Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 157. Dia harus menemui pria itu!


“Bukannya dia sangat cantik?” tanya Stevan lagi melihat wajah Graciella yang penuh dengan air mata. Graciella menangguk dengan cepat. Air matanya benar-benar jatuh tidak bisa dikontrol olehnya. Rasa rindu yang tiba-tiba muncul begitu saja membuatnya ingin memeluk gadis kecilnya. Tapi bagaimana? Bagaimana dia bisa memeluknya lagi. Graciella memeluk ponsel Stevan sebagai pelampiasannya. Walau tak bisa mengulik ingatannya tentang tawa, hangat atau suara anaknya,  tapi dia merasa begitu dekat. Dekat tapi juga terasa begitu jauh.


Stevan membiarkan Graciella menuntaskan semua perasaannya. Stevan menarik napasnya panjang mendengarkan suara pilu Graciella. Diat tidak ingin menenangkannya. Biar segala perasaaan yang ada di dalam hati Graciella tuntas. Stevan sesekali menarik napasnya yang juga terdengar berat. Dia juga beberapa kali membuang pandangnya dan mengusap matanya yang memerah.


Selama ini Graciella selalu menebak bagaimana hancurnya perasaan orang-orang yang dia bantu kasusnya. Kehilangan seseorang yang begitu berharga bagi mereka? Graciella selalu ingin tahu bagaimana bisa mereka tampak begitu hancur bahkan seperti kehilangan akal sehatnya ketika mengetahui orang-orang terkasihnya meninggalkan mereka. Bahkan ada yang juga ingin menyusul mereka. Graceilla tak habis pikir, bagaimana orang bisa ingin pergi meninggalkan dunia hanya untuk menyusul mereka yang sudah tiada.


Tapi, saat ini, Graciella akhirnya tahu. Bagaimana hancurnya perasaan seseorang ibu yang ditinggal pergi oleh darah dagingnya. Bahkan saat ini, walau dia hanya mendengar semua ini dari stevan sakitnya sudah begitu sangat nyata menggoyak hati bahkan seluruh tubuhnya. Dia tidak tahu lagi bagaimana sakitnya saat hal itu baru terjadi. Pasti lebih beribu kali lipat dari sini. Pantaslah jika, dia menghapus semua hal ini dari ingatannya. Jika tidak, mungkin dia tak lagi bisa duduk di sini. Mungkin saja dia sudah ada di rumah sakit jiwa sekarang.


“Mengapa mereka bisa melakukan itu pada putriku? kenapa mereka tega melakukannya?” tanya Graciella tak habis pikir. Apakah tidak ada belas kasihan mereka saat menatap wajah putrinya? di mana hati mereka ketika menyaksikan putrinya meregang nyawa! apa yang mereka pikirkan saat mereka mengambil nyawa putrinya? apa mereka bisa tidur saat melihat tatapan terakhir anaknya? Graciella tak habis pikir.


“Kami juga tidak tahu pasti bagaimana. Aku sudah mencoba terus menyelidiki semua tentang Moira. Tapi semuanya pun tidak mendapatkan apa-apa. Jenderal Marco yang merupakan salah satu kunci dari peristiwa ini pun tidak bisa lagi dimintai keterangan karena dia sudah ditemukan meninggal karena gagal jantung setahun setelah kejadian yang menimpa dirimu dan juga Moira. Dua orang yang dicurigai akan kasus ini juga saat itu sama sekali tidak bisa disentuh. Dan, aku tidak tahu pasti apa yang mereka  lakukan pada Xavier, tapi mereka menanamkan pemikiran palsu padanya hingga dia tidak ingin bertemu kembali denganku,” ujar Stevan menjelaskan apa yang dia dapatkan.


Graciella menggenggam erat tangannya ketika mendengar penjelasan Stevan. Tiba-tiba saja ada amarah yang sekarang menguasai hatinya. Selama ini dia sibuk memecahkan kasus orang lain tanpa menyadari bahwa sebenarnya dia sendiri memiliki kasus yang harus dia selesaikan. Pantas saja Moira di dalam mimpinya begitu marah pada Graciella. Dia tentu marah karena Graceilla lebih sibuk dengan kasus orang lain dan malah melupakan dirinya.


“Siapa saja yang terlibat dalam kasus ini?” ujar Graciella mencubit hidungnya yang berair hingga tampak memerah. Dia  tak boleh hanya menangis. Sudah cukup untuk meratapi dan juga menangis. Putri kecilnya menunggu untuk mendapatkan keadilan. Tatapannya tadi begitu sedih berubah menjadi begitu tegas.


“Graciella, Xavier sudah memiliki rencana untuk menjerat mereka semua,” ujar Stevan. Satu hal lagi yang dia tidak ingin Graciella lakukan jika dia sudah mengetahui  hal yang sebenarnya. Stevan yakin wanita ini tak akan tinggal diam. Dia pasti akan menyilidikinya.


“Xavier hanya ingin memberikan pelajaran pada mereka, bukan? Aku serahkan itu semua padanya. Tapi aku hanya ingin tahu kebenaran tentang putriku. Apa yang mereka lakukan padanya? apa yang sudah terjadi padanya? Dan bagaimana keadaannya sekarang?” ujar Graciella dengan wajahnya yang serius.


“Graciella, Moira sudah tidak ada. Kau ditemukan memeluk abu kremasinya,” ujar Stevan mencoba menenangkan amarah yang tampak di mata Graciella.


“Kau yakin? Apa aku mengatakan dengan pasti bahwa itu adalah abu anakku? Apakah sudah pasti bahwa itu adalah abu Moira? apa kau benar-benar yakin itu adalah dia? bagaimana jika anakku sekarang ada di suatu tempat dan mereka masih menyiksanya hanya untuk menjadikannya alat memeras Xavier! katakan! bagaimana aku bisa hidup memikirkan itu semua?” cerca Graciella menggebu hingga tampak seperti sedang mengintrogasi tahanan pembunuh hingga tubuhnya dicondongkan ke arah Stevan. Bahkan Stevan saja yang seharusnya sudah biasa dengan hal itu tetap merasa terpojokkan dengan pertanyaan Graciella.


Stevan hanya diam, Graciella memang tak pernah mengatakan dengan gamblang bahwa itu adalah abu Moira. Bahkan saat terakhir sebelum dia bunuh diri, Graciella tidak pernah mengatakan sepatah kata pun bahwa itu adalah abu Moira.


Graciella menarik napasnya panjang sembari kembali duduk dengan tegak menatap Stevan dengan begitu tajam. “Jika begitu, aku tidak akan mempercainya. Aku harus tahu di mana dia? Saat itu mungkin aku terlalu gegabah dan lemah untuk memikirkan kemungkinan anakku masih hidup, tapi sekarang, selama tak ada bukti yang menunjukkan dengan pasti bahwa abu itu adalah anakku. Aku tidak akan berhenti mencarinya, bahkan ke ujung dunia!” Graciella mengatakannya dengan sangat membara, bahkan tangannya mengepal dengan erat hingga terlihat memerah. Stevan yang melihat hal itu hanya bisa diam, dia tidak mungkin lagi melarang Graciella. Yang ada jika dia melarangnya, Graciella akan bertindak sendiri karena merasa Stevan tidak mendukungnya.


“Aku akan membantumu. Orang pertama yang sudah pasti terlibat dengan sumua ini adalah David Qing. Kau tahu siapa dia bukan?” tanya Stevan mengambil ponselnya lalu mencari foto David Qing di Internet. Foto beberapa tahun lalu sebelum dia turun jabatan sebagai perdana menteri.


“Dia ….?” ujar Graciella. Melihat matanya sekilas langsung merasa sedikit curiga.


“Ya, dia adalah ayah kandung Xavier. Karena itu sebenarnya perjuangan Xavier saat ini cukup berat. Dia harus melawan orang tuanya sendiri. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Xavier, tapi dia hanya memintaku untuk menjauhkanmu dari ayahnya. Pria ini ambisius sekali menjadikan Xavier seorang presiden. Aku rasa dia menggunakan kalian untuk mengancam Xavier agar bisa mewujudkan keinginannya. Tentu Xavier akan menurutinya jika terjadi sesuatu padamu atau Moira. Karena itu aku yakin dia setuju menikah dengan Devina karena ini pula, tentu sebelum dia kehilangan sebagian dari memorinya,” jelas Stevan tentang apa yang dia tahu.


Graceilla menatap wajah itu dengan lekat, seolah ingin mengukir wajah David Qing dalam ingatannya. Bahkan di lubang semut saja, dia akan bisa mengenali pria itu.


“Satu lagi,” ujar Stevan mengambil ponselnya lalu mencari orang yang dia ingin jelaskan pada Graciella. Setelah mendapatkannya dia segera menunjukkannya pada Graciella. “Pria ini bernama Robert Kim, dia adalah koalisi dari David Qing. Aku belum bisa membuktikannya, tapi aku yakin dengan sangat bahwa pria ini juga ada hubungannya dengan kasusmu dan Moira. Dia adalah kakek dari Devina, mantan istri Xavier,” ujar Stevan lagi. Graciella menyipitkan matanya. Merasa pernah melihat pria ini dan melihat wajahnya membuat perasaan Graciella langsung tak nyaman.


“Oh ya, satu lagi. Saat kau dirawat dan Adrean mencarimu. Dia pernah mengatakan bahwa kakeknya sudah berjanji tidak akan melukaimu atau Moira, hal itu semakin membuatku yakin, dia ada sangkut pautnya dengan hal ini,” kata Stevan lagi.


Graciella yang mendengar nama Adrean langsung membesarkan matanya dan menatap Stevan dengan sangat serius. Kenapa nama pria itu muncul kembali?


“Adrean?” tanya Graciella.


“Robert Kim adalah kakek Adrean.”


Graciella semakin membesarkan matanya dan menarik napasnya begitu dalam. Sekarang dia mengerti. Moira sudah menunjukkan jalannya. Adrean adalah kunci dari semuanya! Benar! Kali ini dia harus mengungkapkan semuanya melalui Adrean, pria itu pasti tahu tentang Moira. Jika pun tidak, Adrean tetap adalah pintu masuknya untuk bisa menyelidiki Robert Kim. Ya! Dia harus bertemu dengan pria itu segera!