
“Aku rasa aku tidak bisa menunggu hingga tahun baru.” Antony menatap ke arah Adelia dengan tatapannya yang meminta maaf tapi juga serius.
Adelia yang dulu merasa senang jika Antony tiba-tiba mengajaknya untuk berbicara seraya makan malam, sekarang malah takut jika pria itu melakukannya. Dia sudah tahu pasti ada hal penting yang ingin dilakukan suami di atas kertasnya ini.
“Kenapa?” tanya Adelia yang menggertakkan giginya. Dia tahu tidak akan semudah ini membuat pria ini bertahan walau hanya beberapa bulan lagi.
“Laura, dia sedang mengandung anakku dan aku rasa aku akan mengundurkan diri dari jabatan ini, lalu kita sepertinya harus berpisah. Aku yang akan menanggung semuanya. Kau tidak perlu khawatir, namamu akan bersih sehingga aku yakin kau akan mendapat pria yang lebih baik dari pada aku nantinya.” Antony menjelaskannya dengan sangat tegas.
Adelia menatap pria yang ada di depannya itu dengan tatapan tak percaya. Tak ada rasa takut, menyesal atau bagaimana muncul di wajah Antony. Dia bahkan terlihat sedikit girang. Apakah karena Laura sudah mengandung anaknya.
“Lalu kau akan membiarkan semua ini? Kau ingat bagaimana perjuanganmu dulu untuk mencapai semua ini? Banyak hal yang sudah dikorbankan untuk ini? Apakah kau tidak bisa melihat pengorbanan mereka dan hanya melihat Laura?” tanya Adelia sampai menggebrak meja terlonjak kaget.
Antony tak mengharap bahwa Adelia akan menerima apa yang dia katakan dengan baik. Wanita itu pastilah akan tak terima. Semua orang yang dia katakan seperti ini pasti tidak akan terima.
“Maafkan aku, tapi aku tidak ingin anakku yang nantinya menjadi korban. Aku tidak ingin dia lahir tanpa diriku di sampingnya atau aku tidak ingin anakku bahkan tidak bisa memanggilku ayah secara langsung. Aku harap kau mengerti.” Antony segera berdiri dan meninggalkan wanita itu. Tentu saja dia tidak ingin melanjutkan perbincangan yang mungkin saja akan menjadi sebuah pertengkaran yang panjang.
“Kau selalu ingin dimengerti. Lalu apa kau tidak bisa mengerti aku?! Bagaimana denganku? Siapa yang akan mengerti diriku?” tanya Adelia dengan gayanya. Berusaha untuk mengejar Antony tapi pria itu langsung berhenti.
“Carilah seseorang yang bisa mengerti. Tapi yang pasti dia bukan aku.” Antony menatap ke arah mata Adelia yang sudah memerah dan berkaca-kaca. Kenapa? Pria yang dia nikahi ini begitu kejam.
Antony tidak ingin melanjutkannya. Dia harus bersiap untuk membuat surat dan pidato pengunduran dirinya sebelum ada yang berusaha membuatnya menghentikan langkah ini.
Adelia hanya terdiam dengan perasaan yang kembali hancur. Entahlah, entah sampai sehancur apa perasaannya hingga akhrinya dia tidak bisa lagi berharap pada pria yang sekarang meninggalkannya sendiri. Kembali, hanya menangis sendiri. Adelia tidak lagi punya harapan, bahkan jika Antony tidak menceraikannya, saat dia turun dari jabatan presiden ini. Ayahnya pasti memintanya untuk segera berpisah dengan pria yang pasti dianggap ayahnya tidak tahu balas budi itu. Baginya, sudah tak ada jalan apa pun untuk bisa bersama dengan Antony.
**
Adelia menatap ke arah malam yang sebenarnya penuh dengan bintang dan juga bulan yang bersinar terang. Semilir angin malam yang dingin tidak membuat tubuhnya menggigil sama sekali karena rasa panas dan hancurnya di dalam hati lebih terasa dari pada itu semua.
Air matanya mengalir turun cepat menyusuri pipi dan jatuh sebagian ke telapak tangannya yang hanya terkulai layu dalam pangkuannya. Di sini dia sekarang, di taman kecil dari istana kepresidenan. Keheningan dan juga sepi ini bahkan lebih parah sekarang.
Dia mengusap air mata yang menghiasi wajah cantiknya. Sangat cantik hingga begitu sayang dialiri oleh air matanya. Tapi, setiap kali dia menghapusnya, air mata yang baru terus menggantikannya. Entahlah, entah dibagian mana hatinya bisa merasakan sakit seperti ini.
Adelia langsung menghapus air matanya dengan kasar ketika mendengar sedikit suara yang mendekat ke arahnya. Dia langsung melihat siapa gerangan. Walau tak mungkin terjadi tapi dia ingin setidaknya itu adalah suaminya. Tapi harapannya segera pupus melihat Raftan yang berjalan mendekatinya, kenapa malah pria ini lagi.
“Apa yang kau lakukan di sini? Tak bisakah aku sendiri?” tanya Adelia memutar kembali tubuhnya membuat Raftan berhenti.
“Pergilah, aku ingin sendiri. Ini perintah!” ujar Adelia yang sangat kesal dengan sikap Raftan yang malah memaksa untuk ada di sana sekarang.
“Maaf Nyonya, tapi saya tidak bisa.” tegas Raftan.
Adelia yang mendengar itu tentu semakin kesal sekali dengan pria itu. Dia berdiri dan segera melangkah ke arah Raftan yang tampak bersikap siaga. Tapi matanya mengikuti semua pergerakan dari Adelia.
“Sudah aku katakan! Pergi saja! Pergi! Kenapa kau keras kepala sekali! Kenapa!” tanya Adelia yang langsung memukuli tubuh Raftan. Tentu untuk tentara khusus, pukulan Adelia tidak terasa apa-apa bagi Raftan yang hanya menerima hal itu tampak menapis sama sekali.
“Kenapa malah kau yang datang! Kenapa selalu kau saja yang ada di saat aku tak ingin ada siapa pun yang datang! Kau pikir kau ini siapa! Ha!” teriak Adelia dengan histeris yang mencoba menumpahkan semua kekesalan, kemarahan, frustasi dalam dirinya pada Raftan. Dia bahkan tak tahu perasaan ini apakah benar karena kedatangan Raftan atau malah karena Antony.
Plak!
Suara tamparan keras yang tidak disengaja oleh Adelia itu terdengar keras hingga menyadarkan Adelia dengan apa yang sudah dia lakukan. Dia bahkan sampai terkejut. Kenapa dia melakukan hal ini pada Raftan, padahal pria itu tidak melakukan apa-apa, dan mungkin niatnya baik untuk menemani dan menjaga Adelia.
Adelia hanya menatap wajah Raftan yang sedikit terpaling oleh sebab tamparannya. Jejak merah itu tampak sebagai tanda bahwa tamparan itu sangat kuat. Raftan hanya diam saja dan kembali bersikap siap untuk menerima semua kemarahan Adelia.
“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Adelia tampak kaget dengan sikap Raftan yang tampak menerima semua kelakuannya.
“Aku hanya menjalankan tugasku Nyonya. Aku akan melindungi Anda dari apa pun.” Raftan menjawabnya tegas yang tatapannya langsung masuk ke dalam relung hati Adelia yang paling dalam. Kenapa pria ini malah seperti ini padanya?
Adelia yang mendengar itu langsung menangis dengan tersedu-sedu. Seharusnya itu dia dengar dari mulut suaminya. Tapi kenapa? Kata-kata itu malah muncul darinya. Adelia langsung berjongkok menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Menumpahkan rasa hatinya yang benar-benar sakit hingga rasanya terkoyak-koyak. Bagaimana bisa suaminya sendiri tidak melakukan ini padanya.
Raftan yang melihat bagaimana tubuh Adelia terguncang dengan suara tangis yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya awalnya tak ingin mengambil sikap karena memang diluar dari pekerjaannya. Tapi entah kenapa dia bisa merasakan pilu yang tersampaikan dari tangisan Adelia. Dia akan menjaganya dari apa pun juga bukan? Itulah sumpahnya. Jadi dia juga harus menjaga nyonyanya ini dari kesedihan.
“Nyonya, Anda jangan menangis.” Raftan mencoba untuk membungkuk agar bisa menarik tubuh Adelia.
Tapi entah apa yang membuat berpikir seperti ini, entah bagaimana, dia malah menerjang tubuh pria yang ada di depannya dan segera memeluk Raftan dengan sangat erat. Raftan saja sangat kaget mendapatkan pelukan erat itu hingga dia berdiri dengan tegak.
“Sebentar saja, aku hanya butuh seseorang yang menenangkanku.” Adelia mengatakannya dengan tangis tersedu. Dia memang selalu butuh pelukan jika dia sedang sedih, setidaknya itulah yang ibunya selalu lakukan padanya dulu.
Raftan merasa tak nyaman tapi karena mendengar suara tangis dan permintaan Adelia yang terus menjadi membuat Raftan perlahan-lahan mencoba menerimanya. Bahkan dia membalas pelukan itu. Yang dia yakin, wanita ini pastilah hanya butuh kenyamanan. Hanya itu saja bukan?