
"Tidak! Tidak mungkin! Dia tahu aku claustrophobic! Dia tidak mungkin menyuruhku masuk ke dalam!"
"Tapi ini adalah tempat Anda! Masuk sekarang!" Bentak Max yang langsung membuat Laura terdiam.
Dengan ragu dia memasuki ruangan itu. Langkahnya begitu perlahan hingga membuat Max tak sabar dan akhirnya mendorong Laura sehingga dia hampir jatuh. Ruangan itu sangat kecil. Hanya ada sebuah ranjang usang yang sepertinya baru di bersihkan. Sebuah meja kecil di sebelahnya. Dan ruangan lebih kecil untuk kamar mandinya. Bagaimana Antony tega melakukan ini padanya?
Begitu Laura masuk. Pintu besi itu langsung di tutup dengan kuat membuat Laura kaget hingga selimut yang dia bawa jatuh ke lantai yang lembab.
"Hei! Aku mau keluar dari sini! Aku mau bertemu dengan Antony! Kalian tidak bisa melakukan hal ini padaku! Ini sudah kelewatan dan melanggar hak asasi manusia!" Teriak Laura sambil menggedor pintu besi itu. "Hei! lepaskan aku! tolong jangan tempatkan aku di sini. Aku berjanji tak akan melakukan hal seperti semalam lagi! aku berjanji! tolong katakan pada Antony seperti itu!" pinta Laura sambil terus menggedor pintu besi itu menimbulkan suara yang berisik menggaung di seluruh lorong.
Tiba-tiba sebuah akses untuk mengintip ke dalam terbuka. Laura bisa melihat itu adalah mata Max. Dia segera mendekati Max dengan wajah berharap dan penuh air mata.
"Tuan akan memanggilmu jika dia membutuhkanmu."
"Membutuhkanku? Kau kira aku ini apa?!"
"Tentu saja sudah jelas. Anda hanya pemuas nafsunya," ujar Max lagi dengan senyuman remehnya. Tak lama akses itu tertutup.
Laura mendengar itu terdiam. Entah kenapa kata-kata itu menusuk. Benarkah dia hanya pemuas nafsunya saja? Jadi dia disekap di sini hanya menjadi pemuas nafsu!
Sial! Bagaimana sisa hidupnya bisa begini! Laura mulai menggedor pintu besi itu lagi. Tapi sekarang sudah tak ada orang di sana dan juga ruangannya yang cukup jauh dari ruangan utama. Gedoran itu sama sekali tak menjadi pengganggu bagi yang lain. Dan akhirnya lagi-lagi Laura harus pasrah ditemani oleh tangisnya. Antony benar-benar sudah berubah menjadi pria yang kejam! dan sekarang dia mulai menyesal karena mengakibatkan hal ini semua. Apakah Antony yang berhati emas itu sudah tak ada lagi?
****
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Adelia melihat goresan di pipi Antony. Dia kaget, sepertinya tadi malam goresan itu tidak ada.
Adelia baru saja ingin menyentuh luka gores yang sebenarnya tak begitu ketara. Hanya sebuah goresan kecil. Tapi Antony langsung menangkap tangan Adelia. Awalnya cukup erat tapi perlahan mengendur karena melihat ibu mertuanya masuk ke ruangan itu.
"Aku tidak apa-apa. Aku harus cepat pergi. Ada pertemuan yang harus aku lakukan," ujar Antony yang sudah tampak sangat rapi dengan jas hitamnya.
"Seorang Presiden memang sibuk. Adelia harus tabah dan sabar menghadapinya. tapi kau juga jangan terlalu berfokus pada kerjaan. Kalau begini kapan kami akan dapat cucu," ujar Maria , ibu Adelia.
Antony hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya. Tak punya minat membalas perkataan mertuanya. Tapi tak mungkin btaj menjawabnya. "Kami akan berusaha lebih keras."
Adelia menggigit bibirnya. Berusaha lebih keras untuk apa? cucukah? bagaimana bisa memilikinya. Bahkan disentuh atau menyentuh Adelia saja Antony bagaikan begitu Anti.
"Baguslah," ujar Maria sumringah.
"Apa aku boleh ikut?" rayu Adelia. Bukannya dia ibu negara. Terkadang dia juga boleh ikut dalam pertemuan itu. Lagi pula dia berharap Antony tak akan menolaknya di depan ibunya.
"Lebih baik di rumah saja. Ayah dan Ibu mu juga ada di sini. Nikmati saja waktu dengan mereka selagi mereka ada. Aku pergi dulu, sebentar lagi aku terlambat. Ibu aku pergi dulu," ujar Antony segera pergi dari sana meninggalkan Adelia yang sekali lagi harus menahan emosinya. Menyalurkannya dengan mengepalkan tangan erat-erat.
Antony segera masuk ke dalam mobil itu. Wajahnya sedikit melunak dari pada di dalam istana presiden tadi.
Antony mengambil ponselnya. Dia memindahkan CCTV ke tempat penahanan Laura sekarang. Dia melihat wanita itu sedang duduk termenung di ranjang usangnya. Lagi-lagi ada perasaan tak tega dalam hatinya. Saat sadar begini dia merasa dirinya terlalu kejam. Tapi jika mengingat apa yang sudah ditorehkan oleh Laura padanya. Hatinya kembali berdenyut sakit dan semua ini belum ada apa-apanya. Antony langsung mematikan CCTV itu dan melanjutkan perjalanannya.
...****************...
Antony berjalan menuju ke ruangannya di gedung pemerintahan tempat biasanya menteri dan presiden melakukan pertemuan.
Langkahnya sangat tegas membuat siapa pun merasakan aura kepemimpinan yang keluar darinya.
Tapi langkah itu segera terhenti saat dia melihat orang yang berdiri di depannya sekarang.
"Selamat pagi Menteri Qie," ujar Antony melihat seorang pria dengan setelan jasnya. Tingginya hanya sebatang hidung Antony. Untung saja putri semata wayangnya mengikuti ibunya. Jika tidak Laura pasti sependek ayahnya.
Ya! Pria di depan Antony sekarang adalah ayah Laura. Pria itu, walaupun menggunakan jas rapi dan mahal tapi tidak bisa menutupi wajahnya yang lelah. Lelah memikirkan di mana sekarang keberadaan putrinya.
"Selamat pagi Tuan Presiden." Tuan Qie memberikan salamnya. Lemah tak ada semangatnya.
"Anda sakit? Jika sakit lebih baik pulang," tanya Antony ramah. Bagaimana pun dia adalah mantan calon mertuanya dulu.
"Tidak, tidak apa-apa. Ada tugas yang harus aku kerjakan. Terima kasih untuk perhatiannya Tuan Presiden," ujar Tuan Qie lagi. Putrinya yang bodoh sudah menyia-nyiakan pria sebaik ini.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi dulu." Antony melempar senyum sebelum hendak melangkah.
"Tuan Presiden …." Panggil Tuan Qie.
Antony segera berhenti dan kembali melihat ke arah Tuan Qie yang memutar tubuhnya juga ke arah Antony. "Ya Tuan Qie?"
"Maaf jika aku lancang. Tapi, apakah kau tahu di mana Laura?"
Dia tahu ini hal yang tak pantas. Tapi entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa dia harus menanyakan hal ini pada Antony.
Antony tak menjawab. Dia hanya mengamati wajah Tuan Qie yang pastinya memunculkan gurat kecemasan. Seorang ayah kehilangan anaknya. Pasti menyakitkan.
"Tidak." Antony menjawabnya dengan tegas dan tiba-tiba terasa dingin. "Aku tidak tahu di mana Laura berada. Aku tidak punya hubungan lagi dengannya."
Tuan Qie mendengar itu langsung tersadar. Kesalahan sekali menanyakan hal itu pada Antony. Dia mengangguk mengerti.
"Maafkan saya Tuan Presiden, maaf," ujar Tuan Qie membungkuk di depan Antony.
Antony tidak menjawab sama sekali dan langsung meninggalkan Tuan Qie. Antony hanya menggerakkan rajanya. Wajahnya benar-benar terlihat sangat dingin.