Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 149


Adrean menyipitkan matanya memastikan sosok yang ada di pondok itu adalah Graciella. Setelah memastikannya dia langsung menyunggingkan senyumannya. Dengan cepat juga dia menaiki anak tangga menuju pondok Graciella.


Graciella yang baru saja sadar dari ketercengangannya langsung ingin masuk ke dalam kamarnya. Pria yang paling tidak ingin dia temui dalam hidupnya malah dia temukan di sini.


“Graciella,” suara itu terdengar tidak asing. Tapi terasa sudah begitu lama tidak didengar oleh Graciella. “Kapan kau pulang?”


“Kapan aku pulang itu bukan urusanmu kan?” kata Graciella lagi.


“Kau masih marah padaku?” tanya Adrean lagi. Hanya bisa memandang bagian tubuh belakang Graciella yang sama sekali tidak ingin melihat ke arahnya.


“Bukannya sudah aku katakan aku tidak pernah marah padamu. Tapi aku hanya ingin kau tidak menggangguku lagi.”


“Adrean!” terdengar suara wanita yang memanggil Adrean dari arah pantai. Wanita dengan bikini putih itu menyipitkan matanya melihat Adrean sedang berbicara dengan wanita lain.


“Sebentar lagi aku akan turun,” teriak Adrean kesal. “Aku hanya ingin menyapamu. Kau tidak perlu takut, jika kau memang tidak ingin diganggu. Aku tidak akan mengganggumu,  seperti janjiku dulu, aku akan mengikuti semua permintaanmu.”


“Kalau begitu pulanglah sekarang atau pergi dari sini. Aku sedang berlibur dan tidak ingin kau ganggu sama sekali,” ujar Graciella lagi hanya melirik Adrean dengan ujung matanya, tak ingin berhadapan dengan pria itu.


Adrean memainkan bibirnya. Dia mengambil ponselnya dan segera menelepon seseorang. “Halo, sediakan tiket untukku pulang malam ini.”


Graciella mengerutkan dahinya. Apakah Adrean serius mengikuti keinginannya? Pria ini kenapa bisa begini tiba-tiba?


“Aku akan pulang malam ini pukul 18.00, bagaimana?”


“Ya, baguslah. Sekarang aku lelah, jangan ganggu aku.” Graciella langsung masuk ke dalam kamarnya. Tanpa melihat Adrean dia langsung menutup pintunya. Graciella langsung mengintip di sela-sela pintu, melihat pria itu hanya diam. Tentu saja Adrean setampan yang dia ingat. Bahkan sekarang tampak jauh lebih tampan dengan tubuh yang lebih berotot.


Pria ini entah sudah berapa kali ditolak oleh Graciella. Saat di Amerika dia juga lebih dari dua kali ingin menemuinya. Tapi Graciella selalu menolaknya sehingga mereka tak pernah bertemu. Pria itu hanya akan menunggunya beberapa jam lalu pergi. Apa lagi yang diinginkannya dari Graciella. Bagaimanapun dia bersikap baik untuk menebus semua perlakuannya dulu. Graciella tetap tidak bisa menerimanya.


Tak lama, Adrean akhirnya pergi dari pondoknya. Turun menuju ke arah pantai. Graciella menghembuskan napasnya lega. Mudah-mudahn pria itu benar-benar pergi dari sini nanti malam.


********


“Kak, ke sini yuk setelah makan, tempatnya tidak terlalu jauh dari sini. Kita bisa menyusuri pantai dan sampai di sana. Lihatlah, itu tempatnya,” ujar Helena menunjuk sebuah tempat yang tampak paling bersinar di sepanjang bibir pantai itu. Graciella melihat sekilas lalu mengamati foto yang diberikan oleh Helena. Seperti sebuah carnaval kecil. “Mau ya kak?”


Graciella mengangguk pelan. Dari tadi dia bersikap siaga. Mana tahu dia berjumpa lagi dengan Adrean. Tapi sepertinya pria itu memang mengikuti kemauan Graciella. Dia tidak menemukan batang hidungnya sedari tadi.


Graciella menenteng sendalnya. Berjalan di pantai yang cukup luas dengan butir pasir putih yang halus. Pantai ini bukanlah pantai yang sepi. Sedari tadi juga banyak orang yang berlalu lalang. Semakin mereka mendekati carnaval itu, semakin ramai juga orang-orang yang ada di pantai itu.


Graciella melihat kakinya yang terbenam di pasir itu. Perasaannya sekarang tidak enak sekali. Dia benar-benar kesal. Tapi dia tidak tahu kesal karena apa? Yang pasti bukan karena perkataan Brigjend Howard, baginya kesal seperti itu tidak akan menetap lama. Juga bukan karena Adrean tadi. Ini kesal yang sudah begitu menumpuk. Kesal yang bahkan tak mengerti lagi bagaimana menjelaskannya.


Graciella melirik lagi ke arah ponsel itu. Dia memang dari tadi memandangi kontak dengan nama samaran Chris itu. Melihat itu emosinya semakin meningkat. Ya, sekarang Graciella tahu. Itu karena pria itu! Ah! Bagaimana dia bisa begitu tidak peka!


Sesampainya di carnaval itu. Helena lah yang paling antusias melihat permainan-permainan yang ada di sana. Graciella juga cukup menikmatinya. Melihat orang-orang dengan wajah senang ternyata ampuh untuk melupakan semua kegundahan hatinya.


Semenjak tadi Graciella hanya mengikuti mereka tertawa. Berdasarkan ilmu psikologis, walaupun kita awalnya memalsukan tawa, tapi jika terus dilakukan itu akan membuat keadaan kita membaik, dan Graciella membuktikannya.


“Kak! Ayo masuk ke sana!” ajak Helena yang benar-benar seperti anak kecil ketika diajak ke taman bermain.


“Ehm? Aku rasa aku tidak ingin masuk ke dalam sana.” ujar Graciella yang melihat ke sebuah bangunan yang di depannya tertulis Glass house.


“Tidak apa-apa, masa masuk ke rumah bekas pembunuhan kakak berani tapi malah takut masuk ke rumah yang isinya hanya cermin?” rayu Helena.


Graciella bertampang sedikit ragu. Tapi dia tidak menolak ketika Helena menariknya. Mereka berada di pintu masuk lorong berkaca itu.


“Aku pergi duluan ya kak,” kata Helena tanpa takut dan langsung saja masuk.


Graciella masuk ke dalam rumah yang penuh dengan berbagai cermin. Ada yang bisa membuat tubuh berbentuk aneh, ada yang membuatnya tinggi, ada pula yang membuat wajahnya jadi mirip alien. Hal itu membuat Graciella tertawa. Ternyata lumayan menghibur juga masuk ke dalam rumah ini, pikirnya.


Graciella lalu berjalan lagi. Sekarang dia seperti berada di dalam labirin kaca. Hal ini sedikit membuatnya bingung karena setiap kali dia melihat, dia hanya melihat pantulan dirinya. Graciella berjalan pelan ketika dia melihat sekelebat bayangan yang lewat dari belakang dan terpantul dari kaca itu.


Graciella tentu kaget. Itu siluet seorang pria dengan jasnya. Graciella langsung membesarkan matanya. Jangan-jangan itu Adrean! Sial! Kenapa dia bisa percaya saja Adrean mengikuti permintaannya hanya karena dia tidak melihatnya di area hotel. Tentu dia bisa saja ada di sini bukan.


Dengan panik Graciella mencoba untuk mencari jalan keluar. Tapi karena begitu panik dia tak bisa menemukan jalan keluarnya dan selalu berakhir buntu. Pantulan bayangannya semakin mempersulit Graciella mencari jalan keluarnya. Karena panik juga, otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih.


Karena itu Graciella berhenti sejenak. Dia lalu berpikir kemana dia harus berjalan. Dengan menenangkan dirinya sendiri, akhirnya Graciella bergerak ketika dia yakin dia tahu jalannya.


Graciella berjalan cepat seraya mengingat jalan buntu yang harus dia hindari. Dia sedikit berlari ketika dia menemukan jalan baru yang sama sekali tidak pernah dia lewati. Dia yakin itu jalan keluarnya ketika tiba-tiba saja sampai di tengah rumah kaca itu. Dia berhenti seketika.


Graciella terengah-engah karena serangan panik dan juga akibat dia berlari tadi. Tapi bukan itu yang berhenti. Dia berhenti karena melihat sosok pria yang menatapnya dengan tatapan mata segelap langit malam ini.


Tatapannya begitu sendu hingga memancarkan perasaan yang membuat Graciella juga tertekan. Graciella mendekati pria itu dan mencoba menyentuhnya. Graciella pikir mungkin karena terlalu merindukannya hingga dia mulai berkhayal tentang sosok Xavier yang ada di depannya sekarang. Tak mungkin kan tiba-tiba dia ada di sini dan tahu Graciella ada di dalam rumah kaca ini?


Jantung Graciella hampir saja meloncat keluar ketika dia bisa menyentuh Xavier. Graciella langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya.


“Xavier? Bagaimana kau bisa …?”


“Karena aku merindukanmu.” suara berat itu seolah menggema dipantulkan semua kaca yang ada di sana. Graciella semakin membesarkan matanya. Pupil matanya yang tadi kecil membesar melihat sosok Xavier. Itu menandakan bahwa dia sangat senang melihat sosok pria itu. Mata memang tidak pernah bisa berbohong.


“Kau tidak mendapatkan pesanku?” tanya Graciella yang tak bisa lepas memandang Xavier. Bau woody itu seakan memanggil dirinya untuk memeluk Xavier. Tapi dia coba menahannya.


“Sudah,” ujar Xavier lembut.


“Lalu kenapa tidak membalasknya! Kenapa tidak mengatakan iya, tidak, atau berikan aku kabar kalau kau sudah membacanya. Menunggu balasanmu itu menyebalkan!” ujar Graciella yang akhirnya menumpahkan semua perasaannya. Untung saja dia menangani kasus ini hingga dia bisa sedikit teralihkan, jika tidak dia pasti gila.


“Kau menunggu balasanku?”  tanya Xavier yang tampak senang mendengar perkataan Graciella. Apalagi menurutnya, cara Graciella mengatakan hal itu dengan nada kesal dan merajuk itu cukup lucu. Tak menyangka dia akan seperti itu.


Graciella terdiam. Dia terlalu terbawa perasaan hingga mengeluarkan semua yang mengganjal dalam hatinya.


“Aku hanya ….” ujar Graciella yang langsung kaget saat kedua tangan Xavier memegang pipinya dengan lembut dan tanpa menunggu, Xavier langsung mencium bibir Graciella. Hanya sebuah kecupan tapi berhasil membuat tubuh Graciella langsung lemas.


“Menyangkalnya nanti saja,” ujar Xavier sedikit tersenyum. Graciella mengerutkan dahinya, kenapa malah tersenyum, Graciella bisa makin gila melihat senyuman itu.  Sorot mata Xavier benar-benar penuh arti seolah mengatakan dengan jelas pada Graciella bahwa pria yang ada di depannya ini sangat merindukannya.


Tentu Xavier awalnya ingin membiarkan Graciella ada di pulau ini sendirian dengan pengawalan yang lain. Tapi tak berhubungan dengan wanita ini selama lebih dari 24 jam membuatnya gusar juga. Dia tidak ingin menelepon atau mengirimkan pesan pada Graciella. Apalagi mendapat laporan bahwa Adrean ada di sini, tanpa pikir panjang dia langsung datang ke pantai ini walaupun dia tahu Adrean sudah pulang tadi malam.


Xavier langsung melancarkan lagi serangannya. Melu*mat lengkungan tipis bibir manis yang menggoda itu. Dia tidak tahan untuk tidak melakukannya. Dia benar-benar sudah ketergantungan dengan Graciella. Graciella pun begitu, mendapatkan serangan dari Xavier, walau awalnya dia pasif, tapi akhirnya dia tergerak untuk membalas perlakuan Xavier. Dia juga butuh pelampiasan rindu yang sudah dipupuk selama 2 hari ini.


Deru napas mereka bersatu seraya menuntaskan rindu yang membuncah. Ciuman ini bagaikan oasis di tengah gurun gersang yang menyiksa keduanya. Menghilangkan dahaga akan cinta. Hingga akhirnya Xavier membiarkan Graicella mengambil napasnya yang sudah dia sedot hampir keseluruhannya.


Sorot mata sayu Graciella menatap Xavier. “Apa masih ingin tak berhubungan denganku?” tanya Graciella. Jika wanita ini mengatakan Ya, maka dia akan menolaknya. Xavier yang tak bisa tidak berhubungan dengan Graciella.


Graciella memandang wajah Xavier, melihat mata hitamnya yang begitu terpatri di sukmanya. 24 jam saja dia sudah sungguh tersiksa. Bahkan tak tenang sama sekali. Bagaimana lagi jika harus tidak bertemu pria ini selamanya? Apakah Graciella sanggup?


Graciella menyerah, dia menggelengkan kepalanya yang langsung membuat Xavier meleluk tubuh kecil wanita yang ada di depannya.


“Bertahanlah sebentar lagi, setelah itu aku akan ada di sisimu,” bisik Xavier pada Graciella. Graciella hanya mengangguk pelan dalam pelukan Xavier. Menghirup dalam wangi woody yang sangat dia sukai. Rindunya meluap begitu saja.


...****************...


mentahan lagi ya kak .. maaf banyak typo, mata tak busa di ajak kompromi