Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 112


"Di salah satu rumahku, tidak perlu khawatir, Anda aman di sini," ujar Daren yang tahu Greciella sepertinya ingin turun. Dia segera membantunya.


Greciella merasa kakinya lemas ketika menapak ke lantai dingin itu. Kenapa tubuhnya terasa sangat tak bertenaga, memangnya sudah berapa lama dia ada di tempat tidur ini?


"Sudah berapa lama aku di rawat?" Tanya Graciella.


"Ini hari kedelapan Anda di rawat, pelan-pelan saja, pasti sangat sukar berjalan sekarang," ujar Daren memegangi tangan Graciella. Apa yang dikatakan Daren benar. Greciella merasa kaku untuk berjalan.


"Benarkah? Apa yang terjadi padaku hingga aku harus dirawat begitu lama?" Ujar Graciella. Dia benar-benar tak ingat kenapa dia harus begini? Luka ini pun bagaiaman bisa dia dapatkan?


"Anda … tidak sengaja jatuh ke sungai dan kami menemukan Anda tersangkut di batang pohon," ujar Daren memutar otak mencari alasannya. Tak boleh terlalu jauh dari yang sesungguhnya.


"Dan luka ini karena itu?"


"Ya, mungkin terkena ranting atau apapun yang tajam," ujar Daren yang kembali membantu Graciella untuk duduk di tepian ranjangnya. Kakinya memang belum bisa diajak kompromi.


"Oh, pantas saja, terima kasih untuk pertolongan kalian. Aku juga pasti sudah menyusahkanmu, kau harus menerima dan merawat ku di sini," ujar Graciella.


"Tidak juga, Laura yang lebih banyak ada di sini, ini rumahku tapi aku tidak tinggal di sini. Karena itu aku menyarankan Anda di rawat di sini," ujar Daren.


"Saat perkenalan kita yang pertama, bukannya kau memintaku untuk bekerja di tempatmu? Benar seperti itu?" Tanya Graciella. Dari tadi dia berpikir. Dia ingat dia sudah tidak lagi bekerja di rumah sakit karena ingin menghindari Adrean. Sekarang dia juga sudah bercerai dengan Adrean. Uang tabungannya akan habis dalam waktu tak lama. Dia harus mencari pekerjaan.


Lalu dia ingat, Sepertinya Daren pernah menawarkan pekerjaan untuknya sebagai penyidik swasta. Dia rasa pekerjaan itu juga tidak terlalu buruk. Graciella hanya takut Kembali ke profesi awalnya, dia takut Adrean akan kembali mengganggunya.


"Ya?! Apakah sekarang Anda berminat?" Ujar Daren dengan matanya yang berbinar. Tentu dia sangat senang jika wanita secerdas Graciella berkerja dengannya.


"Ya, ehm… tapi aku tidak punya pengalaman tentang hal ini," ujar Graciella, ada rasa ragu yang menghampirinya. Bagaimana jika dia malah mengecewakan, padahal Daren Sudah begitu baik denganya.


Daren memasang wajah berpikirnya, dia lalu kembali menatap ke arah Graciella, sepertinya dia tahu harus berbuat apa dengan Greciella.


"Apa anda ingat saya juga pernah menawarkan Anda untuk belajar kriminologi? Bagaimana jika saya menawarkan Anda kembali untuk belajar itu, sebagai imbalannya, setelah lulus, kembali ke sini dan bekerja padaku dengan kontrak tiga tahun. Setelah itu Anda boleh bekerja di tempat lain? Bagaimana? Saya akan berikan beasiswa penuh untuk Anda?" Ujar Daren semangat.


"Kau benar-benar ingin memberikanku beasiswa itu?" Tanya Graciella, tak menyangka Daren begitu baik. Bagaimana bisa dia langsung memberikan Greciella beasiswa begitu saja.


"Ya, Anda punya bakat menjadi penyidik. Lagipula nantinya Anda akan sangat menguntungkan bagi usahaku. Aku bisa membiayai semua pendidikan Anda, tapi sepertinya Anda harus belajar di luar negeri, Amerika contohnya," ujar Daren.


"Kau serius?" Tanya Greciella tak percaya.


"Ya, tapi ingat, kontrak denganku tiga tahun," kata Daren lagi dengan senyuman manisnya yang mengembang.


"Jangankan tiga tahun, bahkan kontrak di perusahaan mu seumur hidup juga aku tidak akan keberatan," ujar Graciella. Dia wanita yang suka belajar. Tentu hal itu membuat dirinya senang dan tertantang. Pastinya banyak ilmu baru yang akan dia dapatkan.


"Jadi Anda setuju?" Tanya Daren lagi senang.


"Ya! Kapan bisa menandatangi kontraknya?" Tanya Graciella.


"Wah, Graciella! Semua itu bisa diatur, sekarang yang Anda harus lakukan hanya sembuh secepatnya, semakin cepat Anda sembuh, semakin cepat pula Anda bisa berangkat ke Amerika."


"Baiklah, aku akan sembuh dengan baik. Daren, sekali lagi terimakasih," ujar Graciella, dia merasa senang di dunia ini dikelilingi oleh orang-orang yang ternyata baik.


"Sama-sama, istirahat saja agar keadaanmu membaik," ujar Daren yang akhirnya tak lagi bersikap formal.


"Baiklah," ujar Graciella tersenyum.


Daren tadinya ingin terus menunggui Graciella malah merasa akan membuat Greciella tak nyaman. Karena itu dia keluar dari ruangan itu dan memerintahkan seorang pelayan wanita untuk terus melihat keadaan Greciella dengan cara mengintip. Tapi entah kenapa dia merasa cukup aman, Greciella yang sekarang sangat berbeda dengan Graciella sebelumnya. Benar kata Laura, biarlah dia menjalani kehidupan yang baru! Graciella berhak mendapatkan kesempatan kedua.


...****************...


Stevan masih dalam perjalanan ke kantornya. Sepanjang perjalanan hatinya tak nyaman. Bagaimana dia bisa membiarkan Greciella melupakan Xavier? Tapi apa yang dikatakan oleh Laura benar adanya, tapi … bagaimana jika Xavier kembali dan tahu bahwa Greciella sama sekali tidak mengingatnya dan melupakan hanya tentang dirinya dan Moira?


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Stevan mengerutkan dahinya melihat nomor tak dikenalnya. Awalnya Stevan ingin membiarkannya saja. Tapi entah kenapa dia malah salah menekan tombol, ingin menolak malah menggesernya untuk terangkat.


"Halo?" Suara berat itu terdengar. Stevan membesarkan matanya, sepertinya dia kenal suara itu.


"Xavier! Ini Xavier?" tanya Stevan tergesa-gesa, dia bahkan buru-buru menepikan kendaraannya.


"Ya! Stevan? Benar?!"


"Ya? Kenapa kau baru menghubungiku, apa yang mereka lakukan padamu?" Ujar Stevan penasaran. Dia yakin Xavier tak mungkin hanya diam saja. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu agar bisa kembali dengan Greciella. Tapi ….


"Bagaimana aku bisa menikah dengan Devina? Mereka juga melarangku menggunakan ponsel? Kenapa denganku?" Ujar Xavier.


"Apa maksudmu?" Tanya Stevan bingung. Kenapa malah Xavier bertanya padanya.


"APA?!"


"Stevan! Aku akan menghubungimu lagi! Mereka sudah datang! Aku harus pergi!" ujar Xavier tergesa-gesa.


"Xavier! Halo! Xavier!"


Tapi hanya nada pemutusan panggilan yang terdengar. Stevan hanya terdiam. Syok dengan apa yang baru dia dengar. Greciella menghapus Xavier dari ingatannya dan sekarang Xavier mengatakan dia tak bisa mengingat apapun dalam 4 tahun ke belakang? Bagaimana bisa?


Saking syoknya, Stevan bahkan tak bisa melakukan apa-apa. Untuk beberapa menit dia hanya bisa terdiam. Apa ini? Apalagi rencana Tuhan untuk ini semua? Dia pikir Greciella yang hilang ingatan akan menyusahkan, sekarang Xavier pun tak bisa mengingat apapun. Lalu? Apakah mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama, jadi lebih baik saling melupakan saja?


Stevan begitu pusing memikirkannya. Tapi sepertinya lebih baik begini, dengan begini, tak akan ada lagi yang tersakiti. Keluarga Xavier pun tak akan melukai Greciella. Sepertinya kata-kata Laura benar. Biarlah, Xavier dan Graciella menjalani kehidupan mereka yang baru.


*******


"Kenapa kau harus pindah sih?" Ujar Laura yang tak rela membiarkan sahabatnya pergi. Dia mengantarkan Greciella ke bandara.


"Ya, bukannya kau seharusnya senang, aku kan pergi belajar bukan ingin perang," ujar Greciella dengan senyuman mengembangnya. Luka itu sudah menyembuh, hanya menimbulkan gurat berwarna kemerah mudaan di pipinya. Tapi Greciella mencoba menutupinya dengan rambutnya yang sudah dia potong sebahu. Tentu membuat penampilannya semakin segar


"Dia bukan tidak rela, dia hanya iri denganmu karena kau akan ke Amerika dan dia hanya akan tinggal di sini," ujar Stevan melirik Laura yang hanya mendengus melihat pria menyebalkan ini. Panggilan itu adalah kali terakhir Xavier menghubunginya. Sampai sekarang, sudah dua bulan, Xavier kembali tak ada kabar. Entah apa yang di tanamkan mereka pada otak Xavier, bahkan saat Stevan ingin menemuinya di markas militer, Xavier menolaknya mentah-mentah. Semua orang yang Stevan kenal pun dipindah tugaskan. Stevan tak punya akses lagi ke dalam markas militer itu.


Graciella tertawa melihat kelakuan Stevan dan Laura yang selalu saja tak akur.


"Ini, ini paspor, visa dan juga tiket mu," ujar Daren membawakan semua kebutuhan dari Graciella.


"Wah, terima kasih," ujar Graciella. Baginya Daren sudah seperti seorang kakak yang baik padanya


"Sama-sama, sampai di sana akan ada yang menjemputmu dan membawamu ke apartemenku, tak jauh dari kampusmu, belajar yang baik ya!" ujar Daren dengan senyuman teduhnya.


"Pasti! Baiklah, aku harus masuk sekarang," ujar Graciella.


"Baiklah, jaga dirimu!" Ujar Laura tampak begitu sedih.


"Kenapa menangis? Kan sudah dibilang Graciella pergi ke sana belajar, kau seharusnya mengantarnya dengan senyuman. Nona Graciella, jangan lupa hubungi aku! Aku akan rindu padamu!" Ujar Stevan dengan gayanya.


"Daripada bergaya playboy sepertimu!"


"Haha, kunjungi aku jika kalian pergi ke sana ya! Aku pasti merindukan kalian!" Ujar Graciella lagi yang segera masuk ke dalam pintu kaca.


"Ya!" Ujar Laura yang melambaikan tangan paling keras. Tak rela sekali, padahal selama ini dia yang ingin pergi ke Amerika, kenapa malah Graciella? Ah! Susah sekali menjadi anak perawan.


Graciella langsung berjalan menuju ke arah ruang tunggu bandara itu. Baginya langkahnya ini adslah langkah besarnya menuju dunia baru. Bagi Greciella sekarang, kehidupannya yang paling kelam adalah bersama Adrean. Dia akan meninggalkan semua kenangan itu di sini dan nantinya akan menjadi pribadi yang baru.


Graciella kembali memeriksa dokumen-dokumennya, hingga dia tidak sadar berpapasan dengan beberapa tentara yang berjalan berlawanan arah dengannya.


Graciella hanya berjalan lurus, begitu juga beberapa orang tentara itu. Tapi, setelah mereka saling melewati, pimpinan dari tentara itu berhenti dan menoleh ke arah Graciella yang berjalan lurus saja menuju ke ruang tunggunya.


"Ada apa Komandan?" tanya Arnold, ajudan Xavier.


"Tidak, aku hanya merasa …, tidak, tidak penting, ayo segera!" Ujar Xavier tegas. Dia sudah ditunggu untuk terbang bersama dengan pesawat pribadinya.


Xavier segera melanjutkan perjalanannya. Tapi saat Xavier dan rombongannya sudah mulai melangkah pergi, Greciella menoleh ke belakang melihat punggung pria dengan pakaian dinas yang lengkap.


Ada perasaan familiar tapi asing dalam waktu bersamaan. Greciella hanya melihat mereka hingga menghilang saat mereka memasuki sebuah ruangan.


"Panggilan untuk penumpang pesawat XXXX tujuan Amerika …."


Greciella langsung sadar dan segera pergi menuju ke arah gerbang dimana pesawatnya sudah menunggu. Hidup baru! Graciella akan datang!


...****************...


Halo kak, hehe...


maaf jika banyak typo, karena belum bisa edit semua.


Terima kasih sudah membaca karya saya. Saya sadar pasti ada yang suka juga ada pula yang merasa mgkn Novel ini aneh. Tapi yang sudah pernah baca novel saya akan tahu seperti apa gaya penulisan saya. Hehe...


terima kasih sekali lagi mengikuti sampai sini, jika boleh diteruskan, mana tau nanti jadi makin suka wkkwkwk....


ya Wes!! see you next chapter kak