terasa pegal.
Laura bagaikan seorang gadis desa yang baru mengunjungi kota. Dia begitu terpanah melihat dunia luar. Ternyata banyak hal yang sudah berubah. Padahal dia hanya baru meninggalkannya selama lebih dari setengah tahun sejak dia melarikan diri. Antony hanya tersenyum melihat tingkah Laura dari salah satu kaca spionnya.
Laura tiba-tiba menepuk punggung Antony dengan kuat. Dia yakin walau dia berteriak, Antony tidak akan mendengarnya karena helm yang mereka gunakan membuat mereka susah untuk mendengar.
Mendapat tepukan itu Antony segera menepikan motornya. Dia mengira mungkin Laura mengalami sakit di kakinya lagi.
Antony segera melihat ke arah Laura. Dia tidak bisa membuka helmnya di siji sekarang. Walaupun sudah menutup wajahnya dengan masker tapi dia takut dia tetap dikenali nantiya.
"Ada apa?" Tanya Antony membuka kaca helmnya.
"Aku lapar," ujar Laura yang juga membuka kaca helmnya. Wajahnya memelas seperti anak kecil yang kelaparan.
"Bukannya tadi sudah makan?" Antony kaget dengan pengakuan Laura. Di mana dia harus membawa Laura makan tanpa harus ketahuan.
"Iya, tapi lapar lagi karena melihat itu." Laura menunjuk ke arah sebuah restoran ayam goreng cepat saji. Antony mengerutkan dahinya. Susah dia mencari restoran fine dining yang bisa mereka kunjungi. Tapi Laura malah ingin makan makanan cepat saji itu.
"Yakin?" Tanya Antony. Dia lupa bahwa yang dibawanya sekarang adalah Laura. Wanita ini beda dengan wanita yang lain, selama ini dia juga lebih suka makanan-makanan yang cepat saji atau ada di restoran biasa, bukan restoran formal atau fine dining.
"Ya! Kita bisa pesan lewat layanan drive thru jadi kau tak perlu membuka helmmu. Bisa heboh satu restoran melihat seorang presiden datang," saran Laura.
"Baiklah," ujar Antony yang segera kembali menaiki motornya dan menuju ke restoran cepat saji itu. Dia memesan paket seember penuh ayam cepat saji agar Laura bisa puas memakannya. Perut Laura benar-benar kerocongan karena mencium wanginya.
Mereka memutuskan untuk memakan makanannya di pelataran sebuah toko toserba yang terkenal di sana. Tapi karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Keadaanya sudah cukup sepi. Antony hanya menunggu Laura yang membeli minuman juga tissu basah untuk mencuci tangannya nanti. Dia tidak bisa masuk karena jika dia masuk dengan helmnya, bisa jadi dia dianggap perampok.
Antony memperhatikan Laura yang berjalan tertatih. Dia sudah tampak biasa dengan keadannya sehingga tak terlalu nyeri lagi. Bebat dikakinya lumayan membantu.
"Tada! Aku ingin minum es ini!" Ujar Laura membeli es serut dengan rasa permen karet yang sangat besar di toko itu. Antony kaget melihatnya.
"Sudah tengah malam dan kau minum es seperti ini? Jangan minum ini, belilah teh hangat atau apa saja yang hangat," ucap Antony pada Laura.
"Tak mau!" Laura segera saja duduk di depan Antony yang mengerutkan dahinya. Tentu tak terlihat karena dia masih menggunakan helmnya. Laura hanya memandang Antony dengan wajah ngambeknya. "Mana enak makan ayam goreng dengan teh hangat. Kau seperti kakek-kakek."