
"Jadi kau mau aku diam saja dan melihat semua ini! Aku tidak bisa membiarkan jika benar ini adalah Moira! Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa Xavier membiarkan ini semua pada anak dan wanitanya! Dia malah ingin menikahi wanita itu!" Ujar Stevan. Kesal dengan semuanya. Bagaimana bisa! Ironi sekali negara ini dikuasai orang-orang yang tak punya hati seperti mereka.
"Stevan! Kau tidak bisa apa-apa, kau masih punya atasan yang akan menyandung jalanmu! Jika ingin balas dendam, tunggu saat kau bisa menguasai semuanya. Aku juga tidak tahu kenapa dengan Xavier. Tapi dia juga posisinya sama denganmu, lagi pula anaknya dan Greciella ada di tangan ayahnya. Dia tahu bagaimana ayahnya, jadi aku yakin dia harus melakukan ini karena terpaksa, dia hanya tak tahu bahwa walau dia menikahi wanita itu, mereka tetap saja tak melepaskan Greciella dan Moira," ujar Daren menenangkan Stevan yang emosinya sudah tak bisa dia kendalikan.
"Moira adalah anak Xavier?" Tanya Laura yang wajahnya sudah penuh air mata.
Stevan menggigit bibirnya melihat Laura, dia mengangguk pelan. Otaknya mulai bisa memproses semuanya. Apa yang dikatakan Daren benar adanya. Kekuasaannya masih terbatas. Jika memang semua ini benar! Dia bersumpah akan menuntut keadilan untuk Moira dan Greciella.
"Oh, ya Tuhan! Jadi pria itu adalah Xavier! Graciella! Bagaimana bisa nasibmu semalang ini!" Ujar Laura begitu menyesal. Jika dia tahu Xavier adalah pria yang sama dengan pria yang meniduri Greciella, dia tak akan mendukung hubungan Greciella. Pria tanpa tanggung jawab. Tak akan ada baiknya.
"Dia juga tidak sengaja melakukannya," ujar Stevan. Gara-gara emosinya, dia membuka aib temannya sendiri.
"Tetap saja! Jika aku tahu, aku tak akan mengizinkan dia mendekati Greciella, mereka berdua memang tidak ditakdirkan berdua. Mereka ditakdirkan hanya untuk saling menyakiti! Dan Xavier adalah sumber kesedihan dalam hidup Greciella!" Ujar Laura blak-blakan, tak ada lagi rasa hormatnya terhadap Xavier.
Stevan hanya diam. Dia merasa tak perlu meluruskan hal ini karena apa yang dikatakan oleh Laura ada benarnya. Jika Graciella tidak berdekatan dengan Xavier. Pastilah tak begini nasib dirinya dan juga Moira.
"Aku harus mencari udara segar!" Ujar Stevan segera keluar dari ruangan Greciella. Semakin lama di sana semakin menyesakkan untuknya.
"Aku akan menemani Stevan," ujar Daren. Dia takut temannya itu akan melakukan sesuatu yang tak dia pikirkan sebelumnya. Bagi Daren, emosi Stevan sedikit tidak stabil.
Laura tak menjawab apapun. Dia hanya memegang tangan Graciella dan merasa miris dengan keadaan temannya. Bagaimana hidup bisa begitu kejam dengannya? Entah apa salah Graciella, dia hidup dengan baik, menjadi orang baik, tapi kenapa harus dia yang mengalami hal ini. Padahal orang-orang jahat di luar sana bisa dengan mudah berkeliaran.
Laura menghapus air matanya yang jatuh mengenai pipi Graciella yang jauh terlihat lebih segar, terapi cairan dari dokter terbukti ampuh walaupu dia belum juga sadar.
Stevan menarik napasnya panjang saat dia sampai di taman depan rumah sakit itu. Napasnya dari tadi begitu berat terutama di dalam ruangan itu. Terasa sekali atmosfer kesedihan yang begitu kental. Stevan hampir tercekik di sana.
"Ada rokok?" Tanya Stevan pada Daren yang mengikutinya.
"Sejak kapan kau merokok?" Ujar Daren tapi tetap menyodorkan bungkus rokok yang ada di dalam jasnya.
"Mulai hari ini, aku butuh sesuatu untuk melampiaskan emosiku!" Ujar Stevan.
"Kau harus mencari cara bagaimana menemukan jalan berhubungan dengan Xavier. Kau dan dia, dua kekuatan menjadi satu, kemungkinan akan bisa mengatasi ini semua," Ujar Daren melihat Stevan menarik rokoknya. Tampak sekali amatir.
"Kau tahu, baru saat ini aku tahu bahwa semua yang aku pikirkan tentang kedudukan ini salah. Aku bahkan tidak tahu mana lawan dan mana kawan. Seketika saja semua orang yang aku kenal menjadi pengkhianat hanya karena tekanan. Mereka pengecut dan hanya memikirkan kedudukan mereka sendiri!" Ujar Stevan mengebulkan asap rokok itu di antara dirinya dan Daren.
Stevan mengangguk pelan, "Ya! Sial sekali! Kapan aku bisa naik pangkat! Akan ku basmi mereka semua!"
"Lakukan saja semuanya dan fokus, kau adalah calon terkuat untuk menjadi Jenderal kepolisian setelah komisaris Jenderal Howard. Jika kau bisa menangani kasus besar, aku yakin jabatanmu akan naik!"
"Sial! Ini kasus besar! Tapi tak bisa ku tangani!"
"Ini terlalu besar!" Ujar Daren lagi.
"Stevan!" Suara nyaring itu terdengar. Stevan langsung melihat ke arah suara dan mendapatkan Adrean yang buru-buru menemui Stevan.
Adrean pun sama sekali tak bisa membantu, dia bahkan diasingkan oleh keluarganya karena tindakannya membawa Graciella pergi. Dia tak bisa tahu dimana Graciella dan seumur hidupnya, itu adalah 3 hari paling memenyiksa. "Di mana Graciella?"
Adrean mendengar kabar bahwa seseorang sudah menemukan Graciella. Saat dia ke rumah sakit pertama, dia diberitahukan bahwa Graciella sudah di bawa ke rumah sakit ini. Saat dia datang, dia sudah melihat Stevan dan dia semakin yakin Graciella ada di sini.
"Untuk apa kau datang kemari?" Tanya Stevan. Walaupun Adrean sudah membantunya kemarin. Stevan tetap tak menyukai pria ini.
"Jangan bermain-main! Mana Greciella? Bagaimana keadaannya?!" ujar Adrean yang tahu Stevan tak pernah menyukainya. Adrean bahkan menarik kerah kemeja Stevan. Daren yang melihat hat itu langsung mencoba melerai Stevan dan Adrean.
“Bung! Jangan begini!” ujar Daren yang tidak tahu siapa pria yang tiba-tiba datang begitu saja dan menyerang Stevan.
“Kau siapa?” tanya Adrean melihat ke arah Daren.
“Nama saya Daren, saya yang membawa Nona Graciella ke sini, jika saya boleh tahu, Anda siapa?” tanya Daren mengerutkan dahinya.
“Aku Adrean, aku suami Graciella!” ujar Adrean penuh emosi.
“Ehem, mantan suami,” ujar Stevan menyaut dengan deheman. Adrean langsung melirik Stevan dengan tajam.
"Katakan di mana dia?” tanya Adrean sekali lagi.
“Aku tidak akan mengatakan di mana Graciella berada. Tidak ada yang memastikan apa yang ada dalam hatimu, bisa saja kau akan membawanya pergi lagi. Jika waktu itu Graciella menolak mengikutimu pasti sekarang pun begitu. Aku tidak akan memberitahu dia di mana, kami akan segera memindahkannya kembali,” ujar Stevan melirik Daren yang sudah membocorkan keberadaan Graciella. Mau tidak mau Stevan akan membawa Graciella pergi lagi dari sini. Adrean, walaupun akhir-akhir ini dia terlihat sangat peduli dengan Graciella, tapi pria ini sangat licik. Mereka tidak ingin kecolongan lagi.