Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 53. Komandan, jangan menyukaiku!


Xavier tak juga menjawab. Dia kembali memalingkan pandangannya ke sembarang arah. Wajahnya tampak memunculkan sebuah kerutan yang makin lama makin dalam.


“Kau tidak perlu memberikan jawabannya padaku. Berikan jawaban itu pada dirimu sendiri. Tapi jika aku boleh berpesan padamu, aku yakin Graciella sudah begitu banyak melewati kesusahan saat dia menikah dengan Adrean Han. Maka, kalau kau hanya ingin menikahinya karena seperti yang aku katakan tadi, lebih baik kau tidak menikahinya. Cukup lepaskan dia dari siksaan Adrean.” Nasehat dari Stevan yang membuat Xavier memindahkan pandangannya kembali ke arah Stevan. “Ah! sudah malam, aku sudah mengantuk, boleh aku menginap di rumahmu ya? aku akan tidur di kamar biasa! kau tidurlah! bukannya besok kau harus pergi? Aku tinggal ya!" Stevan bangkit dan sedikit menguap meninggalkan Xavier yang hanya duduk diam.


Xavier berjalan keluar dari ruang kerjanya setelah cukup lama berpikir. Sialnya, semakin lama semakin dia tak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan Stevan yang hingga kini menghantuinya.


Tapi baru saja dia ingin melangkah keluar dia melihat Rin yang tampak berdiri di dekat pintu kaca yang menuju ke taman belakang. Dia mengerutkan dahinya. Untuk apa Rin malam-malam berdiri di sana, sehingga dia memutuskan berjalan ke arah Rin.


Xavier berdiri menatap pemandangan yang dia bisa lihat dari balik kaca itu. Dia melihat Graciella ternyata sedang duduk di bangku taman yang menghadap kolam renang.


Graciella tampak menikmati waktunya sendiri menatap ke arah kolam renang yang tenang. Pantulan dari cahaya lampu dari sisi-sisi kolam renang membuat suasana menjadi indah. Belum lagi bulan tampak begitu bulat menerangi malamnya di taman yang cukup tertata indah walaupun terkungkung oleh tembok tinggi.


Xavier memandangi wajah wanita yang tertimpa bayangan air. Semakin cantik walaupun dia sudah menghapus semua riasan wajahnya. Dia tanpa sadarnya menaikkan sudut bibirnya ketika melihat Graciella sesekali membenamkan kakinya yang tak terluka ke air.


"Tuan," ujar Rin yang baru melihat kedatangan dari Xavier. Xavier mengeluarkan gestur agar Rin tak perlu memberitahukan Graciella tentang keberadaannya. Dia masih ingin melihat tingkah polos dari Graciella. "Ambilkan selimut," perintah Xavier ketika melihat Graciella mulai menggosok kedua lengan atasnya. bersidekap memeluk dirinya.


Rin segera melakukan permintaan Xavier, tak lama dia membawa selimut kecil yang segera Xavier bawakan untuk Graciella.


Graciella kaget ketika tiba-tiba Xavier langsung menyelimuti dirinya dari belakang.


"Belum tidur?" tanya Xavier duduk di samping Graciella.


"Tepatnya tidak bisa tidur. Mungkin karena di tempat baru." Graciella melirik ke arah pria yang berwajah datar itu. Dia mengikuti Graciella yang menatap ke arah kolam. Entah sudah berapa lama dia tak pernah lagi duduk di tepi kolam ini.


"Jangan terlalu lama, nanti terkena flu." datar Xavier mengatakannya. Graciella hanya tersenyum dan keheningan segera menemani mereka berdua.


Graciella menarik selimutnya lebih erat menutupi tubuhnya. Udara malam semakin mendingin. Desir angin pun sudah tak lagi sepoi perlahan berderu lebih kencang. Tapi rembulan di atas langit malam itu masih saja begitu cemerlang.


"Jika sudah tak tahan, lebih baik kembali ke dalam," ujar Xavier melihat apa yang dilakukan oleh Gracilella.


"Aku masih ingin melihat bulan, sudah lama aku tidak melihatnya. Kau tahu, saat aku kecil, aku tinggal di sebuah panti asuhan. Lalu ada sekelompok mahasiswa yang membuat persembahan drama untuk kami. Aku ingat itu kisah tentang 'The butterfly lover'. Ya, aku tahu itu adalah sebuah pementasan yang cukup aneh untuk ditonton anak-anak berumur tak lebih dari dua belas tahun." Cerita Graciella mengenang masa lalunya. Melihat bunga-bunga di sana mengingatkannya bahwa sudah lama dia tak pernah melihat keindahan kupu-kupu. "Apa kau pernah melihat atau tahu tentang cerita itu?"


Xavier diam sejenak berusaha untuk mengingat. Sepertinya tak pernah, dia hanya menggeleng pelan.


"Itu cerita kuno yang cukup bagus dan terkenal. Tentang Zhu Ying Tai, seorang gadis yang menyamar menjadi seorang pria hanya agar dia bisa belajar. Saat itu dia bertemu seorang pria bernama, Liang Shan Bo, dan menjadi sahabat karib. Ying Tai lalu jatuh cinta pada Shan Bo. Tapi karena Shan Bo tak tahu Ying Tai adalah wanita, dia hanya menganggapnya teman. Lalu Ying Tai ternyata akan dijodohkan dengan seorang pejabat di daerahnya. Ying Tai lalu mengakui bahwa dia wanita, dan tanpa disangka, mereka ternyata punya perasaan yang sama dan berjanji jika mereka meninggal mereka akan dikuburkan dalam satu liang yang sama. Tapi cinta mereka tetap ditentang keluarga mereka, Ying Tai tetap akan dijodohkan. Shan Bo yang begitu rindu terhadap Ying Tai akhirnya meninggal. Ying Tai yang tahu itu langsung datang, tak disangka kuburan itu terbuka dan Ying Tai masuk ke dalamnya sesuai janji mereka. Menurut legenda mereka akhirnya menjadi sepasang kupu-kupu." Graciella perlahan bercerita seolah sedang mendongeng pada seorang anak.


"Ya! aku masih berpikir yang sama seperti saat aku pertama kali tahu tentang kisah itu. Kenapa harus ada cinta jika akhirnya mereka harus mati, apakah kematian yang mempersatukan mereka? apakah harus seperti itu untuk menjadi sebuah kisah cinta yang abadi? semakin aku dewasa, aku semakin bingung, kenapa kisah-kisah romantis terkenal harus berakhir dengan kematian? Romeo and Juliet, Cleopatra dan Marc Anthony, Laila dan Majenun, benar bukan? bukannya lebih baik mereka diakhir dengan bahagia dalam kehidupan bersama?" ujar Greciella mengutarakan pikirannya.


Xavier tak langsung menjawab, dia melihat wajah Graciella yang tampak menuntut jawaban.


"Itu hanya cerita cinta yang terlalu membesar-besarkan. Mereka hanya ingin melukiskan bahwa bahkan kematian pun bukan halangan untuk mencintai. Padahal tak begitu kenyataannya." Xavier menaikkan sudut bibirnya. Dia sudah merasakannya.


"Benarkah? lalu apa menurutmu tentang cinta?" Graciella menatap pria yang hanya menatap lurus ke depan. Ketegasannya bahkan terlihat saat seperti ini.


"Rumit, cinta itu rumit. Tapi yang pasti, jika aku mencintai seseorang aku pasti ingin melindunginya dari semuanya agar dia tetap bahagia." ujar Xavier menatap mata Graciella. Xavier membesarkan matanya. Seketika saja sadar bahwa tanpa sepengetahuannya, nyatanya dia ingin melindungi wanita yang sedang menatapnya dengan senyuman tipis nan manis. Tak ingin senyuman itu hilang dari wajahnya.


"Itu terdengar indah. Wanita yang nantinya kau cintai pasti sangat beruntung." Graciella kembali melempar pandangnya ke arah kolam.


"Kalau kau merasa begitu. Izinkan saja aku melindungi mu."


Graciella refleks menatap ke arah Xavier. Menganalisa wajah Xavier yang penuh keyakinan. Perasaan hangat menjalar di antara udara dingin disekitarnya. Seandainya Xavier datang 3 tahun yang lalu sebelum Graciella terikat dengan Adrean. Mungkin dia bisa menerima pria ini dengan baik. Tapi ....


"Aku berterima kasih untuk kebaikan mu. Tapi, Komandan, tolong jangan menyukaiku." Graciella menggigit bibirnya setelah mengatakan itu.


"Kenapa kau terus menolakku?" ujar Xavier dengan wajah berkerut. Baru saja dia mengetahui perasaannya pada Graciella tapi lagi-lagi wanita ini menolaknya.


"Jika aku menerimamu, apa bedanya aku dengan suamiku? Aku hanya wanita yang tak punya apa-apa. Sampai sekarang, yang aku punya hanya harga diri. Jika aku menerimamu, Di mata orang lain maka aku tak akan punya harga diri lagi."


"Kalau begitu aku akan berusaha sekuat tenaga agar kau berpisah dengan suamimu. Berjanjilah menerimaku setelahnya." Xavier menatap erat penuh arti pada Graciella. Dia bahkan memegang kedua lengan atas Graciella, sedikit mengundang tubuhnya yang kecil seolah ingin menegaskan apa yang dia katakan.


Graciella hanya melihat pantulan dirinya dari manik mata Xavier. Dia menunduk dan kembali menggigit bibirnya lebih keras.


"Graciella, berjanji lah!" tuntut Xavier lagi.


Graciella mengangguk pelan. Xavier melihat itu akhirnya merasa cukup lega. Dia langsung menarik tubuh Graciella dalam pelukannya. Entah kenapa rasanya begitu bahagia hanya karena janji kecil yang terucap.


"Aku benar-benar akan melakukan segala cara agar kau bisa lepas dari Adrean! berjanjilah, apapun, siapa pun yang mencoba untuk memisahkan kita. Kau tak boleh menyerah!" Bisik Xavier dengan pelukan yang semakin erat.


Graciella kembali mengangguk. Walaupun dia tak tahu pastinya bagaimana cara Xavier bisa membuatnya berpisah dengan Adrean, tapi pelukan hangat Xavier benar-benar menghayutkan.