Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 38. Katakan padaku yang sebenarnya!


"Biar aku saja yang ke sana. Di mana ibuku?" lirik Xavier tajam pada kepala pelayan itu.


"Beliau ada di ruang membaca."


Xavier dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ruang baca yang ada di rumahnya. Entah sudah berapa lama dia tidak kembali ke rumah ini. Mungkin semenjak dia memutuskan untuk menentang keinginan ayahnya menjadikannya seorang politikus dan lebih memilih masuk akademi militer.


Xavier langsung membuka pintu ganda dari ruang baca, menemukan ibunya sedang santai duduk membaca sebuah buku sambil meminum secangkir teh.


Wanita dengan umur pertengahan bergaya elegan itu tentu langsung kaget. Tapi raut wajah kagetnya langsung menjadi senyuman bahagia kala dia lihat yang datang adalah anak satu-satunya. Sudah begitu lama dia tak bertemu langsung dengan anaknya ini. Bahkan berhubungan via telepon pun sangat jarang karena Xavier terlalu sibuk.


"Xavier?!" Monica melonjak senang menyambut kedatangan anaknya.


Xavier hanya memandang ibunya yang langsung berjalan ke arahnya. Dari matanya terlihat sekali gurat rindu yang sudah membatu. Monica langsung memeluk anaknya itu. Namun Xavier tak membalas pelukannya. Monica tak ambil pusing, sudah biasa mendapatkan respon dingin Xavier. Entahlah anaknya ini mengikuti sifat siapa. Banyak yang bilang mirip dengan kakek dari ayahnya.


"Ada apa kau pulang seperti ini? kenapa tak bilang? Ibu harusnya bisa menyambutmu lebih baik," ujar Monica.


"Tak perlu." Xavier menatap ibunya dengan tatapan tajamnya. Monica melihat itu merasa ada yang tak beres.


"Ada apa?" Monica menurunkan nada bicaranya.


"Katakan padaku apa yang terjadi di hotel Sangri-La, tiga tahun yang lalu? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Xavier langsung yang membuat Monica tampak kaget.


"Apa maksudmu? bukannya kita sudah sepakat tidak akan lagi bercerita tentang hal ini? hal ini sudah selesai dari dulu. Untuk apa lagi kau mengungkitnya?" tanya Monica langsung tampak sedikit gugup.


"Katakan padaku, siapa wanita yang sebenarnya bersamaku malam itu? apa dia benar-benar wanita yang aku temui dulu?" tanya Xavier lagi. Matanya menatap tajam pada ibunya yang langsung menurunkan pandangannya.


Xavier menggigit bibirnya. Dengan ibunya dia tentu tak bisa leluasa mengeluarkan emosinya seperti dia biasa lakukan pada ayahnya. Itu lah kenapa dia tak terlalu suka berurusan dengan ibunya.


"Apa dia benar-benar wanita itu? Ibu?! Katakan padaku apakah dia benar-benar Joceline?" ujar Xavier. Dia sudah berusaha untuk tidak menaikkan suaranya pada ibunya ini, tapi dia tetap tak bisa melakukannya. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubunya.


“Tentu. Bukannya kau sudah beberapa kali bertemu dengannya? Wanita itu adalah Josceline. Dia hanya seorang tuna susila. Untuk apa lagi kau ungkit? Bukannya dia juga tak menuntut tanggung jawab padamu?” kata Monica lembut agar anaknya bisa sedikit meredam amarahnya.


“Lalu … “ Xavier membuka email yang dia dapat. “Siapa wanita ini? Kenapa dia menempati kamar yang aku tiduri? Kenapa dia punya kisah yang sama denganku? Katakan? Apa kalian yang mengatur semua ini?”


Monica tampak membesarkan matanya dan memunculkan wajah terkejutnya. Dari mana Xavier mendapatkan data itu. Bukannya suaminya mengatakan bahwa semuanya sudah dimusnahkan?


Melihat wajah terkejut ibunya. Xavier tahu bahwa apa yang dia tunjukkan adalah bukti yang benar. Hal itu diperkuat oleh anggukan pelan dari ibunya.


Xavier semakin menegaskan rahangnya. Dia memegang kepalanya. Bagaimana ini? jadi dia salah memberi pertanggungjawaban?


Tiga tahun yang lalu. Dia pergi ke sebuah pesta topeng yang diadakan di hotel Sangri-La atas permintaan dari beberapa senior angkatannya. Xavier sebenarnya tak ingin pergi tapi karena saat itu dia masih berpangkat perwira menengah, dia mau tak mau mengikuti perintah atasannya.


Saat terbangun dia sudah ada kamarnya di rumah ini. Ternyata ayahnya langsung membawanya dalam keadaan tak sadarkan diri dari hotel itu.


Tentu Xavier bertanggung jawab dengan semuanya. Tapi ayah dan ibunya mengatakan bahwa wanita itu hanya seorang tuna susila. Dia juga pernah bertemu dengan wanita itu dan dia mengatakan untuk tidak perlu bertanggung jawab. Itu sebabnya Xavier hanya menganggap hal itu sebuah kesalahan dan dia telah bertanggung jawab dengan semua yang telah dia lakukan. Dia tak percaya bahwa selama ini dia bertanggung jawab pada orang yang salah.


"Saat itu ayahmu baru saja menjadi seorang Perdana menteri, jika ada yang tahu kau melakukan hal itu, pastilah semua orang akan menjatuhkan ayahmu. Lagi pula, ayahmu sangat berambisi menjadikan mu seorang presiden. Dengan catatan seperti itu pastilah akan mencoreng nama baikmu dan menjadi senjata lawan untuk menjatuhkan mu," urai Monica yang tampak bersalah.


"Apa kalian tahu dampaknya pada wanita itu? apa kalian tahu ini lebih mencoreng nama baikku? wanita itu pasti berpikir aku adalah pria yang tak bertanggung jawab yang menghancurkan kehidupannya!" Xavier akhirnya tak bisa lagi membendung emosinya. Bagaimana bisa keluarganya menutupi ini semua darinya.


"Kau tak perlu takut. Dia tak tahu siapa yang menidurinya dan aku dengar dia sudah menikah dengan pria lain," ujar Monica mencoba menenangkan anaknya. Xavier adalah orang yang sangat bertanggung jawab. . Mereka tak akan mengambilnya resiko Xavier menikahi wanita yang tak jelas seperti itu.


Xavier hanya diam menatap ibunya dengan mata memerah. Bagaimana dengan gampangnya ibunya mengatakan hal ini.


"Apa ibu pernah bertemu dengannya? apakah ibu pernah membayangkan bagaimana jika hidupnya menderita hanya karena ulahku? ataukah kalian yang terlalu egois untuk bisa memikirkan hal itu?" tanya Xavier. Dia benar-benar kesal dan marah, merasa telah dikhianati oleh keluarganya.


Monica hanya diam seribu bahasa. Apa lagi melihat Xavier meledak di depannya.


"Aku akan menikahinya!" ujar Xavier yang membuat Monica membulatkan matanya kaget. Bisa-bisa suaminya akan murka pada Xavier jika tahu anaknya itu hendak menikahi wanita yang pernah dia tiduri.


"Kau tidak boleh melakukannya. Dia sudah menjadi istri orang. Bagiamana kau bisa merusak kebahagiaan rumah tangganya?" tanya Monica mencari alasan yang logis agar Xavier mengerti.


"Bagaimana jika dia tak bahagia karena ulahku?"


Monica terbungkam. Dia bingung harus mengatakan apa.


"Tapi …."


"Aku tidak berkompromi dengan kalian! Aku sudah memutuskannya. Aku akan segera menikahinya!"


Xavier langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana meninggalkan Monica yang hanya bernapas berat. Dia hanya menggigit bibirnya. Dengan langkahnya yang gemetar, dia mengambil ponselnya. Langsung menelepon suaminya.


"Halo, kita punya masalah! Xavier mengetahui tentang wanita itu. Apa yang harus kita lakukan?"


David Qing mengeraskan wajahnya. "Kita harus menyingkirkan wanita itu segera!"


...****************...


Hari ini sampai di sini dulu ya kak, sama besok aku mgkn tidak bisa up! tergantung nanti malam sempat tidak menulisnya. Karena ada kemalangan di keluarga, jadi saya harus ke sana dulu.


Terima kasih. hehe