
“Aku akan membunuhnya! Sialan! Pria itu sangat arogan!” pekik Tuan Robert sambil menggebrak mejanya.
Robert Kim adalah seorang yang dulunya penuh kuasa. Dia adalah orang terpandang dari keluarga yang juga terpandang. Dihina seperti tadi sangat membuatnya jatuh harga diri. Bagaimana bisa Tuan Bernando malah memilih bertemu dengan David Qing dan Xavier daripada bertemu dengannya. Padahal selama empat tahun ini dialah yang sudah berusaha. David Qing hanya diam karena beralasan bahwa dia selalu diawasi oleh pemerintah akibat dari kedudukannya sebagai perdana Menteri. Sebab itulah Tuan Robert lah yang lebih banyak berperan untuk meningkatkan elektabilitas dari Xavier.
Namun, ternyata itu semua hanyalah kebohongan David Qing semata. Dia diam-diam mengumpulkan semua kekuatan. Benar, mana mungkin Tuan Peter bisa tiba-tiba setuju menjadi wakil presiden kalau bukan hubungan itu sudah terjalin begitu lama.
Jadi selama ini dia hanya digunakan sebagai boneka! Mereka memperalatnya dan sekarang, setelah Xavier sudah punya nama, mereka meninggalkannya, merasa tidak ada untungnya lagi berdekatan dengannya. Pasti itulah yang ada di dalam pikirannya.
“Tuan?” tanya Asisten Robert Kim melihat wajah marah dari Robert Kim yang terus menerus dia tampilkan.
“Aku ingin kau melenyapkan David Qing dan Xavier secepatnya! Aku harus memberikan pelajaran bagi orang yang sudah berkhianat padaku. Aku juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku masih berkuasa dan tak boleh ada orang yang mempermainkanku. Buat ini bagaikan sebuah peringatan untuk mereka!” geram Robert Kim sambil terus menekan tangannya yang mengepal erat.
“Tapi Tuan, hal ini tak akan baik untuk kita. Semua orang tahu bahwa Anda dan Tuan David Qing keadaannya sedang tidak baik. Semua orang akan langsung berpikir kitalah pelakunya.”
“Karena itu, lenyapkan mereka berdua. Tanpa mereka berdua, keluarga Qing tidak akan melakukan perlawanan. Dan semua orang akan mulai memperhitungkan diriku! Kau kerjakan saja apa yang aku katakan! Mereka harus musnah, gara-gara mereka semua orang memandangku rendah!” ujar Robert lagi dengan senyuman liciknya.
“Kalau begitu aku akan mengirim beberapa pembunuh bayaran yang akan mengeksekusi mereka malam ini. Aku sudah mendapatkan data bahwa malam ini Tuan David Qing dan Tuan Xavier akan bertemu dengan Tuan Peter kembali di restoran teratai putih,” ujar Asisten Tuan Robert yang melakukan pemeriksaan.
“Cocok sekali, tempat itu cukup jauh dari kota dan juga terbuka, kirimkan penembak jitu untuk melakukan tugas itu,” perintah Tuan Robert yang kembali mengulas senyuman liciknya.
“Baik Tuan, saya akan mengatur semuanya,” ujar asisten Tuan Robert kembali.
******
Xavier masuk ke ruang tengah dari villa di tepi kota, tempat dia pernah membawa Graciella. Dia segera melirik ke arah Graciella yang segera bangkit dari tempat duduknya. Sudah hampir tiga jam dia menunggu pria ini.
“Bagaimana?” tanya Graciella dengan wajah yang sangat penasaran. Walau dia tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh Xavier. Tapi dia menjadi cukup cemas mendengar perkataan dari supir Xavier yang mengatakan bahwa Xavier bahkan mempertaruhkan jabatannya hanya untuk rencana ini.
Xavier hanya mengerutkan dahinya lalu berjalan ke arah Graciella, berhenti tepat di depan Graciella yang masih berwajah penasaran. “Bagaimana apanya?”
“Rencananya? Bagaimana? Apakah berjalan dengan baik?” ujar Graciella.
“Semuanya baik-baik saja. Semua berjalan dengan baik,” ujar Xavier dengan tatapan melunak. Wajah yang tadi tampak licik dan dingin berubah seketika menjadi lebih hangat.
“Baguslah, ehm, maafkan aku, tadi aku sedikit terbawa emosi jadi, ya ….” ujar Graciella yang tahu bahwa sebenarnya dia cukup merepotkan. Supir itu harus kembali lagi menjemput Xavier.
“Tidak masalah, kau sudah makan?” tanya Xavier melihat ke arah Graciella dengan tatapan sendunya.
“Kenapa makan makanan cepat saji begitu. Itu tidak bagus untuk kesehatanmu. Kau harus makan banyak makan makanan yang bergizi.” Xavier langsung mengambil ponselnya. Menelepon seseorang untuk menyiapkan makanan bagi Graciella.
“Eh? Tapi aku sudah tidak lapar lagi,” ujar Graciella yang bingung. Kenapa tiba-tiba malah dia minta makan?
“Tetap saja, gizimu tidak terpenuhi dengan baik. Seorang wanita harus banyak makan makanan yang bergizi agar memiliki anak yang sehat,” kata Xavier langsung yang membuat Graciella langsung terdiam. Anak? Graciella langsung merasa malu tersipu mendengarnya.
“Eh? Anak? Tapi aku sedang tidak mengandung,” kata Graciella langsung dengan wajahnya yang sedikit bingung, tapi wajahnya yang merona tidak bisa menutupi wajah tersipunya.
“Ya, persiapan.”
“Persiapan?” Graciella tiba-tiba saja tampak seperti orang bodoh. Dia tidak bisa mencerna perkataan Xavier dengan baik.
Xavier mengerutkan dahinya lalu mencondongkan wajahnya ke arah Graciella. Tentu hal itu langsung membuat Graciella terdiam memandangi wajah tampan di depannya yang sekarang berhiaskan sebuah senyuman tipis yang begitu saja sudah sangat manis.
“Jangan pura-pura bodoh Nona Graciella. Kau tahu apa maksudku,” ujar Xavier yang langsung menarik dirinya kembali berdiri tegak, meninggalkan Graciella yang masih diam dengan wajahnya yang bersemu semakin merah. Menggemaskan sekali.
“Eh, ya baiklah,” ujar Graciella yang sudah tidak bisa lagi mengatakan apa-apa.
“Ngomong-ngomong, aku jadi ingin memakanmu!” ujar Xavier yang langsung menerkam pinggang Graciella dan memanggulnya. Tentu gara-gara itu Graciella kaget dan seketika berontak. Tapi hal itu tak menghalangi Xavier membawa Graciella ke dalam kamarnya. Xavier menghempaskan tubuh Graicella di atas kasur dengan cukup lembut. Dia langsung membuka jasnya memandang Graciella dengan tatapannya yang penuh gairah.
“Xavier, jangan dulu,” ujar Graciella yang merasa tubuhnya sekarang tidak bisa menerima perlakuan seperti ini.
“Kenapa?” ujar Xavier mengerutkan dahinya. Tetap saja naik ke atas ranjang dan hendak menerjang wanita di depannya.
“Aku tidak bisa sekarang,” ujar Graciella yang tahu Xavier sepertinya sedang dalam masa suburnya, terbukti dia tidak lagi memikirkan apa pun dan langsung mencium leher Graciella. Membuat wanita itu kegelian tapi tetap saja tidak bisa merasakan gairahnya, tubuhnya benar-benar menolak sekarang.
“Kenapa?” tanya Xavier lagi yang melihat Graciella sepertinya sedang tidak ingin melakukan itu. Beberapa kali Graciella mendorong tubuhnya.
“Aku sedang dalam masa premensturasi, seluruh tubuhku rasanya sedang tak enak,” ujar Graciella lagi memandang mata hitam yang sebenarnya tampak begitu menggodanya. Hembusan napas Xavier yang menerpa pipinya terasa hangat.
Xavier menarik napasnya panjang. Dia memang merasa tidak bisa mengendalikan dirinya jika sudah berdekatan dengan Graciella. Dia bisa menahan dirinya di depan wanita lain, tapi jika sudah bersama Graciella. Rasanya bagaikan ada rasa rindu yang terus saja tak bisa terlampiaskan hingga tuntas.
“Baiklah, kau istirahatlah, aku akan mandi. Sebentar lagi jika makanannya sudah datang, makanlah lagi lalu istirahat kembali. Malam ini menginap saja di sini, aku akan menjagamu,” ujar Xavier pelan sambil mengusap-usap kepala Graciella tepat di tepian rambutnya. Graciella hanya bisa diam menatap ke mata hitam kelam itu.