
Laura menarik napasnya panjang saat membuka matanya. Cahaya matahari sudah menerobos masuk dari jendela yang segera menyilaukan pandangannya. Tapi Laura tidak bisa bergerak untuk keluar dari ranjangnya. Dekapan erat dari Antony yang tidur memeluknya dari belakang mengunci gerakannya.
Laura mencoba menggeser tangan Antony yang melingkar di bagian dadanya. Dia ingin berganti posisi untuk bisa melihat pria itu pagi ini.
Tapi baru saja dia melonggarkan tangan pria itu. Tangan Antony malah semakin erat memeluknya, membenamkannya di dalam pelukan hangat itu.
“Antony?” tanya Laura. Dia rasa pria itu sudah bangun.
“Hmm?” saut Antony berdehem tepat di telinga Laura. Laura sedikit kegelian akibat hembusan napas di belakang telinganya.
“Kau sudah bangun?” tanya Laura lagi dengan polosnya.
Mendengar itu. Antony yang tadinya ingin melanjutkan tidurnya dengan memeluk erat Laura agar wanita ini tidak pergi darinya malah tertawa kecil. Laura mengerutkan dahinya.
“Kalau tidak bangun bagaimana aku bisa menjawabmu, Nona Laura?” tanya Antony yang akhirnya melepaskan tubuh Laura. Laura mendengar itu merasa benar juga. Dia lalu melihat pria yang tidur bertelanjang dada di sampingnya itu.
Laura menatap Antony. Baru kali ini dia bangun dan pria ini ada di sampingnya. Ternyata seperti ini rasanya.
“Selamat pagi.” Antony mengecup dahi Laura yang hanya memandangi Antony.
“Selamat pagi. Aku lapar,” keluh Laura yang terbangun karena lapar. Semalaman bersama pria ini benar-benar menguras tenaganya. Apalagi mereka kembali mengulangi permainan mereka di atas ranjang. Menikmati waktu sebisa mungkin karena waktu mereka memang sangat terbatas.
“Baikah, aku akan segera meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk kita.” Antony segera keluar dari ranjangnya. Tapi baru ingin melangkah, tangannya langsung ditangkap oleh Laura. Tentu Antony segera melihat wanita itu.
“Nanti setelah itu, kembali ke sini ya,” pinta Laura dengan manja.
Antony tersenyum lebar. Dia tak menyangka akan bisa melihat bagaimana manjanya Laura padanya. “Baik, aku akan segera kembali.”
Antony segera berjalan ke arah pintunya. Laura hanya diam sambil melihat sekitarnya. Entah sudah berapa lama dia ada di sini. Bahkan dia lupa ini hari apa, tanggal berapa? sepertinya setiap hari hidupnya sama saja. Tapi dia sedikit senang karena adanya Antony sekarang di sisinya.
Tak lama Antony kembali lagi mendatangi Laura. Pemandangan Antony yang berjalan ke arahnya dengan bertelanjang dada itu benar-benar menjadi favoritnya. Ah, kenapa dari dulu dia tidak melakukan itu saja, pasti Laura tak akan menolaknya.
“Sarapan akan datang sebentar lagi,” ujar Antony duduk di sisi ranjang tempat Laura bermalas-malasan.
“Ehm, ya, eh, kau tahu tanggal berapa sekarang?” tanya Laura.
“Tanggal 16, kenapa?” tanya Antony yang mengerutkan dahinya, menyempatkan memperbaiki rambut Laura yang tampak sedikit berantakan karena baru bagun tidur.
“Benarkah? tanggal 16, kenapa aku tidak …." Mata Laura mendelik besar ke arah Antony yang mengerutkan dahi tak mengerti. "AAAA!!!" Teriak Laura histeris.
"Laura! Ada apa?!" tanya Antony yang tentu kaget mendengar teriakan Laura yang begitu kencang. Bahkan jika ada yang mendengar teriakkan Laura pasti mengira Antony sedang menyiksanya.
Laura berwajah sedih menatap ke arah Antony yang makin bingung, tadi teriak sekarang berwajah sedih. Ada apa dengan Laura?
"Kenapa kau menghamiliku! Aku kan belum siap jadi ibu!" Laura melempar bantal yang ada di sampingnya ke arah Antony. Dia seharusnya sudah haid beberapa Minggu yang lalu, tapi sampai saat ini malah belum haid. Laura Pura-pura menangis. Bagaimana dia bisa menjadi ibu? Mengurus dirinya saja dia belum mampu, apa kata anaknya nanti, lahir dari ibu yang super aneh seperti dirinya.
"Eh? Apa? Kau hamil?" Tanya Antony yang kaget mendengar kata-kata Laura. Dia bahkan sampai berdiri, dan memandang Laura yang bermata yang sayu. Tapi tak lama Antony tampak tersenyum lebar tak percaya. Wajahnya tampak begitu bahagia. Dia tak menyangka, benarkah dia akan punya anak dari Laura. Ini seperti surga baginya, Mendapatkan cinta Laura dan mendapatkan buah hati mereka. Impiannnya sejak lama.
"Tidak tahu, tapi aku sudah telat haid! Seharusnya aku haid awal bulan lalu! Ah!!! Kenapa hamil sekarang!" Teriak Laura lagi frustasi.
Tapi Laura langsung terdiam ketika Antony memeluknya dengan sangat erat. Pelukan hangat yang begitu menghantarkan perasaannya.
"Terima kasih. Ini benar-benar hari paling bahagia untukku. Laura, terima kasih sudah mau membawa anakku di rahimmu," bisik Antony yang seketika meredam sikap berlebihan dari Laura.
"Baiklah," ujar Laura. Dia lalu merasakan Antony yang perlahan melepaskan pelukannya. Ingin menatap wajah calon ibu dari anaknya. Antony mengecup pelan dahi Laura dan senyuman sumringan itu tak pupus dari wajahnya.
"Terima kasih," ujarnya lagi. Tak ada kata yang bisa dia sampaikan kecuali hal itu. Dia benar-benar senang mendengarnya.
"Ya, tapi sebenarnya ini belum pasti." Laura menatap Antony yang mengerutkan dahi. Terlalu dini menyimpulkan kehamilan saat telat haid. Tadi Laura hanya sedikit histeris karena memang merasa tak ingin hamil sekarang.
"Lalu bagaimana memastikannya?"
"Aku harus melakukan tes dulu dan …."
"Aku akan memanggil dokter pribadiku!" Anotny langsung terlonjak. Ya, orang hamil bukannya harus di periksa oleh dokter?
"Eh? Tidak perlu. Cukup beli testpack saja," ujar Laura yang melihat Antony sudah siap siaga ingin keluar.
"Test Pack?" Antony belum pernah menjadi ayah, mendengar hal itu tentu membuatnya bingung.
"Iya, alat pendeteksi kehamilan."
"Alat itu beli di mana?"
"Ehm, banyak, di apotik, toko obat, bahkan terkadang di supermarket juga ada."
"Baiklah aku akan memerintahkan penjagaku untuk mencarinya. Tapi apa tidak lebih bagus memanggil dokter?" tanya Antony lagi.
"Antony! Aku juga dokter, aku tahu bagaimana membacanya. Sudah sana, belikan aku testpack. Kalau boleh sekalian titip eskrim Vanila lagi ya?" Kata Laura mengusir Antony yang langsung pergi keluar.
***
Wajah Laura sedikit memerah. Dia malu menyerahkan air seninya pada dokter yang entah kenapa tetap saja dipanggil oleh Antony.
"Letakkan saja di sini Nona," ujar Dokter itu memberikan alas di meja ruang tengah.
Laura menatap ke arah Antony yang tampak tegang menunggu hasilnya. Wajah Laura tampak ngambek, sudah dibilang cukup beli testpack-nya saja. Dia malah memanggil dokter ini. Apalagi dokternya ini tahu bahwa Laura juga seorang dokter. Apakah tidak malu? Bisa saja dokter ini berpikir masa testpack saja harus dia yang memeriksa!
"Es krimku mana?" Todong Laura pada Antony yang terus melihat apa yang dilakukan oleh dokter itu. Dia sedang mencelupkan sebuah alat ke dalam air seni Laura.
"Eh? Dokter, apakah orang hamil boleh minum eskrim?" Tanya Antony memastikan. Dia tak ingin terjadi apa-apa terhadap anaknya, apalagi pada Laura.
"Tidak apa-apa! Jangan bertanya padanya! Aku sudah bilang aku juga dokter," kesal Laura.
"Boleh, asal jangan terlalu banyak. Kita takut udara dingin akan membuat Anda malah terserang flu," ujar Dokter itu dengan sabar.
"Dengar? Jangan terlalu banyak, nanti kau bisa flu," ujar Antony.
Laura membesarkan matanya melotot dengan wajah yang kesal. Bagaimana Antony bisa menjengkelkan ini!
Antony yang melihat wajah marah Laura langsung membuang muka. Semua demi kebaikan Laura sendiri.
Antony melihat ke arah dokter yang sedang memeriksa alat yang dia pakai tadi. Begitu saja kah caranya? Hanya mencelupkannya ke dalam air seni dan hasilnya keluar.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Antony langsung. Mendengar itu Laura juga melihat ke arah dokter yang memperhatikan testpack miliknya.