Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 79.Beban yang terasa menghilang.


Graciella yang melihat hal itu tentu tidak ingin mengambil waktu lama. Dia langsung menggendong tubuh Moira dan segera keluar dari kamar. Dia terus berlari melewati lorong-lorong rumah sakit yang mulai sepi ditinggal istirahat para penghuninya. Graciella tidak ingin berhenti, dia takut ada orang lain yang ingin mencelakakan dirinya dan anaknya. Ah! entah siapa yang yang ingin mencelakakan mereka! jangan-jangan kecelakaan tadi pun adalah hal yang disengaja. Ada orang yang ingin mencelakakan anaknya!


Graciella terus berlari. Tujuan utamanya adalah dia pergi dari rumah sakit ini. Walaupun dari tadi dia melihat tidak ada yang mengejar atau mengikutinya. Tapi perasaan Graciella tetap tak nyaman. Dia segera turun melalui tangga darurat.


Graciella akhirnya memutuskan untuk tidak lagi berlari, dia hanya berjalan lebih cepat sambil sesekali melihat ke arah belakang. Untungnya sepertinya pria itu sendirian. Tapi dia tetap tak yakin. Mungkin saja ada yang berjaga di luar. Bagaimana ini? pada siapa dia harus minta tolong sekarang? Graciella panik.


“Mama,” suara kecil itu terdengar. Graceilla melihat ke arah Moira yang nyatanya sudah membuka matanya.


“Ya sayang? Apa ada yang sakit? Apa mama mengganggu tidurmu?” tanya Graciella yang tetap berusaha tersenyum walaupun dia cemas. Memeluk erat tubuh Moira sambil terus berjalan


"Graciella!"


Graciella kaget mendengar panggilan itu. Graciella panik segera melihat ke arah datangnya suara. Matanya membesar melihat sosok yang berjalan cepat mendekatinya.


"Stevan!"


Stevan yang akhirnya menemukan Graciella. Setelah berkeliling dan mendapat kabar tentang keberadaan dari Graciella. Stevan langsung bergegas ke rumah sakit ini.


"Ah! untuk apa kau ada di sini? Di sini dingin sekali!" Ujar Stevan sedikit terengah-engah. Dia berjalan cepat sekali dari parkiran ke sini. Herannya dia malah bertemu Graciella di lobi hotel yang sepi. Apa dia tak tahu nyawa dirinya dan anaknya sekarang terancam?


"Seseorang mencoba mencelakakan kami! Dia ingin memasukkan obat penenang untuk Moira!" Lapor Graciella dengan paniknya.


Mendengar itu Stevan yakin itu adalah ulah dari David Qing! Kenapa pria itu sangat kejam? Bukannya seharusnya dia tahu Moira ini adalah cucunya? Xavier saja sudah sangat yakin bahwa Moira adalah anaknya.


"Baiklah, lebih baik kita pergi dari sini! Tak bagus buat Moira di sini. Ayo! Aku akan meminta bawahanku menahan pria itu! Ayo!" Ujar Stevan menggiring Graciella menuju ke mobilnya. Tanpa pikir panjang, setelah mengirimkan perintah pada anak buahnya. Stevan melajukan mobilnya untuk pergi dari sana.


...****************...


Gracuella keluar dari sebuah kamar di rumah pribadi Stevan. Dia baru saja menidurkan Moira kembali. Graciella tentu tak enak langsung tidur begitu saja sedangkan dia tahu bahwa Stevan masih ada di ruang tengah. Tampak sibuk berpikir sesuatu.


Lagipula kantuknya sudah terbang entah kemana dan ada satu yang masih mengganggu pikirannya. Siapa orang-orang yang ingin mencelakakan dirinya dan anaknya? mungkin saja Stevan sudah tahu.


Stevan melirik sedikit melihat Greciella yang mendekatinya. Stevan menyambut Greciella dengan senyuman khasnya. Greciella hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan duduk di dekat Stevan.


"Kau tahu! anak itu benar-benar mirip dengan Xavier!" ujar Stevan semangat memuji.


Tadi dia sempat terpukau melihat wajah cantik Moira. Sayang sekali dia masih terlalu kecil dan usia mereka berjarak jauh sekali. Kalau tidak Stevan rela untuk menunggunya dewasa. Perpaduan Greciella dan juga Xavier, benar-benar menghasilkan garis keturunan yang begitu bagus.


Graciella mendengar itu segera mengerutkan dahi. "Kenapa semua orang mengatakan hal itu?" tanya Graciella, walaupun dia merasa memang ada kemiripan antara Moira dan Xavier tapi kenapa yang lain juga merasa begitu.


"Eh?" kata Stevan sedikit kaget. Tentu seharusnya Greciella senang, atau jangan-jangan dia masih belum tahu bahwa Xavier adalah ayah Moira. "Hanya merasa begitu." Stevan tak mau salah berbicara.


Mendengar nama Xavier, Greciella jadi ingin tahu bagaimana keadaan pria itu. Tadi dia sudah mengorbankan dirinya untuk melindungi Gracilella dan putrinya. Bahkan dia tak memperdulikan tubuhnya yang luka.


"Hu-um, aku tahu," jawab Stevan.


"Apa dia baik-baik saja?"


Stevan yang tadi sibuk dengan semuanya langsung melihat ke arah Graciella dengan cukup tajam. Mendapatkan tatapan seperti itu membuat Graciella mengerutkan dahinya. Dia salah apa?


"Ah! kau membuatku patah hati Nona Greciella! aku ada di depanmu tapi kau malah menanyakan tentang Xavier!"


"Eh?"


"Hahaha, bercanda. Dia baik kok, hanya kakinya retak dan mata kakinya bergeser. Tiga bulan lagi juga sembuh, tenang saja dia masih hidup! Xavier susah mati," ujar Stevan yang membuat Graciella tambah bingung, kenapa ada pria seaneh ini.


"Baiklah, terima kasih. Aku akan menemani Moira. Aku masuk dulu," ujar Graciella.


"Nona Greciella, tunggu dulu," kata Stevan yang membuat Graciella urung untuk berdiri.


"Ada apa?"


"Aku ingin meminta pendapatmu, jika ada seseorang yang dulunya melakukan sesuatu yang sangat buruk tanpa sengaja hingga membuat hidup seseorang hancur. Bagaimana menurutmu tentang hal itu?" tanya Stevan tiba-tiba serius.


Graciella mengerutkan dahinya seolah berpikir, "Tergantung, dia ingin bertanggung jawab atau tidak?"


"Masalahnya adalah dia tertipu. Seseorang memanipulasi keadaan sehingga dia tidak bisa bertanggung jawab pada orang semestinya. Sehingga orang yang dihancurkan hidupnya tetap merasa dia tidak bertanggung jawab, bagaimana?


Graciella kembali berpikir sejenak, "Jika memang dari awal dia punya keinginan untuk bertanggung jawab, aku rasa dia harus membuktikannya pada orang dia hancurkan hidupnya. Jika dia bisa membuktikannya, maka dia harus mencoba membantu untuk menata kembali kehidupan yang dia hancurkan. Jika semua itu sudah terjadi, aku rasa itu tidak akan jadi masalah."


Stevan tersenyum puas mendengar jawaban dari Graciella, setidaknya dia tahu kemungkinan besar Xavier masih bisa dimaafkan oleh Graciella.


"Well! Kau tahu, Xavier sebelumnya memintaku untuk melakukan sesuatu untuk melepaskan mu dari Adrean. Dia begitu serius tentang hal itu. Kemarin dia memintaku untuk secepatnya melakukan misi itu agar dia bisa menikah denganmu. Esok rencana itu akan berjalan dan segera setelahnya aku yakin. Adrean akan melepaskanmu. Ini adalah surat tuntutan perceraian, lebih baik menandatanginya sekarang, akan lebih cepat prosesnya besok." Stevan menatap serius ke arah Graciella yang hanya diam mendengarkan hal itu, perlahan wajahnya langsung tampak sedikit berbinar.


"Benarkah? bagaimana bisa?" Greciella sudah melakukan segala cara selama tiga tahun ini tapi hasilnya nihil. Lalu bagaimana Xavier bisa mendapatkannya dengan mudah.


"Adrean Han memiliki affair dengan putri mantan perdana menteri terdahulu. Putri perdana menteri itu sudah aku yakinkan untuk mendesak Adrean agar menikahinya. Bukti perselingkuhannya pun sudah ada. Jika Adrean tak mau menikahnya dia akan masuk ke dalam penjara karena laporan resmi dari ayah wanita itu sudah sampai padaku."


"Benarkah?" hanya itu yang bisa dikatakan oleh Greciella, dia benar-benar tak menyangka hal ini.


"Ya! kau tinggal tanda tangan saja. Tunggu dengan manis, aku urus semuanya sehingga kau dan Xavier bisa bersatu!" ujar Stevan.


Greciella ragu akan persatuan dirinya dan Xavier. Tapi mendengar harapan lepas dari Adrean tentu tak akan pernah dia lewatkan. Dia rela menukar seluruh hidupnya yang akan datang hanya agar bisa lepas dari jeratan Andrean di hidupnya yang sekarang.


Tanpa ragu, Graciella menandatangani surat kebebasannya. Bersamaan dengan itu terasa sedikit terangkat beban hidupnya.