Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 65. Dia bersamaku!


Graciella menanti dengan perasaan tak karuan. Tetapi akhirnya jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Graciella perlahan menggeser kakinya hingga menapak ke lantai yang dingin. Dengan mengendap-endap dia berjalan menuju ke arah tas milik Laura. Dia tahu Laura selalu membawa obat anti alerginya. Obat anti alergi itu memiliki efek mengantuk. Walaupun nantinya kurang berefek tapi setelah tidak tidur semalaman, pastilah membuat para bawahan dari Xavier akan mengantuk. Graciella juga mengambil beberapa uang milik Laura. Dia meninggalkan sebuah catatan meminta maaf dan dia akan segera mengganti uang ini nantinya.


Graciella perlahan berjalan keluar. Dia tidak terlalu takut Laura terbangun karena wanita itu jika sudah tidur akan sangat susah dibangunkan. Itu terbukti saat dia dulu sering berjaga bersama Laura. Graciella pergi ke dapur dan membuat susu hangat. Tak lupa dia memasukkan obat itu ke dalam susu, dia juga menambah sedikit pemanis agar rasa pahitnya tersamar. Merasa cukup Graciella membawa susu itu langsung ke tempat para penjaga.


Graciella membuka pintu rumah itu. Melihat dua orang penjaga sedang berjaga di pos dekat gerbang masuk. Melihat Graciella yang datang ke arah mereka. Penjaga itu sedikit kaget, bahkan menyempatkan diri melihat jam. Kenapa pagi-pagi buta Graciella malah membawakan mereka minuman?


“Apakah lelah?” tanya Graciella.


“Tidak Nona, sudah tugas kami,” ujar salah satu penjaga. Mencoba ramah tapi tetap suara tegas itu terdengar.


“Aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Jadi membuat susu hangat dan mengingat kalian. Jadi aku membuatkan minuman ini untuk kalian. Terima kasih sudah menjaga kami di sini,” ujar Graciella ramah. Kedua penjaga itu saling pandang. Tak mungkin menolak niat baik Graciella.


“Terima kasih Nona,” kata salah satu penjaga mengambil dua gelas susu hangat yang cukup banyak. Sengaja agar rasa obat itu tidak terasa.


“Sama-sama, jangan sungkan-sungkan. Aku akan kembali masuk, sekali lagi terima kasih sudah menjaga kami,” ujar Graciella seolah begitu sungkan.


“Sama-sama Nona,” ujar Penjaga itu. Graciella berbalik dan perlahan menuju ke arah rumah itu kembali. Sebelum masuk ke dalam rumah, Graciella melirik ke arah penjaga yang sudah meminum susu hangat itu. Tinggal tunggu sekitar satu jam lagi, maka kemungkinan besar mereka sudah sangat mengantuk.


Graciella menunggu dengan cemas di ruang tengahnya. Apakah ini berhasil? Ada beberap orang yang tidak terpengaruh oleh efek obat alergi itu. Tapi, mudah-mudahan itu berhasil, karena jika tidak. Graciella harus memikirkan hal yang lain.


Graciella berjalan ke pintu depannya. Mengintip ke luar tempat pos penjaga. Melihat salah satunya sudah bersandar menahan kantuk dan yang lain sepertinya sudah masuk ke dalam ruang istirahat. Sepertinya obat itu benar-benar bekerja.


Graciella menunggu beberapa menit lagi dan kembali memantau. Pria yang tadinya menahan kantuk sudah diam sambil menutup wajahnya. Sepertinya dia sudah tertidur. Graciella melihat ke sekeliling sekali lagi, memastikan semuanya aman. Graciella langsung berjalan keluar. Dia hanya menggunakan sendal rumahnya.


Graciella berjalan perlahan mendekati pos itu. Dia harus pastikan penjaga itu sudah lelap. Di dalam juga sekilas dia melihat penjaga yang lain sudah terlentang tak bergerak. Merasa sudah yakin Graciella langsung mengambil kunci yang tergantung di tembok pos itu. Setelah mendapatkannya Graciella segera membuka pintu kecil yang ada di samping gerbangnya.


“Nona?” tegur salah satu penjaga gerbang utama perumahan itu. Seorang wanita yang hanya menggunakan baju tidur tertutup oleh mantel tidur panjang juga sendal rumah berjalan keluar sepagi ini. Tentu mencurigakan. Graciella yang tadinya berjalan keluar begitu saja langsung kaget dengan teguran penjaga gerbang umata itu.


“Eh? ya?” tanya Graciella yang sedikit gugup karena penjaga itu mendekatinya.


“Apa yang ingin anda lakukan sepagi ini? dari rumah mana Anda berasal?” tanya penjaga itu. Dia kenal hampir semua penghuni perumahan ini. Dan rata-rata semuanya adalah orang terpandang atau orang penting. Jadi melihat seorang wanita berjalan tanpa menggunakan mobil sedikit aneh rasanya.


“Oh, aku … eh, aku hanya ingin berjalan-jalan sedikit, mencari udara pagi,” ujar Graciella menggigit lidahnya dan bingung harus menjawab apa. Kalau jujur bisa-bisa penjaga ini akan mengembalikannya ke rumah Xavier. Walaupun Graciella tahu, penjaga itu pastinya curiga karena mana mungkin ada yang pergi berjalan-jalan pagi-pagi buta seperti ini dan hanya menggunakan pakaian seperti ini.


“Berapa nomor rumah Anda? Saya akan mengkonfirmasinya,” ujar Penjaga itu ingin kembali ke posnya.


“Eh, jangan!” kata Graciella yang langsung membuat penjaga itu mengerutkan wajahnya. Curiga dengan Graciella. Graciella memutar matanya, bingung harus mengatakan apa, harus apa? Pastinya dia tidak bisa beralasan kabur dari rumah. Dia pasti akan ditahan di sini. “Anda boleh memeriksa saya. Saya tidak merugikan siapa pun, saya juga tidak mencuri. Saya hanya punya uang untuk berjaga-jaga.” ujar Graciella. Penjaga itu mengangguk. Dia tentu harus melakukan pemeriksaan pada siapapun yang terasa mencurigakan.


“Dia bersamaku, aku sudah menunggumu lama sekali,” suara itu muncul tak jauh dari Graciella. Matanya membesar melihat pria itu datang mendekatinya. Adrean membuang rokoknya dan berjalan mendekati Graciella dia menyerahkan tanda pengenalnya yang langsung diperiksa oleh penjaga itu. Penjaga itu mengangguk mengerti.


“Sudah siap? Kita pergi sekarang?” kata Adrean merangkul Graciella yang hanya bisa mengerutkan wajahnya. Kenapa Adrean ada di sini?


“Ya,” ujar Graciella dengan nada turun. Sekarang dia sudah keluar. Tak akan ada kesempatannya lagi untuk pergi. Adrean membawa Graciella ke arah mobilnya yang tak jauh dari sana. Adrean membukakan pintunya untuk Graciella yang hanya mengerutkan dahinya. Baru kali ini Adrean membukakan pintu mobil untuk Graciella.


"Masuk, dia sudah tak sabar bertemu denganmu,” ujar Adrean sebelum dia masuk ke dalam mobilnya. Graciella menggigit bibirnya. Melihat ke arah penjaga yang masih memperhatikan mereka. Ini kesempatan terakhirnya. Maju atau menolak pergi. Graciella menggenggam tangannya dengan erat. Dan dengan cepat dia masuk ke dalam mobil itu. Adrean menaikkan satu sudut bibirnya lalu melajukan mobilnya.


“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanya Graciella memandang Adrean yang hanya diam. Tak seperti biasanya.


“Dari hari pertama aku tahu kau ada di sana,” jawab Adrean seadanya. Tak ada nada marah ataupun emosi yang biasa Graciella dengar. Akhir-akhir ini Adrean jarang menggunakannya ketika berbicara dengan Graciella walau begitu Graciella masih saja tak terbiasa.