
Graciella berwajah geram. Kenapa tiba-tiba pria ini malah mengatakan berubah pikiran! Ah! ternyata memang tidak boleh berharap dengan pria ini. Padahal dia sudah begitu senang tadinya, serasa sinar kebebasan sudah di depan matanya.
“Kau ingin apa lagi? bukannya sudah aku katakan bahwa aku tidak akan lagi bersama dengan Xavier. Aku tak akan pernah lagi berdekatan dengannya. Tapi aku juga tidak ingin berdekatan denganmu, aku tidak ingin berdekatan dengan pria mana pun. Bebaskanlah kami," ujar Graciella yang merasa sangat geram dan kesal. Kenapa susah sekali melepaskan diri dari pria ini. “Apa hutangku padamu di kehidupanku yang dulu hingga aku harus membayarnya begini padamu?”
Adrean hanya menatap ke arah Graciella yang tampak begitu tertekan. Apa yang dia lakukan? kenapa melihat ini hatinya juga merasa tak nyaman. Ada rasa sakit melihat mata itu berkaca-kaca. Tapi dia juga tidak ingin memenuhi permintaan Graciella. Dia tidak ingin berpisah dengan Graciella.
“Aku akan tidak akan melakukan apapun padamu lagi dan Moira dengan syarat, kau tidak boleh pergi dariku. Apa pun yang ingin kau kerjakan, kau harus melaporkannya padaku. Aku benar-benar tidak akan lagi mengganggu dirimu dan anakmu. Hanya jangan minta berpisah denganku,” ujar Adrean yang bahkan tidak tahu kenapa dia mengatakan hal itu. Itu sama sekali tidak terdengar seperti dirinya. Hanya saja semakin melihat wajah Graciella yang penuh dengan kesedihan itu, membuatnya sesak.
Graciella memandang bingung dengan sikap Adrean. Sesaat dia mengatakan hal ini, tapi sesaat kemudian melakukan hal yang lain.
“Cukup kabari aku di mana kau berada atau ke mana kau ingin pergi. Beri tahu aku dan aku minta kau bisa menemuiku ketika aku ingin menemuimu. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu, aku tidak akan memaksakan jika kau tidak mau. Apa itu cukup?” tanya Adrean memandang Graciella.
“Hanya jika aku setuju untuk bertemu denganmu, dan kau tidak boleh memaksaku jika aku tidak bisa menemuimu saat itu juga. Kau benar-benar berjanji tidak akan melakukan apapun padaku dan Moira? Aku hanya memberikanmu kabar ke mana aku berada dan akan pergi? benar bukan?” ujar Graciella lagi mempertegas apa yang baru dikatakan oleh Adrean.
Adrean menggigit bibirnya. Walaupun enggan dia menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, aku bisa melakukannya. Asalkan kau memegang janjimu, aku akan memegang janjiku.” Graciella merasa cukup puas. Walau tidak bisa lepas seutuhnya dari Adrean, setidaknya pria ini sudah berjanji tidak akan lagi melakukan apapun padanya dan anaknya. Hidup begitu sudah cukup bagus untuk Graciella.
“Lalu kau ingin apa sekarang?” tanya Adrean.
“Aku ingin pergi bersama dengan Moira.”
“Biar, aku yang mengantarkan.”
Graciella sebenarnya enggan. Dia ingin hanya berdua dengan Moira. Kalau begini sama saja pria ini selalu ada di dekat mereka.
“Aku hanya akan mengantarkan, setelah itu aku akan pergi. Aku berjanji,” kata Adrean yang bisa menebak wajah ragu dari Graciella. Graciella mau tak mau mengangguk.
*****
“Aku akan menunggu di sini,” ujar Adrean setelah sampai di lobi belakang sebuah pusat perbelanjaan kalangan atas.
“Tak perlu, aku akan pulang naik taksi saja," ujar Graciella segera turun. Dia segera membuka pintu belakang dan menurunkan Moira dari tempat duduk anaknya. Adrean hanya menyipitkan matanya melihat Graciella dan Moira yang berjalan menjauh darinya. Perasaannya jadi tak nyaman karena hal itu. Dia sangat ingin keluar dan menemani mereka, tapi jika dia lakukan. Graciella pasti tak akan percaya padanya. Tapi apa boleh dia berubah pikiran lagi?
Graciella langsung membawa Moira masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang tak terlalu ramai, mungkin karena hanya kalangan atas yang biasa berbelanja di sini. Dia berencana untuk membawa Moira membeli beberapa baju dan mainan, tapi sebelumnya dia membawa Moira untuk makan malam. Dia akan memanjakan putrinya.
“Moira, ayo, buka mulutnya," ujar Graciella yang menyodorkan ikan pada Moira yang patuh membuka mulutnya, Graciella tersenyum senang. Anaknya begitu pintar. “Moira suka ikan?”
“Iya,” ujar Moira seraya mengangguk-angguk pelan dan terus bermain dengan boneka yang dia bawa.
“Kalau begitu sekarang Moira makan yang banyak," ujar Graciella kembali menyodorkan ikannya pada Moira yang langsung membuka mulutnya.
“Gracie?” suara seorang wanita tiba-tiba menyapa Graciella. Membuat Graciella yang dari tadi sibuk menyuapi Moira jadi teralihkan. Dia melihat ke seorang wanita yang langsung sumringah mendekat ke arahnya.
“Alena?” tanya Graciella tak percaya melihat sahabat kecilnya dari panti asuhan ada di sini.
“Ya aku juga. Bukannya kau tinggal di luar negeri sekarang?” tanya Graciella. Terakhir bertemu sahabatnya ini saat mereka masih sama-sama remaja. Alena beruntung di adopsi sebuah keluarga yang membawanya keluar negeri.
“Ya, aku pulang sejenak ke sini. Merindukan kampung halaman," ujar Alena. “Kenalkan, ini John, suamiku.”
“Hei, Saya John," ujar pria asing itu dengan aksen Amerika-nya yang membuat nada bicaranya menjadi lucu. Moira hanya tertawa kecil mendengarnya.
“Ini Graciella. Dia temanku sebelum aku pindah ke Amerika.” Alena menjelaskan pada suaminya. “Ini anakmu?” tanya Alena yang tampak bahagia melihat Moira.
“Oh, iya, Moira, Say Hi," kata Graciella.
“Hai!” kata Moira dengan sangat semangat melambaikan tangannya pada Alena dan suaminya.
“Hai, ini tante Alena dan paman John. Ya ampun, Graciella kau sangat beruntung memiliki putri secantik ini.” Alena mencubit pipi gendut milik Moira hingga si empunya meringis tapi malah membuatnya semakin lucu.
“Boleh bermain dengannya? sudah selesai makan?” tanya John sedikit terbata-bata mengatakannya. Graciella hanya mengeluarkan wajahnya yang sedikit bingung, “Hanya bermain di sini,” ujar John lagi menjelaskan dengan wajah berharap. Sepertinya dia benar-benar ingin bermain dengan Moira.
“Baiklah, tak apa," kata Graciella.
John langsung semangat duduk di sebelah Moira. Dia langsung tampak akrab dengan Moira yang juga menyambut John dengan hangat. Alena hanya tersenyum kecut melihatnya. Graciella menangkap hal itu.
“Aku tidak bisa punya anak.” Alena tersenyum pahit. “John sangat suka anak-anak. Aku sudah memintanya untuk berpisah dan mencari wanita yang bisa memberikannya keturunan. Tapi dia bilang dia tidak akan melakukan itu dan dia memintaku untuk mengadopsi seorang anak seperti aku dulu,” ujar Alena dengan wajahnya sedikit sedih. Graciella hanya tersenyum mengerti. “Mana suamimu?”
Graciella hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan dari Alena. Alena mengerti, sepertinya dia sudah salah dalam bertanya.
“Eh, kita makan dulu yuk, " ujar Alena yang melihat pesanan mereka sudah datang. Sengaja dipindahkan ke tempat Graciella agar mereka bisa makan bersama.
*******
“Ah! seharusnya kau tidak membawaku ke sini! di sini terlalu ramai! Aku mulai tidak suka keramaian seperti ini!” ujar Liliana sedikit menggerutu pada menantunya yang membawanya.
“Bukannya ibu bilang ingin membeli tas? Ibu tahukan tokonya hanya ada di sini” ujar Monica sabar. Ibu mertuanya ini memang sekarang menjadi lebih cerewet. Mungkin sudah faktor umurnya.
Liliana hanya menggoyang-goyangkan bibirnya mendengar jawaban dari menantunya. “Aku lapar, bisa kita makan saja? itu ada restoran, coba lihat dulu apakah menunya sesuai denganku atau tidak?”
Liliana hanya tersenyum tipis. “Baik Bu," ujarnya sambil melangkah meninggalkan ibu mertuanya. Bagaimana pun dia harus patuh pada Liliana.
Monica segera berjalan diikuti oleh salah satu penjaganya. Penjaga yang lain menjaga Liliana. Dia segera melihat daftar menu yang ada di depan restoran. Melihat sejenak apakah makanan di restoran ini sesuai dengan selera ibu mertuanya atau tidak?
Tapi saat dia melihat-lihat menu itu matanya tertarik dengan sosok yang sepertinya dia kenal. Dia melihat Graciella. Monica sampai harus menajamkan pandangannya melihat ke arah Graciella yang sedang memakaikan jaket pada seorang anak perempuan. Graciella tampak tersenyum begitu bahagia. Fokus dari Monica pindah ke anak perempuan itu. Sekilas saja melihatnya, dia tahu kemiripannya dengan Xavier. Jangan-jangan!
Monica menutup mulutnya dan dengan cepat dia mengambil ponselnya. Tentu dia harus melapor pada suaminya, dia tak menyangka, bagaimana bisa Graciella berhasil melahirkan anak Xavier?