Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 252. Jika tahu dia hamil. Aku tak akan mau melakukannya.


Xavier masih berwajah sangat tegas. Tapi dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Stevan ada benarnya. Dari pada menghukum mereka saat ini lebih baik dia mengerahkan mereka untuk mencari keberadaan Graciella.


“Laksanakan perintahnya!” tegas Xavier.


“Siap Komandan!” ujar mereka serempak dan langsung pergi dari sana.


"Aku rasa aku mendapatkan sesuatu!" Ujar Daren segera masuk ke dalam ruangan itu. Mendengar itu Xavier dan Stevan langsung mendekat ke arahnya.


Daren membuka laptopnya dan menahan dengan tangannya. Memutar tayangan CCTV yang dia dapatkan. Stevan meminta untuk Daren menganalisanya.


"Lihat, ini adalah dua orang pria yang membawa Barakat masuk ke dalam ruangan radiologi. Lalu, selang 17 menit. Wanita berambut panjang ini mengantar Greciella. Terlihat dari penjagaan yang dilakukan oleh bawahanmu." Daren melirik ke arah Xavier yang tampak sangat serius melihatnya. "Greciella tampak tidak sadarkan diri."


Xavier mengeraskan rahangnya. Merasakan miris melihat keadaan istrinya. Pasti wanita itu telah membiusnya seperti yang dilakukannya pada Serin.


"Menurut pengakuan bawahanmu. Perawat ini mengatakan Greciella diberikan obat tidur."


Xavier semakin mengepalkan tangannya erat. Menahan emosi yang memuncak.


"Lalu?" tanya dengan nada tertahan.


"Lalu, beberapa menit kemudian. Dua pria ini mendorong Barakat yang tiba-tiba berisi pasien dengan keadan muka diperban dan juga rambut panjang. Wanita ini juga tak pernah tampak masuk. Apa menurutmu?" tanya Daren.


"Itu Graciella." Xavier langsung yakin wanita yang ada di tempat tidur yang didorong oleh mereka adalah Graciella.


"Mereka menyamarkannya. Pantas saja bawahanmu tidak mengenalinya." Stevan melirik Xavier tak lepas matanya dari layar laptop.


"Di saat ini mereka membawanya dengan ambulans." Daren menunjukkan ke mana mereka membawa Graciella.


"Berarti percuma melakukan pencarian di sini. Kita harus cepat mencari ambulans itu." Stevan langsung mengirim plat nomor itu pada para bawahannya. Meminta mereka mencari rekaman ke mana kira-kira ambulan itu pergi.


"Mereka sangat terorganisir. Membuat tampilan Greciella menjadi sangat berbeda. Dan membawanya pergi. Bahkan orang-orang di rumah sakit ini juga banyak yang tidak curiga walau mereka menyaksikan kejadiannya," ujar Stevan yang juga tampak cemas. Bagaimana dalam penjagaan berlapis semuanya terkecoh.


"Siapa mereka?" Tanya Daren. Menghentikan penayangan CCTV itu pada gambar wanita yang memegang tangan Graciella sesudah keluar dari ruangan radiologi.


"Elaine Chow. Aku rasa itu dia!" Stevan menatap Daren


"Elaine Chow? Si ratu penipu itu?" Tanya Daren tak percaya. Dia pernah mendengar reputasi wanita itu. Dia sangat licin dan licik. Gadis yang pernah beberapa kali Kabur dalam penangkapan hanya bermodal rayuan dan juga kata-kata. Selain itu dia ahli dalam penyamaran dan juga obat bius. Pernah mendengar juga dia ahli beladiri. "Tapi untuk apa dia menculik Graciella?"


"Aku rasa dia tidak ingin menculik Graciella. Tapi seseorang mempekerjakannya dan dia adalah


…." Stevan melirik ke arah Xavier yang diam saja. Dia tahu pria itu mengontrol emosinya.


"Di mana dia? Katakan padaku di mana dia?" Tanya Xavier dengan mata yang sudah memerah membara. Urat di tangannya timbul semua akibat penekanan dari genggamannya yang kuat.


"Kami belum menemukan koordinat pastinya. Tapi sepertinya dia ada di perairan internasional. Beberapa orang melihatnya di dermaga bagian Utara." jawab Stevan.


"Kalau begitu, dia!" Xavier menunjuk ke arah layar TV yang menunjukkan Elaine. "Pasti menuju ke sebuah dermaga. Kalian harus mencari di dermaga mana mereka terlihat!" Ujar Xavier mencoba untuk berpikir. Mencegah emosi untuk menutupi logikanya karena selain kekuatan, untuk memecahkan di mana Graciella. Dia harus menggunakan otaknya.


"Aku sudah mengirimkan data ambulans ini. Aku akan menyebarkan foto Elaine dan ciri-ciri agar anak buahku bisa mencari keberadaannya." Stevan segera sigap kembali dengan tablet di tangannya.


"Kabari aku segera. Aku harus bersiap untuk menjemput Graciella!" Ujar Xavier lagi dengan nada tegasnya. Dia segera melangkah ingin keluar dari tempat itu. Dia harus menyusun rencana dan membawa bawahan terbaiknya untuk menyelamatkan Graciella. Dia harus cepat karena semakin lama, apa pun bisa terjadi pada Graciella.


"Xavier, tapi di perairan internasional. Kita tidak bisa menjeratnya." Cegah Stevan.


Xavier berhenti sejenak sebelum keluar dari ruangan itu. "Itu bagus! Bukannya itu artinya aku tak akan diberhentikan dari jabatanku nantinya jika tak sengaja membunuhnya!" Dingin Xavier mengatakannya. Melirik Stevan sejenak sebelum melangkah keluar.


Hal itu tentu membuat Stevan langsung kaget begitu juga Daren. Mereka saling berpandangan.


"Seharusnya aku melarang dia untuk tidak membunuh Adrean! Sialnya! Kalau aku bisa! Aku juga ingin membunuhnya!" Teriak Stevan dilema. Antara ingin menahan Xavier agar tak melakukannya atau mengikuti keinginannya.


"Aku merestui Xavier jika dia bisa membunuhnya!" Ujar Daren santai.


"Baiklah! Hanya kau dan aku yang tahu. Kita pura-pura tak tahu apa rencana Xavier!" Stevan berdiskusi dengan Daren. Daren mengangguk. Bagi mereka Adrean sangat berbahaya walau hanya dipenjara. Dia punya kuasa untuk bisa membuat hukumannya ringan. Jadi daripada dipenjara. Biar saja Xavier menuntaskan tugasnya.


...****************...


Aleine melihat pria yang memberikannya perintah berdiri dengan satu tangan masuk ke dalam sakunya. Saat ini mereka terapung di perairan internasional.


"Hati-hati membawanya. Dia sedang hamil." Elaine memperhatikan perpindahan Graciella yang dibawa ke kapal milik Adrean.


Adrean mendengar itu mengerutkan dahinya. "Apa yang baru kau katakan?" Adrean mendengarnya jelas. Tapi dia tidak tahu sama sekali bahwa Graciella sedang mengandung. Dia hanya tahu bahwa sekarang Graciella hidup di dalam markas militer dengan Xavier dan semua itu membuatnya sulit mengetahui kabar wanita yang sangat dia cintai ini sekarang.


"Dia sedang hamil. Kau memang licik. Jika tahu wanita itu sedang hamil. Aku tidak akan mengambil pekerjaan ini. Kau harus membayar ku dua kali lebih mahal karena sudah menjebakku. Membuatku harus melanggar kode etikku untuk tidak melakukannya pada wanita hamil dan juga orang tua," teriak Elaine dengan keras agar Adrean dengar.


"Kode etik macam apa itu?" Cibir Adrean.


" Kami masih punya rasa kemanusiaan untuk memilih target kami." Elaine memandang pria yang tersenyum sinis ke arahnya. Elaine melirik mereka yang membawa tubuh Graciella ke dalam kapal.


"Tahu apa pencuri dan penculik sepertimu tentang rasa kemanusiaan?" Ejek Adrean lagi. Baginya wanita ini hanya seorang kriminal.


"Sepetinya kami yang seorang penjahat ini lebih tahu rasa kemanusiaan daripada kalian yang mengaku orang kalangan atas dan berjas. Kalian bahkan tak pandang bulu membasmi semuanya, bahkan saudara kalian sendiri bisa kalian bantai." Elaine tersenyum remeh. Dia tahu informasi tentang Adrean. Pria ini berbahaya tapi juga hanya seorang pengecut. Kalau dia tahu Graciella sedang mengandung. Dia pasti menolaknya mentah-mentah.


"Diamlah!" Adrean menyipitkan matanya pada Elaine. Elaine hanya tersenyum mengejek.


"Oke! baiklah, kirimkan saja uangku dua kali lipat. Aku banyak mengeluarkan uang untuk menyogok beberapa karyawan rumah sakit dan juga keamanan di sana. Tanpa mereka aku tidak akan berha …." Belum selesai Elaine mengatakannya. Adrean langsung memotongnya.


"Aku akan kirimkan! Ketika kau menginjakkan kakimu di daratan. Kau akan mendapatkan uangmu!" Ujar Adrean yang kapalnya langshung berjalan menjauh dari mereka.


Elaine menyipitkan matanya. Merasa ada yang tak beres dengan hal ini.