Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 55. Wanita Anda begitu hebat.


“Kenapa kau masih ada di sini? seharusnya kau tidak boleh mendengar hal ini. Ini adalah penemuan Graciella dan diriku. Kau jangan mengakui bahwa ini adalah penemuan mu!” ujar Stevan melirik ke arah Daren. Graciella hanya mengerutkan dahi, dia pikir pria yang berdiri tak jauh darinya ini adalah salah satu personel polisi, tapi sepertinya bukan.


Daren hanya tersenyum kecil, “Tenang saja, aku tak akan mengakui yang bukan kepunyaanku.”


“Yang ini juga kau tidak boleh kau ganggu! Kalau kau mengganggunya, kau cari mati!” ujar Stevan sambil menunjuk Graciella. Graciella hanya mengerutkan dahinya, memangnya dia sebuah barang?


“Tidak, sejujurnya aku hanya kagum dengan pemikiran Nona ini. Nona aku Daren, dan Nona adalah ….” Kata Daren sopan sambil menjulurkan tangannya. Stevan mengerutkan dahinya. Graciella memang punya daya tarik tersendiri.


“Namanya Graciella. Sekali undurkan niatmu mendekatinya, bahkan aku saja tak bisa,”  ujar Stevan lagi dengan serius mengancam Stevan dan menapis kecil tangan Daren.


“Eh? aku kira kau dan Nona Graciella?” ujar Daren yang dari awal berpikir Stevanlah orang yang bersama dengan Graciella.


“Oh, bukan ….” Kata Graciella segera.


“Sudah aku katakan aku bahkan tak berani menyentuhnya. Ya!  baiklah, lebih baik kita kembali masuk ke dalam, " ujar Stevan segera mengambil posisi untuk mendorong Graciella. Herannya, Daren pun seolah terpanggil mengikuti Graciella.


Stevan segera membawa Graciella ke dalam kantor polisi itu. Tapi baru sebentar saja dia masuk ke dalam. Stevan langsung didatangi oleh bawahannya.


“Komandan, apakah Anda ingin mengikuti rapat untuk penangkapan Tuan Don?” tanya salah satu bawahan dari Stevan. Stevan tentu sangat ingin mengikutinya, tapi dia tidak mungkin mengizinkan Graciella untuk masuk. Para bawahannya pasti akan mencurigai Graciella jika ada apa-apa.


“Tidak akan ada yang berani melakukan apa-apa padaku. Pergi saja jalankan tugasmu. Aku akan menunggu di sini. Tidak apa-apa," ujar Graciella yang lagi-lagi tak mau menjadi beban. Saat ini saja dia merasa sungkan sudah merepotkan Stevan untuk menjaganya. Lagipula, entah apa yang membuat Xavier menitipkan Graciella pada Stevan.


“Baiklah, aku akan pergi sebentar mengurus semuanya. Aku akan meminta beberapa polisi wanita untuk bersamamu," ujar Stevan. Bagaimana pun dia sudah berjanji. Xavier mengatakan bahwa Adrean pasti akan kembali berusaha untuk membawa Graciella pergi, jadi dia harus menjaga Graciella dengan sangat baik. Stevan tahu kekhawatiran dari Xavier. Dia pasti ingin menjaga Graciella dan tak ingin kejadiannya yang dulu terulang lagi.


Graciella hanya mengangguk mengerti. Stevan segera pergi tanpa memperhatikan kehadiran Daren yang dari tadi ada di dekat mereka. Daren yang melihat Stevan meninggalkan Graciella segera berjalan ke arah wanita itu.


“Nona Graciella,” sapa Daren. Graciella yang tadinya sedang mengamati sekitar langsung melihat sumber suaranya.


“Eh? Ya?” kata Graciella.


“Aku tahu kita belum berkenalan dengan baik. Jangan salah sangka dulu Nona, Aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya benar-benar kagum dengan analisa Anda. Apakah Anda juga bekerja di kepolisian? Apakah Anda salah satu detektif di sini?” ujar Daren lagi. Sejauh dia berkecimpung di dunia penyelidikan, dia belum pernah bertemu dengan wanita ini.


“Oh, bukan. Aku hanya seorang dokter. Kebetulan saja aku bisa memikirkan hal itu," ujar Graciella dengan wajah sedikit sungkan. Dia sejujurnya tak pernah menyukai proses untuk berkenalan dengan orang lain. Mungkin dia memang sedikit introvert.


“Tapi dataku mengatakan hal lain. Anda pernah membantu seorang gadis lepas dari penculikan yang membuatnya terhindar dari pembunuhan. Anda hebat," puji Daren yang sempat mencari tahu sedikit tentang Graciella.


“Semua hanya kebetulan semata," ujar Graciella canggung. Semakin Daren memuji semakin canggung dia rasa.


“Namaku Daren Lee, keluargaku dan aku sendiri memiliki sebuah usaha di bidang penyelidikan, tepatnya sebuah badan detektif swasta. Anda pasti tahu tentang detektif swasta bukan? kami di sewa untuk memecahkan kasus jika korban atau keluarga korban merasa memerlukan penyelidikan lebih mendalam dibandingkan dari kepolisian." Jelas Daren.


“Dan aku rasa, dengan kemampuan Anda, Jika Anda berminat, Anda bisa bergabung dengan kami," ujar Daren dengan semangatnya. Senyumnya menceritakan semuanya.


“Eh? tapi aku tidak punya dasar sama sekali dalam penyelidikan. Dan analisaku tadi hanya kebetulan," ujar Graciella.


“Semua bisa dipelajari. Jika Anda mau, aku bisa membantu Anda mempelajarinya, bahkan jika Anda butuh rekomendasi untuk mengambil pendidikan dalam penyelidikan. Kami akan dengan senang hati memberikan rekomendasi bahkan memberikan beasiswa dengan catatan Anda akan bekerja di badan usaha kami," ujar Daren.


“Eh? aku rasa nanti aku akan pertimbangkan," ujar Graciella tersenyum sedikit.


“Baiklah …. Ehm, ya ampun, di mana sopan santunku. Seharusnya aku mengajak Anda mengobrol di tempat yang lebih layak. Bukan di tengah jalan seperti ini. Nona, ingin makan makan kecil? Aku dengar sandwich di kantor polisi ini lumayan enak. Bagaimana?”


“Eh? aku tidak ingin makan siang dulu. Aku juga sudah berjanji pada Stevan untuk menunggunya di sini," tolak Graciella dengan halus. Bagaimana pun dia tidak bisa dengan mudah menerima ajakan dari pria yang baru dia kenal seperti ini.


“Bagaimana jika hanya minum?” tawar Daren lagi. Sangat langka bertemu dengan wanita yang cerdas seperti ini. Dia benar-benar kagum dan berharap Graciella bisa menerima bergabung dengan badan usahanya.


“Aku ….” Ujar Graciella yang terpotong ketika melihat sosok yang dia kenal sudah berdiri tak jauh dari mereka. Graciella membesarkan matanya dan menahan napas ketika melihat wajah tak bersahabat dan juga tegas itu terlihat mendekatinya. Langkahnya tegas dengan wajah yang tampak tak suka. “Xavier?”


Daren mengerutkan dahi melihat ke arah yang dilihat oleh Graciella. Dia menangkap apa yang terjadi. Inikah yang dikatakan oleh Stevan. Letnan Jendral Xavier? Graciella adalah wanitanya? Pantas saja Stevan benar-benar mewanti-wantinya.


“Eh? kenapa ada di sini? bukannya akan pulang malam?” tanya Graciella melihat pria itu berdiri di dekatnya. Dia masih menggunakan seragam militernya sepertinya dia langsung ke sini dari tempatnya bertugas. Hal ini tentu menjadi sebuah pusat perhatian. Untuk apa seorang tentara datang ke kantor polisi? Apalagi ada beberapa bawahan Xavier yang berjaga di luar.


Xavier tak langsung menjawab. Dia melirik ke arah Daren yang hanya bersikap ramah. Senyumannya mengembang. Graciella mengerutkan dahi melihat keadaan yang sedikit tegang ini.


“Letjend Xavier. Tak menyangka bertemu Anda di sini?” kata Daren ramah.


“Jangan berani mengganggunya,” ucapan itu datar, tapi terasa bagaikan sebuah peringatan keras.


“Oh, tidak. Saya hanya menawarkan untuk bergabung di badan usaha saya. Saya tidak punya maksud menganggu wanita Anda. Tiap Anda sangat beruntung, Wanita Anda sangat hebat.”


Xavier tak menjawab apapun tapi mendengarkan pujian dari Daren membuatnya mempertajam pandangannya pada Daren. Tapi sepertinya Daren santai melihat hal itu. Xavier lalu segera mengambil posisi untuk mendorong Graciella yang hanya bisa diam saja. Dan mulai ingin membawanya pergi dari sana. Graciella hanya bisa pasrah saja.


“Nona Graciella." Daren menghentikan langkah Xavier. Xavier bahkan sampai membesarkan matanya karena tingkah Daren. " Ini kartu nama saya. Jika berubah pikiran, tolong hubungi saya. Terima kasih," ujar Daren tanpa takutnya memberikan kartu nama pada Graciella. Padahal semua orang sudah bisa merasakan aura menekan dari Xavier.


“Eh, baiklah, terima kasih," ujar Graciella sedikit tersenyum.


“Berhenti tersenyum, kita pergi dari sini!” ujar Xavier yang benar-benar tak suka Graciella tersenyum pada Daren. Graciella hanya mengerutkan dahinya. Masa sekarang dia tersenyum saja tidak boleh?