Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
BAB 76. Ada Apalagi ini!


"Ah! bagaimana bisa begini! kenapa malah Xavier yang mengalami hal seperti ini! bukannya kau meminta agar mereka melenyapkan wanita itu dan anaknya?" Monica tampak gusar dan cemas menatap tubuh anaknya yang terbaring di ranjang.


Setelah Xavier pingsan, dia dibawa oleh bawahan dari David Qing ke rumah sakit untuk melakukan periksaan, tapi setelah mengetahui tak ada keadaan yang mengancam, dia segera dipindahkan ke rumah Perdana Menteri.


"Jangan terlalu histeris. Anakmu itu tidak apa-apa," ujar David yang hanya bersikap datar melihat keadaan Xavier. Dia memang bukan tipe ayah yang hangat dari dulu.


"Kau ini bagaimana? Bagaimana aku tidak cemas. Anakku sekarang begini!"


"Kau sudah dengar kata dokter bukan? Keadaanya tidak parah. Tidak ada kerusakan organ dalam, hanya tulang kakinya yang bergeser dan retak. Dia akan sembuh dalam waktu beberapa bulan." David Qing merasa istrinya terlalu berlebihan. Monica hanya melirik sinis suaminya, merasa suaminya benar-benar berhati dingin. "Lagi pula keadaan ini menguntungkan."


Monica mengerutkan dahinya. "Apa yang menguntungkan dari keadaan ini? bukannya kita sudah gagal! Anak itu dan ibunya masih hidup," sungut Monica menatap suaminya.


"Kita akan buat Xavier tetap dalam keadaan tidak sadarkan diri."


"Maksudmu?"


"Aku rasa Xavier sudah tahu tentang anaknya itu. Karena itu dia rela mengorbankan dirinya untuk wanita murahan dan anaknya. Jika Xavier tetap dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kita bisa lebih mudah mendapatkan mereka tanpa campur tangan Xavier. Bukankah ini menguntungkan kita?" David Qing menaikkan satu sudut bibirnya.


Monica hanya diam mendengar rencana suaminya. Dia tidak melarang maupun mengiyakan apa perkataan suaminya. Monica memegang tangan anaknya yang sudah begitu lama tak dia pegang.


"Tapi anak itu adalah darah daging Xavier. Dia adalah cucu kita. Apakah harus kita melakukan ini?" ujar Monica yang masih punya belas kasihan. Bagaimana pun jika benar anak itu adalah cucunya maka di dalam tubuh anak itu mengalir darahnya dan darah suaminya.


"Dia adalah sebuah kesalahan. Aib yang seharusnya tak dilahirkan. Aku heran bagaimana dia bisa bertahan, bukannya dulu kita sudah meminta orang untuk memasukkan sesuatu ke makanannya agar anak dalam kandungannya mati?" ujar David Qing.


"Usia kehamilanya sudah sembilan bulan saat itu. Resiko keguguran sudah sangat kecil. Dokter juga mengatakan hanya dua yang akan terjadi. Bayinya akan lahir mati atau hidup, dia tak menjamin akan mati. Tapi kenapa dia malah muncul sekarang? apa ini hanya akal-akalan wanita itu untuk menjebak Xavier? kita harus melakukan tes DNA! dia belum tentu anak Xavier!" ujar Monica.


David Qing mengeraskan rahangnya. "Anak Xavier atau bukan, wanita itu harus disingkirkan beserta anaknya. Tak perlu bersusah payah menunggu hasil DNA, kita akan lenyapkan mereka secepatnya!" David Qing tampak benar-benar frustasi. Rasanya susah sekali hanya melenyapkan seorang wanita dan anak kecil.


Monica hanya diam. Lagi-lagi tak berkomentar. Dia mengelus tangan anaknya dan kaget ketika tangannya di genggam oleh Xavier dengan keras.


"Xavier!" ujar Monica senang. Cepat juga anaknya bangun dari pingsannya.


"Dokter! dokter!" teriak David Qing. Dokter yang dari tadi siap siaga tepat di depan kamar Xavier langsung masuk. "Suntikkan ke tubuhnya obat penenang!"


Dua dokter yang memang khusus ditunjuk menjadi dokter pribadi keluarga Qing saling tatap. Bukannya tidak ada indikasi?


"Lakukan saja! Aku ingin dia tidak bangun dulu sebelum semua rencana ku berhasil! Lakukan! Atau aku akan melakukan sesuatu juga pada kalian berdua!" ancam David Qing. Dengan berat hati, Mereka melakukannnya.


Monica merasa genggaman erat dari Xavier perlahan mengendur bersamaan dengan suntikan obat penenang yang telah masuk ke dalam aliran darah Xavier. Monica bertampang cemas. Sepertinya suaminya sudah berlebihan.


...****************...


Stevan menghubungi Xavier sebelum dia keluar dari mobil dan memasuki perkarangan rumah Sarah. Tapi anehnya, panggilannya malah masuk ke kotak pesan suara. Aneh karena setahu Stevan Xavier tak pernah membiarkan ponselnya mati apalagi di saat dia harus menjalankan misi seperti ini.


"Hai!" Sarah tampak sumringah menerima kedatangan dari Stevan. Stevan hanya memberikan senyuman tipis tapi cukup untuk merayu wanita manapun. Jika dia menjaga sikapnya dan tak memunculkan sifat aslinya yang cukup aneh itu, semua wanita pasti akan menyukainya. Stevan langsung dipersilakan masuk ke dalam rumah Sarah dan segera duduk di salah satu sofa ruang tamu.


"Aku kira kau marah padaku setelah pembicaraan kita kemarin." Sarah duduk di dekat Stevan duduk.


Stevan menaikkan satu sisi bibirnya lebih tinggi dari pada yang lain. "Maaf, seharusnya aku tidak melakukan itu. Aku hanya merasa cukup kecewa." nada suara Stevan perlahan merendah.


"Maafkan aku."


"Tak masalah. Aku ke sini karena aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana keadaanmu. Pasti sangat sakit dicampakkan setelah pria itu memanfaatkanmu bukan?" Stevan memulai tatapan mautnya. Sarah memanyunkan bibirnya, mengangguk pelan. "Katakan padaku, apa kau masih ingin bersamanya?"


Sarah mengerutkan dahinya. Kenapa malah Stevan mengatakan hal itu? apa Stevan tidak suka padanya?


"Aku bukan tak suka padamu. Tapi aku yakin kau lebih menyukai Adrean daripada aku. Kau rela berkorban begitu banyak padanya. Pastilah dia sangat istimewa. Dan karena itu, aku ingin menolongmu kembali padanya."


Sarah mengerutkan dahinya menatap Stevan tak percaya. Bagaimana pria ini ingin melakukan itu?


Stevan memegang tangan Sarah lembut. Dia seolah bertampang tegar, lalu tersenyum. "Aku hanya ingin kau bahagia. Aku yakin kau sangat mencintainya, jadi aku rela dan ikhlas melepasmu." Dalam hati Stevan tertawa. Mana mungkin dia merasa sedih Sarah dengan Adrean. Tentu dia tak peduli.


"Bagaimana caranya?" tanya Sarah. Walaupun Stevan begitu lembut, tapi tak dipungkiri, perasaannya lebih kepada Adrean sekarang. Dia rela memberikan semuanya pada Adrean bahkan kesuciannya. Stevan bersorak horay di dalam hatinya Sarah memakan umpannya.


"Tentu aku bisa. Aku sudah merekam semua pembicaraan kita semalam. Aku akan mengirimnya pada ayahmu dan dia akan menekan Adrean untuk menikahimu."


"Tapi! ayah nantinya akan kecewa padaku!"


"Dia pasti lebih kecewa jika kau membiarkan dirimu dipermainkan oleh Adrean. Bukannya itu akan mempermalukannya seolah Adrean sudah menginjak-injak martabat ayahmu dan dirimu? bukannya ayahmu tak pernah memarahimu?"


Mata Sarah bergerak-gerak menatap ke arah Stevan yang memandangnya dengan tatapan sendu. Apa yang dikatakan oleh Stevan benar adanya. Adrean pasti menganggap remeh ayahnya jika Sarah terus menutupi kesalahan Adrean.


"Benar!" ujar Sarah.


"Jadi aku minta, kau hanya perlu kukuh dan mendesak Adrean untuk menikahimu. Kau tak perlu takut, dia tak akan melukaimu karena dia pasti takut pada ayahmu. Lagipula ada aku, sekarang aku akan selalu menjagamu bagaikan seorang kakak."


Sarah mendengar itu mengangguk mantap. Seolah terhipnotis dengan semua perkataan Stevan.


"Kau wanita hebat! secepatnya kita akan melakukannya. Esok kau harus menemui Adrean! desak dia untuk menceraikan istrinya dan menikahimu! dengan begitu dia tak akan berkutik."


"Baik! tapi kau benar-benar akan menjagaku kan?"


"Tentu saja. Kau adalah wanita yang selalu akan aku jaga. Jika perlu esok aku akan mengantarmu bertemu Adrean." Stevan sendiri mual mengatakan hal itu.


"Baiklah! besok aku akan datang untuk mendesaknya!"


"Bagus! sekarang aku harus mengirimkan pesan ini untuk ayahmu. Jangan khawatir semua akan berjalan dengan baik. Aku melakukan hal ini hanya demi kebahagiaan mu." Stevan mencium tangan Sarah hanya untuk menyakinkannya. Sarah mengangguk.


Ponsel Stevan bergetar. Dia lalu melihat ke arah ponselnya. Ajudannya menelepon dan Stevan memberikan gestur untuk menunggu, Sarah mengangguk. Dia langsung mengangkatnya.


"Ada apa?" tanya Stevan. Wajahnya langsung menunjukkan wajah yang sangat terkejut. "Ha? Xavier kecelakaan! Aku akan segera ke sana!"


Sarah tampak bingung melihat Stevan terlonjak. "Aku pergi dulu!"


Stevan segera keluar dari rumah Sarah dengan terburu-buru. Sarah hanya bisa diam melihat pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi.


Bagaimana bisa Xavier kecelakaan? ada apalagi ini? pikir Stevan kebingungan dan cemas.