Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 154. aku lakukan sebisaku!!


Xavier menggulung lengan kemeja putihnya hingga sampai sebatas siku. dia berjalan ke tengah gudang kosong tempat dia dan Stevan sekarang berada. Dia lalu melirik ke arah Stevan yang juga mengikuti langkahnya, menggulung kemeja hitamnya dan akhirnya mereka berhenti saling berhadapan.


"Katakan, apa yang kau mau jelaskan padaku? huh?" ujar Stevan yang menatap sahabat masa kecilnya itu.


Xavier hanya memandang Stevan yang tampak sangat kesal dengannya. Sudah empat tahun dia tidak bertegur sapa dengan pria ini karena masalah yang dulu pernah terjadi.


"Kenapa diam saja? kau ingin apa? ingin menunjukkan bahwa kau bisa melakukan segalanya lebih dari aku? huh! kau Jenderal! sekarang aku juga Jenderal! Jangan sesuka hatimu lagi tiba-tiba menghilang empat tahun lalu tiba-tiba saja muncul dan ingin berbicara!" ujar Stevan kesal. Sudah berapa kali dia mencoba menghubungi dan ingin bertemu dengan pria ini. Tapi selalu saja mendapatkan jalan buntu. Setahun dia masih mencoba keras menyadarkan pria ini, tahun kedua dia masih berharap. Tahun ketiga, dia menyerah. Mungkin lebih baik untuk tidak berhubungan lagi dengannya dan menjaga Graciella sendiri.


"Kau masih ingat jika kita punya masalah masing-masing, kita akan menuntaskannya dengan berkelahi hingga esok kita tak akan punya dendam sama sekali?" ujar Xavier menatap Stevan dengan tajam.


"Oh, jadi kau mau menyelesaikannya dengan cara begitu kah? ok! ini akan jadi pertarungan yang panjang karena aku sudah memendamnya selama empat tahun!" ujar Stevan seraya memulai langkah mencoba menyerang Xavier. Tapi Xavier tampak dengan lihainya menangkis semua hal yang diberikan oleh Stevan. Beberapa kali melayangkan pukulan dan tendangan Xavier dengan mudah menangkisnya.


"Ayo! keluarkan. Empat tahun ini juga kau pasti ada masalah denganku! tak mungkin kau menolak kedatangan ku hanya iseng belaka!" ujar Stevan yang mencoba memancing Xavier.


"Baiklah!" ujar Xavier. dia segera melayangkan pukulan, yang pertama ditangkis oleh Stevan, tapi serangan kedua mulai membuatnya kewalahan karena terlalu cepat Xavier melakukannya hingga akhirnya serangan ketiga telak mengenai wajahnya hingga membuatnya tersungkur. Stevan memegangi ujung bibirnya yang perih. Darah segar segera keluar dari bibirnya.


Stevan melirik tajam ke arah Xavier yang berjalan mengelilinginya. Napasnya pun tampak sama-sama sudah memburu.


"Itu untuk membiarkan Malagha meninggal," ujar Xavier.


"Cih, jadi kau masih terperangkap dengan ingatan itu? apa yang dikatakan mereka? aku meninggalkannya sendirian? bukannya sudah aku katakan aku hanya bertemu dengannya di jalan dan menyapanya? kau tidak ingat aku menelepon mu? aku yang memberikan tahumu di mana dia! aku tidak tahu siapa yang menyerangnya! aku juga harus bertemu atasanku segera! apa kau tidak ingat itu semua!" ujar Stevan menggebu. Itukah alasan kenapa Xavier tak ingin menemuinya? dulu dia juga melakukan hal ini, tapi Stevan sempat menjelaskan semuanya. Xavier menyalahkan dirinya, kenapa tak menunggu hingga Xavier datang sehingga Malagha akhirnya meninggal dunia.


"Bukan itu yang dikatakan oleh mereka padaku!" ujar Xavier.


"Lalu?"


"Mereka mengatakan bahwa kau meninggalkannya dan membiarkannya saja karena kau sakit hati karena dia telah menolakmu! lagipula kau meneleponku hanya karena kau sadar mereka tak sekedar menyerangnya, mereka membunuhnya. Tak ingin dijadikan tersangka kau melakukan hal itu!" ujar Xavier.


"Dan kau percaya! ayolah! kita sudah tumbuh bersama sejak sekolah dasar. Sudah berapa kali aku katakan, mungkin aku lelaki yang terlihat suka menggoda wanita. Tapi aku tidak akan pernah menggoda pacar temanku sendiri?!" teriak Stevan dengan sangat emosi! mudah sekali Xavier termakan omongan mereka. Walaupun Stevan tahu, kejadian itu sangat membekas dan sangat membuatnya trauma.


"Lalu bagaimana dengan Graciella!" ujar Xavier dengan tatapan serius.


Stevan terdiam. Dia langsung memipihkan bibirnya. Sekian tahun menjaganya. Melihat segala kesedihan yang dia lewati. Seberapa tangguhnya wanita itu. Bohong jika tak ada rasa yang timbul untuknya.


"Aku hanya memegang janjiku padamu sebelum kau menghilang meninggalkannya dengan semua luka. Kau malah sibuk dengan pernikahanmu saat dia melompat ke sungai untuk mengakhiri hidupnya! saat kau sibuk dengan jabatanmu! aku sibuk menjaganya agar dia tak lagi mengingat semua hal yang membuatnya tertekan! menurutmu? empat tahun dengannya! melindunginya! apakah tak normal jika aku menyukainya! kau juga sudah meninggalkannya!" ujar Stevan.


"Berhenti menyukainya! aku sudah kembali dengannya dan akan melindunginya! kami sudah sering tidur bersama!" ujar Xavier datar.


" Cih, Xavier! kau tak perlu mengatakan hal itu padaku! kau mungkin akan melindunginya dari ancaman luar. Aku akan melindunginya darimu, jaga-jaga kalau kau kembali pergi darinya!" ujar Stevan menggebu.


"Kau pikir kau siapa! hah! Ini semua untuk Graciella karena kau sudah meninggalkannya di titik paling rendahnya!" ujar Stevan yang tiba-tiba tak tahan lagi ingin memukul wajah Xavier. Pukulan itu telak mengenai pipi kanan Xavier yang bergeming. Sengaja menerimanya. "Dan ini untuk Moira! karena kau biarkan dia meninggal di tangan mereka!"


Pukulan kedua mengenai pipi kiri Xavier hingga bibirnya sobek. Xavier menerimanya tanpa menghindar sedikit pun.


"Akhhhhhhh!!!" Teriak Stevan menggema di seluruh gudang kosong itu berteriak begitu keras karena emosi yang begitu memuncak dalam dirinya. Dia ingat semuanya, rasa sakit kehilangan, Moira mungkin bukan anaknya. Tapi gadis kecil itu benar-benar sudah punya tempat khusus dalam hatinya. Bertahun menyimpannya. Hingga sekarang baru bisa melampiaskannya.


Stevan menyipitkan matanya dengan napas tersengal memandang Xavier yang hanya diam. Sudut bibirnya membiru akibat ulah Stevan.


"Aku akan berhenti menyukainya! aku tahu bagaimana pun dia tak akan pernah menyukaiku. Hahaha, lagipula di mana aku harus berharap bisa bersamanya. Bahkan dengan semua ingatan kalian yang terhapus, kalian begitu mudahnya kembali bersama. Sial! kenapa harus sekarang? kenapa tak lebih cepat hingga aku tak membiarkan diriku menyukainya! Pergilah! aku janji tak akan mengganggumu dan dia!" ujar Stevan dengan tawa mirisnya. Sial sekali memang. Menyukai jodoh orang, bukannya itu sangat sial?


"Bukan hanya itu yang aku minta padamu sekarang," ujar Xavier lagi.


"Lalu apalagi? aku tidak boleh bertemu dengannya? sial! masa bertemu saja tidak boleh?" ujar Stevan menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi.


"Bukan, sebaliknya. Tolong, jaga dia sedikit lebih lama lagi," ujar Xavier.


"Ha? kau tidak salah? tadi memintaku untuk berhenti menyukainya sekarang memintaku menjaganya?"


"Aku memintamu untuk menjaganya, tapi tetap harus membatasi perasaanmu padanya. Dia wanitaku!" ujar Xavier tegas.


"Hah! baiklah! Ada apa?"


"Aku sudah menyusun langkah untuk menyerang ayah dan Robert, mereka adalah dalang semuanya," ujar Xavier.


Stevan diam sesaat. "Baiklah, jadi kau akan menyerang mereka? kau yakin? salah satunya adalah ayahmu! kau yakin ingin menyerang ayahmu?" tanya Stevan lagi. Bagaimana seorang anak menyerang ayahnya?


"Bukan aku! tapi dia akan mendapat balasannya. Aku pastikan itu." Bara kebencian terlihat di mata Xavier. Stevan terdiam.


"Apapun rencanamu, aku akan mendukungnya! tapi tolong jangan libatkan lagi Graciella di dalamnya."


"Karena itu, aku minta kau menjaganya. Apa pun yang nantinya terjadi padaku, jaga dia dari mereka. Jangan biarkan dia mencoba untuk mencariku atau apa pun berhubungan dengan ku nanti. Bawa dia pergi. Lakukanlah sebisamu, Jenderal!" ujar Xavier lagi.


Stevan kembali terdiam. Tugasnya bukan main-main sekarang. Saat ini Xavier akan mengusik beruang yang sedang tidur. Salah sedikit maka, Graciella akan menjadi sasaran mereka kembali.


"Aku akan melakukannya semampuku!" tegas Stevan segera.