Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 185. Mama, Kaoru akan menemani Mama.


“Kaoru adalah Moira. Nyonya Monica meminta untuk mengganti nama Moira,” ujar Anali menjelaskan langsung karena tahu apa yang tersirat di wajah Graciella.


“Aku takut ayahmu dan juga Tuan Robert akan mencari Moira kembali. Jadi aku meminta untuk mengganti nama Moira menjadi Kaoru,” ujar Monica menjelaskan. Graciella menganggukan kepalanya mengerti.


“Lalu di mana Moira sekarang?” tanya Graciella. Dia sudah tidak tahan lagi untuk bisa melihat putrinya. Walaupun sangat gugup untuk bertemu dengannya tapi perasaan rindunya lebih menggebu dari perasaan-persaan ragu itu.


“Oh, seharusnya sebentar lagi dia sudah pulang. Dia pulang sekolah,” ujar Anali segera. Tentu dia tidak bisa menghalangi orang tua kandung Moira untuk bertemu dengannya.


“Sekarang di kelas berapa?” tanya Graciella bersemangat.


“Sekarang dia kelas tiga. Umurnya hampir menginjak umur tujuh tahun. Dia sangat miripi dengan Anda berdua,” ujar Anali dengan senyumnya yang sungkan, akhirnya tahu bagaimana bisa Moira bisa tumbuh menjadi anak yang begitu cantiknya. Ayah dan ibunya pun tak kalah dari dirinya.


Graciella tersenyum senang mendengar hal itu. Dia melirik ke arah Xavier yang hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Dia benar-benar sudah tak sabar untuk melihat anaknya. Dia juga sudah sangat ingin melihat bagaimana rupa gadis kecilnya itu.


Tak lama terdengar suara dering bel lonceng sepeda yang terdengar semangat. Anali yang sangat mengenali suara bel itu langsung tahu itu dari sepeda suaminya. “Sepertinya itu mereka.”


Anali segera berdiri dan segera keluar dari ruang tamu itu dan memastikan bahwa benar itu adalah bel lonceng sepeda suaminya. Graciella yang mengikuti langkah Anali juga melihat itu. Dia menyipitkan matanya karena sinar matahari yang langsung menimpa wajahnya.


Dia melihat seorang pria yang membonceng seorang gadis kecil. Gadis kecil itu tampak ceria sambil bermain dengan kincir angin kecil yang berwarna warni. Pria yang tadinya tampak bercanda dengan gadis kecil itu langsung kaget melihat di depan rumahnya sudah ada berapa orang yang menunggu dirinya. Wajahnya juga tampak sedikit bingung dan cemas. Dia segera memperlambat sepedanya dan berhenti tak jauh dari rumah mereka.


Graciella menahan mulutnya. Memegang tangan Xavier yang ada di sebelahnya. Detak jantungnya begitu berburu apalagi melihat pria itu turun dari sepedanya. Xavier pun tidak bisa menutupi wajahnya yang tegang. Sebentar lagi mereka akan melihat putri kecil mereka.


Pria itu turun segera dari sepedanya. Dengan begitu menunjukkan sosok seorang gadis kecil yang masih tidak sadar dengan keadaannya. Dia masih tampak riang bermain dengan kincir anginnya. Graciella bahkan sampai membuka mulutnya memandang wajah putrinya yang bagai pertama kalinya.


Gadis kecil itu benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh Anali dan juga Monica. Gadis kecil yang sangat mirip dengannya dan juga Xavier. Perpaduan mereka begitu indah untuk dipandang. Alisnya yang taratur, bulu mata lentik yang mirip dengan Graciella tapi dengan bola mata hitam milik Xavier. Hidungnya macung, dan bibirnya tipis dan berwarna merah jambu. Kulitnya sedikit merah mungkin karena tersengat matahari.


Moira yang awalnya tersenyum tiba-tiba terdiam memandang ke arah Xavier dan juga Graciella dengan mata menyipit seolah sedang mengatami keduanya. Melihat hal itu, Graciella meremas tangan Xavier sedikit kuat. Mimpinya untuk bisa bertemu dengan putri kecilnya akhrinya menjadi kenyataan.


Graciella benar-benar tidak bisa menutupi rasa bahagia yang bercampur harunya. Air matanya lolos begitu saja melihat putrinya yang sekarang ada di depannya. Perasaan bahagia itu begitu memenuhi dadanya, sesak. Tapi bukan sesak yang menyiksa. Dia sekarang ingin berlari dan langsung memeluk putrinya, tapi Xavier menahannya.


Pria itu menurunkan cagak sepedanya. Dia menggendong Moira lalu berjalan ke arah Graciella dan juga Xavier. Pria itu juga sudah tahu bahwa dua orang yang memandang mereka dengan tatapan haru itu adalah orang tua kandung Moira. Dia berhenti hanya dua langkah di depan Graciella dan Xavier.


Dia segera menurunkan Moira dari gendongannya. Moira terus memandang ke arah Xavier dan Graciella yang segera berjongkok untuk bisa menyamakan tingginya dengan Graciella. Moira terus memandangi wajah wanita yang matanya sudah basah menatap dirinya dengan senyuman yang merekah.


“Kaoru, ayo,” ujar pria itu dengan lembut mendorong tubuh Moira perlahan. Xavier melihat ke arah pria itu. Melihat sosok yang selama  ini menggantikan dirinya. Merasa bersyukur putrinya dibesarkan dengan kasih sayang olehnya.


Moira tentu tampak ragu. Dengan langkah kecil dia maju hanya selangkah. Graciella yang melihat anaknya mendekat sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Dia segera memeluk Moira yang diam saja, mungkin bingung dengan keadaan ini.


“Moira, ini Mama,” ujar Graciella tersedu memeluk Moira dengan sangat erat. Tapi dia masih bisa mengontrol dirinya agar tidak terlalu membuat Moira sesak. Di mengelus lembut rambut putrinya yang sebahu. Moira tidak merespon apa pun.


Graciella yang merasa Moira hanya diam saja langsung mengendurkan pelukannya. Belum puas dia melihat wajah anaknya yang sekarang hanya berkerut.


“Mama?” tanya Moira yang akhirnya mengeluarkan suaranya. Graciella mengangguk cepat. Rasa haru itu kembali meledak dalam perasaannya ketika mendengar Moira memanggilnya mama. Dia segera memeluk kembali tubuh kecil putrinya. Ingin menyembunyikan wajah tangisnya yang tampak begitu sedih, tak ingin Moira melihatnya.


“Kita masuk saja dulu, di sini panas. Kasihan Moira,” ujar Xavier yang sebenarnya tidak ingin mengintrupsi momen bersatunya kembali ibu dan anak ini. Tapi matahari yang menyengat kuat membuatnya khawatir akan keadaan Graciella dan juga Moira.


“Ya, ya, benar. Moira, kita masuk ya,” pinta Graciella sambil langsung menggendong Moira. Tubuh Graciella yang kecil sebenarnya sudah tidak cocok menggendong anak berumur hampir tujuh tahun. Tapi dia tetap memaksa menggendongnya dan membawa anaknya ke dalam rumah.


Xavier melempar pandang ke arah pria yang juga hanya diam saja di depannya. “Xavier,” ujar Xavier menjulurkan tangannya.


“Ronnie, Tuan,” ujar Ronnie langsung mengangguk sungkan sambil menyambut tangan Xavier. Kejutan yang mereka buat membuatnya terpanah. “Mari Tuan.”


Xavier dan Ronnie akhirnya mengitu jejak Graciella yang sudah duluan sudah masuk ke dalam rumahnya. Graciella segera menurunkan Moira yang langsung berlari dari pelukannya.


“Ibu!!” ujar Moira mendekati Anali yang tampak gugup dan bingung harus bagaimana ketika Moira mendekapnya. Melihat hal itu tentu membuat Graciella merasa sedikit miris. Bukannya seharusnya Moira melakukan itu padanya.


Xavier yang melihat hal itu merangkul pundak Graciella yang tadi hanya terdiam. Graciella lalu melihat ke arah Xavier. Xavier menaikkan sudut bibirnya dan Graciella hanya membalasnya dengan senyuman. Xavier secara tak langsung menarik Graciella ke kursi kayu yang ada di sana.


Suasana cangung terasa. Monica pun hanya bisa memandang Moira dari tempat duduknya. Dia memang pernah datang ke sini tapi saat itu Moira tidak ada di rumah. Jadi dia hanya bertemu dengan Anali dan Ronnie. Moira menggelayut di tubuh Anali tapi sambil melihat ke arah Graciella dan juga Xavier bergantian.


“Kaoru, ini adalah mama dan papa Kaoru. Bukannya Kaoru pernah bertanya di mana Papa dan Mama Kaoru? Mereka sekarang sudah datang,” ujar Ronnie menjelaskan pada Kaoru yang masih mengamati.


“Mama dan Papa ingin menjemput Kaoru sekarang?” tanya Kaoru sedikit mengerutkan dahinya. Dari wajahnya menuntut jawaban.


“Eh?” Graciella sedikit kaget dengan pertanyaan dari Moira. Xavier dan yang lain juga merasa bingung harus menjawabnya apa? Jika di jawab ya, sepertinya akan terlalu lancang karena mereka belum membicarakan hal itu pada kedua orang tua angkat Moira. Tapi jika di jawab tidak, tujuan mereka memang ingin membawa Moira.


“Kaoru, untuk saat ini. Mama dan Papa Kaoru hanya ingin berdekatan dengan Kaoru. Mama dan Papa sangat kangen dengan Kaoru. Mereka sudah mencari Kaoru begitu lama. Mereka benar-benar ingin menghabiskan waktunya dengan Kaoru,” ujar Monica yang mendekati cucu perempuannya itu. Begitu terpesona dengan wajahnya yang begitu cantik walau masih belia.


“Tapi Kaoru ada di sini,” ujarnya bijak.


“Ya, tapi Mama dan Papa tidak tahu Kaoru ada di sini. Mama dan Papa mencari Kaoru terus. Maafkan Mama jika Mama tidak bisa menemukan Kaoru lebih cepat,” ujar Graciella yang juga segera mendekati putri kecilnya. Dia menghapus air matanya keras, tak ingin putrinya melihatnya dengan wajah seperti ini.


“Mama,” ujar Moira lagi. Tangannya yang kecil menghapus air mata Graciella yang berbutir. Anali saja tersentuh dengan momen pertemuan ini. Dengan cepat matanya langsung berkaca-kaca. “Jangan menangis Mama. Kaoru akan menemani Mama sekarang,” ujar Moira langsung memeluk Graciella. Kebijakan anaknya membuat Graciella langsung tidak bisa menutupi tangisnya lagi. Ternyata dia benar-benar begitu merindukan sosok ini dalam pelukannya.


Xavier melihat hal itu mendekatkan dirinya. Walau terlihat diam dan tegar, tapi sebenarnya dirinya juga ingin anaknya mengenalinya. Dia bahkan ingin menyentuh anaknya yang sudah dia cari dengan mempertaruhkan semuanya. Untuk pertama kali tangan Xavier gemetar mengelus rambut halus Moira. Moira memindahkan pandangnya ke arah Xavier.


Moira melepaskan dirinya dari pelukan Graciella, dengan cepat dia berpindah ke depan Xavier. Dengan senyumannya yang tampak manis itu dia memandang pria yang biasanya berwajah tegas sekarang tampak memerah matanya menahan tangis.


“Papa,” kata Moira yang tanpa canggungnya langsung memeluk ayahnya. Xavier tentu langsung menyambut anaknya. Tanpa bisa dia tahan. Buliran air mata itu langsung jatuh, mengalir begitu saja. Xavier memeluh erat tubuh gadis kecilnya, separuh jiwa dan raganya. Xavier mencium rambut Moira dengan sepenuh hatinya.


Pertemuan putri dan orang tua ini membuat suasana di sana begitu haru. Anali sudah berapa kali harus menyeka air matanya. Begitu juga Monica, dia saksi dari segala yang terjadi sebelumnya. Bagaimana perjuangan Graciella untuk anaknya dan juga bagaimana Xavier rela untuk melakukan apa pun hanya agar putrinya bisa selamat. Ronnie saja harus memandang ke arah langit-langit rumahnya. Berusaha keras agar air matanya tak jatuh, tapi gagal, air mata itu mengalir dari ujung matanya