Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 94.


Graciella mengatupkan bibirnya. Mendengar janji yang diucapkan oleh Xavier.dengan begitun tegasnya. Tak ada lagi alasannya untuk membantah.


"Mama! Mama!" suara riang itu terdengar membahana memasuki ruang tamu. Membuat perhatian siapa saja langsung tertuju padanya. Moira masuk dengan gayanya yang lucu. Moira langsung memeluk kaki ibunya dan memandang Xavier dengan mata bulatnya yang indah, seolah menggoda Xavier untuk tersenyum. Tentu saja godaan itu berhasil.


Graciella memandang senyuman tipis yang menghiasi wajah Xavier. Selama dia berdekatan dengan Moira, Xavier lebih banyak memunculkan senyumannya. Ada satu hal lagi yang harus dilakukan oleh Greciella.


Graciella langsung menurunkan tubuhnya. Mensejajarkan wajahnya pada Moira yang langsung menatapnya.


"Moira, Mama ingin mengatakan sesuatu pada Moira," ujar Graciella dengan nada keibuan. Senyumnya mengembang ketika Moira mengangguk. "Paman ini adalah ayah kandung Moira," kata Graciella lagi sambil mengesampingkan poni pendek milik Moira. Tak tahu apakah anaknya mengerti atau tidak dengan apa yang dia katakan.


Moira mengerutkan wajahnya dengan mimik wajah yang lucu, dia melirik ke arah Xavier mencoba menganalisis apa yang dikatakan ibunya dan mengamati Xavier. Sungguh, lirikannya benar-benar mirip dengan Xavier. Xavier hanya gugup menunggu respon Moira. Entah kenapa? padahal menghadapi penjahat saja dia tidak gentar, tapi melihat wajah Moira yang tampak bertanya tapi dengan kesan imut itu malah membuatnya tegang. Tegang menunggu panggilan ayah itu meluncur dari bibir mungil gadis kecilnya.


"Papa?" tanya Moira kembali menghadap ke arah ibunya. Mungkin dia sedikit bingung, apakah paman ini juga harus dipanggil papa?


Graciella mengangguk sejenak lalu menggendong putri kecilnya, "Ya, dia adalah papa kandung Moira. Moira harus memanggilnya Papa,” ujar Graciella seraya memandang Xavier. Xavier hanya memandang dua wanita yang paling penting dalam hidupnya saat ini memandang dirinya.


Moira langsung mengeluarkan senyuman manisnya yang akan membuat siapapun meleleh. “Papa!” ujarnya dengan nada girang. Xavier tak kuasa untuk menutupi wajah bahagianya. Rasa terharu menyerebak begitu saja dalam perasaannya. Dia segera mendekati Moira dan mengambil alih Moira dari gendongan Graciella. Dengan satu tangannya yang kokoh, dia menggendong Moira, menatap wajah anaknya lebih dalam, senyum penuh dengan rasa terharu itu tak bisa pupus dari wajahnya.


“Moira, panggil papa lagi,” ujar Xavier. Tak diingatnya keadaan dirinya, padahal di tangan yang]dia jadikan tumpuan untuk menggendong Moira, terdapat luka jahitan yang cukup lebar.


“Papa,” ujar Moira tanpa segan memeluk Xavier. Xavier membalas pelukan itu dengan erat. Graciella sendiri melihat itu hanya bisa tersenyum haru. Akhirnya anaknya akan mendapatkan keluarga yang sempurna.


“Wah! wah! benar-benar keluarga bahagia, kenapa sekarang aku jadi iri padamu!” ujar Stevan yang tiba-tiba saja muncul sudah lengkap dengan seragam dinasnya. Sebenarnya dari tadi dia sudah ada di sana, tapi tidak enak merusak momen persatuan ayah dan anak ini. Stevan sendiri merasa tersentuh dengan hal ini. Ah! Dia memang tidak bisa melihat momen kedekatan seorang anak dengan ayahnya dimana dia sendiri sudah lama kehilangan sosok itu.


Xavier hanya menaikkan satu sudut bibirnya, tak banyak komentar jika tak perlu.


"Nona Graciella, ini aku bawakan tas dan ponselmu yang ketinggalan di rumah sakit." Stevan segera menyerahkan apa yang dia bawa.


"Terima kasih," ujar Graciella sambil tersenyum. Dia memperhatikan ponselnya yang layarnya padam, sepertinya mati karena kehabisan baterai.


"Moira! kau tidak mau digendong oleh paman?" tanya Stevan mencoba menggoda Moira.


Moira mengerutkan dahinya memandang Stevan, dengan manja menggelayut di leher Xavier.


"Jangan mengganggunya," suara berat Xavier terdengar agak mengacam walaupun sebenarnya dia tidak bermaksud mengancam.


"Ayahmu benar-benar galak. Aku jadi kasihan dengan jodohmu nanti, dia harus menaklukan pria ini," cibir Stevan dengan sedikit kesal. Masa menggendong Moira saja dia tak diizinkan.


Graciella hanya tertawa kecil, benar juga, Graciella yakin Xavier akan menjadi ayah yang posesif dan ditakuti oleh banyak orang. Jodoh Moira nantinya harus bekerja keras. Sedangkan Xavier, lagi-lagi di tak ingin berkomentar.


"Graciella, aku ingin berbicara berdua dengan Stevan," ujar Xavier. Dia memang sengaja meminta Stevan untuk singgah sebelum pergi bekerja.


"Ikut Mama sebentar, Papa ingin berbicara dengan Paman Stevan," ujar Xavier membujuk anaknya. Nada suaranya terdengar lembut, bahkan lebih lembut dari pada saat berbicara dengan Graciella.


Moira mau tak mau mengikuti permintaan ayahnya. Dia dengan enggan melepaskan tautan tangannya yang melingkar di leher Xavier. Dia segera melungsur turun dari gendongan ayahnya dan menyambut tangan ibunya yang langsung membawanya pergi dari sana.


"Seperti berjalan dengan baik," ujar Stevan melihat kepergian dari Moira dan juga Graciella yang tampak ceria.


Xavier pun melihat mereka. Dia memainkan bibirnya. "Cukup baik," ujarnya sambil memindahkan padangannya ke arah Stevan. "Apa sudah ada kabar?"


"Untuk Adrean, belum ada pergerakan apapun. Mungkin sedang sibuk dengan pernikahannya dengan Sarah yang akan dilakukan akhir Minggu ini," lapor Stevan pada Xavier.


"Bagaimana ayah dan ibuku?" Xavier kembali melirik dengan wajah berpikirnya yang sangat serius.


"Menurut informan, ayah dan ibumu sedang dalam perjalanan tugas, dengan kata lain mereka tak ada di sini."


"Baiklah."


"Sepertinya kita tak perlu mencemaskan apapun sekarang.


"Aku akan membawa Graciella dan Moira ke tempatku," ujar Xavier lagi.


"Kalian belum menikah, membawa Moira dan Graciela ke markas militer mu seperti surat terbuka untuk perang. Ayahmu akan murka dengan hal itu dan kau tahu dia bisa melakukan apapun untuk mencelakakan mereka. Tinggal saja di sini lebih lama, pengawalanku siap menjaga dua puluh empa jam," ujar Stevan bertukar pikiran dengan Xavier.


"Aku tahu, karena itu aku tidak membawanya ke markas. Sementara, mereka akan tinggal di rumah pribadiku," ujar Xavier.


"Baiklah, seperti itu juga boleh. Jika tak keberatan aku juga akan menambah pengamanan dengan beberapa bawahanku untuk menjaga mereka," ujar Stevan melirik ke arah Xavier.


"Tentu aku tidak keberatan."


"Baiklah, sudah waktunya aku pergi. Kabari aku jika butuh sesuatu." Stevan memberikan senyumannya sebelum dia melangkah pergi.


******


"Gosok begini, wah! Anak mama pintar sekali!" puji Graciella menatap pantulan wajah anaknya dari kaca. Melihat Moira yang sedang menggosok giginya membuat Graciella tersenyum senang.


Namun, kesenangannya sedikit terusik dengan suara ponselnya yang berdering. Graciella memang menyempatkan diri untuk mengisi daya baterai ponselnya.


"Sebentar ya, mama ingin lihat siapa yang menelepon, mungkin bibi Laura," ujar Graciella pada Moira, tentu saja Laura, siapa lagi yang tahu nomor ponselnya.


Greciella berjalan ke arah ponselnya diletakkan. Dia langsung mengernyitkan dahinya melihat nomor ponsel yang tidak dikenal. Sedikit penasaran, dia lansung saja mengangkatnya.