
Graciella sedikit tersenyum tipis memandangi wajah tampan nan serius yang sekarang ada di depannya saat Xavier memakaikan earphone padanya.
"Siap?" tanya Xavier sedikit keras karena suara baling-baling helikopter yang lumayan besar. "Apa sudah pas?"
Graciella hanya mengangguk. Xavier segera duduk dengan tegak dan memakai sabuk pengamannya. Helena yang duduk di depan dan berhadapan dengan mereka hanya bisa melihat dua sejoli yang jelas sekali sedang di mabuk cinta ini. Sedikit ciut perasaannya, kenapa orang jatuh cinta bisa begitu mudah dan indah. Dia sudah berumur dua puluh lima tahun bahkan tidak punya banyak kenalan pria. Ah? kapan dia akan menemukan cinta seindah ini?
Helikopter itu segera mengudara. Graciella sedikit menahan napasnya dan sedikit tegang ketika helikopter itu mulai mengambang dari tanah. Graciella langsung melihat ke arah Xavier yang tetap saja menatap lurus tanpa ekspresi, menunjukkan sikap sempurnanya sebagai prajurit. Tapi bukan itu yang membuatnya menatap pria itu. Tangannya menyelip dan menggenggam erat tangan Graciella. Usapan ibu jari Xavier pada tangan Graceilla seolah mencoba untuk menenangkan Graciella. Tak lama tatapan teralih ke arah Graciella yang hanya memberikan senyuman tipisnya.
Helena sekali lagi melihat pria dengan wajah yang tampak keras. Dia akhirnya tahu siapa pria ini setelah semalaman mencari tahu. Dia juga akhirnya mengerti kenapa Graciella memilihnya. Tentu, siapa yang tidak akan memilih pria ini. Selain tampan dia juga punya kedudukan tinggi. Belum lagi isu yang merebak bahwa dia akan menjadi seorang presiden. Helena sampai bingung, bagaimana caranya Graciella bisa mendapatkan pria-pria tampan dengan kedudukan tinggi di sekitarnya. Helena jujur saja menjadi iri.
Perjalan mereka tempuh tak perlu waktu yang lama. Helikopter itu segera mendarat di sebuah tempat khusus. Sebuah mobil sudah menunggu mereka untuk membawa Graciella dan Helena ke stasiun kereta api. Xavier sendiri yang membukakan pintu untuk Graciella.
“Ehm, kapan kita bisa berjumpa lagi?” tanya Graciella. Dalam benaknya setelah masuk ke dalam mobil ini entah kapan dia bisa bertemu dengan Xavier kembali. Jadi, walaupun ada rasa tak rela dalam hatinya, Graciella harus siap berpisah dengan Xavier di sini.
“Aku akan mengantar kalian hingga ke stasiun kereta api,” ujar Xavier menatap Graciella yang langsung mengernyitkan kedua alisnya.
“Tapi? apa tidak apa-apa?” tanya Graciella bingung.
“Ya. Ada yang harus aku luruskan di sana.”
“Apa?”
“Masuk saja, nanti kau sendiri yang akan tahu.”
Graciella mengerutkan dahinya semakin dalam. Tapi dia tidak bsia bertanya lebih lanjut dan hanya diam saja ketika Xavier juga masuk ke dalam mobil itu. Helenanya yang tadinya mengira akan duduk di belakang dengan Graciella, akhirnya harus duduk di depan, di samping supir.
“Nanti, tunggulah sebentar di ruang tunggu stasiun kalian. Aku harus menyelesaikan beberapa perkara,” ujar Xavier melirik Graciella. Nada bicaranya seolah berbicara dengan bawahannya. Helena yang duduk di depan hanya bisa mendengarkan. Kenapa benar-benar seperti atasan memberikan perintah?
“Baiklah. Ehm?” Graciella bernada ragu. Dia sebenarnya sedikit bingung. Haruskah dia mengatakan pada Xavier bahwa dia ingin bertemu dengan Adrean. Jika tidak mengatakannya dia takut Xavier akan salah sangka. Tapi jika mengatakannya pasitlah pria ini tidak mengizinkannya.
Namun, Graciella sangat ingin mengetahui apa arti mimpinya. Belum lagi pertama kali dia bermimpi seperti ini, Adrean muncul di sana memberikan abu kremasi itu. Jadi perasaannya mengatakan bahwa semua ini ada hubungannya dengan Adrean. Tapi bagaimana mengatakannya? lagipula, anak itu? apakah Xavier harus tahu?
“Ya?”
“Tidak, tidak apa-apa, aku masih bisa menghubungimu dengan nomor itu kan?” tanya Graciella lagi.
“Ehm? begitukah? Ya sudah,” kata Graciella lagi. Padahal dia berharap agar bisa menghubungi Xavier jika nantinya dia berubah pikiran.
Mobil mereka segera menepi di depan stasiun kereta yang akan membawa mereka ke ibu kota. Pintu mobil itu langsung dibukakan oleh supir dan Graciella segera turun. Saat Graceilla baru saja keluar dari mobil itu. Graciella langsung menangkap sosok yang dia kenal. Pria itu langsung tersenyum melihatnya.
“Stevan?” tanya Graciella kaget. Kenapa tiba-tiba saja Stevan ada di sini? Stevan sebelumnya memang mengatakan akan menjemput Graciella. Tapi Graciella tidak memberitahukan apa pun pada pria ini. Apa mungkin dia bertanya pada kak Daren? lagi pula kenapa harus menjemputnya di sini?
“Hai, Nona Graciella? Aku datang sesuai dengan permintaanmu,” ujar Stevan dengan senyuman yang begitu sumringah. Tentu saja, ini pertama kalinya Graciella meminta untuk dijemput olehnya. Biasanya wanita ini malah menolak jika dia ingin menjemputnya.
“He? Aku memintamu untuk datang?” tanya Graciella bingung. Tentu saja. Dia tidak pernah melakukannya.
“Aku yang memintanya untuk datang,” ujar Xavier yang baru keluar dari mobil ketika supir membukakan pintu untuknya.
Stevan dan Graciella tentunya langsung kaget dengan apa yang dikatakan oleh Xavier. Terutama Stevan, dia tidak menyangka melihat pria ini kembali di sini. Dan, bagaimana mereka bisa kembali bersama. Stevan hanya memasang wajah diamnya, mengalihkan pandangannya dari Xavier ke arah Graciella. Graciella yang juga memandang Stevan hanya bisa menggigit bibirnya.
Xavier mendekati Graciella. Graciella hanya memandangi pria yang sekarang menyelipkan tangannya memeluk pinggang kecil Graciella. Graciella tak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Xavier sekarang. Bukannya dia sendiri yang mengatakan bahwa tidak boleh ada orang yang tahu tentang hubungan mereka sekarang?
Stevan hanya memainkan rahangnya melihat kemesraan yang jelas sekali sengaja ditunjukkan oleh Xavier padanya. Tapi bagaimana bisa? Itu saja yang terus terngiang-ngiang di dalam pikiran Stevan.
Xavier memandang tajam ke arah Stevan yang sekarang hanya memandangnya dengan tatapan diam. Graciella hanya bisa merasa sungkan karena tatapan kedua orang ini. Apakah Xavier melakukannya hanya karena cemburu kemarin?
“Ada yang ingin kau katakan padamu?” kata Xavier yang akhirnya membuka suara duluan. Tak ada nada. Tak pula ramah.
“Ya, seharusnya kau memang mengatakan dan menjelaskan sesuatu padaku,” jawab Stevan.
“Graciella, tunggu saja kami di ruang tunggu. Keretamu akan datang sekitar setengah jam lagi,” ujar Xavier pada Graciella yang hanya mengangguk walaupun wajahnya tampak bertanya-tanya, apa yang akan terjadi pada mereka?
“Nona Graciella, tak perlu takut. Kami sudah sering begini sejak kecil. Kecuali pria itu sudah berubah dan lupa siapa sebenarnya aku ini?” ujar Stevan yang awalnya bernada ramah tapi tiba-tiba sinis ketika dia menatap ke arah Xavier.
Xavier tidak menjawab perkataan dari Stevan. Dia segera berjalan ke suatu arah yang segera di ikuti oleh Stevan. Graciella hanya bisa diam saja. Helena yang sedari tadi juga menangkap ketegangan yang terasa langsung di antara kedua orang pria ini juga hanya bisa terdiam.
"Kak, ayo kita tunggu saja di ruang tunggu," ujar Helena menyadarkan Graciella yang masih melihat kedua pria itu pergi meninggalkannya. Graciella hanya menjawab dengan anggukan. Bahkan sampai mereka tak terlihat. Graciella terus memandang ke arah mereka pergi.