Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 62. Aku tahu ...


"Apa kau tidak marah lagi denganku?" tanya Stevan sambil melihat ke arah Sarah. Wajahnya seolah menunjukkan rasa penyesalan mendalam.


"Tadinya aku masih marah. Tapi … aduh, apa ini sakit?" ujar Sarah lembut sambil menepuk sudut bibir Stevan dengan sapu tangannya. Semerbak bunga mawar liar tercium lembut. Stevan hanya memandang wajah Sarah. Sengaja dia lakukan seolah dia terperanjat, merindukan wajah lonjong milik Sarah.


Sarah yang sibuk membersihkan luka Stevan tiba-tiba merasa gugup melihat tatapan dari Stevan. Pria ini punya tatapan yang bisa meluluhkan hati siapapun, apalagi hati seorang Sarah.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" ujar Sarah yang memipihkan bibirnya. Mencoba menahan senyum tersipu malunya.


"Kau sudah tahu jawabannya," ujar Stevan dengan nada rendah. Membuat hati Sarah rasanya ingin meledak di sana sekarang. Cinta pertamanya yang dia tangisi hampir sebulan penuh tiba-tiba hadir dan begitu hangat. "Jadi minumnya?"


"Oh ya! aku punya tempat yang pasti kau suka," ujar Sarah salah tingkah. Stevan hanya tersenyum, dalam hatinya dia bersorai, Sarah sudah masuk dalam perangkapnya. Wanita ini, mana tahan akan pesona dari seorang Stevan.


"Aku ingin cappucino," ujar Stevan. Mereka sudah ada di dalam sebuah cafe kecil yang cukup nyaman. Suasananya menenangkan.


"Aku ingin jus strawberry saja," ujar Sarah. Matanya langsung melihat ke arah Stevan yang dari tadi menatapnya dengan tatapan penuh arti. Stevan pura-pura memalingkan tatapannya sengaja membuat Sarah penasaran sekaligus salah tingkah. Ah! Tipikal wanita pada umumnya. Sangat mudah tergoda hanya dari tatapan mata. Stevan sudah melakukan penelitian. Wanita lebih hanyut dalam sebuah tatapan ambigu.


"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Sarah tersenyum sumringah.


"Tidak. Aku hanya ingin lebih lama bisa melihatmu."


"Kenapa?"


"Bukannya ini hanya karena aku menolongmu makanya kau mau mengajakku minum. Jika tidak kau tak akan mengizinkan aku mendekatimu, bukannya kau masih marah dengan perbuatanku waktu itu?" tanya Stevan lagi pelan dan lembut.


Sarah menyelipkan rambutnya yang terurai ke belakang telinganya. Wajahnya tampak ragu. "Yang berlalu sudah biarkan saja. Lagi pula sudah lebih dari 5 tahun kita tak berbicara." ujar Sarah tampak mulai terperangkap oleh kata-kata Stevan.


"Ya, tepatnya 5 tahun, 3 bulan, 26 hari."


"Kau menghitungnya?" Sarah tak percaya.


"Jika kau hidup dalam penyesalan. Kau pasti selalu ingin kembali ke waktu kau melakukan kesalahan. Aku melakukan kesalahan dengan menyia-nyiakan wanita sepertimu, jadi …." kata Stevan.


Sarah menggigit bibir bawahnya. Wajahnya tersipu malu mendengarkan apa kata-kata Stevan. Stevan menaikkan sudut bibirnya. Ya! Sudah pasti masuk dalam perangkapnya.


"Jadi, begini saja aku sudah sangat senang. Terima kasih sudah memaafkan ku." Stevan tersenyum lebih manis membuat Sarah langsung mabuk kepayang.


"Jangan bicara begitu, nanti wanitamu akan marah," ujar Sarah.


"Sayangnya setelah putus darimu aku terus sendiri. Menunggu, mungkin punya sececah harapan agar bisa kembali. Tapi aku yakin, wanita sepertimu tak akan pernah sendiri. Apa tak apa aku minum berdua denganmu sekarang?"


"Tentu saja. Aku belum punya pasangan lagi."


"Benarkah? Aku dengar rumor tentangmu ynag dekat dengan Adrean?"


"Hah! Pria itu! Sama saja!" Tiba-tiba Sarah bermuka kesal. Ya! Ini dia yang dicari oleh Stevan. Mudah sekali wanita ini digulir emosinya.


"Kenapa? Bukannya jika kalian bersama akan sangat cocok. Aku harus akui dia memang lebih tampan dari ku."


"Ya! Tapi dia tak sebaik dirimu! Dia lebih parah. Hanya ingin memanfaatkan ku untuk mendapatkan keinginannya."


"Keinginannya? Apa itu? Apa dia menjebakmu karena hanya ingin tidur denganmu? Jika benar aku akan membuat perhitungan dengannya!" Suara Stevan sedikit bernada tinggi. Menunjukkan bahwa dia menahan emosinya.


"Bukan! Mungkin itu juga! Tapi yang lebih parah, dia merayuku hanya agar bisa menjadi wakil ketua di departemen kesehatan. Kau tahu sendiri bagaimana susahnya masuk ke departemen kesehatan tanpa orang dalam. Aku sampai marah pada ayahku karena awalnya ayah ku menolak membantunya. Dia benar-benar merayuku dan membuat aku percaya bahwa hanya aku yang dia cintai! Pada akhirnya dia malah mengakui dia sudah menikah! Gila bukan?" ujar Sarah berapi-api. Pria-pria yang mendekatinya hanya untuk memakai dirinya atau hanya ingin mendapatkan sedikit keuntungan dengan jabatan ayahnya dulu. Bisa dibilang hanya dengan Stevan-lah dia bisa merasakan pacaran yang sebenarnya. Tapi pria ini pun pergi dengan alasan terkekang karena sifatnya yang posesif.


Stevan terlonjak senang dalam hatinya, tanpa susah payah kata-kata kramat itu akhirnya keluar sudah. Tentu begini saja sudah bisa menekan Adrean. Dia mendapatkan kedudukannya karena merayu Sarah.


"Ya benar-benar gila! Tapi apa dia juga merayumu untuk tidur denganmu? apa kau tidur dengannya?" Tanya Stevan lagi.


"Bagaimana bisa kau melakukannya dengan Adrean. Padahal saat kita pacaran, kau sama sekali tak mau dengan ku. Aku rasa aku tidak bisa menerima ini! Baiklah! Aku rasa aku salah menilai mu sebagai wanita yang polos. Sarah yang aku kenal sudah tak ada. Baiklah! Aku rasa kita kembali seperti tadi lagi, tak punya hubungan dan tak punya apapun lagi. Selamat tinggal!" Ujar Stevan penuh drama dan herannya Sarah hanya terdiam percaya. Stevan meninggalkan wanita yang sekarang berwajah sedih dan bersalah begitu saja. Stevan melangkah keluar dengan wajah berhasilnya.


Lagipula, dia tak akan mau dengan wanita bekas Adrean! Tentu saja Gracilella pengecualian. Wanita seperti Graciella sungguh susah didapatkan.


Stevan mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. "Siapkan rekamannya. Segera kirim filenya padaku segera." Stevan memerintahkan dengan tegas.


"Baik komandan!" Jawab dari seberang.


Stevan menutup ponselnya. Akhirnya dia punya adil dalam membebaskan Graciella. Begini saja rasanya sudah bangga.


**************


“Graciella, kalian sudah apa saja?” tanya Laura. Selalu penasaan dengan hal ini.


Graciella mengerutkan dahinya. “Kau ini? memangnya otakmu hanya itu saja? Lagi pula bagaimana melakukan hal seperti itu dengan kaki yang terluka begini.” Graciella memukul kecil kepala Laura yang tidur di sampingnya.


Satu jam yang lalu Xavier pamit untuk kembali ke markas militernya. Sekarang hanya ada Laura dan dirinya di rumah ini dengan penjaga di setiap sudutnya. Karena merasa belum terbiasa tidur sendiri di kamar yang besar ini. Graciella meminta tidur dengan Laura.


“Kalau sudah sembuh berarti kau dan dia akan ….”


“Hentikan pikiran mesum itu. Aku dan dia tidak akan melakukan apa-apa sebelum semuanya selesai,” kata Graciella akhirnya memilih duduk bersandar pada kepala ranjang agar bisa memperhatikan dengan jelas temannya yang hanya menyengir kuda. Dia kan ingin tahu bagaimana rasanya.


“Kemarin aku sangat takut saat Adrean membawamu. Aku menghubungi Xavier terus menerus dan malamnya dia mengatakan bahwa kau sudah bersamanya. Ih! Aku kesal sekali dengan Antony yang mengizinkan Adrean membawamu, hingga sekarang aku tidak ingin berbicara dengannya.” Laura tampak mengekspresikan kekesalannya dengan sangat menggebu-gebu.


"Antony pasti punya pertimbangan yang lain. Dia pasti tak mau terjadi keributan di tempatmu. Mungkin juga dia berpikir tentang keselamatan mu, jika dia terus menentang Adrean. Dia takut kau menjadi sasaran Adrean. Kau tahu sendiri Adrean orangnya bagaimana." Graciella mengelus rambut Laura.


"Ya tapi tetap saja aku kesal! Dia itu lembek sekali!" Ujar Laura lagi. "Lalu apa yang dilakukan oleh Adrean padamu?"


"Tidak ada. Dia hanya menbawaku bertemu dengan keluarganya."


"Apa? Bagaimana bisa? Setelah tiga tahun dia baru membawa ke keluarganya? Apa karena dia takut kau akan bersama dengan Xavier! Benarkan aku bilang juga apa! Dia itu akan takut jika kau bertindak! Lihatlah, setelah kau dekat dengan Xavier, dia baru kebakaran jenggot! Huh! Tapi awas ya kau kembali padanya! Aku akan katakan kau wanita paling bodoh jika kau memilih Adrean!" Ujar Laura dengan tatapan tajamnya. Wajahnya tampak begitu serius seolah memperingatkan Graciella. Walaupun dia menyukai pria seperti Xavier. Tentu dia tak akan merebut Xavier dari Graciella. Bagaimana pun dia sangat setuju Xavier dengan Greciella.


"Iya, iya!" Ujar Gracilella sambil tertawa sedikit melihat temannya mendengus kesal di depannya.


Baru saja Laura ingin membuka mulutnya ketika ponselnya bergetar. Graciella dan Laura langsung melihat ponsel itu. Sebuah nomor yang tak dikenal.


"Abaikan saja," ujar Laura.


"Bagaimana jika pasien yang sangat membutuhkanmu?" Kata Graciella.


"Baiklah, aku angkat." Laura dengan malas mengangkat panggilan itu dan segera me-loudspeaker-kan panggilannya. "Halo?"


"Di mana Graciella?" Suara itu langsung membuat Graciella membesarkan matanya, begitu juga Laura. Yang pasti itu bukan suara Xavier. Greciella langsung menggigil hanya kerena mendengar suara itu. Itu sudah pasti Adrean.


Laura dengan sigap langsung ingin mematikan panggilan itu. Tapi Adrena langsung berbicara kembali, "Jika kau matikan, katakan pada Graciella, dia menyesal seumur hidupnya."


"Aku tak percaya padamu!" Ujar Laura terpancing emosinya.


"Aku tahu dia bersamamu. Katakan saja aku ingin mengatakan sesuatu tentang yang terjadi tanggal delapan Januari."


Graciella mendengarkan itu langsung kaget dan membesarkan matanya. Dia langsung menyambar ponsel yang ada di tangan Laura. Mematikan *lo*udspeaker-nya dan segera meletakkan ponsel itu di telinganya.


"Apa yang ingin kau katakan?


"Aku hanya ingin mengatakan. Aku tahu dimana anak harammu itu berada." Ujar Adrean dengan senyuman sinis mengembang.