
"Paman tidak menangis. Paman hanya merasa nyeri karena kaki paman." Ujar Xavier. Dia memandang sedikit ke arah Graciella yang memandangnya dengan sedikit kerutan wajah. Belum! Dia belum siap mengatakan yang sebenarnya.
"Moira!!!" Suara Stevan menggelegar hingga membuat Moira sampai kaget. Bukan hanya Moira. Graciella pun kaget karena Stevan datang tiba-tiba. "Lihat Paman bawa apa?"
Moira yang tadinya membesarkan mata karena kaget langsung tersenyum manis melihat boneka Teddy Bear yang lebih besar dari pada yang dia peluk sekarang. Matanya langsung menunjukkan kilaunya. Moira tersenyum senang.
“Teddy!” ujar Moira sambil meloncat-loncat kecil tak sabaran untuk memeluk boneka yang tinginya bahkan hampir sama dengan tinggi badannya.
“Ya! ayo main dengan Paman, bukannya tadi Moira sudah berjanji akan main dengan Paman jika Paman sudah pulang.” Stevan segera melewati Graciella dan Xavier yang hanya mengerutkan dahinya melihat kelakuan dari Stevan. Stevan segera menyambar tubuh Moira dan menggendongnya. Moira mau saja karena iming-iming boneka itu. “Nona Graciella, tolong jaga temanku, kakinya retak loh, kenapa kau membiarkan dia bersujut seperti itu. Aku serahkan dia padamu ya!” ujar Stevan yang membuat Graciella mengerutkan dahinya. Kenapa dia yang disalahkan? Xavier sendiri yang ingin seperti itu.
Selepas mengatakan hal itu, Stevan tanpa merasa bersalah langsung berjalan meninggalkan Xavier dan Graciella.
Xavier tampak sedang berusaha untuk bangkit dari sujutnya. Graciella melihat hal itu segera membantu Xavier. Memeluk tubuhnya agar bisa menarik tubuh pria yang tegap dan juga lebih tinggi darinya itu. Xavier melihat Graciella yang inisiatif memeluknya hanya terdiam sesaat memadang wajah Graciella yang begitu dekat dengannya. Dia tersenyum tipis yang membuat Graciella cukup salah tingkah.
“Jangan terlalu memaksakan dirimu, kau sedang sakit.” Graciella mencoba menutupi wajahnya yang bersemu merah. Tapi, Xavier tidak menanggapinya sama sekali. Hanya terlalu senang Graciella melakukan hal itu padanya.
Perlahan Graciella menuntun Xavier untuk masuk lebih dalam ke rumah Stevan. Stevan yagn sedang bermain dengan Moira di ruang tengah memperhatikan Graciella dan Xavier.
“Nona Graciella. Tolong bawa temanku ke kamarnya, Kamarnya ada di depan kamar kalian. Aku sedang tidak bisa diganggu. Saat ini aku hanya milik Moira seorang.” Goda Stevan kembali mencubit pipi Moira hingga yang empunya kembali meringis.
“Stevan! Lepaskan tanganmu,” ujar Xavier refleks karena tak suka melihat anaknya meringis dibuat oleh Stevan.
“Woh! Ayahmu galak sekali,” ujar Stevan mengatakan ke arah Moira yang kembali asik dengan mainannya. Graciella yang mendengar itu mengerutkan dahinya. Ayah?
Stevan lalu menangkap tatapan tajam yang langsung diberikan oleh Xavier padanya. Dia langsung ingat bahwa seharusnya dia tidak mengatakan hal itu. “Calon ayah, maksudku begitu.”
Xavier memasang wajah masamnya. Klarifikasi Stevan bukannya membuat keadaan makin malah menjadi semakin mencurigakan. Graciella tetap mengerutkan wajahnya menatap Xavier dan Stevan bergantian. Untunglah tiba-tiba saja suara bel langsung terdengar.
“Wah Moira! Ada tamu! Kita lihat siapa yang datang!” ujar Stevan tiba-tiba dengan semangat dan nada seperti seorang pembawa acara anak-anak. Moira mendengar itu mengangguk dan tertawa kecil melihat tingkah Stevan. Baginya paman yang satu ini begitu lucu walaupun sangat suka mencubit pipinya.
Stevan segera berdiri dan menuju ke arah pintu rumahnya bergandengan tangan dengan Moira.
“Bisa kita ke kamar sekarang? Kaki kananku pegal,” pinta Xavier agar Graciella tidak curiga. Graciella adalah gadis yang cerdas dan sangat teliti. Tentu hal seperti ini membuatnya sedikit bertanya-tanya. Hatinya mengatakan bahwa ada hal yang ditutup-tutupi darinya, tapi dia tak ingin menebaknya. Graciella menggangguk pelan sambil perlahan menuntun Xavier berjalan ke arah kamarnya.
Stevan segera melihat siapa yang datang karena pintu rumah itu sudah dibuka oleh pelayan sebelum mereka datang. Wajahnya berkerut melihat wanita yang berdiri di depan rumahnya.
“Moira sayang! Bagaimana kabarmu? Bibi sangat khawatir!” Laura tanpa mengatakan apapun langsung saja memegang pipi tembam milik Moira. Melihat keadaan Moira dengan gaya cemasnya yang cukup berlebihan. Dia memeriksa seluruh badan dari Moira.
Tentu hal ini membuat Moira dan Stevan sedikit kaget dan heran karena tiba-tiba saja wanita ini begitu histeris melihatnya.
“Bagaimana kau bisa datang ke mari?” tanya Stevan melihat ke arah Laura.
Laura langsung melihat ke arah Stevan dengan wajahnya yang galak. Dia hanya berwajah manis dengan pria-pria tipenya, contohnya Xavier. Jika dengan pria lain dia berwajah segalak mungkin. “Graciella yang mengatakan dan memintaku untuk datang. Kenapa? Kau tak mengizinkanku datang ke sini? Kalau tidak boleh katakan saja!” galak Laura mengatakannya pada Stevan yang semakin mengerutkan wajahnya setiap kali Laura berkata. Wanita ini seperti lokomotif, kata-kata keluar terus dari mulutnya, pikir Stevan.
“Bagus! Lalu mana Graciella! Kau tidak melakukan apapun pada sahabatku itu kan?” ujar Laura lagi membusungkan dadanya dan mencodongkan tubuhnya ke arah Stevan yang semakin lama harus semakin memundurkan tubuhnya.
“Kau ini wanita seperti apa? Jika berbicara lebih berisik dari senjata api AK-47. Graciella sedang bersama Xavier! Jangan mengganggu mereka,” ujar Stevan mulai kesal juga. Wanita ini lebih galak daripada atasannya dulu. Stevan melihat Laura dari atas sampai bawah.
“Apa yang kau lihat-lihat?” tanya Laura dengan nada ketusnya.
“Pantas cerewet, ini pasti karena tak ada yang mau denganmu hingga kau menjadi perawan tua.” Stevan dengan entengnya mengatakan hal itu.
“Kau bilang apa!” pekik Laura.
“Belisik!” ujar Moira tiba-tiba membuat kedua paman dan bibinya yang ribut seperit anjing dan kucing. Mendengar Moira mengatakan hal itu, baik Laura maupun Stevan langsung terdiam tapi saling melempar tatapan sinisnya.
“Moira sayang, di mana mama?” tanya Laura tiba-tiba berubah manis.
“Mama sama paman di kamal” ujar Moira menunjukk ke dalam rumah.
“He? Di kamar?” tanya Laura yang jiwa penasarannya langsung membuncah. Graciella dan Xavier di kamar siang begini, sedang apa? Laura segera berjalan ingin masuk lebih dalam tapi langkahnya terhenti ketika kerah bajunya ditarik oleh seseorang. Nyatanya itu adalah Stevan.
“Hei cewek lokomotif, jangan mengganggu orang yang sedang berduaan. Kalau mau begitu, lekas cari pria!” ujar Stevan menarik Laura ke ruang tengah.
“Ih! Kau ini apa-apaan sih!” kata Laura terusik.
“Jangan aneh-aneh, di sini saja. Biarkan mereka berdua. Kau bantu aku menjaga Moira, biarkan Graciella dan Xavier memberi Moira adik,” ujar Stevan menggendong Moira kembali ke ruang tengah.
Laura langsung membesarkan matanya dan ternganga. Dia langsung mendekati Stevan. “Apa maksudmu mereka sedang …. “ Stevan hanya mengerutkan dahi melihat wajah Laura yang sangat terkejut. “Bukannya kalau melakukan itu seharusnya malam hari?”
“Melakukan seperti tak harus malam hari, kapan saja jika mau juga bisa. Kau belum pernah ya? Ternyata benar perawan tua!” ejek Stevan.
Laura yang mendengar ejekan Stevan langsung naik darah dan memukul kepala Stevan dengan tas hingga Stevan kesakitan. “Sekali lagi kau mengatakan aku perawan tua! Aku suntik mati kau!”
“No! No! Tidak boleh kasal” Moira tak habis pikir melihat paman dan bibinya.
“Kau membuat contoh yang tidak baik.” Stevan menatap wanita itu kesal, Laura hanya menjulurhkan lidahnya mengejek. Untung wanita, kalau tidak dia sudah tembak kepalanya, pikir Stevan melirik Laura yang tanpa rasa bersalah langsung duduk dan bercengkeramah dengan Moira.
Stevan melirik ke arah dalam rumahnya. Karena Laura, dia juga jadi penasaran. Sedang apa Xavier dan Graciella di dalam?
“Paman, main,” pinta Moira.
“Oh! Pasti! apa sih yang tidak buat Moira!” ujar Stevan dengan wajahnya yang penuh senyuman. Dia segera duduk dan bermain dengan Moira. Untuk sesaat, Laura dan Stevan terlihat akur hanya karena Moira.