
Fredy langsung berlari menerobos seluruh pengunjung yang berkerumun di area kecelakaan.
Xavier mantap ke arah Graciella yang sekilas melihat ke arahnya. Kecemasan, kebingungan dan juga kesedihan terpatri jelas di wajahnya. Xavier segera mengeluarkan gestur untuk Graciella mengikuti Fredy. Graciella mengerti dan langsung mengikuti Fredy dari belakang.
Xavier melihat punggung wanita itu pergi menjauh darinya. Bersamaan dengan itu pemandangannya yang tadinya jelas perlahan mengabur dan tiba-tiba saja semuanya menjadi hitam, bersamaan dengan itu tubuh Xavier ambruk begitu saja. Dia sudah memaksakan batas kekuatan tubuhnya, dia tak sanggup lagi menahan sakitnya.
...****************...
“Dia tidak apa-apa, mungkin dia hanya syok hingga pingsan. Tapi di bagian dalam tubuhnya tidak ada yang terluka. Mungkin esok pagi dia akan segera sadar. Tenanglah, kalian sangat beruntung,” ujar Dokter Tan, Dokter spesialis anak yang Graciella kenal.
Moira langsung dibawa oleh Fredy ke rumah sakit tempat Graciella dulu bekerja. Di sini dia tahu kualitasnya dokter yang menangani Moira dan dia juga bisa dengan gampang berkonsultasi dengan sesama rekan sejawatnya. Karena itu Graciella berkeras untuk membawanya ke rumah sakit tempatnya dulu bekerja walaupun itu bukan rumah sakit terdekat dari sana.
Graciella akhirnya bisa bernapas dengan lega. “Terima kasih dokter.” Wajahnya terlihat begitu senang sedari tadi bahkan dia tidak bisa bernapas dengan benar. Begitu khawatir hingga tidak memikirkan apapun. Dia hanya takut jika ada luka dalam pada anaknya. Untunglah semua baik-baik saja.
“Ya, sama-sama. Graciella, kau juga harus diobati. Lukamu bisa infeksi," ujar Dokter Tan melihat beberapa luka gores di wajah Graciella, mungkin terkena pecahan kaca saat dia jatuh tadi.
“Aku tidak apa-apa Dokter," ujar Graciella sedikit tersenyum. Akhirnya bisa mengembangkan kedua bibirnya. Tangannya mengusap lembut kepala anaknya.
“Baiklah, lebih baik menginap di sini semalam. Esok kita akan lakukan pemeriksaan lain jika nantinya dia mengeluh sesuatu," ujar Dokter Tan.
“Ya, sekali lagi terima kasih dokter.”
“Gracie! Gracie! Aku langsung kemari ketika mendengar kabar tentangmu!” teriak Luara sambil berlari memasuki IGD rumah sakit itu. Dia langsung memeluk Graciella yang nyatanya masih bisa berdiri. Dia kira keadaan Graciella dan anaknya sudah begitu gawat apalagi melihat pemberitaan di TV yang menunjukkan tempat kejadian perkara, hancur berantakan.
“Aku tidak apa-apa,” ujar Graciella.
“Laura, dilarang berteriak di IGD," ujar Dokter Tan yang tahu bagaimana berisiknya Laura ini.
“Oh, ya, maaf dok," ujar Laura sedikit menyegir kuda, tapi matanya langsung menangkap tubuh mungil yang sedang tertidur di atas ranjang IGD itu. Dia langsung memasang wajah kagetnya. “Apakah dia?”
“Moira, namanya Moira, kata Dokter Tan, dia baik-baik saja," kata Graciella agar Laura tak perlu histeris lagi menyakan tentang Moira.
“Ah! dia sangat lucu!” ujar Laura dengan gayanya yang khas.
Dokter Tan sekali lagi melihat ke arah Laura. Laura yang tahu diperhatikan langsung kembali menyengir kuda. “Dia lucu sekali Graciella. Aku juga ingin punya anak seperti in.” Wajah Laura memelas seolah dia sedang meminta boneka.
“Menikahlah dulu, nanti juga kau akan mendapatkannya,” ujar Graciella.
“Kau tidak perlu menikah sudah mendapatkan anak secantik ini,” ujar Laura asal keluar saja. Graceilla sampai harus mencubit temannya ini. Bagaimana jika ada yang mendengarnya? “Au! Sakit tahu.” Wajah Laura berubah kesal.
“Baiklah, kita pindahkan dulu saja Moira ke ruang inap. Nanti Laura akan menganggu semua pasien yang ada di sini," canda Dokter Tan. Laura makin mengerutkan dahinya yang membuat Dokter Tan dan Graciella tertawa kecil.
“Ya,” kata Graciella seadanya. Dia membersihkan sendiri luka yang ada di dahi dan di bagian dagunya dengan berkaca.
“Gracie, apa dia anak dari pria yang tidur denganmu?” tanya Laura lagi dengan wajah bertanya.
“Ehm, ya," ujar Graciella yang entah kenapa percaya saja dengan temannya ini.
"Jika anakmu secantik ini? apa kau tidak penasaran dengan wajahnya. Aku rasa dia pria yang tampan. Ya aku tahu kau cantik, tapi lihatlah, Moira sangat cantik dan dia tidak terlalu mirip denganmu," ujar Laura lagi. Dia benar-benar penasaran dengan pria yang meniduri Graciella.
"Saat aku kecil, aku mirip dengam Moira," ujar Graciella. Enak saja dia dibilang tak mirip dengan Moira. Banyak yang bilang mereka mirip.
"Gracie, jika nantinya dia datang dan mengakui Moira anaknya? apa yang akan kau lakukan?"
Graciella terdiam. Gerakkannya yang tadi sedang menotol obat ke dahinya berhenti seketika. Wajahnya tampak bepikir. "Dia tak akan kembali." dan Graciella memang berharap dia tak akan pernah bertemu pria itu. Dia tak tahu bagaimana cara menyikapinya. Dia juga tak ingin tahu Graciella memiliki seorang putri dengannya. Dia takut pria itu malah ingin mengambil Moira darinya.
Laura hanya memainkan bibirnya. Dia tahu bagaimana perasaan Graciella terhadap pria itu. Laura kembali memalingkan wajahnya ke Moira yang masih tertidur lelap.
"Hidungnya mancung sekali. Ehm! Kenapa tiba-tiba aku merasa dia sedikit mirip Xavier ya?" gumam Laura yang sebenarnya hanya mengemukakan apa yang terlintas di kepalanya.
Graciella berhenti kembali. Xavier! benar! dia lupa tentang pria itu! Sebelumnya dia yang menolong Graciella dan Moira! Bagaimana kabarnya?!
Graciella langsung menghentikan apa yang dia lakukan. Dia segera mengambil ponsel yang dia baru beli tadi karena ponselnya yang lama entah dimana disembunyikan oleh Adrean.
"Laura? Kau punya nomor telepon Xavier kan?" Tanya Greciella.
"Ya? Kenapa?"
"Bisa berikan padaku? Aku ingin tahu keadaannya?"
Laura mengerut dahi seraya mencari kontak Xavier dan langsung memberikannya pada Graciella. Graciella segera menekan nomor telepon Xavier dan langsung terhubung ke kotak pesan suara. Dia mencobanya lagi, tapi hasilnya tetap sama. Graciella langsung berwajah cemas! Semua ketegangan tentang Moira membuatnya lupa tentang Xavier.
"Ada apa, Gracie?" Laura mengerutkan dahinya.
"Aku rasa keadaan Xavier tidak baik, dia tadi menolong aku dan Moira, jika tidak mungkin keadaan kami akan lebih parah."
"Benarkah! lalu bagaimana keadaannya?" Laura sedikit terlonjak. Padahal dari tadi itulah yang ingin diketahui oleh Graciella. Kenapa Xavier tiba-tiba bisa ada untuk menyelamatkan Greciella? Laura pikir dia malah akan menjauhi Graciella tapi ….
Graciella hanya diam sambil menggeleng. Fredy pun sudah pergi begitu Graciella membawa Moira masuk ke dalam IGD. Graciella menggigit bibirnya. Ah! bagaimana kabar pria itu?