Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 216. Dalang Pembunuhan.


Stevan bersembunyi di balik sebuah pohon yang ada di dekat sebuah rumah di daerah pegunungan. Setelah mengintrogasi James lebih lanjut dia memberikan nomor ponsel dari Dico Huang, sayangnya nomor ponsel itu sama sekali tidak aktif. Tapi untunglah Stevan tidak kehabisan akal. Dari jejak internetnya, Dia bisa mendapatkan lokasi dari Dico Huang.


Pria itu baru-baru ini mengunggah sebuah foto yang mengungkapkan di mana lokasinya sekarang. Setelah mengirim orang dan mengkonfirmasi bahwa Dico Huang memang ada di sana. Stevan langsung menuju ke tempat lokasi dan segera membuat sebuah rencana untuk melakukan penyergapan.


Stevan dengan pistol di tangannya langsung memberikan arahan pada bawahannya yang langsung dengan sigap tapi tetap siaga untuk masuk menyisir tempat itu. Rumah itu sudah dikepung.


Stevan sendiri akhirnya berjalan mendekati pintu dengan siaga. Dia langsung membunyikan bel di rumah itu yang langsung mendapat sautan dari dalam.


“Sebentar,” suara pria dengan bass terdengar.


Pintu itu terbuka sedikit tapi Dico yang melihat Stevan langsung kaget dan hendak menutup pintunya. Tapi Stevan bergerak dengan sangat cepat dan langsung menendang pintu itu. Membuat pintu yang tadinya hendak tertutup langsung saja terbuka dan Dico Huang tersungkur.


“Angkat tangan dan tiarap!” ujar Stevan langsung menyodorkan senjatanya.


Dico Huang yang melihat itu langsung mengangkat kedua tangannya dan segera hendak tiarap.


“Amankan,” perintah Stevan lagi dengan anak buahnya yang langsung masuk sebanyak dua orang. Orang-orang itu ingin memborgol Dico Huang yang masih setengah tiarap tapi karena tubuhnya yang atletis. Dico Huang tampak langsung berontak dan memberikan perlawanan pada anak buah dari Stevan. Dia langsung berdiri dan segera ingin berlari menuju ke pintu belakang rumah itu.


Duar!!


Suara pistol yang memuntahkan peluru panasnya terdengar menggema dan tubuh Dico langsung saja tersungkur jatuh. Para anak buah dari Stevan langsung melihat ke arah Stevan yang sudah menembak kaki Dico Huang yang langsung mengerang kesakitan.


“Dia ingin melarikan diri,” ujar Stevan asal saja seperti pembelaan dengan aksinya. Padahal itu tidak perlu dia lakukan karena rumah ini sudah dikepung dari segala sisi. Tentu saja dengan begitu dia tidak bisa lari walaupun mencoba untuk melarikan diri. Tapi Stevan hanya kesal dengan apa yang dilakukan oleh pria ini. Gara-gara pria ini dia harus bekerja keras. Bawahan Stevan hanya mengangguk. Tak mungkin melawan Jenderalnya.


Stevan segera mendekati pria yang sedang meringis di lantai memegangi betisnya yang tampak bersimbah darah hasil perbuatan Stevan. Dia melihat Stevan dengan mata marah dan juga kengerian. Sedangkan Stevan berjongkok di samping pria itu dan memandangnya.


“Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Dico dengan ringisan kesakitan.


Stevan tak langsung menjawab. Dia langsung saja menjambak rambut Dico Huang dan membiarkan wajahnya menatap Stevan.


“Aku sudah terlalu lama mencari dirimu. Karena itu, kau harus kooperatif denganku. Siapa yang sudah menyuruhmu?” tanya Stevan dengan wajah yang menakutkan. Cukup untuk menimbulkan rasa penindasan.


“Cih! Aku tidak akan buka suara! Kau memangnya mau apa? Kalian polisi tidak bisa melakukan apa-apa jika aku tidak mengatakannya. Kalian tidak boleh memaksaku!” ujar Dico Huang lagi bersikeras.


Stevan menarik napasnya sambil mengetatkan jambakan tangannya. Tentu itu membuat Dico Huang semakin meringis kesakitan.


“Dengar, James sudah membuatku kehilangan kesabaran. Dan jangan buat aku benar-benar kehilangan kesabaran.”


“Lalu kau ingin apa?” tanya Dico Huang masih bisa tertawa sinis.


Stevan langsung meletakkan moncong senjatanya tepat di dada kiri Dico Huang. Dia menekannya dengan sangat keras.


“Percayalah, aku bisa membuat kematianmu seolah-olah tidak perlu dipertanyakan. Orang-orang di sini pasti akan menutupi semuanya. Dan kau akan kehilangan nyawa hanya untuk menolong orang yang sama sekali tidak peduli kau mati atau tidak. Kau ingin mencobanya?” tanya Stevan dengan wajahnya yang bengis.


Dico Huang membesarkan matanya melihat pistol itu di dadanya. Tepat di atas jantungnya. Sekali tembak saja dia pasti akan mati. Melihat itu dia langsung gemetar ketakutan, matanya bahkan tampak kengerian yang nyata.


“Kau benar-benar ingin mengujiku! Cepat katakan atau aku ak ….” teriak Stevan yang langsung membuat Dico Huang makin ciut.


******


Graciella baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat suaminya membawakan segelas susu hangat untuknya. Sebuah kebiasaan baru Xavier.


"Besok ibu meminta aku untuk mencari baju pengantin," ujar Graciella mengambil susu dari tangan suaminya.


"Apa tidak lebih baik mengundur acara pernikahan itu. Kau akan kelelahan karenanya," ujar Xavier lagi melihat istrinya mulai menghabiskan susunya.


"Aku sih tidak masalah. Tapi coba kamu yang bicara dengan Ibu dan Nenek, mereka sangat bersemangat," ujar Graciella lagi meletakkan gelas di nakas samping tempat tidurnya. Dia langsung naik ke atas ranjang mereka dan Xavier menutupi setengah tubuh Graciella dengan selimut.


"Baiklah, aku akan berbicara dengan mereka." Xavier memberikan sebuah ciuman hangat untuk pengantar tidur karena memang sudah cukup malam saat ini.


Graciella langsung tersenyum tapi perhatiannya langsung teralih ketika melihat ke arah ponselnya yang bergetar. Graciella mengerutkan dahi bertanya siapa yang malam-malam begini meneleponnya.


"Siapa?" Tanya Xavier.


"Kak Daren, boleh mengangkatnya sejenak? Setelah itu aku akan tidur," ujar Graciella. Tahu bahwa suaminya tak suka jika dia bekerja hingga larut malam. Apalagi dengan keadaannya yang sekarang.


"Hmm." Setuju Xavier.


Graciella langsung mengangkat panggilan itu sambil melihat suaminya yang segara tidur di sampingnya sambil membaca buku tebal berbahasa Rusia.


“Halo? Ada apa kak?” ujar Graciella yang awalnya dihiasi oleh senyuman. “Ehm? Benarkah?” jawab Graciella lagi yang langsung berwajah tidak percaya.


Xavier yang tadinya sudah serius membaca bukunya langsung melirik istrinya. Yang sekarang juga langsung melihat wajahnya dengan tidak percaya.


“Ada apa?” tanya Xavier melihat wajah tegang istrinya.


“Mereka sudah menemukan dalang dari pembunuhan itu,” ujar Graciella menatap ke arah Xavier sambil menjauhkan sedikit ponselnya.


“Benarkah? Lalu?” ujar Xavier lagi, dia menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar di kepala ranjang mereka.


Graciella hanya mengeluarkan gesturnya agar Xavier menunggu. Dia langsung kembali menempelkan ponsel itu di telinganya. Xavier yang mengerti hanya mengangguk.


“Lalu? Bagaimana? Benarkah itu dia?” tanya Graciella.


“Jika kau ingin tahu, bukalah telivisi mu sekarang,” jawab Daren yang tampak gusar.


“Baiklah.” Graciella yang tadinya sudah setengah berbaring di ranjangnya segera menyibakkan selimutnya. Dia dengan cepat turun dan meninggalkan ranjangnya. Tentu hal itu membuat Xavier langsung mengerutkan dahinya dan segera mengikuti jejak istrinya yang memang selalu bersemangat hingga terkesan tidak hati-hati jika sudah begitu serius.


Xavier melihat istrinya yang sudah berdiri di depan televisi dan baru saja menghidupkannya. Dia tampak mencari sesuatu di televisi itu. Xavier hanya berdiri di sampingnya.


“Ada apa?” tanya Xavier lagi.


“Kak Daren memintaku untuk melihat tayangan TV ini. Antony sedang melakukan konferensi pers tentang penangkapan dalang dari pembunuhan Robert Kim,” ujar Graciella melirik ke arah Xavier.