Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 54. Kasus (2)


“Baiklah," ujar Stevan mengikuti apa mau Graciella. Graciella mengerutkan dahinya sambil sedikit menyipitkan matanya, berusaha memfokuskan pandangannya. Melihat  hal itu, Stevan jadi ikut-ikutan menyipitkan matanya.


“Boleh kembali lagi ke foto-foto dalam mobil?” tanya Graciella.


“Ya, tentu saja boleh," ujar Stevan lagi, entah kenapa malah menurut saja. Kembali Graciella mengerutkan dahi dan menyipitkan matanya.


“Di mana?” tanya Graciella masih mencoba mengamati semua foto yang tertampil di tablet milik Stevan.


“Apanya di mana?” tanya Stevan yang makin aneh melihat tingkah dari Graciella.


“Gambar sabuk pengamannya. Di foto ini hanya terlihat bagian tempat duduknya yang berlumur darah. Tapi mana foto sabuk pengamannya? Di CCTV terlihat bahwa wanita itu duduk menggunakan sabuk pengaman. Bukannya kau katakan bahwa dia mengalami luka tusuk di bagian tengah dadanya? Jika kita duduk menggunakan sabuk pengaman maka akan ada darah yang terkena di sabuk pengaman nya, tapi kenapa tidak dimasukkan dalam barang bukti? Apa bawahanmu melewatkan bukti yang sangat penting? Lagi pula, bagaimana bisa pria itu memakaikan sabuk pengamannya pada seorang wanita yang dadanya terluka. Bukankah itu akan semakin membuatnya semakin kesakitan?” jelas dari Graciella pada Stevan yang memandang foto-foto bukti yang dia dapatkan dari bawahannya.


Stevan membesarkan matanya mendengar penjelasan dari Graciella. Dia melihat lebih seksama lagi untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Graciella. Dia langsung melihat ke arah Graciella.


“Kita harus pergi sekarang! Kau ikut denganku!” ujar Stevan melonjak berdiri. Graciella tentu kaget dengan pergerakan Stevan yang tiba-tiba. Dia segera mengambil barang-barang yang penting dan segera membantu Graciella berjalan menuju ke mobilnya. Setelah merasa Graciella sudah duduk dengan baik, mereka segera pergi dari sana.


Mobil Stevan langsung berhenti di sebuah gedung. Dia tak lupa membantu Graciella untuk berjalan. Graciella jadi tak enak hati karena merasa menghambat Stevan.


“Jika buru-buru, kau boleh berjalan duluan. Aku akan menyusul," ujar Graciella.


“Xavier akan membunuhku jika dia tahu aku meninggalkanmu," kata Stevan yang ternyata begitu serius menjalankan perintah dari sahabatnya itu.


Graciella tersenyum sedikit. “Tapi Xavier tidak akan tahu, dia tidak ada di sini. Pergilah, aku tahu kau sudah tidak sabar.”


Stevan memang merasa tidak sabar untuk melihat hal yang sekarang ada dalam pikirannya. Setelah dia masuk ke dalam kantor polisi, dia baru melepaskan Graciella.


“Aku akan pergi ke sana. Tempat mobil itu disimpan. Kau yakin bisa berjalan sendiri?” tanya Stevan.


“Yakin, pergilah duluan. Tak akan ada yang menculikku di kantor polisi,” ujar Graciella lagi.


Stevan mengangguk mengerti, dia langsung melangkah dengan cepat. Beberapa orang polisi tampak memberikan hormat padanya, tapi dia tak mengindahkannya sama sekali dan langsung menuju tempat mobil itu terparkir.


“Selamat pagi Komandan!” ucap salah satu bawahan dari Stevan. Kaget melihat atasannya datang tanpa menggunakan seragam dan hanya menggunakan baju santainya.


“Di mana mobil tentang kasus Chloe Shen?” tanya Stevan.


“Baiklah, kau lihat wanita yang di sana?” tanya Stevan menunjuk ke arah Graciella yang mencoba untuk belajar berjalan dengan sebisanya. Bawahan dari Stevan mengangguk pelan. “Berikan dia kursi roda yang kita punya lalu hantarkan dia ke tempat mobil itu.”


“Siap komandan," kata bawahan dari Stevan. Stevan segera mengangguk lalu berjalan menuju tempat mobil itu diparkirkan. Stevan segera mendekati mobil itu. Wajahnya sedikit berkerut melihat seorang pria sedang berdiri di dekatnya dengan menggunakan jas abu-abunya.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Stevan mendekati pria itu. Pria itu segera melihat ke arah Stevan. Dia sedikit menaikkan sudut bibirnya.


“Keluarga korban memintaku menyelidiki kasus dari Cloe? Apa kabar Stevan?”


“Sejauh ini baik-baik saja. Kau tahu, kau seharusnya tidak boleh ada di sini, Daren," ujar Stevan.


“Sudah aku bilang, keluarga korban meminta pertolonganku. Lalu? Apa yang membuatmu ke sini IRJEN Stevan? Apa yang membuatmu tertarik dengan kasus seperti ini? bukannya seharusnya kau hanya menerima laporan dari para bawahanmu dari devisi pembunuhan?” kata Daren melihat ada raut wajah cemas dari Stevan.


“Sekali lagi itu bukan urusanmu, Daren!” ujar Stevan melihat bawahannya mendekatinya. “Cepat buka mobil ini.”


Daren hanya berdiri berlipat tangan melihat Stevan. Tentu dia hanya ingin mengamati dan tidak ingin menyentuh apapun. Bagaimana pun dia bisa dituntut untuk perusakan barang bukti.


Stevan langsung memakai sarung tangan agar dia juga tidak merusak barang bukti. Begitu bawahan dari Stevan membuka pintunya. Stevan segera melihat ke dalamnya. Gambarannya sama seperti foto yang dikirimkan padanya. Bau amis darah sudah mulai menghilang tapi bau karat masih tercium. Darah mengering di kursi itu menjadi saksi bisu. Stevan langsung mengambil penjepit khusus agar dia tidak perlu terlalu banyak menyentuh barang bukti. Dia menarik sabuk pengaman dan memperhatikannya. Tak ada darah sedikit pun di sabuk pengaman itu, pantas saja bawahannya tidak memfotonya.


“Bagaimana?” tanya Graciella yang di dorong mendekati Stevan. Daren tentu kaget melihat seorang wanita yang sudah pasti bukan seorang polisi diperbolehkan mendekati barang bukti. Daren mengerutkan dahinya, bertanya dalam hati siapa wanita ini?


Stevan keluar dengan wajahnya yang ambigu, tapi terlihat sekali bahwa sekarang dia sedang berpikir. “Tak ada bercak darah sama sekali di sabuk pengamannya.” Stevan melihat ke arah Graciella seolah mereka punya pemikiran yang sama.


“Jika sesuai dengan perkataan dari si pria yang katanya menyelamatkan wanita itu dan sesuai dengan rekaman CCTV itu, maka seharusnya ada darah yang banyak di sana. itu artinya  Cuma satu …” ujar Graciella saling melempar pandang ke arah Stevan.


Daren yang juga sudah melihat rekaman CCTV itu langsung kembali membuka tabletnya, “Ini bukti bahwa Chloe masih hidup dan tidak mengalami luka saat CCTV ini merekamnya. Dengan kata lain, Tuan Don bukan pertama kali melihat Chloe saat dia melakukan persembahan itu, melainkan …. “


“Mereka sudah kenal sebelumnya. Kita sudah mendapatkan tersangkanya,” ujar Stevan. “Tapi bukannya Chloe mengatakan bahwa Don yang menyelamatkannya? Saksi-saksi di rumah sakit mengatakan hal itu!”


“Chloe tidak mengatakan bahwa Don menyelamatkannya. Aku melihat beberapa potongan pengakuan dari saksi, dia hanya mengatakan ‘Dia … selamatkan aku’ memang bisa di artikan bahwa Don yang menyelamatkan Chloe. Tapi bagaimana jika Chloe kaget melihat Don dan minta tolong untuk diselamatkan pada salah satu perawat di sana, karena Don yang sudah menusuknya? Dia sedang dalam keadaan kritis. Bicaranya pun pastinya tak seperti kita yang bisa mengeluarkan banyak ekspresi.” Analisa Graciella selama dia berjalan ke kantor polisi ini.


“Ya! itu masuk akal! Keterangan saksi dia memang hanya mengatakan Dia selamatkan aku!, tak ada kata menyelamatkan, benar?” kata Daren lagi terus melihat ke arah Graciella. Terpukau dari analisa yang Graciella kemukakan.


“YA! itu benar! Siapkan surat penangkapan. Kita harus menahan Don sebelum dia kabur. Cepat!” perintah Stevan pada bawahannya. Mereka segera melakukan apa yang dikatakan oleh Stevan. Graciella hanya tersenyum tipis  nan manis. Daren tak bisa menutupi wajah kagumnya. Stevan akhirnya sadar bahwa masih ada Daren di sana.