Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 129. Apa dia sudah datang?


Graciella baru saja selesai mandi. Dia mengusapkan handuk kecil ke rambutnya yang basah bersamaan dengan itu Graciella tersenyum lucu mendapatkan pesan dari Stevan. Tidak menyangka pria dengan kelakuan seperti ini bisa menjadi seorang jenderal kepolisian. Entah apa yang dipikirkan oleh Stevan, tiba-tiba saja dia menelepon Graciella. Graciella langsung mengangkatnya.


“Halo, Jenderal Stevan?” jawab Graciella dengan tawanya.


“Ya ampun! Aku sangat terharu kau memanggilku begitu! Apa yang sedang kau lakukan?” ujar Stevan lagi.


“Tidak ada, hanya baru mandi!” jawab Graciella lagi.


“Jika ada apa-apa kau harus menghubungi aku ya!” ujar Stevan sedikit serius. Graciella mengerutkan dahinya. Entah sudah berapa kali sejak tadi Stevan mengatakan hal ini padanya. Sebelum mereka pulang tadi dia juga mengatakan hal ini.


Stevan hanya takut terjadi apa-apa lagi dengan Graciella. Dengan kepulangan wanita ini, rasa cemasnya meningkat. Sejujurnya, Graciella adalah alasan utama dia ingin mendapatkan jabatan jenderal kepolisian. Bagaimana pun di simpan, dia masih tidak bisa merima kematian Moira. Gadis kecil itu begitu berbekas dalam hatinya.


“Memangnya jika terjadi sesuatu padaku sekarang, kau bisa datang sekarang juga?” ujar Graciella bercanda. Tapi saat dia mengatakan hal itu tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di pintunya. Graciella mengerutkan dahinya sambil melangkah ke arah pintu rumahnya. Apa Stevan memang ada di depan rumahnya?


“Tentu saja bisa, aku kan punya pintu kemana saja milik doraemon!” ujar Stevan kembali bercanda tapi Graciella tidak terlalu mendengarnya. Dia hanya mengarah ke pintunya yang sekali lagi diketuk. Tak mungkin Stevan datang begitu saja.


Graciella membuka pintu itu. Matanya segera membesar melihat sosok yang ada di depannya. Kenapa pria ini sekarang ada di depannya?


“Halo, Nona Graciella? Kau masih di sana?” suara Stevan terdengar dari ponsel itu tentu membuat Graciella langsung sadar bahwa panggilannya masih tersambung. Xavier meletakan jari telunjuknya ke depan bibirnya memberikan maksud untuk tidak mengatakan apapun tentang dirinya.


“Oh ya? Aku di sini! Ada hal yang harus aku lakukan Stevan, aku akan menghubungimu lagi nantinya!” ujar Graciella langsung gelagapan karena dia sangat kaget bagaimana pria ini tahu dia ada di sini? Sorot mata Xavier tampak menyuram ketika melihat Graciella mengatakan nama Stevan. Sepertinya dia memang punya hubungan khusus dengan Graciella.


“Nona Graciella? Apakah kau tidak apa-apa?” tanya Stevan yang merasa aneh.


“Tidak, aku tidak apa-apa, tak perlu cemas. Hanya … hanya sedikit urusan! Bye!” ujar Graciella segera mematikan panggilan dari Stevan dan langsung melihat ke arah Xavier. “Kau? Kenapa ada di sini? Bukannya sudah aku katakan bahwa aku sudah tidak ingin lagi ada berurusan denganmu?” ujar Graciella.


“Aku sudah bercerai,” ujar Xavier dengan tenangnya menunjukan jari manis yang hanya meninggalkan jejak bekas cincin pernikahannya. Graciella membesarkan matanya. Kenapa tiba-tiba saja dia bercerai. Jangan bilang itu gara-gara Graciella.


“E? Itu bukan urusanku! Tetap saja aku tidak ingin  berhubungan denganmu, lebih baik kau pergi saja!” ujar Graciella segera menutup pintu rumahnya. Tapi ternyata pintu itu tertahan karena Xavier memegang pinggiran daun pintu itu. Saat Graciella mendorongnya dengan kuat, tangan Xavier menjadi terjepit diantaranya.


Graciella langsung kaget hingga mulutnya terbuka melihat jari jemari Xavier yang terjepit di antara pintu. Dengan cepat dia segera kembali membuka pintunya melihat wajah Xavier yang tampak menahan sakit.


“Kenapa kau lakukan itu?” ujar Graciella langsung memegang tangan Xavier. Tiga jarinya terlihat mengelupas dan  sedikit memerah dan membiru.


Xavier menaikan sudut bibirnya sedikit membuat senyuman manis. Xavier merasa senang melihat wajah khawatir yang ditunjukkan oleh Graciella.


“Kemari! Biar aku membersihkan lukamu!” ujar Graciella menarik tangan Xavier membawanya masuk ke dalam rumah itu. “Duduk dulu di sini, aku akan mengambil cairan anti septik dulu.”


Graciella langsung mengambil kotak pertolongan dasar yang memang selalu dia bawa mana tahu dia membutuhkannya. Graciella langsung membukanya dan meletakkan cairan antiseptik ke atas kasa.


“Ke sini!” ujar Graciella yang melihat Xavier menyembunyikan tangannya. Xavier mengerutkan dahinya, sebenarnya luka ini sama sekali tidak berpengaruh padanya. Dia sering mendapatkan yang lebih parah dari pada ini. Melihat Xavier yang enggan menyerahkan tangannya, Graciella berpikir pria ini pasti takut diobati seperti pasien-pasiennya. Tampak garang tapi takut diobati. Graciella langsung mengambil tangan Xavier. “Agak nyeri sedikit ya,” ujar Graciella mulai menepuk luka itu dengan cairan antiseptiknya.


Suasana hening sejenak. Xavier memandang Graciella dengan penuh arti. Graciella menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak melihat tatapan sendu yang dia tahu akan membuat dirinya kembali terperangkap. Tapi dengan begini saja rasanya jantung Graciella sudah ingin berontak keluar dari tubuhnya, lagi-lagi dia merasakan seluruh tubuhnya panas terutama pipinya. Graciella mencoba meniup luka itu agar tak terlalu perih. Xavier menyukai semua hal yang dilakukan oleh Greciella sekarang.


“Terima kasih,” ujar Xavier lembut seperti berbisik dengan suaranya yang berat. Seketika membuat hati Graciella bergetar.


“Sama-sama, jangan berpikir macam-macam. Aku hanya merasa bersalah dan memang naluriku sebagai dokter,” ujar Graciella mengoleskan krim agar luka itu tidak menjadi infeksi.


“Sudah selesai. Pulanglah!” ujar Graciella lagi.


“Boleh aku menginap di sini?” tanya Xavier langsung.


“Tidak! Lagipula setelah bercerai kau memang tidak punya rumah. Bukannya kau seorang jenderal, seharusnya kau punya tempat di salah satu markas militer di negara ini.”


“Aku sedang tidak ingin ada yang tahu tentang keberadaanku.”


“Kenapa?”


“Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan dan itu adalah misi rahasia.”


“Jadi menurutmu ini adalah tempat yang cocok?”


“Tentu, mereka tidak akan menyangka aku ada di komplek departemen penyelidik, lagi pula jika ada yang mengikutiku mereka tidak akan boleh masuk ke sini tanpa ada izin,”  ujar Xavier dengan sangat serius, membuat Graciella menjadi ikut serius karenanya.


“Lalu bagaimana kau bisa masuk?” tanya Graciella.


“Aku mengatakan bahwa aku adalah kekasihmu.”


“Ha? Begitu saja mereka mengizinkanmu masuk?” tanya Graciella tidak percaya, mudah sekali?


“Tidak, aku harus menunjukkan kartu kemiliteranku,” ujar Xavier.


“Pantas, tidak mungkin ada yang bisa melarang seorang Jenderal masuk ke dalam sini,” gumam Graciella dengan wajah yang sedikit kesal.


“Aku dan beberapa bawahanku akan melakukan pertemuan di sini. Ini sangat penting, tolong izinkan aku untuk melakukan pertemuan dan tinggal di sini malam ini,” ujar Xavier lagi dengan wajah yang sebenarnya datar menatap ke arah Graciella.


Graciella memainkan bibirnya mencoba untuk berpikir. Matanya jatuh ke arah ketiga tangan Xavier yang mulai terlihat membiru lebih luas akibat perbuatannya.


“Baiklah, hanya malam ini,” ujar Graciella lagi. “Kau boleh tidur di kamar mana pun. Aku akan masuk ke kamarku sekarang dan tidak akan mengganggu kalian setelah ini.” Graciella segera ingin berjalan masuk ke dalam menuju kamarnya.


“Kau dan Stevan?” tanya Xavier. Dia ingin tahu apa hubungan mereka berdua tapi kata-kata itu tidak bisa meluncur dari bibirnya.


“Aku dan dia hanya sebagai sahabat baik. Dia memang seperti itu, dia suka menggoda siapa pun. Bukan aku saja, bahkan dia juga suka menggoda Laura. Eh? Kenapa aku harus menjelaskannya padamu, aku rasa aku butuh istirahat sekarang,” ujar Graceilla yang entah kenapa bisa selalu terbuka terhadap Xavier.


“Baiklah, selamat malam. Sekali lagi terima kasih,” ujar Xavier mendekati Graciella. Melihat Xavier yang mendekat Graciella langsung tampak salah tingkah dan panik.


“Ya, ya, selamat malam,” ujar Graciella langsung segera masuk ke dalam dengan berlari kecil. Xavier sampai mengerutkan dahinya melihat gelagat wanita itu yang seolah kabur darinya. Sebenarnya aneh, tapi bagi Xavier itu cukup lucu.


Graciella menepuk dahinya. Bagaimana dia bisa bertindak sebegitu bodohnya di depan Xavier. Dia berlari seperti saja terlihat sangat salah tingkah. Pasti Xavier merasa Graciella wanita yang aneh. Tapi kenapa dia harus peduli dengan semua itu? Graciella harus cepat tidur, esok dia harus bekerja.


Xavier duduk di sofa ruang tamu yang tak terlalu besar. Rumah ini hanya rumah sederhana. Ada dua kamar di bagian bawah, dan satu di bagian atas. Desainnya yang minimalis dengan dominasi warna putih dan krim.


Saat ponsel Xavier berdering dia segera mengangkatnya. “Apakah dia sudah datang?”