
Graciella bingung dia harus bagaimana. Entah apa yang harus dia lakukan di dalam kamar Xavier yang ada di rumahnya ini. Liliana dengan tegas mengatakan bahwa dia harus istirhat karena dia tak ingin melihat wajah Graciella yang tampak kelelahan seperti ini.
Tapi Graciella benar-benar tidak bisa tidur sekarang. Dia hanya memutuskan untuk duduk di atas ranjang besar itu. Wanginya sangat mengingatkan Graciella dengan Xavier. Kamar itu tampak sekali seperti kamar seorang pria lajang. Hanya barang-barang monoton tanpa sentuhan wanita. Warnanya pun hanya dipenuhi oleh warna netral. Putih, hitam dan juga abu-abu tua. Graciella berpikir jika nantinya menikah, dia harus mendekorasi kamar ini dengan baik.
Pintu kamar itu terbuka membuat Graciella langsung sigap. Dia segera turun dan berdiri dari duduknya. Melihat sosok Monica yang masuk ke dalam kamar itu dengan seorang pelayan yang membawakan nampan makanan. Beberapa mangkuk makanan terlihat di sana.
“Kau ingin ke mana?” tanya Monica yang kaget melihat Graciella tiba-tiba berdiri karena kedatangannya.
“Eh, tidak ke mana-mana, Nyonya,” ujar Graciella. Lancang jika tiba-tiba dia langsung memanggil Monica dengan sebutan Ibu. Selain memang Xavier dan Graciella belum juga menikah, tidak ada persetujuan dari Monica untuk Graciella memanggilnya ibu.
“Panggil saja Ibu,” ujar Monica memerintahkan pelayan itu meletakkan makanannya tak jauh dari ranjang. Graciella melirik sedikit makanan itu, sup ikan. “Duduklah, kau harus makan bukan?” ujar Monica.
Graciella melihat itu hanya mengangguk pelan sambil perlahan duduk. Dari wajahnya tampak sedikit kesungkanan. Monica melihat itu dan salah mengartikannya bahwa Graciella ragu dengannya.
“Tenanglah, ini hanya sup ikan saja, aku tidak akan mencelakakanmu dengan sup ini. Ini bagus untuk ibu hamil. Ibu mertuaku membuatkan aku ini setiap hari dan aku rasa aku harus membuatkannya untukmu, bagaimana pun anak yang kau kandung sekarang adalah keturunan kami. Aku tidak akan tega untuk melukainya,” ujar Monica yang mengambil sup itu. Duduk di depan Graciella.
“Eh, bukan begitu. Saya hanya tidak terbiasa,” ujar Graciella. Tentu saja tidak terbisa, urusan keibuan seperti ini sudah lama hilang dari ingatan Graciella. Terakhir kali ibunya menyuapinya, umurnya mungkin masih 4 atau 5 tahun.
“Apakah ibumu tidak pernah menyuapimu?” tanya Monica mengambil sup ikan itu, membiarkannya sejenak dingin lalu menyodorkannya ke arah Graciella. Monica yang melihat bekas luka yang samar karena ditutupi oleh riasan hanya bisa memandangnya nanar. Kenapa dulu dia bisa begitu tega melihat hal ini terjadi?
“Tidak, aku seorang yatim piatu sejak kecil,” ujar Graciella langsung. Bingung harus bagaimana, jadi dia mencoba memakan apa yang disodorkan oleh Monica. Ada perasaan sedih tapi hangat yang tiba-tiba timbul dalam hatinya. Rasa yang dirindukan begitu lama.
“Maafkan aku. Sebagai ibu, kau pasti mengerti kenapa aku tidak menyukaimu dulu. Aku ingin anakku tentu menadapatkan yang terbaik. Xavier itu keras kepala seperti ayahnya. Tapi aku yakin dia sangat menyayangiku. Xavier punya karir yang cemerlang dan kau tiba-tiba saja kau datang dan dia ingin menikahimu karena hal yang pernah terjadi pada kalian. Tentu aku sangat kaget dengan hal itu. Aku tidak mengenalmu dan merasa kau hanya ingin mengambil keuntungan karena nama keluarga kami. Setelah mengetahui kau sudah menikah dengan Adrean lalu tetap menginginkan Xavier, tentu aku semakin khawatir. Karena itu aku tidak menyukaimu dulu. Maafkan aku, tapi aku rasa, cinta kalian bukan sekedar rasa tanggung jawab. Melihat kau seperti tadi, membuat mataku terbuka. Mungkin memang kalian berjodoh untuk selalu bersama,” ujar Monica sambil menundukkan pandangannya. Merasa bersalah dengan apa yang sudah dia perbuat dulu.
Dia ingat bagaimana wanita ini dulu benar-benar ingin mati hanya karena kebohongan keji yang sudah mereka buat. Mungkin inilah jodoh yang sudah ditautkan Tuhan, seberapa pun mereka merasa berhasil memisahkan mereka, akhirnya kembali lagi.
Graciella mendengar itu menggigit lembut bibirnya. Dia lalu memegang tangan Monica yang tampak sedikit gemetar. Gemetar merasakan dosa masa lalunya. Mendapatkan sentuhan itu membaut Monica menatap ke arah Graciella. Wanita itu tidak menunjukkan wajah marah, hanya sebuah ulasan senyum tipis.
“Aku tahu apa yang Anda lakukan. Jika aku ada diposisi Anda saat itu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, semua Ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya walaupun kita terkadang lupa, apa yang kita pikir terbaik untuknya belum tentu sesuai dengan keinginannya dan juga terbaik untuknya. Karena bagi kita, sedewasa apa pun anak kita untuk bisa mengambil keputusan dalam hidupnya, kita akan selalu menganggapnya tak mampu dan tidak tahu dunia ini, dia hanya anak kecil bagi kita. Terkadang kita memang harus belajar membiarkan, membiarkan mereka belajar dan menentukan kehidupan mereka,” ujar Graciella tersenyum manis.
“Terima kasih. Benar, tekadang sebagai orang tua kita terlalu egois dengan berpikir kita tahu semua yang terbaik untuk mereka tanpa memikirkan perasaan mereka. Sekarang aku senang dan aku yakin, kau akan mengurusnya dengan baik. Itu saja sudah cukup,” ujar Monica. Graciella tersenyum lebih lebar melihat wajah Monica kembali tampak bahagia walau dengan air mata di sudut matanya. Monica menyekanya sejenak sebelum dia kembali fokus dengan supnya.
“Ya, dia akan makan supnya ibu,” ujar Monica, tahu bagaimana cerewetnya mertuanya ini. “Graciella ayo makan. Dulu saat aku hamil Xavier, Ibu mertuaku tidak akan pergi sebelum semua kuah di sup ini habis. Kali ini kau harus menjaga kandunganmu dengan baik. Aku akan menjagamu, karena saat kau mengandung Moira, aku tidak bisa menjagamu seperti ini,” ujar Monica yang segera menyuapi Graciella dengan ikan yang cukup besar. Graciella menyambutnya langsung, pelan-pelan mengunyah ikan yang ada di dalam mulutnya. Bingung bagaimana jika mereka tahu bahwa Graciella sebenarnya belum tentu mengandung. Tapi melihat wajah bahagia seperti ini, kenapa Graciella jadi sungkan untuk menghapusnya.
“Ehm? Sebenarnya siapa Moira?” tanya Liliana dengan wajah yang penuh penasaran. Tadi pun di tempat penahanan Xavier, Stevan mengatakan nama Moira. Di sini juga Monica mengatakan nama itu. Siapa Moira?
Graciella dan Monica langsung melempar pandang. Benar juga, Liliana tentunya tak tahu siapa itu Moira.
“Moira adalah anak dari Xavier dan Graciella sebelumnya,” ujar Monica yang merasa dia harus menjelaskannya pada ibu mertuanya ini.
“Ha? Anak Xavier dan Graciella sebelumnya. Jadi aku seharusnya sudah memiliki cicit? Lalu di mana dia? Apa yang terjadi? Graciella, apa kau keguguran?” cerca Liliana langsung. Dia tak tahu bahwa Graciella pernah mengandung. Benar juga, bisa saja Graciella hamil, hubungan mereka sudah lama terjalin walaupun sempat terputus karena menikahi Devina.
“Tidak, Nenek. Moira –”
“Hubungan Xavier dan Graciella terjadi jauh sebelum mereka berhubungan seperti ini. Xavier tidak sengaja meniduri Graciella sehingga Graciella hamil dan tidak diketahui oleh Xavier. Graciella berhasil melahirkan seorang putri,” ujar Monica perlahan menjelaskan kepada ibu mertuanya. Liliana mendengar itu perlahan membesarkan matanya. Tak pernah tahu kisahnya ternyata begitu
“Ha? Jadi aku punya seorang cicit perempuan! Lalu di mana dia?” tanya Liliana bahkan terlonjak dari duduknya. Lupa dengan sakit dilutut yang biasanya dia rasakan.
Graciella memandang ke arah Monica. Tentu tidak ingin mengatakan apa yang sudah dilakukan David Qing terhadap cucunya sendiri.
“Tuan Robert Kim memisahkannya dariku sehingga sampai sekarang kami tidak bisa menemukan di mana Moira,” ujar Graciella dengan kilatan kesedihan di wajahnya. Liliana pun begitu, semangat yang terpatri di wajahnya perlahan hilang. Padahal dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cicitnya. Kedua wajah wanita itu menunjukkan gurat kesedihan.
"Pantas saja tiba-tiba Xavier malah menikah dengan Devina. Dia pasti menggunakan Moira sebagai tawanan dan ancaman untuk Xavier. Pria itu! aku benar-benar senang dia sudah meninggal juga! siapa pun yang membunuh Robert Kim, aku harus berterima kasih padanya," ujar Liliana tiba-tiba penuh dengan rasa benci.
Graciella yang melihat hal itu hanya mengerutkan dahinya. Tak menyangka Liliana akan mengatakan hal yang cukup kejam rasanya.
“Sebenarnya, aku tahu di mana Moira berada.” Monica menggigit bibirnya. Dia sudah tidak sanggup lagi menutupi rahasia ini. Apalagi melihat kesedihan di wajah Graciela. Dia tahu bahwa Graciella pastinya sangat tersiksa dijauhkan dari anaknya. Dia tidak ingin lagi menutup-nutupinya, bagaimana pun Moira adalah cucunya.
Mendengar itu Graciella langsung tersentak kaget. Dia bahkan langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Monica. Liliana juga tampak kaget. Bagaimana bisa Monica tahu di mana Moira?
“Ibu tahu?!” tanya Graciella tak percaya.