Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 36. Aku Ingin Bicara Tentang Dia.


Xavier mengerutkan wajahnya saat dia melirik ponselnya dari tadi berdering dan berulang kali juga dia tidak mengangkatnya. Dia bukan orang yang sembarangan menerima telepon apalagi dari nomor yang tidak dikenalnya. Apalagi sekarang di mana keadaan emosinya sedang tidak baik akibat kelakuan dari Graciella.


Lalu ponsel itu berbunyi singkat tanda sebuah pesan telah masuk. Xavier akhirnya mengambil ponsel itu dan melihat isi pesannya.


“Aku Laura. Bisakah mengangkat panggilannya? Aku ingin berbicara tentang Graciella."


Xavier hanya memandangi ponsel itu. Tak lama ponsel itu kembali berdering. Xavier menyipitkan matanya sedikit menatap layarnya tak langsung mengangkatnya. Dia seolah berpikir. Tapi akhirnya dia menyerah juga. Rasa egonya kalah dengan rasa penasarannya tentang keadaan Graciella.


“Halo?” suara berat nan dingin itu terdengar juga. Laura langsung mengembangkan senyumannya.


“Halo! Akhirnya, Ya Tuhan, menghubungimu seperti menghubungi presiden. Susah sekali. Kenapa begitu lama mengangkatnya sih?” ujar Laura yang langsung menumpahkan rasa kesalnya. Dari tadi menelepon Xavier. Baru sekarang pria itu mengangkatnya. Mendapat ocehan dari Laura, Xavier mengerutkan dahi. Cerewet sekali, pikirnya.


“Ada apa?” tanya Xavier lagi tak terpengaruh dari apa yang dikatakan oleh Laura.


“Oh, iya, ehm … Graciella sekarang ada di apartemen ku. Hari ini aku ada pekerjaan. Aku tidak bisa menjaganya. Bisakah kau datang untuk menjaganya?” pinta Laura. Sebenarnya dia sama sekali tidak punya pekerjaan. Tapi berbohong demi kebaikan mungkin bisa sedikit dimaafkan.


“Kenapa meneleponku? Aku bukan suaminya.” Xavier datar saja mengatakannya.


“Iya, kau bukan suaminya, aku juga tahu itu. Tapi masa aku harus memanggil Adrean ke sini? dia pasti akan membuat keadaan Gracie semakin parah. Hanya padamu aku bisa meminta tolong.”


“Aku tidak bisa. Dia juga sudah menolak untuk bersamaku. Jadi tak perlu mengabarkan keadaannya padaku. Aku banyak pekerjaan.”


“Jangan matikan dulu teleponnya! aduh! si Gracie ini! kau tahu kan alasannya kenapa dia menolakmu?” tanya Laura yang tak menyangka Graciella sudah menolak Xavier.


Xavier mengerutkan dahinya, “Dia bilang dia masih mencintai suaminya.” Ada rasa tak nyaman di hatinya ketika dia mengatakan hal itu. Mengingat wajah Graciella sebelum dia pergi tadi. Dia baru sadar, kenapa Graciella harus tampak begitu sedih hanya untuk menolaknya jika dia masih mencintai suaminya?


“He? dari mana dia masih mencintai Adrean. Dia malah sangat ingin berpisah dengan suaminya itu tapi dia tidak bisa. Adrean punya banyak kenalan yang membuat Graciella tidak bisa melakukan perceraian. Setiap kali Graciella ingin meminta cerai, pria itu pasti melakukan kekerasan fisik padanya. Sertifikat pernikahan mereka pun ada di tangan Adrean sehingga Graciella tidak bisa memasukkan gugatan cerainya ke pengadilan. Kau tahu, Graciella dulu pernah melaporkan tindakan Adrean padanya, tapi dia malah ditertawakan oleh beberapa polisi yang ternyata sudah disuap oleh Adrean. Hidup seperti itu yang dijalani oleh Graciella selama tiga tahun. Kasihan sekali bukan? mana mungkin dia ingin terus bersama dengan Adrean. Tadi saja dia mengatakan ingin pergi dari hidup Adrean terserah ingin bercerai atau tidak, yang penting dia tidak ingin lagi bersama pria itu.” Laura menceritakan panjang lebar tentang kehidupan Graciella.  Xavier hanya mendengarkannya, tak tahu bahwa kehidupan wanita itu semenderita yang dikatakan oleh Laura.


“Tetap saja, dia tidak ingin aku melindunginya," ujar Xavier. Bagaimana pun Graciella dengan gamblang mengatakan bahwa melindungi dirinya bukanlah tugas Xavier. Bukankah itu sebuah penolakan?


“Iya, itu karena Graciella berpikir dia bukanlah wanita yang pantas untukmu. Dia merasa keluargamu tak akan menerima dirinya. Dia juga berpikir akan membuat masa depanmu tak baik nantinya. Karena itu dia sebisa mungkin menolak dirimu. Padahal dia begitu sedih, tadi saja dia menangis terus. Sepertinya dia juga sudah memiliki rasa padamu karena itu aku menghubungimu. Kalau kau menyukainya, seharusnya kau terus mengejarnya. Bukannya malah meninggalkannya, bagaimana sih?” ujar Laura yang malah kesal dengan tindakan Xavier.  Xavier dan Graciella sama-sama keras kepala.


Xavier kembali mengerutkan dahinya. Apa masalah wanita ini, kenapa tiba-tiba dia malah memarahi Xavier.


“Hah ….” Laura membuang napasnya berat. “Andai saja dulu Graciella tidak ikut ke pesta topeng itu bersama dengan Adrean! Nasibnya tidak akan seburuk ini.” Laura malah mulai 'curhat colongan.'


“Ya. Seminggu sebelum pernikahannya. Graciella  tak sengaja tidur dengan seorang pria. Awalnya dia berpikir itu adalah Adrean, pria itu masuk ke  kamar Graciella dan dia menggunakan topeng karena saat itu memang ada pesta kostum. Tapi ternyata bukan! Ah! pria itu! seharusnya dia yang disalahkan karena sudah  membuat hidup Graciella menderita. Kalau bukan karena dia meniduri Graciella. Adrean tak akan menyiksanya lahir dan batin seperti itu,” jelas Laura lagi.


“Pesta topeng? Kapan itu terjadi?” tanya Xavier mengerutkan dahinya dalam.


“Ehm, 3 tahun yang lalu. Graciella menikah tanggal 11 bulan April, jadi ya sekitar tanggal 4 A[ril,” kata Laura.


“Di mana tempatnya?”


“Di Hotel Sangri-La. Kenapa? apa kau ingin menyelidikinya? Bisakah kau tahu siapa pria itu? Jika bisa, tolong penjarakan saja dia! Kalau perlu hukum mati saja! dia sudah membuat hidup seorang wanita baik-baik menjadi hancur sehancur-hancurnya!” ujar Laura begitu menggebu. Xavier adalah seorang tentara, dia pasti bisa melacaknya dengan baik.


Xavier terdiam sejenak, bola matanya tampak bergerak-gerak seolah mencari sesuatu dalam ingatannya. “Fiesta de Mascaras? apa itu nama pestanya?”


“Entahlah, mungkin. Saat itu aku belum kenal dengan Graciella. By the way, apa kau sedang mencarinya?” tanya Laura yang kagum, secepat itu Xavier bisa tahu nama dari even itu.


“Hmm…” Xavier hanya menjawabnya dengan dehemannya.


“Jadi? Apa kau bisa datang?” tanya Laura. Itulah intinya.


“Setelah  menyelesaikan sejumlah pekerjaan aku akan ke sana," ujar Xavier dengan mantap.


Laura langsung melengkungkan senyumannya seperti dia yang akan didatangi oleh Xavier. “Baiklah, kabari aku hingga aku bisa keluar, eh maksudku, biar aku tahu saat aku sudah di luar nanti," Laura menggigit bibirnya.


“Baiklah, terima kasih.” Panggilan itu terputus.


Laura mempertahankan senyumannya. Dia yakin langkahnya benar. Dia lalu mengintip kembali ke arah kamar Graciella. Melihat wanita itu tenang dalam tidurnya.


Xavier meletakkan ponselnya dengan wajah bertanya. Dia mengusap-usap bibirnya seraya tampak berpikir. Xavier mengambil ponselnya dan segera menelepon Fredy.


“Fredy! Berikan aku semua data tentang Pesta ‘Fiesta de mascara’ yang terselenggarakan tiga tahun yang lalu di hotel Sangri-La, aku ingin tahu apakah ada nama Adrean atau Graciella di sana? di kamar mana dia menginap? Dengan siapa saja dia di sana? daftar nama-nama yang mengikutinya? aku ingin tahu semuanya tentang pesta itu. Malam ini semua harus sudah kau serahkan padaku.” tegas Xavier memberikan perintah.


“Siap Komandan!” jawab Fredy. Xavier segera menutup ponselnya. Dengan cepat segera berjalan keluar dan segera naik ke mobil miliknya dan meninggalkan markas itu.