Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 234. Lakukan saja!


“Lakukan saja. Jika perlu ke rumah sakit. Bawa saja,” ujar Antony langsung.


“Tapi Tuan!” ujar Max yang  mendengar itu langsung mengerutkan dahinya. Dia tahu konsekuensi yang akan ditanggung oleh Antony. Bisa saja dia dilaporkan dan kedudukannya sebagai Presiden pastilah berakhir. Selain itu dia juga bisa masuk penjara karena sudah menyekap gadis ini. Wanita ini! Benar-benar hanya membawa kesialan bagi Tuannya.


“Itu keputusanku!” Tegas Antony yang langsung membuat Max terdiam.


“Baiklah, aku butuh ketenangan sekarang,” kata dokter itu tetap tenang. Itu sangat dia butuhkan untuk sekarang. Dia harus tenang dan mencari kembali vena Laura di lipatan sikunya yang lain. Dokter itu menarik napasnya. Tak berbeda jauh dari yang tadi bahkan lebih halus. Dia harus mencobanya sekali lagi.


“Abocath,” pintanya kembali pada perawat. Perawat langsung memberikan abocath yang baru.


Dokter itu kembali menarik napasnya. Kali ini dengan mantap dia mencoba untuk memasukkan ujung jarum yang tajam itu. Laura kembali meringis walaupun hanya dalam bentuk kerutan wajahnya. Matanya masih tertutup rapat.


Dokter itu menggigit bibirnya. Sekali lagi tidak ada darah yang keluar dari sana. Dahinya mulai berkeringat karena tegang. Jangan lagi, pikirnya. Dia lalu segera menarik sedikit jarum itu. Mencoba mencari di sekitarnya.


“Darah dokter!” ujar perawat itu kesenangan. Hal ini juga membuatnya tegang.


“Cepat lepaskan torniquet-nya,” kata dokter itu cepat-cepat. Perawat itu langsung membuka alat yang membendung aliran darah. Dokter memasukkan perlahan bagian plastik dari abocath dan mengeluarkan bagian besinya bersamaan. Karena jika dia terlalu cepat memasukkan bagian plastik tapi bagian besinya masih ada, maka pembuluh darahnya bisa pecah. Jika dia mengeluarkan bagian besinya terlalu cepat dari pada memasukkan bagian plastiknya. Maka abocath itu akan rusak dan bengkok. Semuanya harus sesuai.


“Selang, mana selangnya?” tanya Dokter itu dengan tangan yang meminta tanpa membuang pandangnya. Darah kental berwarna merah kehitaman langsung menetes cepat dari abocath itu, tanda bagus untuknya. Setidaknya itu bertanda bahwa dia sudah benar melakukannya.


Tinggal satu hal yang harus dia waspadai. Jika selang infus itu tidak menetes artinya gagal. Jika pun menetes dan terjadi kulit yang menggelembung artinya gagal. Pembuluh darahnya pecah.


Dokter itu mengamati semuanya. Dan akhirnya, cairan itu masuk ke dalam dan juga kulit Laura tidak menggembung sama sekali.


Dokter itu menarik napas dalam sekali lalu segera tersenyum pada perawatnya. Walaupun hanya memasang infus, tapi rasanya cukup menegangkan. Dokter itu segera memberikan perekat agar selang infus itu tidak banyak bergerak atau paling parahnya tercabut.


“Buat saja tetesan paling cepat hingga habis. Kita harus memasang kateter untuk memantau urinnya. Tuan, tuan lebih baik kita keluar, biar perawat saja yang melakukannya,” ujar dokter itu. Tentu saja dia tahu wanita ini adalah wanita yang sangat spesial untuk Antony. Jadi lebih baik dia menyerahkan tugas itu pada perawat wanita yang dia bawa. Mereka semua patuh dan segera keluar dari kamar itu.


“Bagaimana dengan keadaannya?” tanya Antony selepas di luar ruangan Laura.


“Kita pantau dulu. Mudah-mudahan tidak ada komplikasi yang berarti. Aku hanya khawatir dengan ginjalnya. Mari berharap semuanya baik-baik saja. Permisi, aku harus mencuci tanganku,” ujar dokter itu lagi.


Saat dokter itu telah meninggalkan mereka. Pandangan Antony jatuh pada Max. “Kenapa kau tidak mengabarkan padaku bahwa dia tidak makan dan minum selama empat hari?”


Max mendengar itu membesarkan sedikit matanya. Dia memang tidak melaporkan apapun tentang keadaan Laura. Dia tidak ingin hal ini membuat pekerjaan Antony di sana terganggu. Dia yakin, kalau saja dia melaporkannya. Dalam sekejap saja, Antony akan pulang menemui wanita itu. Tapi siapa yang sudah melaporkannya? pasti pelayan wanita itu!


“Aku tidak tahu dia tidak makan dan minum selama empat hari. Dia memang tak ingin makan sebelumnya. Tapi aku sudah memintanya untuk makan. Setelah itu aku sibuk mengurus kamar Anda dan menyerahkannya pada seorang pelayan wanita yang aku percayakan mengurus semua keperluan Nona karena aku merasa segan untuk masuk ke kamar Nona Laura. Aku hanya memeriksa keadaannya dari luar dan dia terlihat seperti sedang istirahat. Pelayan wanita itu tidak ada melaporkan tentang keadaan Nona Laura. Maaf Tuan, saya lalai melakukan tugas saya,” jawab Max dengan tegas. Dia tahu bahwa Antony tak ingin ada siapa pun yang menyentuh Laura. Bahkan dia menugaskan hanya pelayan wanita yang boleh masuk ke dalam tempat Laura. Karena itu dia tahu dia bisa menyalahkan pelayan wanita itu.


“Pecat pelayan wanita itu! Berikan dia kompensasi agar tutup mulut. Jika dia mencoba untuk membuka mulutnya. Maka kau tahu harus bertindak apa,” ujar Antony.


“Baik Tuan!” jawab Max tegas. Dia segera pergi dari sana. Antony hanya menarik napasnya panjang. Semua orang di sini sudah membuat perjanjian. Jika mereka melapor tentang apa yang terjadi maka mereka harus menanggung akibatnya yaitu kehilangan kebebasan mereka seperti Laura.


Antony menunggu semalaman di kamar itu. Laura belum juga sadar walaupun dokter mengatakan keadaannya sudah masuk dalam keadaan stabil.


Demamnya sudah turun dan wajahnya tampak lebih berseri. Antony tahu dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi untuk menjaga Laura. Beberapa menit lagi matahari akan terbit.


"Max!" panggil Antony.


"Siap Tuan?"


"Aku mau kau memindahkannya ke Vila milikku," ujar Antony. Tempat ini tak bagus untuk Laura. Setidaknya dia harus mendapatkan sinar matahari.


"Anda yakin?" tanya Max.


"Ya! dan jangan sampai terjadi apa-apa padanya. jika terjadi apa-apa, maka aku akan menyalahkanmu. Dia tanggung jawabmu sampai aku tiba di sana," ujar Antony lagi dengan tegas.


"Baik Tuan," jawab Max lagi. Mau tak mau mengikuti perintah Tuannya ini.


Antony kembali melihat ke arah Laura yang masih lekat matanya menutup. Dia merema*s tangan Laura yang semalaman ini dia genggam. Dia tak akan membiarkan Laura seperti ini lagi. Itu janjinya.