Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 253.


Sebuah kapal merapat di dermaga. Udara di tepian laut malam itu terasa masih cukup gerah walaupun angin berhembus kencang. Mungkin menandakan sedikit lagi hujan akan turun.


MbuSeorang pria turun dari kapal itu menaurkan tali agar kapal yang tak terlalu besar dengan tulisan 'tarian ombak' di sisinya tak terbawa arus.


Suasana di dermaga kecil itu sudah sangat sepi karena malam hampir berganti dini hari. Tak lama suara sepatu mendarat menghilangkan sunyi di sekitar mereka.


"Apakah semua sudah aman?" Suara wanita yang ringan terdengar. Pria yang menautkan tali tadi mengangguk. Seorang pria lain di atas kapal juga mengangguk. Dia bersiap ingin lompat ke tanah dermaga.


Dan baru saja sepatunya menyentuh tanah. Tiba-tiba dari balik kapal dan tempat-tempat lain di sana muncul orang-orang berjumlah lebih dari sepuluh orang mengepung mereka.


"Jangan bergerak! Angkat tangan! Kepolisian negara!" Teriak mereka memecah kesunyian. Semua orang yang mengepung mereka menodongkan senjata api. Tentu mereka semua kaget. Apalagi begitu banyak orang yang dikerahkan hanya untuk menangkap mereka. Sial! benar dugaannya pria licik itu pasti membuka keberadaan mereka. Walaupun sudah mengubah dermaga tempat mereka kembali. Pasti ada salah satu informan dari Adrean yang mengikuti mereka.


Salah satu dari orang yang ada di sana berjalan maju. Pria itu tidak memegang pistol sama sekali.


Elaine melihat sosok yang gagah dengan pakaian kemeja putih ditutupi rompi anti peluru bertuliskan polisi itu. Dia tampak percaya diri berhenti tepat di depannya.


Stevan mengerutkan dahinya. Tak menyangka penjahat yang lagi naik daun ini ternyata wanita yang wajahnya cukup menarik. Bahkan bisa .dikatakan cantik. Pantas saja dia bisa menggoda orang-orang yang berusaha menangkapnya dulu.


"Malam-malam mengapa bisa begitu tampan, Pak polisi?" tanya Elaine dengan gayanya yang mencoba menggoda Stevan.


Stevan hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Mengambil borgol dari sakunya. Lalu menarik tangan Elaine. Memborgolnya dengan cepat.


"Aku selalu tertarik dengan pria yang suka menggunakan borgol," ujar Elaine lagi sambil menggigit bibirnya yang berpoles merah darah.


Stevan kembali tersenyum sekarang lebih tepat seperti tawa kecil. "Kau simpan saja godaanmu. Karena aku tidak tertarik dengan wanita penipu sepertimu."


"Kau tahu. Ini tidak pernah bisa lama menahanku," ujar Elaine menunjukkan borgolnya.


Stevan tak memupuskan senyumannya. Dia lalu mendekati Elaine dan membisikan sesuatu.


"Kalau begitu. Yakinlah, ini akan jadi pengalaman pertamamu lama menggunakan benda itu."


Elaine menatap ke arah Stevan yang langsung memberikan isyarat agar para bawahannya memborgol kedua pria di belakang Elaine.


"Di mana Adrean?" Tanya Stevan. Dia ingin tahu di mana pria itu berada sekarang. Itu yang paling penting dalam penangkapan Elaine. Dia pasti baru saja bertemu dengan pria itu karena mengantarkan Graciella.


"Dia ada di lautan international. Bisa ambilkan ponselku? Aku tidak bisa meraihnya karena tanganku sekarang kau ikat." Elaine menunjuk ke arah saku celananya.


Stevan melepar pandangannya sejenak ke arah Elaine. Tentu dia harus hati-hati. Wanita ini terkenal punya seribu tipu daya.


Stevan tentu tidak enak langsung mengambil dari saku celana Elaine. Dia lalu memanggil salah satu polwan yang ikut dalam penyergapan ini. Bagaimana pun Elaine adalah wanita. Mereka memerlukan polisi wanita untuk mengamankan jika dia butuh apa-apa.


"Ambil ponselnya," perintah Stevan.


"Ini Komandan," ujar Polwan itu memberikannya pada Stevan.


"Untuk apa ini?" Tanya Stevan dengan nada mengintrogasi.


"Buka saja passwordnya. 372615. Kau harus menghapalnya." Elaine tampak bernada serius sekarang.


Stevan membuka ponsel itu. "Lalu?"


"GPS tracker. Aku menyelipkan alat pelacak di tubuh Nyonya Greciella. Andrean pasti sudah berpindah tempat. Kalian bisa mengikuti sinyalnya." Elaine yang tadi berwajah genit sekaranh tampak begitu serius.


Stevan mengerutkan dahinya melihat tingkah Elaine. "Kenapa kau dengan mudah memberi aku ini?"


"Kenapa? Ya tak ada untungnya juga aku menyembunyikannya kan? Adrean tak akan membayarmu lebih hanya karena aku menyembunyikan di mana tempatnya. Dia bahkan mungkin sudah melaporkanku pada kalian atau mengutus seseorang membunuhku di penjara karena takut memberikan lokasinya. Tak masalah. Kalau kau ingin mencarinya. Pergi sekarang. Aku sarankan pengintaian lewat udara juga. Lebih gampang. Tapi jangan menyergapnya dengan helikopter, dia akan tahu. Dia punya banyak senjata di kapalnya. Apa kau mengerti?" Ujar Alaine lagi dengan semangat seperti merencanakan penangkapan Adrean.


Stevan makin mengerutkan dahi melihat tingkah Elaine. Wanita ini wanita seperti apa?


"Bagaimana jika kau berbohong padaku?" Tanya Stevan lagi menggoyangkannya ponsel di depan Elaine.


Elaine dengan entengnya menaikkan kedua tangannya dan menggerakkannya seolah tangannya tak bisa keluar dari borgol itu. "Bukannya kau yang mengatakan bahwa aku akan lebih lama menggunakan ini? Temui saja aku di sel ku. Kau pasti yang mana?"


Stevan masih mengerutkan dahinya. Dia lalu memerintahkan bawahannya membawa Elaine. Elaine tersenyum manis ke arah Stevan sebelum dia di masukkan dalam mobil polisi.


"Jaga mereka. Berikan penjagaan ketat. Apapun yang terjadi padanya di jalan. Jangan pernah berhenti." Ujar Stevan. Tak mau menganggap gampang hal ini.


Dia lalu membuka kembali ponsel Elaine. Melihat ke GPS tracker. Dan benar saja dia langsung mendapatkan koordinat ping dari alat pelacak Graciella. Matanya membesar. Dia segera mengambil ponselnya. Tak menyangka ternyata yang dikatakan oleh Elaine benar adanya.


...****************...


Graciella membuka matanya. Awalnya remang tapi bertambah silau. Membuat dia tidak bisa membuka matanya dengan segera.


Saat pandangannya sudah jelas. Graciella langsung mencoba mengenali tempat itu. Otaknya memunculkan ingatan tentang bekapan yang dibuat oleh orang yang tak dikenal. Dan dia tiba-tiba saja sudah tak sadarkan diri.


"Sudah sadar?" 


Suara yang sangat familiar dan juga sangat mengerikan itu terdengar. Mengusik rasa trauma dalam diri Graciella. Dia langsung melihat ke arah sumber suara.


Graciella langsung membesarkan matanya. Dia kaget melihat pria itu bangkit dari duduknya. Dia kembali mengamati kamar yang mewah penuh dengan ukiran-ukiran yang dicat emas. Di mana ini? Kenapa pria ini ada di sini?


"Adrean! Apa maumu?" Tanya Graciella. Tubuhnya langsung gemetar. Tapi dia berusaha tegar. Pria ini, dari dulu paling menikmati saat Graciella memunculkan wajah ketakutannya. Karena itu dia tak boleh tampak takut.


"Apa mauku? Aku mau menjemputmu. Aku ingin kembali mengambil hakku," kata Adrean yang berhenti tepat di sisi Graciella. Menunduk sejenak melihar Graciella yang menahan napasnya. Ingin menjauh tapi tubuhnya terkaku. Dia hanya bisa merem'as selimut tebal yang tadi dia gunakan.