
"Ada tiga orang baru yang sekarang mengikuti Anda," lapor Max menatap ke arah Antony yang hanya mengerutkan dahinya. Mereka berdua sedang berada di kantor Antony. Max memang selalu memberikan laporan tentang hal seperti ini.
"Tiga?" Tanya Antony yang merasa kenapa tiba-tiba bertambah begitu banyak.
"Ya, menurut mata-mata kita. Dua dari Nyonya Adelia dan satu dari Nyonya Qing."
"Graciella? Kenapa tiba-tiba dia mengirimkan orang untuk menyelidiki?" Antony mengerutkan dahi makin dalam.
"Sepertinya ada kaitannya dengan kedatangan Nyonya Adelia menemui Nyonya Qing. Mereka berbincang sejenak lalu setelah itu Nyonya Qing mengirimkan orang untuk menyelidiki Anda," jelas Max.
"Jadi ini semua ulah Adelia?" Antony memainkan rahangnya. Wanita itu kenapa susah sekali nyerah.
"Menurut penjaga Nyonya. Nyonya Qing menolak membantu Nyonya Adelia. Tapi, sepertinya memang pernyataan dari Nyonya Adelia yang memancing kecurigaan dari Nyonya Qing."
"Berarti saat ini aku benar-benar diawasi," gumam Antony sambil berpikir.
"Tuan, jika saya boleh memberikan pendapat saya mengenai hal ini. Tuan lebih baik sekarang bersikap normal dahulu. Detektif yang disewa oleh Nyonya Qing tak mungki selamanya tetap mengawasi Anda. Mungki. Seminggu ini dia akan Ada. Karenanya … bisakah Anda tidak menemui Nona Laura dahulu?" nasehat Max yang memang selalu menjadi pelindung Antony. Bahkan Antony lebih bisa membagikan semuanya dan juga memberikan kepercayaan hanya dengan pria ini.
Antony hanya diam menatap ke satu titik. Tapi matanya tampak menerawang jauh. Antony tak menyangka. Gurauannya dengan Laura ternyata menjadi kenyataan. Benar kata Max. Dia tak mungkin melakukan hal yang mencurigakan. Sedikit saja ada yang mencurigakan, Graciella bisa mengetahuinya. Karena itu lebih baik bermain aman.
"Baiklah, katakan pada Calton bahwa aku tidak akan ke sana selama beberapa hari atau Minggu. Minta dia untuk mengatakannya pada Nona Laura."
"Baik Tuan." Senyuman Max mengembang. Setidaknya sarannya diterima dan dia bisa tenang. Tidak akan ada yang membuat kedudukan Antony sekarang terancam.
...****************...
Laura memajukan bibirnya penuh. Wajah bebeknya terlihat jelas kala dia memakan sarapannya yang sebenarnya sangatlah menyelerakan tapi sama sekali tak dia sentuh.
Awalnya, Laura pikir Antony hanya berbual tentang hal dia tidak bisa datang ke tempatnya. Di kira Antony hanya ingin menggodanya. Tapi nyatanya, sudah hampir sepuluh hari pria itu tak ada kabarnya sama sekali.
Laura tentu frustasi. Yang hanya bisa dia lihat hanya televisi dan sekitar rumah yang sangat sepi ini. Calton mengatakan bahwa Antony sedang ada perjalanan bisnis hingga sama sekali tak bisa diganggu.
Laura juga sudah mengirimkan pesan. Mulai dari yang biasa hingga mengancam. Sayangnya, semua seperti diabaikan. Tak ada jawaban.
"Nona, saya hari ini akan keluar sebentar. Apakah Anda ingin menitip makanan?" Tanya Carton. Biasanya wanita ini selalu memesan sesuatu.
Laura menatap Calton dengan wajah kesalnya. Laura langsung berdiri. "Tak ada. Aku sedang tak berselera."
"Bagaimana dengan minuman?" Tanya Calton lagi.
Laura berpikir sejenak. "Es krim rasa vanila dan coklat." Sepagi ini makan es krim sebenarnya tak terlalu bagus. Tapi es krim dapat meredakan rasa kesalnya sekarang.
"Baiklah. Saya akan kembali dalam satu jam. Tunggu sebentar Nona," ujar Calton melempar senyuman manis.
"Ya, baiklah," ucap Laura segera meninggalkan tempat itu dan duduk kembali di atas sofa. Dia naikkan kakinya terlipat di depannya.
.
Laura segera menyalakan televisinya. Mencari hal-hal yang bisa membuatnya melupakan pria itu. Ah? Apakah ini rasanya rindu? Kenapa begitu menyiksa? Semua terasa salah. Hanya tidur aja yang membuatnya bisa melupakan perasaan menyesak ini.
Tapi kali ini, Laura menatap ke arah TV itu dengan mulut bebek yang kembali terlihat. Ada Antony sedang diwawancarai oleh stasiun TV itu.
Laura mendengar suara mobil yang berhenti di halaman itu. Tapi dia berpikir mungkin saja Carlton yang kembali lagi mengambil sesuatu.
Seumur hidup Laura, di baru kali ini sangat ingin bertemu dengan seseorang dengan sangat menggebu. Ah pria ini apakah dia tidak tahu Laura merindukannya.
"Sedang melihat apa?" Suara itu terdengar begitu dekat di telinga Laura bagaikan sebuah bisikan lembut. Laura mendengar suara yang sangat dia ingin dengar langsung melihat ke sumbernya. Antony tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
Laura tentu terlonjak kaget. Dia langsung melihat pria itu dengan tatapan tidak percaya. Antony hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya. Walaupun sedikit tapi tampak begitu manis.
"Kau?" tanya Laura yang merasa apa mungkin dia salah lihat?
"Ya?" Antony mengembangkan senyumnya.
"Dasar! Kenapa tiba-tiba pergi dan tiba-tiba datang! Kau kira kau ini siapa?" Laura langsung mengamuk. Mengambil bantal sofa dan langsung membuangnya ke arah Antony. Dia kesal sekali. Karena pria ini tak menemuinya selama sepuluh hari, tidur saja dia tak bisa tenang.
"Aku Presiden," ujar Antony menangkap salah satu bantal sofa yang dilemparkan oleh Laura. Tak satu pun yang kena ke tubuh Antony. Sepertinya koordinasi Laura benar-benar buruk.
Laura memasang wajah merajuknya. Bantalnya sudah habis. Dia ingin melemparkan hiasan yang ada di meja. Tapi dia masih berpikir kalau itu terkena Antony. Pria itu bisa terluka. Jadi dari pada khilaf, lebih baik dia melipat tangannya.
Antony melihat itu segera berputar mendekati Laura yang mengikuti gerakannya dengan mata. Pria itu sekarang ada di depannya.
"Walau kau Presiden, aku tidak takut! Kau ini mengesalkan sekali!" Laura memukul kecil dada Antony. Geram dan gemas melihat pria ini jadi dia ingin melampiaskannya sekarang.
Antony hanya tersenyum. Dia lalu menangkap tangan Laura. Membuat Laura diam dan hanya menatap kesal ke arah pria itu.
"Aku juga merindukanmu," ujar Antony lembut membuat Laura sedikit kaget.
"Siapa yang bilang aku rindu padamu?"
"Jadi kau tidak rindu? Untuk apa kesal begitu?"
"Eh? Aku kesal saja. Memangnya tak boleh?"
"Boleh, sini aku bantu untuk melepaskan kesalnya," ujar Antony menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya. Bagaimana pun, rindu ini menyiksa kedua buah pihak. Dia harus benar-benar memastikan tiga orang yang sedang menyelidikinya merasa tak ada yang berbeda darinya. Sepuluh hari tanpa komunikasi karena bukan dia saja yang diawasi, Max juga menjadi sasaran mereka.
Laura terdiam dalam pelukan hangat itu. Rasa kesalnya lumer begitu saja. Dia malah merasa sedih sekarang. Tanpa sadarnya dia membalas pelukan Antony dengan erat. Hal itu mengagetkan buat Antony. Selama ini, bagaimana pun cara Antony memperlakukan Laura. Wanita ini tak pernah mengubrisnya apalagi membalasnya.
"Aku ada di sini sekarang," bisik Antony pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pojok Author:.
Nanti malam ya kak, kita rolling sakitnya. Keluarga sehat saya tumbang