
“Tuan Xavier, ada seseorang yang datang ingin menemui Anda, beliau mengatakan Anda yang meminta Beliau untuk datang kemari,” lapor pelayan yang segera menghampiri Xavier dan Graciella.
“Baiklah,” jawab Xavier meletakkan roti yang masih setengah dia nikmati. Dia lalu segera mengambil tongkatnya untuk berdiri. Graciella hanya mengerutkan dahinya melihat Xavier. Siapa yang dia undang ke sini. “Ayo, aku ingin kau bertemu dengan seseorang,” ujar Xavier dengan gestur yang mengajak Graciella.
Graciella sedikit enggan. Apalagi dia harus meninggalkan Moira yang juga belum selesai makan.
“Aku minta sebentar saja," ujar Xavier lagi.
“Moira, Moira makan dulu dengan bibi ya, Mama pergi sembentar dengan … “ Graciella menarik napasnya. Dia ingat bahwa Xavier adalah ayah kangdung Moira. Dia tidak boleh munutupi siapa ayah kandung Moira, tapi untuk saat ini rasanya dia belum bisa mengatakannya. “Paman.” Graciella menggigit bibirnya dan segera berdiri. Dia menundukkan pandangannya agar tidak melihat wajah Xavier. Dia yakin Xavier pastinya kecewa dengan perkataannya.
Xavier memipihkan bibirnya mendengar kata-kata Graciella, apalagi melihat ekspresi Graciella. Xavier tak bisa mengatakan apa-apa.
Xavier memimpin jalan menuju ke ruang tamu. Graciella hanya mengikuti pria itu dengan dahi sedikit bertekuk. Saat Xavier sampai di sana, seorang wanita dengan gaya yang cukup seksi sedang berdiri. Dia segera membesarkan matanya dan tersenyum begitu senang melihat kedatangan Xavier. Graciella yang melihat itu mengerutkan dahi. Apa maksud Xavier? Dia ingin mengenalkannya dengan wanita ini? siapa dia?
“Xavier! Ah! senang sekali bertemu kau lagi!” wanita itu terlonjak senang dengan beraninya langsung memeluk Xavier. Xavier hanya menegakkan tubuhnya tidak membalas pelukan itu. Graciella membesarkan matanya. Kenapa harus menujukkan perlukan mereka di sini? di depan Graciella pula. Apa maksud Xavier? Kemarin mengajaknya menikah? Sekarang malah menerima pelukan dari wanita lain? benar kata Laura, pria itu sama saja.
Xavier mendorong tubuh wanita itu dia lalu melihat ke arah Graciella. “Joceline, lepaskan!” ujar Xavier.
“Baiklah,” ujar Joceline melapaskan pelukannya. Melihat keadaan Xavier, lalu berkomentar, “Ada apa dengamu? Kau kalah perang?”
Joceline lalu melihat ke arah Graciella yang ada di belakang Xavier. Matanya seolah menilai penampilan Graciella. Matanya naik turun mengamati. Dia lalu melirik ke arah Xavier. “Kau sudah mau menikah ya? ya ampun kenapa tidak mengundangku?” ujar Joceline yang langsung tersenyum manispada Graciella.
“Graciella, perkenalkan ini Joceline,” ujar Xavier. Graciella mengerutkan dahinya. Dia menyungingkan senyumannya yang terpaksa. Apa maksud Xavier ini?
“Oh, namanya Graciella, manis sekali. Eh? Xavier, apa kau tidak salah mengenalkan aku pada Graciella? Apa dia tahu apa yang kita lakukan?” tanya Joceline dengan wajahnya yang sedikit berkerut tidak percaya.
“Itulah kenapa aku mengundangmu ke sini. Aku ingin kau menjelaskan padanya apa yang terjadi pada kita, tiga tahun yang lalu, di hotel Sangri-La.” Xavier melirik ke arah Graciella yang langsung terkejut. Apa ini?
“Ha? Kau serius memintaku untuk menjelaskan apa yang terjadi pada kita pada calon istrimu? Kau tidak takut dia berpikir yang tidak-tidak tentangmu,” tanya Joceline kebingungan. Biasanya banyak pria menutup-nutupi aibnya agar calon istri mereka tidak pergi dari mereka. Xavier memang pria berbeda.
“Ya, aku ingin kau ceritakan seperti apa yang kau ceritakan padaku, katakan saja semua padanya,” ujar Xavier lagi.
“Kalian duduklah," ujar Xavier. “Cerita ini akan panjang.” Xavier tersenyum tipis membuat Graciella semakin bingung, tapi dia menuruti kemauan Xavier. Sedangkan Joceline dia sudah duduk dengan gayanya. Dia bahkan menepuk sofa itu meminta agar Graciella duduk di dekannya. Graciella langsung duduk di tempat Joceline memintanya.
“Jadi, malam itu, aku ingat itu tanggal empat April, tiga tahun yang lalu. Di hotel sedang ada pesta dan aku dipanggil untuk menemani seorang tamu. Malam itu aku diminta datang ke sebuah kamar saat aku masuk tidak lama Xavier masuk dan yah … sepertinya bagian itu tidak perlu aku jabarkan dengan jelas. Kau tahu ya, laki-laki dan perempuan dalam satu kamar, apa yang akan terjadi? aku yakin kalian juga sering melakukannya,” ujar Joceline dengan senyuman genitnya. Graciella sedikit memasang wajah bertanya. Dia melirik ke arah Xavier yang tampak menaikkan sudut bibirnya. Dia mengeluarkan gestur agar Graciella mendengarkan atau bertanya pada Joceline.
“Kau dengan Xavier, tanggal empat april? Kau ingat kamar mana yang kau tempati?” tanya Graciella lagi Ingin memastkan.
“Tentu, 2011, itu nomor kamarku, kenapa? apa kau ingin pergi ke sana juga? Saranku Nona, jika hendak menikahi seseorang, tak perlu untuk mengetahui apa masa lalunya. Akan sakit nantinya,” ujar Joceline dengan wajah sok bijaknya.
Graciella memasang wajah kagetnya. Bagaimana bisa wanita ini mengaku hal itu. Itu adalah kamar yang dia tempati dan di sanalah dia dan Xavier menghabiskan malam itu. Bagaiaman bisa wanita ini menceritakan hal ini pada Xavier dan Graciella.
“Kau menceritakan hal ini pada Xavier?” tanya Graciella.
“Ya, aku langsung menceritakan hal ini pada saat pertama kali Xavier menemuiku," kata Joceline lagi.
“Kapan?”
“Ehm? sepertinya dua hari setelah kejadian. Ya, dia langsung menemuiku setelah dua hari kejadian. Nona, kau tidak perlu khawatir. Pria yang akan kau nikahi sangat bertanggung jawab. Dia bahkan mengajakku menikah dami untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Tapi aku seorang profesional. Aku tidak akan menikahi klienku walaupun yah, Xavier sangat menggoda. Dia pria tertampan yang pernah tidur denganku. Aku hanya meminta beberapa uang dan dia memberikan aku uang yang cukup banyak dan memintaku untuk membuka bisnis yang lain dari pada harus menjadi kupu-kupu malam. Jangan katakan padanya, aku masih suka bermain-main di luar, bukan untuk mencari nafkah lagi, tapi hanya untuk bersenang-senang,” bisik Joceline di akhirnya. Mencoba membuat Xavier tidak mendengarnya. Tapi tentu Xavier bisa mendengarnya. Dia hanya geleng-geleng kepala, sifat memang tidak bisa diubah dengan cepat.
“Kau bilang, dua hari setelahnya dia mendatangimu untuk bertanggung jawab?”
“Iya, benar, bukankah itu cepat?” ujar Joceline.
Graciella menatap ke arah Xavier. Pria ini tidak melarikan diri. Dia juga bukan tak ingin bertanggung jawab. Tapi dia mendapatkan cerita yang salah tentang semuanya. Dia juga bertemu orang yang salah. Bagaimana ini bisa? Graciella menatap Xavier dengan wajah bertanyanya, tidak bisa percaya apa yang baru dikeluarkan oleh Joceline. Dia mengakui semua hal yang sebenarnya adalah milik Graciella.
...****************...
Nanti malam lagi ya kak....