
“Aku sudah selesai!” ujar Graciella berdiri cepat dan menutup laptop yang ada di depannya padahal baru lima belas menit dia menonton kembali rekaman interogasi itu, padahal rekaman itu masih belum selesai. Dia hanya tak sanggup duduk semakin lama di samping pria ini. Rasa sesak yang muncul semakin parah. Bisa-bisa dia pingsan di sana.
“Rekamannya belum selesai,” ujar Xavier menatap Graciella yang buru-buru memasukkan laptopnya ke dalam tasnya. Graciella melirik ke arah pria yang wajahnya tampak teduh menatapnya. Ah! Kenapa harus menatap seperti itu?
“Eh, aku ada urusan. Aku pergi dulu!” ujar Graciella segera pergi meninggalkan Xavier yang hanya mengerutkan dahinya. Kenapa tiba-tiba pergi begitu saja?
Graciella menarik napasnya panjang saat dia baru membuka pintu cafe itu. Rasanya seperti baru saja terlepas dari tali kekang yang sangat erat. Graciella segera berjalan ke arah luar, matanya melirik ke arah Xavier yang masih terduduk di tempat mereka sambil meliriknya. Graciella memeluk tas laptopnya dan segera berjalan.
Graciella mengusap hidungnya. Bau woody dari tubuh Xavier itu seolah masih mengikutinya. Dia bisa menciumnya walaupun sudah dari tadi dia pergi meninggalkan pria itu. Graciella menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa bisa dia terus memikirkan pria itu?
Graciella tiba-tiba berhenti karena otaknya mengatakan sesuatu yang dia sendiri kaget. Apa mungkin dia tertarik dengan pria seperti Xavier? Graciella membesarkan matanya sempurna. Tidak! Tidak boleh! Kenapa harus menyukai pria yang sudah menikah! Dulu dia sangat membenci semua wanita yang berdekatan dengan Adrean. Tentu sekarang dia tidak ingin menjadi wanita seperti itu. Tidak! Pikirnya sambil berdiri terdiam di antara lalu lalang orang dan menggeleng-geleng kepalanya sambil nutup matanya, tapi malah wajah Xavier terbayang di pikirannya. Graciella kembali cepat membuka matanya, kali ini dia mencoba menyadarkan dirinya sambil menepuk-nepuk ke dua pipinya dengan keras. Dia tidak boleh seperti ini. Bagaimana bisa dia menyukai pria angkuh yang sudah beristri seperti Xavier? Tingkahnya tentu membuat beberapa orang tampak memperhatikannya.
Tiba-tiba hujan turun tanpa aba-aba dan langsung menderas dan segera membuat suasana panik. Begitu juga Graciella. Dia tidak membawa payung dan ada laptop yang harus dia selamatkan. Bukan karena laptopnya mahal, tapi data yang ada di dalamnya lah yang penting.
Namun, hujan yang tadinya sangat lebat dan mulai menghantam tubuh Graciella tiba-tiba saja hilang berganti dengan naungan sesuatu yang melingkupi tubuh Graciella. Graciella tentu bingung dan segera melihat ke arah sebelahnya. Membesarkan matanya melihat siapa yang berdiri persis di samping dirinya.
“Jika hujan segera berteduh, bukan hanya diam seperti ini,” ujar Xavier yang menaungi tubuh Graciella dengan jasnya.
Graciella hanya bisa diam, apa lagi wajah pria ini sekarang semakin dekat dengannya. Bau Woody yang dari tadi dia coba usir dari sekitarnya sekarang semakin kuat menyeruak indera penciumannya.
“Eh, aku ….”
“Nanti saja beralasannya. Ini sudah semakin lebat,” ujar Xavier yang mulai berjalan untuk membawa Graciella ke tepian pelataran sebuah toko agar bisa berteduh.
Graciella segera melirik ke arah pria yang sedang mengibaskan jasnya yang sudah lembab akibat hujan. Graciella segera membuang tatapannya. Kenapa pria ini muncul lagi di dekatnya?
Xavier yang sebenarnya mengikuti Graciella, memperhatikan semua gerak gerik wanita yang menurutnya lucu, bagaimana wanita itu bisa bertingkah seperti itu di tengah jalan dan menepuk-nepuk wajahnya sendiri. Selain itu dia malah tak berteduh dengan cepat. Padahal hujan yang datang begitu lebat. Karena itu Xavier berinisiatif segera memayungi wanita ini. Hujan di musim gugur, terasa lebih dingin dari biasanya.
“Terima kasih,” ujar Graciella dengan nada rendah. Bagaimana pun Xavier sudah menyelamatkan dia dari hujan.
“Kenapa kau malah ada di sini lagi?” tanya Graciella.
“Apa kau lupa? Aku sudah mengatakan pada Daniel bahwa aku akan mengantarmu pulang,” ujar Xavier tanpa melirik sedikit pun pada Graciella. Graciella yang melihat tingkah Xavier yang tampak cuek saja dengan Graciella. Graciella hanya memajukan bibirnya. Bodoh sekali, dia kira Xavier mengikutinya mungkin karena ada maksud sesuatu, tapi sepertinya dia memang hanya tipe pria yang bertanggung jawab dan selalu menepati apa yang sudah dia ucapkan.
Graciella hanya mengangguk-angguk pelan mencoba untuk menyakinkan dirinya sendiri bahwa perhatian dari Xavier bukanlah apa-apa.
Xavier yang akhirnya melihat ke arah Graciella lagi-lagi mengerutkan dahinya, kenapa malah wanita ini mengangguk-angguk begitu?
Graciella melihat air hujan yang turun begitu derasnya. Sangat deras hingga cepat membuat genangan di jalanan. Belum lagi udaranya yang semakin menusuk, membuat pori-pori kulit semakin menciut, membuatnya kasar. Graciella melihat ke arah pepohonan di sisi lain dari jalanan. Sudah menguning bahkan sebagian sudah botak karena daunnya yang sudah berguguran jatuh ke tanah. Sebentar lagi akan masuk musim dingin. Musim yang paling menyiksa bagi Graciella selama dia ada di negara itu.
Graciella memeluk dirinya sendiri. Terlarut dengan suasana hujan yang membuat semua hal menjadi sendu. Rintiknya dan suaranya yang menenangkan membuat pikiran Graciella terbang jauh entah kemana saja. Terkadang mengenang hidupnya yang dulu, tapi terkadang mengkhayalkan hal-hal yang saat dia sadar, dia tidak ingat lagi kenapa dia bisa memikirkan hal itu.
“Mau minum coklat hangat?” tanya Xavier tiba-tiba karena melihat Graciella tampak kedinginan walau sudah menggunakan sweater cukup tebal.
“Eh? Apa?” tanya Graciella yang tidak mendengar jelas perkataan dari Xavier.
“Ingin minum coklat hangat, di sini sedikit dingin. Di cafe itu terlihat lebih hangat,” ujar Xavier lagi memandang wajah kecil wanita yang tak lebih tinggi dari bahunya.
Graciella menatap wajah yang awalnya dia temui begitu keras sekarang tampak begitu lunak. Sialnya, itu malah membuat Graciella semakin tidak bisa memalingkan wajahnya dari wajah Xavier. Graciella hanya mengangguk pelan.
Xavier dan Graciella sudah mau berjalan, tapi perhatian Graciella tiba-tiba jatuh ke arah seorang gadis kecil berumur 3 atau 4 tahun yang berdiri dekat dengannya menggigil memeluk dirinya sendiri. Dia hanya menggunakan gaun kecilnya. Rambutnya yang berwarna coklat itu lepek karena basah, sebagian bajunya juga tampak basah.
Tanpa pikir panjang lagi Graciella langsung membuka sweater-nya. Xavier mengerutkan dahinya. Padahal Graciella dari tadi terlihat kedinginan, tapi dia begitu saja membuka bajunya.
“Hei, little princes, where is your mommy?” tanya Graciella sambil menutup tubuh kecil yang menggigil itu dengan sweater-nya. Gadis kecil dengan mata coklat itu tampak kaget tapi tak kuasa menolak perbuatan Graciella. Melihat perbuatan Graciella, Xavier hanya menatapnya dalam diam. Ada perasaan aneh yang dia rasakan.