Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 141. Tak perlu mengkhawatirkannya.


Xavier melihat jam tangannya. Dia sedang duduk di dalam mobilnya sambil mengamati keadaan.


“Mobil ayah Anda sudah datang, komandan,” ujar Arnold melihat sekitar. Menemukan mobil BMW sedan hitam yang berhenti tempat di depan restoran yang sudah di janjikan.


Mata Xavier menyipit agar dia bisa melihat keadaan itu lebih jelas. Tak lama dia melihat sosok ayahnya keluar dari mobil dan segera ingin masuk ke dalam restoran itu. Tapi seorang pria dengan perawakan tegap keluar dari restoran itu.


“Tuan David Qing, selamat datang,” ujar Tuan Peter dengan senyuman yang tampak sangat ramah. David Qing tentu kaget menemui Tuan Peter menyambutnya di depan restoran itu. Dia memang sengaja datang untuk bertemu dengannya, tapi tak menyangka akan disambut begini. Benar kata orang, ternyata Tuan Peter ini memang punya kharismanya sendiri.


“Terima kasih,” ujar David Qing membalas tangan Tuan Peter yang terjulur.


“Masuklah.”


“Apa Xavier sudah datang?” tanya David Qing segera. Xavier lah yang mengatur pertemuan ini dengan Tuan Peter. Bagaimana pun, dulu pria ini adalah saingannya.


“Ehm, belum, mungkin sebentar lagi. Xavier adalah jenderal yang sibuk, jadi mungkin dia sedang menuju ke mari,” ujar Tuan Peter. “Masuk saja dulu Tuan.”


“Baiklah,” ujar David Qing, sebenarnya dia cukup risih untuk berdua dengan Tuan Peter. Tapi bagaimana pun dia harus membiasakannya karena mereka akan menjadi koalisi.


Xavier melihat itu menaikkan sudut bibirnya. “Bagaimana?” tanya pada Arnold.


“Sudah di dapatkan,” ujar Arnold langsung.


“Bagus, sekarang kita ke sana,” ujar Xavier menarik jasnya.


Mobil yang ditumpangi oleh Xavier segera berjalan menuju ke arah pintu masuk restoran itu. Begitu mobil itu parkir dengan sempurna, dia langsung turun dan masuk ke dalam restoran.


Xavier langsung melangkah dan memberikan sedikit senyumannya. David Qing mengerutkan dahinya melihat tingkah anaknya yang langsung terlihat begitu akrab dengan Tuan Peter. Dia bertanya-tanya sudah berapa lama mereka saling kenal.


“Tuan David Qing, Anda punya anak yang luar biasa. Sangat jarang memiliki anak yang punya ambisi yang sangat kuat. Dia juga sangat hebat, semuda ini sudah menjadi seorang jenderal,” puji Tuan Peter yang langsung mengundang senyuman bangga dari David Qing. Xavier hanya melirik ke arah ayahnya sambil menyeruput air mineralnya.


“Aku bukan orang yang suka berbasa basi, Tuan Qing. Jadi aku dan Xavier sebenarnya sudah sering bertemu dan membicarakan tentang sebuah koalisi. Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik dengan hal seperti ini. Aku hanya ingin membantu orang-orang, tapi putra Anda ini, dia begitu membuatku kagum dan akhirnya berhasil merayuku,” ujar Tuan Peter lagi.


“Benarkah?” tanya David Qing yang masih tidak menyangka. Dia seolah tidak mengenal anaknya. Memang setelah dia menghapus ingatan dari Xavier. Dia cukup jarang bertemu dengan anaknya karena dia sibuk mengejar jabatannya. Tapi dia tidak menyangka bahwa Xavier benar-benar berubah. Dulu dia begitu teguh tidak ingin menjadi seorang presiden. Sekarang, bahkan tanpa dia perintahkan. Dia sudah selangkah lebih maju.


“Ya. Dia meminta saya untuk menjadi pendampingnya. Karena itu, saya ingin mengatakan bahwa siap menjadi wakil presiden untuk anak Anda,” ujar Tuan Peter dengan senyumnya yang sangat puas.


David Qing tampak terkejut. Dia kira akan sulit untuk meminta Tuan Peter menjadi wakil presiden untuk anaknya. Dia berpikir pria dengan pengaruh yang besar seperti dirinya pastinya akan meminta jabatan sebagai seorang presiden, tapi pria ini dengan senang hati menawarkan diri menjadi seorang wakil presiden.


“Kita harus mulai bergerak. Aku dengar pesaing kita juga sudah mulai bergerak,” ujar Xavier dengan suara khasnya. Nada datarnya.


“Apa maksudmu?” tanya David Qing pada Xavier.


“Apa Ayah berpikir Tuan Robert hanya berkoalisi dengan kita. Dia juga sudah berkoalisi dengan orang lain,” ujar Xavier menatap ayahnya dengan tajam. David Qing tercengang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Xavier. Selama ini dia kira mereka saling percaya dan saling mendukung tujuan mereka.


“Aku dengar beliau sekarang sedang dekat dengan Tuan Xie, Anda tahu juga bukan kalau Tuan Xie adalah kompetitor lama kalian.” Tuan Peter menjelaskan apa yang dia tahu. Tuan Peter memanggil salah satu asistennya yang mengerti apa yang diinginkan oleh Tuannya. Asisten Tuan Peter langsung menunjukkan foto pada David Qing. Di foto itu tampak Tuan Robert yang bertemu dengan Tuan Xie di sebuah restoran.


David Qing menggenggam tangannya dengan erat. Tak menyangka selama ini dia menjelekkan tentang Tuan Xie. Padahal mereka bermain di belakangnya. Licik sekali, jadi selama ini hanya David lah yang terlalu bodoh. Dia mengira semua sudah sesuai dengan keinginannya, ternyata, mereka bisa menikamnya sewaktu-waktu. Untung saja waktu itu Xavier menyadarkannya, bahwa tanpa Robert, dia bisa berdiri sendiri dan mewujudkan keinginan ayahnya. Langkahnya sudah benar sekarang.


“Aku akan segera menyerahkan pengunduran diriku dari tentara jika pendaftaran untuk calon presiden sudah dibuka. Saat ini ada beberapa hal yang penting yang harus aku lakukan. Jika ini berhasil maka publik akan semakin condong ke arah kita,” ujar Xavier lagi dengan tatapan seriusnya.


“Nah! Ini yang aku suka dari Xavier. Dia benar-benar memikirkan semuanya. Baiklah, aku sudah tidak sabar lagi,” ujar Tuan Peter begitu bersemangat. Hal itu membuat David Qing tertular semangatnya.


Xavier memainkan rahangnya dengan senyuman tipis mengembang. Dia melihat dengan lirikan sedikit tajam ke arah Tuan Peter yang juga membalas tatapan itu. Mereka saling membuang tatapan ketika David Qing menatap mereka.


Xavier langsung masuk ke dalam mobilnya setelah mereka selesai melakukan pertemuan itu. Wajahnya yang tadi tampak cukup melunak kini tampak datar dan terkesan begitu dingin.


“Apa sudah dilaksanakan?” tanya Xavier pada Arnold.


Arnold melirik ke arah Xavier sedikit. “Sudah Komandan!” ujarnya dengan tegas.


Xavier lalu menyandarkan tubuhnya. Matanya tampak menerawang jauh sekali. Tak lama dia mengambil ponselnya yang lain. Ponsel itu dalam keadaan mati. Dia tidak ingin ada yang tahu tentang nomor ponsel rahasia yang hanya digunakan untuk menelepon Graciella.


Segera setelah itu dia langsung menghidupkan ponselnya. Saat ponsel itu hidup, sebuah pesan masuk dan dia segera membukanya.


Wajah Xavier yang bermandikan cahaya dari ponsel itu tampak sedikit berkerut. Tapi ekspresinya yang dingin tak sedikit pun berubah. Dia lalu mengambil ponselnya yang lain dan segera menelepon seseorang.


“Di mana Nona Graciella sekarang?” tanya Xavier. Melihat jam pengiriman pesan, pesan itu sudah dikirim olehnya sejak pagi tadi. Tentu jika dia membalasnya sekarang belum tentu akan dibalas oleh Graciella. Lebih baik dia tahu benar di mana wanita itu sekarang. Jika dia ada di rumahnya. Xavier akan mendatanginya untuk bertanya apa maksud dari pesannya itu.


“Nona Graciella sedang ditugaskan untuk menyelidiki kasus di pulau A, Komandan,” lapor salah satu bawahan Xavier.


Mendengar itu Xavier kembali terdiam. Dia kembali melihat pesan yang dikirimkan padanya. Sepertinya Graciella sedang pergi untuk menghindarinya. Tapi menurutnya lebih baik jika dia ada di sana sekarang. Kalau begitu, dia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Graciella untuk beberapa saat.