Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 142. Tak tahu harus mengatakan apa.


Graciella menarik napasnya panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang dingin tapi terasa begitu segar. Baru kali ini dia bisa bangun cukup pagi, sebenarnya bukan bangun pagi. Tapi terpaksa terbangun karena mereka harus berpindah transportasi. Graciella tersenyum melihat cakrawala indah dengan polesan warna kuning yang berbaur biru ke arah gelap.


"Nona, kopi?" Ferdinand menyuguhkan kopi hangat yang baru saja dia dapatkan.


"Wah terima kasih," ujar Graciella mengambil kopi itu dari tangan Ferdinand.


"Untukku mana?" Tanya Helena mengerutkan dahi menatap Ferdinand.


"Tanganku hanya dua, aku tidak bisa mengambilnya lebih banyak. Kau bisa ambil sendiri," ujar Ferdinand asal saja.


"Ini! Jika kau ingin minum kopi. Aku masih punya masalah tidur, jadi aku harus mengurangi minum kafein," ujar Graciella menyuguhkan kopi itu pada Helena.


"Benarkah?" kata Helena dengan sumringah.


"Ya, silakan," ujar Graciella. Tak melihat wajah kecewa Ferdinand padahal dia cukup lama mengantri hanya untuk mendapatkan kopi itu agar Graciella senang.


"Maaf ya, aku benar-benar harus mengurangi kafein," ujar Graciella pada Ferdinand.


"Iya, tidak masalah Nona," ujar Ferdinand dengan senyumannya. Helena melihat itu hanya menyipitkan matanya.


"Berapa lama perjalanan kita dengan kapal ini ke pulau A?" tanya Greciella lagi.


"Dua jam," ujar Helena seraya meniup permukaan kopinya.


"Baiklah, sepertinya aku masih punya waktu untuk bisa memejamkan mata sejenak."


Graciella memang ingin tetap terjaga. Tapi matanya yang terasa kembali berat akibat hanya tidur dua jam tadi malam tak bisa dia tolak. Dia malah takut nantinya saat dia bekerja dia menjadi kurang fokus.


“Akan aku carikan tempat duduk yang nyaman,” ujar Ferdinand yang langsung mencoba untuk bergerak cepat membantu Graciella.


“Tidak perlu, aku bisa cari sendiri. Ehm, lebih baik kau menemani Helena saja, dia pasti kesepian tidak ada yang mengajaknya berbicara,” ujar Graciella langsung meninggalkan mereka. Di lihat sekilas saja Graciella tahu bahwa Helena menaruh hati pada Ferdinand. Ferdinand dan Helena saling berpandangan, seketika saja keadaan menjadi kikuk diantara keduanya.


Graciella memilih salah satu tempat di pojok kapal itu. Dia segera menutup kepalanya dengan topi yang ada di jaketnya. Tak butuh waktu yang lama dia segera tertidur.


Graciella tiba-tiba terasa tercekik. Suara air bergemuruh di sampingnya. Graciella mencoba untuk menggapai segala sesuatu di sekitarnya. Apa sekarang dia tenggelam? Tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik dirinya. Graciella mencoba untuk melihat pria itu, dan matanya langsung membesar ketika tahu siapa yang sekarang ada di depannya. Adrean!


“Aku sudah menemukan anakmu!” ujar Adrean menyerahkan sebuah guci putih pada Graciella yang mengerutkan dahi. Apa yang dia maksud?


Graciella dengan basah kuyup dan juga menggigil tiba-tiba sudah entah ada di mana. Dia mencoba memegang guci kremasi yang disodorkan oleh Adrean. Saat tangan Graciella yang sudah putih pucat dan keriput seolah sudah begitu lama di dalam air itu memegangnya.


Dia lebih kaget lagi ketika melihat Helena yang sudah ada di depannya dengan wajah kaget karena tiba-tiba saja Graciella terlonjak dari tidurnya. Helena menebak bahwa pasti Graciella bermimpi sangat buruk, terlihat dari napasnya yang begitu berburu dan juga keringatnya yang ada di sekitar wajahnya.


“Nona Graciella, Anda tidur begitu gelisah, jadi aku mencoba untuk membangunkan Anda, maafkan jika aku membuat Anda kaget,” ujar Helena lagi. Ferdinand yang melihat hal itu hanya terdiam.


“Oh, tidak apa-apa, aku hanya mimpi sedikit buruk,” ujar Graciella memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja sedikit terasa sakit.


“Mimpi apa? Nona, ini minum dulu,” ujar Helena yang mengambil sebuah air mineral dari tangan Ferdinand, tadinya dia ingin memberikannya langsung tapi malah disambar oleh Helena.


Graciella mengerutkan dahinya. Dia mencoba untuk mengingatnya. Dia ingat dalam mimpi itu ada Adrean lalu … Graciella tidak ingat apa pun lagi. Semakin dia ingat, semakin dia melupakan setiap detail dari mimpi anehnya itu.


“Nona, lebih baik jangan tidur lagi, sebentar lagi kita juga akan sampai,” ujar Ferdinand duduk di depan Graciella.


Graciella mengangguk seraya meminum air mineral itu. Dia merogoh sakunya. Dari kemarin malam dia tidak mengaktifkan ponsel ini. Ehm, mungkin ini saat yang tepat untuk membukanya. Bukan karena Xavier, dia hanya ingin tahu, mungkin ada kabar dari Daren, Laura, atau Stevan, bukan? Elak Graciella mencoba membohongi dirinya sendiri.


Graciella menatap layar ponselnya yang sudah aktif tapi masih mencari jaringan. Dia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Entah kenapa ada perasaan harap-harap cemas yang tiba-tiba bisa dia rasakan.


“Menunggu pesan dari siapa?” tanya Helena yang memang punya jiwa penasaran yang sangat tinggi. Melihat wajah berharap yang sangat dari Graciella tentu membuatnya langsung tergugah rasa penasarannya.


“Oh, tidak,” ujar Graciella langsung menutup ponselnya. Ada rasa kecewa ternyata tidak ada sama sekali notifikasi yang dia cari. Benar ada pesan dari Laura, Stevan dan Daren. Tapi perasaannya malah menjadi tidak puas. Tak mungkin bukan pesan itu tidak terkirim padanya, sudah hampir 12 jam dia mengirimnya. Itu artinya dia memang tidak perduli dengan Graciella. Pikir Graciella.


Ya! Baguslah! Jadi Graciella tidak perlu repot-repot untuk menjauhinya. Tapi! Tak bisakah dia cukup mengatakan kata Ok! Atau sekedar mengatakan ya! Sial sekali! Pria itu, kenapa malah membuat penasaran.


“Pasti menunggu pesan dari orang yang spesial ya?” goda Helena.


“Tidak juga,” ujar Graciella yang malah salah tingkah. Kenapa diusianya yang sudah hampir kepala tiga ini dia masih saja bisa salah tingkah hanya dengan godaan sederhana seperti ini.


“Tuh, terlihat sangat sumringah, pasti dia orang yang spesial,” ujar Helena lagi mencoba mengulik. Mana tahu Graciella benar-benar bisa bercerita dengan mereka.


“Tidak, aku malah ingin menghindar darinya. Aku sudah tidak ingin punya hubungan lagi dengannya,” jawab Graciella dengan suara yang sedikit rendah dan ragu diakhirnya.


“Oh, mantan.”


Graciella hanya memasang wajahnya yang sedikit suram.


“Kalau masih cinta, kenapa harus menyudahi hubungan? Memangnya dia selingkuh?” tanya Helena lagi. Graciella mengerutkan dahinya, sifat Helena mengingatkannya pada Laura. Heran sekali kenapa dia selalu dipertemukan dengan orang-orang yang punya sifat seperti Laura.


“Tidak, dia tidak selingkuh. Hubungan kami sedikit rumit. Ini bukan hubungan di usia kalian, ini hubungan yang yah … bagaimana aku mengatakannya. Lagi pula kami memang tidak punya hubungan apa-apa. Kami dulu memang punya hubungan, tapi sekarang lebih baik tidak memulainya lagi,” jelas Graciella yang bingung harus mengatakan apa.