Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 173.


Stevan yang sudah lebih dahulu mengikuti berangkat itu hanya berdiri dengan tegang di depan sebuah ruang tindakan yang tertutup rapat. Dia mengalihkan pandanganya ketika melihat Xavier dan juga Graciella yang dating padanya.


“Dia ada di dalam, mereka langsung melakukan penanganan,” lapor Stevan. Dia juga tampak sangat cemas. Dia sudah melihat wajah gadis kecil itu. Wajah pucatnya membuat dia tidak bisa mengidentifikasi apakah dia benar-benar Moira. Lagi pula gambaran tentang Moira hanya ada pada saat dia berumur 3 tahun.


Graciella mengangguk pelan. Air matanya masih saja mengalir deras. Perasaannya pun tak bisa tenang. Tak ada satu pun di dalam tubuhnya terasa nyaman sekarang. Napasnya terasa begitu berat dan susah. Dadanya bergemuruh menyesakkan. Jantungnya berdegup begitu keras, bahkan sendi dan tulangnya pun nyeri setiap digerakkan. Jika saja bisa, dia rela, dia rela mengganti tempatnya, asal putrinya tidak merasakan hal yang sekarang terjadi padanya.


Xavier yang tadinya berdiri tegak akhirnya menyerah juga. Dia menghempaskan tubuhnya ke sebuah tempat duduk besi yang ada di depan ruangan itu. Tentu hal itu sedikit mengundang perhatian dari Graciella dan juga Stevan yang dari tadi tampak serius menatap ke arah pintu ganda yang tertutup rapat. Berharap dalam beberapa detik, pintu itu akan terbuka dan mengabarkan kabar baik pada mereka.


Stevan mengerutkan dahinya melihat keadaan Xavier. Bagaimana pun dia tahu sahabatnya itu tak mungkin melakukan hal itu. Selelah apa pun, Xavier adalah prajurit sejati. Dia tidak akan menyerah untuk hanya berdiri jika hanya karena kelelahan. Apalagi wajahnya tampak mengerang.


Graciella juga merasa aneh dengan sikap dari Xavier. Dia belum pernah melihat pria ini menggigit bibirnya meringis. Ada apa dengannya?


“Xavier?” Graciella melihat keadaan Xavier yang tampak masih menahan sakitnya. Dia langsung memeriksa dengan seksama apa yang terjadi pada pria ini. Stevan juga langsung cemas melihat wajah Xavier yang begitu.


Mata Graciella membesar melihat luka besar yang ada di pinggang Xavier. Luka serempetan dari tembakan itu ternyata cukup dalam. Darahnya pun keluar cukup banyak hingga membasahi bagian sisi dari tubuh Xavier. Graciella bertanya dalam hatinya, sudah berapa lama pria ini menahan luka seperti ini? Bahkan dia masih bisa membawa Graciella ke dalam padahal dia sendiri terluka parah.


“Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau juga terluka?” tanya Graciella kembali panik. Pikiran tentang Moira sedikit teralihkan karena luka di pinggang Xavier. Stevan pun hanya diam, luka itu pasti sangat menyiksanya tapi dia bertahan, tentu untuk anaknya. Kekuatan seorang ayah.


“Tidak, luka ini tidak apa-apa,” ujar Xavier. Tapi baru saja dia ingin menutupinya, Xavier langsung meringis kesakitan. Sakitnya menyesakkan rongga dadanya.


“Xavier, kau tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ini harus segera ditangani jika tidak darahnya akan terus keluar. Ini akan infeksi,” ujar Graciella menganalisa luka itu. Ada perdarahan yang cukup aktif di sisinya, walaupun tidak besar tapi jika terus dibiarkan akan membuat Xavier kehilangan banyak darah.


“Tidak, aku ingin ada di sini. Luka ini bukan apa-apa. Aku ingin memastikan gadis kecil itu selamat,” ujar Xavier lagi melihat ke arah Graciella. Tatapannya teguh. Dia juga tampak menutupi wajah kesakitannya.


“Xavier?” ujar Stevan.


“Keputusanku sudah bulat. Aku hanya ingin tahu keadaaannya,” ujar Xavier.


“Tapi kau keadaanmu tak akan baik jika begini. Tolonglah, aku pasti akan gila jika kalian berdua nantinya dalam keadaan yang parah. Tolong jangan membuatku memilih antara kau dan Moira!” ujar Graciella dengan tangis sedih dibarengi oleh kesal. Keras kepala sekali Xavier ini.


“Aku tidak akan apa-apa. Kau tidak perlu memilih siapa pun, pilih saja Moira,” ujar Xavier yang entah bagaimana masih tetap bisa menaikan satu sudut bibirnya.


Graciella menggigit bibirnya keras. Sesaat tadi ada rasa kesal dan marahnya pada Xavier. Dia merasa pria ini tidak bisa melindungi putrinya. Hanya berjanji tapi tak bisa menepatinya. Tapi melihat keadaan Xavier begini, dia tak tahu sudah berapa lama pria ini menahan sakitnya. Dari darah yang sudah menghitam menggumpal di bagian bawah lukanya. Luka ini mungkin sudah dia tahan lebih dari satu jam. Semua hanya demi gadis kecil di dalam.


“Nyonya! Tuan!” suara pintu yang terbuka dan juga panggilan itu langsung mengarahkan pandangan Graciella, Xavier dan juga Stevan ke arahnya.


“Kami butuh darah. Dia kehilangan cukup banyak darah sebelumnya,” ujar dokter yang umurnya tampak sudah lebih dari setengah abad.


“Aku bersedia,” ujar Xavier langsung tegas.


“Tidak, kau tidak bisa. Kau terluka, kau tidak boleh mendonorkan darahmu,” ujar Graciella langsung yang memang tahu tentang hal itu. “Apa darah yang dibutuhkan?” tanya Graciella. Jika darahnya cocok dengan Moira, dia akan memberikannya. Tapi jika dia mengikuti darah Xavier, Graciella harus cepat mencarinya.


“Kami butuh darah O sekarang,” ujar dokter itu.


“Darahku B,” ujar Xavier lagi. Hal itu membuat Graciella langsung menatap ke arah Xavier. Xavier hanya diam mendapati pandangan Graciella yang tampak tak percaya. “Ada apa?” tanya Xavier tidak bisa menebak isi pikiran dari Graciella.


“Darahmu B?” tanya Graciella lagi memastikan.


“Ya.”


“Darahku AB,” ujar Graciella dengan wajah bertekuk erat. Tentu semakin membuat Xavier dan Stevan kaget.


“Maksudnya?” tanya Stevan.


“Orang tua yang memiliki darah B dan AB tidak mungkin memiliki anak bergolongan darah O, itu berarti ….” Kata Graciella mengatakan apa yang dia ketahui.


“Dia bukan Moira,” ujar Xavier langsung. Gracilla langsung mengangguk setuju. Gadis di dalam itu bukanlah putri mereka. Seketika saja perasaan cemas dan takut itu perlahan menghilang. Tapi sekali lagi mereka menemukan jalan buntu tentang keberadaan putri mereka. Graciella langsung ingat tentang apa yang dikatakan oleh Adrean tadi.


“Dokter, aku mohon Anda untuk mencari darah yang tepat. Apapun yang terjadi padanya, kami akan bertanggung jawab. Tolong pula permiksaan DNA, aku ingin memastikannya!" ujar Xavier lagi melihat dokter itu. Dokter itu mengangguk. Dia harus mencari darah yang tepat untuk anak ini.


“Jika dia bukan Moira, kenapa Robert Kim membawanya?” tanya Stevan mengerutkan dahi.


“Untuk mengecohku. Mungkin dia ingin memakai Moira sebagai sandera untuk melarikan diri dan melemahkanku. Tapi, sepertinya dia juga tidak menemukan Moira lagi. Di tempat bordil itu dia mencari-cari gadis kecil yang tepat agar aku bisa percaya,” ujar Xavier menganalisa semuanya.


“Rumah bordil? Apakah Robert Kim menyerahkan Moira ke sana?” tanya Graciella dengan wajahnya yang tidak percaya. Kenapa Robert Kim mencari Moira di sana kalau bukan dia pernah menyerahkan gadis kecilnya itu di sana.


“Aku tidak tahu pasti. Saat ini yang tahu hanya Robert Kim.” Ujar Xavier yang kembali harus merasakan cemas. Di mana sebenarnya putrinya berada?


Xavier melihat ke arah Stevan dengan rahang yang mengeras. “Stevan, di mana Robert Kim?” tanya Xavier.