
Dia juga melakukan begitu banyak perawatan hingga berencana untuk melakukan operasi-operasi plastik agar bisa menarik perhatian dari Tuan John, sayang sekali, Tuan John ternyata tetap tertarik dengan Nona Riana. Hati Nyonya Hana pasti sangat hancur karena dia sendiri yang membawa wanita yang nantinya akan menghancurkan rumah tangganya. Hal ini diperparah karena kemungkinan Anda ingin bersama dengan Riana, dia menggunakan cincin di jari manis tangannya, Anda sudah melamarnya dan kemungkinan ingin menceraikan istri Anda sesuai dengan pengakuan dari Nyonya Adeline yang tak sengaja mengatakan Anda memaksa Nyonya Hana menandatangi surat perceraian. Aku yakin karena itu Nyonya Hana merencanakan semua ini, agar Riana dan Anda tidak bisa bersatu walaupun dibayar dengan kematiannya,” sambung Graciella, ada perasaan teriris saat dia membayangkan perasaan dari Nyonya Hana. Dia pasti sangat sakit hingga bisa melakukan hal ini.
“Nyonya Hana beberapa hari sebelumnya meminta Riana untuk menyuntikkan vitamin C ke dalam tubuhnya. Jarum suntik yang dia gunakan disimpan. Nyonya Hana lalu meminta teman-temannya kembali berkumpul dan mengatakan dia sedang sakit kepala hingga dia melarang semua orang membawa ponsel di dekatnya. Hal itu memberikannya waktu untuk melakukan rencananya. Nyonya Hana yang dengan hati-hati agar sidik jari dari Riana tetap utuh memasukkan racun risin dan juga mengoleskannya ujung jarumnya dengan racun itu segera menancapkannya ke lehernya. Lalu dengan kuku palsunya yang runcing dia memasukkan sedikit racun itu perlahan ke dalam tubuhnya sendiri. Racun Risin sangat berbahaya jika di suntikkan langsung ke dalam tubuh. Hal ini menjadi alasan kenapa sidik jari Nona Riana tetap utuh,” ujar Bruce yang memang sudah dijelaskan oleh Graciella bagaimana kronologi yang kemungkinan besar terjadi.
“Karena itu Nyonya Hana ditemukan dalam keadaan menggenggam jarum suntik itu. Itu kejanggalan yang pertama kali saya lihat. Jika orang yang mengalami penyerangan, dia pasti akan berteriak ketika ada yang menyakiti lehernya, lalu kita pasti refleks mengeluarkan benda asing yang dimasukan paksa ke tubuh kita, tapi tidak dengan Nyonya Hana, tak ada satu pun saksi yang mengatakan dia berteriak. Nyonya Hana memegang jarum itu bukan karena ingin mengeluarkan jarumnya, tapi dia ingin mempertahankan jarum itu hingga kematiannya benar-benar terjadi. Dan jarum dengan sidik jari korban dan Nona Riana, tentu menjadi barang bukti kuat agar bisa menjebloskan Nona Riana ke penjara.” Jelas Graciella.
“Bagaimana dengan lampu yang mati selama tiga menit?” ujar Xavier.
“Mudah saja, Nyonya Hana menyewa seorang petugas listrik yang mematikan aliran listrik di area villa ini selama beberapa menit. Setelah itu lampu langsung bisa di hidupkan, sehingga terlihat bahwa mati lampu itu adalah sebuah kebetulan karena rumah-rumah tetangga juga mati,” ujar Graciella.
Betrand mendengar hal itu menggenggam tangannya erat, “Ibuku tidak mati bunuh diri! Tapi kau dan wanita simpananmu itulah yang membunuhnya! Apa kuranganya ibuku! bukannya kau yang sudah berjanji tak akan menjalin hubungan dengan wanita lain! Kau pria tak punya hati!” ujar Betrand yang tampak begitu emosi. Dia segera ingin menyerang ayahnya. Untunglah mereka segera menahan Betrand.
Greciella menatap tajam ke arah Tuan John yang tampak berwajah penuh penyesalan. “Sejujurnya, aku tidak suka mengungkapkan kebenaran tentang kasus ini. Jika aku tidak ingat tentang sumpahku, aku ingin memilih diam agar tujuan Nyonya Hana memberikan pelajaran bagi kalian berdua tercapai, agar Anda dan Riana tak akan bisa bersatu. Tapi aku sudah bersumpah untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Selamat, mungkin setelah ini kalian akan bisa hidup bersama seperti yang kalian inginkan selama ini. Tapi ingat, apa pun yang kalian lakukan, jika menyakiti orang lain, tak akan ada kebahagiaan di atasnya,” ujar Graciella berdiri melihat Tuan John dengan tatapan yang penuh kebencian. Dia memang benci dengan pria-pria seperti ini. Graciella menarik napasnya lalu segera pergi dari sana. Xavier pun segera mengikuti Graciella.
Graciella pergi keluar dari ruangan yang membuat napasnya sesak. Dia kesal sekali, sedih sekali, apa yang dilakukan oleh Nyonya Hana memang tidak pantas. Tapi apakah salah jika dia melakukannya hanya karena ingin membuat pelajaran bagi orang-orang yang mungkin kejahatannya lebih daripada dirinya, yang sudah menyakiti hatinya hingga nekat menghabisi nyawanya. Kenapa hidup ini tak pernah bisa adil?
“Hei,” ujar Xavier yang melihat Graciella dengan mata basah. Dia hanya benci menjadi adil tapi di atas hal yang menurutnya juga tidak adil, kesal sekali rasanya. Mendengar teguran itu Graciella cepat-cepat menghapus air matanya.
Graciella langsung memutar tubuhnya, melihat ke arah datangnya suara. Tapi mata Graciella langsung membesar saat tubuhnya langsung ditarik masuk ke dalam pelukan Xavier. Hangat tubuh dan tangan kekar yang membekapnya itu langsung seketika membuatnya sesak. Xavier tak bisa melihat kesuraman yang ada di mata Graciella.
Graciella terdiam, sekarang bahkan dia tak bisa membedakan, apakah yang dia dengar adalah suara jantungnya yang berderu ataukah suara jantung Xavier. Tapi kehangatan dan ketenangan yang tiba-tiba dia rasakan itu, terasa begitu nyaman.
“Lebih baik Anda jangan melewati batas. Aku bukan wanita yang suka mengganggu rumah tangga orang lain. Anda tidak boleh berpikir aku wanita yang seperti itu! aku minta Anda jangan lagi berdekatan atau menghubungiku lagi. Tugasku sudah selesai! tentang taruhan itu, aku tiadakan!” tegas Graciella. Kenapa pria-pria tidak pernah bisa setia dengan satu wanita. Dan apa yang dipikiran Xavier? Dia kira Graciella adalah wanita yang mudah tergoda dan wanita penggoda kah? Graciella tidak ingin lagi bertemu dengan pria itu.
******
Xavier memperhatikan dengan matanya yang tajam. Melihat Graciella yang tampak begitu bahagia saat dia baru keluar dari terminal kedatangan. Seorang wanita segera menyambutnya dengan senyuman dan pelukan hangat. Xavier juga menyipitkan matanya melihat sosok pria dengan pakaian dinas kepolisiannya membawakan se-bouquet bunga untuk Graciella, tentu itu adalah Stevan. Graciella tampak sumringah mendapatkan bouquet bunga itu.
"Selamat datang kembali Nona Graciella! apa pun yang terjadi jangan pergi lagi!" ujar Stevan begitu senangnya.
"Terima kasih," kata Graciella mencium bunga mawar berwarna pink yang dibawa oleh Stevan.
"Daren sedang menuju ke sini, dia terjebak macet tadi," ujar Laura menjelaskan kenapa Daren tidak ada di sana sekarang.
"Tidak masalah, ehm, ayo kita makan dulu, aku sudah lama tidak makan makanan dari sini. Aku sudah bosan makan kentang dan daging melulu," ujar Graciella ceria.
Laura dan Stevan mengangguk setuju. Semua orang menyimpan semua hal tentang masa lalunya. Walaupun guratan di wajah Graciella selalu membuat mereka mengingat semua hal menyesakkan yang sudah dilewati oleh Graciella. Tapi mereka semua berjanji menutup rapat semua hal itu. Biarlah, Graciella yang sekarang tampak begitu bahagia.
"Komandan! kemana kita akan pergi?" tanya ajudan dari Xavier. Dia yang masih melihat gerak gerik Graciella dari dalam mobilnya.
"Pulang! dan pastikan tidak ada orang yang tahu atas kepulanganku. Aku harus memberikan kejutan pada istriku!" ujar Xavier dengan wajahnya yang sangat serius dan dingin. Mobil itu segera pergi meninggalkan area bandara internasional.