Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 288. Tak mungkin bukan?


Adelia terdiam duduk di taman kecil yang ada di belakang istana kepresidenan itu. Ayah dan ibunya sudah pulang. Begitu juga kedua mertuanya, Antony pun sudah hilang di balik ruang kerjanya.


Malam menyingsing cepat. Menyisakan cahaya rembulan dan beberapa lampu taman yang tak terlalu terang menemani Adelia di sana.


Adelia menyandarkan kepalanya ke tali ayunan yang terbuat dari rantai itu. Perlahan dia menggoyangkannya tapi matanya menerawang jauh.


Dia sudah merelakan. Itu yang terucap dan dia niatkan. Dia juga sudah lelah dengan semua ini. Sejujurnya bukan sifatnya untuk mencelakakan orang lain. Tapi melaksanakannya ternyata tak mudah. Bagaimana caranya membiarkan satu sisi hatimu untuk orang lain. Rasanya bagaikan tercabik begitu saja dan berdarah. Nyerinya bahkan sampai tak bisa lagi dikatakan.


Adelia hanya ingin mendapatkan cinta dari suaminya. Tapi suaminya sendiri tak ingin lagi cinta itu ada. Adelia hanya menggigit bibirnya dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Nyonya," suara pria terdengar menyapanya. Adelia tak langsung merespon. Beberapa detik kemudian barulah dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sumber suara. Pria yang kemarin menolongnya.


"Ada apa? Apakah aku Sudah tidak boleh lagi menikmati waktuku sendiri?" Tanya Adelia ketus. Sejujurnya hidup menjadi ibu negara tak selamanya enak. Hidupnya di atur dan juga begitu banyak hal yang membatasinya. Tentu, ibu negara harus menjaga nama baik suaminya. Tapi suami yang mana? Yang beberapa jam yang lalu ingin menceraikannya?


Adelia sebenarnya memiliki pemikiran untuk membongkar semuanya. Tapi, lagi-lagi, rasa cinta itu lebih kuat. Lagi pula jika sampai terbongkar, dia tetap pasti akan disalahkan oleh keluarganya. Tak bisakah dia menahan diri agar tetap menjadi istri presiden? Semua orang pasti berpikir begitu.


"Bukan Nyonya. Tuan meminta Anda untuk menggunakan pakaian ini, di luar sudah dingin." Raftan menunjukkan sebuah mantel berwarna coklat terang.


Adelia menatap pria itu dengan wajahnya yang sedikit bertambah sedih. Raftan melihat itu bingung, kenapa malah sedih?


"Jangan berbohong padaku. Antony bahkan tidak tahu aku ada di mana sekarang. Dia tak akan peduli apa yang aku lakukan. Bahkan dia tak akan peduli jika aku mati kedinginan di sini." Adelia langsung histeris yang seketika membuat Raftan bingung.


Dia memang berbohong. Dia melihat Adelia yang ada di taman belakang di tengah waktu yang cukup dingin. Raftan yang memang bertugas menjaga Adelia berinisiatif untuk membawakannya mantel. Tapi dia tak mungkin mengatakan mantel itu dari dirinya. Karena itu dia mengarang dan mengatakan itu dari Antony.


"Maafkan saya Nyonya. Saya tak akan menganggu Anda." Raftan memberikan salamnya. Undur memberikan mantel itu pada Adelia. Dia memang merasa lancang. Untuk apa dia harus melakukan hal ini walau pun dia merasa bahwa ini adalah tugasnya.


Adelia melihat pria itu. Seketika merasa tak enak karena sudah memarahinya. Tentu saja dia tahu bagaimana pun pria itu sudah berbaik hati ingin memberikannya mantel itu.


"Tunggu." Adelia melihat pria itu segera ingin pergi.


"Ya Nyonya." Raftan menjawabnya dengan tegas khas seorang tentara.


"Kenapa kau mau membawakan ku mantel itu?"


"Saya hanya menjalankan tugas saya."


"Tugas?"


"Ya, menjaga dan melindungi Nyonya dari apapun." Raftan sekali lagi mengatakannya dengan penuh keyakinan.


Adelia mendengar itu terdiam. Sebagai paspamres yang khusus menjaga dirinya. Itu memang tugas Raftan. Tapi, dia rasa tak sampai harus perhatian dengan membawakannya sebuah mantel.


Adelia melihat sikap siaga pria ini. Dia jadi tak enak menolak niat baiknya. "Baiklah, berikan padaku."


Raftan tak berubah ekspresinya. Dia berjalan dan memberikan mantel itu secara formal. Selesai menyerahkan Raftan kembali ke posisinya.


Adelia memakai mantel yang dibawa oleh Raftan. Seketika kehangatan menerpa dirinya. Terasa nyaman dan menenangkan hatinya yang gusar. Tak tahu karena mantel atau karena ada seorang yang menemaninya. Adelia hanya butuh itu.


"Siap! Benar Nyonya!" Ujar Raftan semangat seperti sedang berbicara dengan atasannya.


"Sudah jangan terlalu formal. Bisa kau menjagaku di sini? Aku masih ingin di sini beberapa waktu." Adelia sedikit tersenyum melihat tingkah kaku dari Raftan.


"Siap! Eh! Baik Nyonya."


Raftan segera berbalik. Adelia mengerutkan dshinya dan bingung kenapa pria itu malah melangkah menjauh. Bukannya katanya dia akan menjaganya di sini?


Tiga langkah besar Raftan lakukan dan barulah dia berhenti. Pria itu langsung melakukan 'istirahat di tempat' dan berdiri tegap.


"Raftan?" Tanya Adelia.


"Ya, Nyonya?" Raftan menjawabnya tanpa mengubah posisinya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Adelia bingung. Dia ingin Raftan ada di dekatnya. Bukan dia genit atau bagaimana? Dia hanya butuh orang ada di dekatnya, tak perlu berbicara. Hanya menegaskan bahwa dia tidak sendirian. Tapi pria itu malah menjauh darinya.


"Saya melakukan tugas Saya Nyonya. Menjaga Anda."


"Eh? Tak bisa menjaga lebih dekat?" Tanya Adelia mengerutkan dahinya.


"Tidak Nyonya. Ini adalah batas saya menjaga Nyonya."


Sebagai paspamres pria. Tentu dia tak boleh terlalu dekat dengan Ibu negara. Tugas itu sudah diambil alih oleh paspamres wanita.


Adelia mengerutkan dahinya. Walau merasa aneh. Tapi tak apalah. Memang istana ini terlalu banyak aturan.


Adelia ingin kembali memensngkan dirinya tapi dia malah tertarik dengan sosok yang dikatakan jauh, tak juga terlalu jauh darinya. Pria itu bergeming dan hanya melihat sekeliling. Adelia menjadi merasa lucu. Pria itu benar-benar melakukan tugasnya dengan kaku.


***


"Aku merasa ada yang aneh!" Graciella mengerutkan dahinya. Menatap suaminya yang baru selesai mandi dengan balutan handuk di pinggulnya. Tubuhnya yang penuh otot itu terlihat menyelerakan mata.


"Tentang apa?" Suara Xavier yang berat itu terdengar, Xavier akhirnya memakai baju tidurnya.


"Tentang Laura. Dia sepertinya malah tidak takut atau depresi. Tadi saja dia malah ingin menghubungi Antony. Kalau dia diculik. Bagaimana dia malah ingin menghubungi Antony. Apakah dia terkena Stockholm Syndrome?" Graciella seolah bertanya pada dirinya sendiri dari pada bercerita pada Xavier.


Xavier tak menjawab perkataan istrinya dan hanya duduk di samping ranjang mereka dan menyerahkan segelas susu hangat.


"Apa aku harus membawanya ke psikiater besok?" Tanya Graciella lagi menatap wajah suaminya yang datar. Sudah terbiasa dengan suaminya yang memang kurang ekspresi.


"Tak pernahkah berpikir kalau Laura bisa saja sudah menyukai Antonya?" Tanya Xavier.


Graciella mengerutkan dahinya. "Ehm, tak mungkin. Aku tahu bagaimana bencinya Laura terhadap pria itu!" Ya, tak mungkin bukan?