
“Apa Papa sering memarahi Moira?” tanya Graciella menghapus air matanya. Apakah Adrean sering memarahi anaknya? Apakah dua tahun ini hidup anaknya senang? Apakah dia kesepian? Bagaimana kehidupannya, Graciella ingin sekali tahu.
Moira menggeleng lugu sambil memakan rotinya yang dia pegang dengan kedua tangannya. “Papa mala, Moila nakal,” ujar Moira.
“Tuan tidak pernah marah, tapi Tuan orang yang tegas. Dia tidak suka Moira menangis hingga selalu menagatkan jika Moira nakal atau menangis, papa akan marah. Tapi Tuan hingga sekarang tak pernah benar-benar memarahi Moira. Marga saya Lim, Tuan biasa memanggil saya Bibi Lim, Anda juga boleh memanggil saya begitu Nyonya.” ujar bibi Lim.
“Begitukah? Apakah Anda yang mengasuh Moira selama ini?” tanya Graciella yang sekarang menggendong Moira. Moira kembali bergelayut maja pada ibunya. Graciella sesekali memeluknya, tak ingin lagi kehilangan.
“Ya, Tuan Adrean membawa Nona Moira saat umurnya masih dua hari. Beliau meminta saya untuk menjaganya hingga sekarang.”
"Apa Adrean sering datang?”
“Tuan Adrean cukup sering datang. Tapi Nona Moira lebih banyak bersama saya.”
Graciella merasa miris. Putri kecilnya pasti sangat kesepian hanya ditemani oleh pengasuhnya. Pantas saja dia bertanya kenapa Graciella lama sekali datang. “Apa yang dikatakan Adrean tentangku pada Moira?”
“Tuan selalu memberikan foto anda pada Nona Moira. Beliau mengatakan bahwa Anda sedang tidak bisa menemui Nona Moira karena Anda tidak suka dengan anak yang nakal dan tidak penurut, karena itu Tuan Adrean meminta Moira menjadi anak yang baik dan penurut. Jika Moira baik, Anda akan segera menemui Moira,” ujar bibi Lim.
Graciella menggigit bibirnya. Itu terdengar memang seperti Adrean. Dia selalu mencari alasan agar bukan dia yang disalahkan dalam sebuah masalah. Jika begini bukannya yang terdengar kejam adalah Graciella.
“Mama,” suara imut dan pelan itu terdengar.
“Ya, ya sayang mama? Ada apa?” tanya Graciella begitu lembut dan pengertian. Dia melihat Moira tertunduk digendongannya. Seolah dia memiliki kesalahan.
“Mama, jangan pelgi lagi. Moila janji tidak nakal dan jadi penulut.” suara itu terdengar memelas. Matanya yang hitam menatap harap pada Graciella yang hanya bisa terdiam. Air mata Graciella tanpa sadar mengalir lagi. Bahkan jika Moira nakal, dia tak ingin dipisahkan lagi dari putri kecilnya.
“Tidak! Mama tidak akan pergi. Mama yakin Moira akan menjadi anak yang baik. Jadi Mama tak akan pergi. Mama akan di sini bersama Moira selamanya.” Graciella memeluk anaknya dengan sangat erat. Air matanya mengalir sangat deras. Hatinya begitu sakit mendengar permohonan anaknya.
“Moila sayang mama,” ujar Moira dengan nadanya yang imut, tak tahu bahwa ibunya sekarang merasa begitu haru.
“Mama juga sayang Moira,” ujar Graciella menghapus air matanya, Menatap wajah imut anaknya yang sudah kembali berbinar sorot matanya. Moira menyunggingkan senyuman imutnya membuat siapapun bisa tertular tersenyum.
“Moira, ayo mandi dulu bersama Nenek Lim,” ujar bibi Lim meminta Moira dari pelukan Graciella.
“Tidak! Bolehkah aku saja yang memandikannya?” tanya Graciella. Dia belum pernah memandikan anaknya. Dia ingin melakukannya. Bibi Lim mengangguk."Moira mandi ya dengan mama? mau kan?" pinta Graciella.
Moira tersenyum senang, sudah cukup lama dia berendam di dalam bath up air hangat bersama dengan Graciella. Dia sudah tidak peduli akan luka di kakinya, sepertinya sudah cukup sehat untuk bisa berendam di air. Tingkah Moira sangat menggemaskan. Dia terkadang menyanyi, bermain gelembung, dan selalu ceria yang membuat Graciella pun bisa ceria. Sudah begitu lama dia tidak seperti ini, dan rasanya begitu menyenangkan. Dia akhirnya menemukan tujuan hidupnya.
“Ayo, sudah, nanti Moira akan sakit jika terlalu lama bermain air,” ujar Graciella menggendong anaknya keluar dari bath up. Moira hanya mengangguk patuh. Graciella mengelap pelan seluruh tubuh anaknya. Begitu senang bisa melakukannya.
Tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka. Graciella kaget karena dia hanya menggunakan handuk yang terlilit di badannya. Adrean juga kaget melihat pemandangan di depannya. Baru kali ini dia melihat Graciella begitu terbuka. Kulit putihnya terpampang nyata. Sejenak dia terperanjat melihat tubuh yang sudah lama sah dia miliki tapi tak pernah dia jamah sekali pun.
“Papa! Moila sudah mandi!” ujar Moira senang melihat kedatangan ayahnya yang sudah rapi dengan setelan jasnya. Graciella memasang wajah bertanyanya, apakah Adrean akan pergi? Baguslah, lebih leluasa jika pria ini tidak ada.
“Kakimu sudah cukup baik. Bersiaplah, akan ku antar ke rumah sakit.” Adrean langsung menutup pintunya. Graciella memasang wajah tak percaya. Pria itu? Apa yang membuatnya tiba-tiba begitu perhatian? Apakah otaknya terkena sesuatu? Apa ini hanya jebakannya saja.
“Mama, sakit?” tanya Moira memandang ibunya dari atas hingga bawah berulang-ulang.
“Sedikit, tapi mama sudah sembuh, ayo kita siap-siap.” Graciella sekali lagi mencolek hidung Moira yang langsung tertawa kecil. Lucu sekali.
...****************...
“Lukanya sudah sembuh, tapi ada beberapa bagian baru saja menyembuh. Masih rawan akan kembali berdarah. Jangan terlalu banyak berjalan, tapi sudah bisa dibuka semua,” kata dokter yang membantu membuka jahitan luar dari Graciella. Mendengar itu Graciella lega. Setidaknya tak ada lagi benang yang mencuat di kakinya.
“Mama, sudah sehat?” tanya Moira yang segera mendatangi ibunya, memeluknya dengan erat.
“Ya, mama sudah sehat, kita bisa bermain seharian!” ujar Graciella dengan sangat semangat.
“Ingat, jangan terlalu banyak gerak,” ujar dokter itu lagi melihat tingkah Graciella.
“Baik dokter, aku akan mengingatkannya, kami permisi dulu,” ujar Adrean. Menggiring Graciella yang terus menggenggam tangan Moira untuk keluar dari sana.
Graciella terus bercanda dengan Moira yang juga selalu menebarkan aura bahagia dengan senyuman dan tawa kecil yang cepat menulari siapa pun.
“Tunggu di taman. Aku akan melakukan administrasinya,” ujar Adrean menunjuk ke arah depan. Memang ada taman kecil di depan rumah sakit itu. Moira pasti sangat senang ada di taman.
Graciella langsung mengangguk setuju. Sesaat melihat punggung Adrean yang menjauhi mereka. Dia tak tahu apa yang merasuki pria itu hingga berbuat begitu baik pada Graciella dan putrinya sekarang. Dia juga bukan orang yang percaya bahwa kelakuan dan sifat seseorang bisa berubah sepenuhnya dalam sekejap mata. Tapi dia cukup bersyukur selama dua tahun ini dia menjaga Moira dengan baik jika sesuai dengan perkataan bibi Lim. Dia juga harus bersyukur, dengan begini dia bisa leluasa berdekatan dengan putri kecilnya.
Moira menarik tangan Graciella yang tak sabar untuk pergi ke taman di depan rumah sakit itu. Dia ingin pergi ke air mancurnya. Graciella langsung mengikuti ke mana putri kecilnya menuntun dirinya.