Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 265. Ih, otak mesum.


Antony berjalan dengan sangat cepat menuju ke arah ruang tengah. Di situlah tempat Laura berada menurut informasi yang dia dapat dari Calton.


Antony segera masuk dan mendapatkan wanita itu sedang duduk di sofa tengah di depan televisi mereka. Menonton TV dengan sangat fokus.


"Sudah datang?" Tanya Laura yang mengerutkan dahi melihat Antony yang tampak buru-buru mendekatinya.


Antony mengerutkan dahinya sambil melihat wanita yang sekarang sibuk Menganti channel televisinya. Kenapa malah tidak terlihat kesakitan sama sekali?


"Ada apa denganmu?" Tanya Antony dengan napas yang cukup memburu. Sejak keluar dari gedung pesta tempat keluarga Adelia. Antony memacu mobilnya dengan sangat cepat. Dia bahkan tak menggunakan supir. Dan demi menghilangkan jejak dia harus berulang kali keluar masuk dari tempat parkir. Mengganti mobilnya seperti biasnya dia lakukan ke sini.


Dia benar-benar melakukannya dengan sangat terburu-buru. Takut terjadi apa-apa dengan Laura. Dan ternyata, orang yang dikhawatirkan malah dengan sangat santainya menonton televisi.


"Oh, ya! Aku hanya terpleset saat ingin berenang tadi. Dan kakiku jadi keseleo." Laura menunjukkan pergelangan kakinya yang sedikit bengkak dan memerah, ada bagian yang membiru juga.


"Sini aku lihat," ujar Antony segera duduk di sebelah Laura. Dia harus melihat kaki Laura. Apakah benar-benar harus memanggil dokter atau tidak.


"Tidak! Dia sudah tidak sakit lagi," ujar Laura menolak. Dia takut kalau Antony akan memijitnya. Rasanya pasti akan sakit.


"Aku lihat dulu!" Antony memaksa kaki Laura yang dia naikkan ke atas pahanya. Tentu hal itu membuat Laura kaget. Apalagi sekarang dia hanya menggunakan pakaian terusan tanpa celana.


"Kau mau apa! Aduh!" Ringis Laura karena Antony menaikkan kakinya dengan sedikit kasar. Antony tampak sedikit mengerut dahinya. Bagaimana dia menyembunyikan kakinya yang sudah membengkak ini.


"Aku akan panggilkan dokter." Anotony segera merogoh sakunya untuk menelepon dokter pribadinya.


"Tidak perlu. Tadi memang sakit. Sekarang tidak sakit lagi jika tidak digerakkan. Ini hanya terkilir. Harusnya dibebat tekan dan immobilisasi rasanya cukup," ujar Laura memperhatikan caranya. Anotny hanya memperhatikan wanita itu yang tampak santai melihat kakinya yang bengkak. "Percayalah, aku juga dokter."


"Calton!" Teriak Antony tiba-tiba yang bahkan membuat Laura kaget.


"Ya Tuan?" Calton sigap mendekati Anotny.


"Ambil kain bebat yang ada di P3K, bawa ke sini," perintah Antony.


"Baik Tuan."


Antony menatap Laura. "Ajari aku cara membebatnya."


"Baiklah," ujar Laura.


Antony segera mengambil kain elastin yang digunakan untuk membebat kaki Laura. Laura perlahan memberikan instruksi pada Antony untuk melakukannya.


Laura melihat Antony yang begitu serius melakukan pekerjaannya. Melingkarkan kain elastin itu ke kaki Laura. Melihat hal itu entah kenapa perasaannya menjadi begitu hangat. Tak dia sangka dia tersenyum karenannya.


Antony menangkap senyum tipis dan tatapan Laura padanya. "Ada apa tersenyum, he?"


Laura mendengar itu kaget karena dia tertangkap basah. Tapi bukannya salah tingkah, Laura malah tertawa kecil. Hal itu menular ke Antony. Tak tahu apa yang lucu. Tapi dia hanya mengikuti senyuman Laura.


"Kau tahu kenapa ini lucu? Bayangkan, ada seorang presiden yang sekarang sedang memegangi kakiku," ujar Laura semakin tertawa. Merasa itu lucu sekali.


Antony yang akhirnya mengerti hanya manaikkan sudut bibirnya. "Bukannya kerja presiden melayani semua rakyatnya? Kau punya paspor dari sini. Kau harus aku layani."


"Dasar! Pintar sekali mencari alasan." Laura melempar bental sofa itu ke arah Antony. Tak kena, entahlah, melempar begitu saja Laura tak becus.


"Apakah sudah nyaman? Terlalu ketat atau terlalu longgar?" Tanya Antony selesai membalut kaki Laura.


"Baiklah, aku rasa kau lebih baik tidur sekarang. Sudah cukup malam. Aku akan membantumu untuk ke kamar tidur." Antony melihat jamnya. Dia harus kembali pulang.


"Tapi aku ingin nonton televisi sebentar lagi." Laura merasa tanggung melihat film yang diputar di sana.


"Kau boleh tidur di kamarku. Di sana ada televisi."


"He? Benarkah? Kenapa tidak adil sekali. Kamarmu ada televisinya, sedangkan aku, ingin menonton harus keluar dulu," omel Laura. Kenapa di kamarnya tidak ada Televisi.


"Besok akan ku minta Calton memasangkannya di kamarmu," ujar Antony. "Ayo, aku bantu menggendongmu."


"He? Kau ingin cari kesempatan ya!" Laura langsung melirik pria yang sudah berdiri di depannya.


"Bukannya kau harus membatasi gerakmu. Kamarku di lantai dua. Apa kau sanggup berjalan ke sana?" Tanya Antony lagi menautkan dua alisnya. Wanita ini pikir dia pria yang mesum ya?


"Ehm? Kalau begitu, kau harus menggendongku dari belakang. Kalau di depan, aku takut kau sengaja ingin membuatku jadi terpaku dengan wajahmu itu." Laura kembali mengemukakan pemikirannya.


Anotny menarik napasnya. "Baiklah." Antony segera berbalik dan memposisikan dirinya agar Laura bisa naik ke punggungnya.


Laura melihat punggung itu, ternyata begitu bidang. Laura perlahan naik ke atas punggung Antony. Terasa kokoh.


Antony segera berdiri ketika Laura sudah menempel di punggungnya. Laura tertawa kecil lagi


"Kenapa? Apa kau merasa lucu seorang presiden menggendongmu ke kamar?" Tanya Antony. Laura mengangguk. Rasanya aneh saja. Seorang presiden benar-benar melayaninya dengan baik.


"Kenapa tidak merasa lucu ketika presiden tidur denganmu?" Tanya Antony lagi sambil melangkah ke arah tangga menuju lantai dua. Dia membawa Laura di punggungnya bagaikan tak membawa apa-apa.


"Ih! Pemikiranmu mesum!" Laura sedikit memukul kepala Antony. Sekarang dia kembali merasa lucu, dia berani memukul kepala orang nomor satu di negara ini.


Antony hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Melangkah naik ke atas tangga. Laura yang melihat itu malah merasa takut sendiri.


"Apakah kau bisa? Kalau tidak. Aku akan menaikinya dengan satu kaki." Laura mencoba melihat wajah Antony.


"Ini gampang kecuali saat kau banyak bergerak seperti ini." Lirik Antony pada Luara yang memang banyak bergerak.


"Oh, baiklah," ujar Laura patuh.


Melihat Laura diam dan patuh membuat Antony sedikit menaikkan sudut bibirnya. Dia segera menaiki tangga demi tangga hingga akhirnya mereka sampai juga ke dalam kamar Antony.


Laura melihat sekeliling dengan kagum. Ruangan ini jauh lebih bagus dari pada kamarnya yang ada di bawah. Dia belum pernah masuk karena ruangan ini juga dikunci oleh empunya.


"Wow, kamarmu bagus sekali, sayang kau jarang tidur di sini."


"Kenapa? Kau ingin aku tidur di sini malam ini?" Goda Antony sambil menurukan Laura ke atas ranjangnya yang terasa begitu empuk.


"Ha? Bukan begitu. Tapi kan sayang saja membuat kamar begitu indahnya tapi tak ada yang menidurinya."


"Ya, benar." Antony melihat sekeliling kamarnya. "Sayangnya, orang yang ingin aku bawa ke sini dulu, melarikan diri sehari sebelum pernikahan. Jika tidak ini pasti jadi kamar pengantin kami," sindir Antony pada Laura yang langsung membesarkan matanya. Lagi-lagi kesalahan itu diungkit.


"Wah Televisinya juga besar. Aku mau nonton segera!" Laura mencoba mengalihkan perbincangan. Hal itu membuat Antony menaikkan satu sudut bibirnya melihat kepanikan Laura.