Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 257. Pertemuan kami adalah Takdir.


Mendengar jawaban di dalam. Xavier memberanikan dirinya. "Graciella?"


Mendengar suara berat yang khas tentu dia langsung tahu siapa pemilik suara itu. Dengan membesarkan matanya dan langsung buru-buru membuka pintu yang menghalangi mereka.


Graciella membesarkan matanya. Tanpa pikir panjang lagi langsung memeluk pria yang bahkan hanya terlihat matanya saja karena tertutup oleh pakaian untuk menyelamnya. Tapi dia tahu, dia adalah suaminya.


Xavier langsung membalas pelukan itu dengan sangat erat. Rasanya separuh jiwanya baru saja kembali padanya. Rasa cemas, takut, juga haru bersatu di dalam dada mereka. Tanpa sadarnya Graciella langsung menangis. Dia kira pria ini tak akan pernah bisa menemukannya di lautan lepas ini.


Rasa dingin karena baju Xavier yang basah bahkan tak mengganggu pelukan hangat itu. Xavier langsung mencium dalam rambut Graciella yang terus meringkuk dalam pelukannya.


"Kau tidak apa?" Bisik Xavier. Terakhir kali pun keadaan istrinya ini tak baik.


"Aku dan anak kita tidak apa-apa," Isak Graciella dengan suaranya yang mulai bindeng.


"Dengarkan, kita belum aman." Xavier mendorong tubuh Graciella. Mereka tidak boleh terbawa perasaan dulu. Keadaan mereka belum aman dan ini masih dalam masa genting. "Dengarkan aku baik-baik."


Greciella mengusap hidungnya yang berair juga matanya yang basah. Dia mengangguk cepat. Dia juga tahu, belum saatnya untuk larut dalam suka cita pertemuan ini.


"Kau tetap di kamar ini. Tapi biarkan pintunya terbuka. Kau masuk ke dalam lemari atau apa saja di mana kau bisa bersembunyi. Kau mengerti?" Xavier tampak serius sambil memegangi kedua lengan atas Graciela.


Graciella mengerutkan dahi. Kenapa malah dia di minta untuk bersembunyi di sini lagi, bukan dibawa ke tempat yang aman?


"Ikuti saja. Ada hal yang harus aku selesaikan, kau mengerti? Jika ada orang yang memberimu tanda ketukan tadi. Maka dia orang dari kami. Tapi jika dia memanggil namamu. Itu bukan dari kami. Mengerti?" jelas Xavier lagi.


"Ya! Ya! Aku mengerti! Tapi …." Ujar Graciella.


"Baik! Masuklah!"


"Kau ingin apa?" Satu pertanyaan itu yang tak bisa ditahan oleh Graciella.


"Aku harus menuntaskan semua. Menyingkirkan duri yang mengusik hidup kita untuk selamanya!" Jawab Xavier langsung. "Masuklah! Percaya! Aku akan kembali menjemputmu!"


Greciella tidak suka denyan kata-kata akan kembali menjemputnya. Rasanya seperti sebuah perpisahan yang terselubung.


Graciella lalu melihat dua orang yang berbaju sama seperti Xavier. Xavier tahu ini waktunya dia harus pergi.


"Masuk!"


Graciella mengangguk pelan. Walaupun banyak pertanyaan yang menggelayuti tapi dia yakin, suaminya pasti merencanakan sesuatu. Graciella langsung berlari kecil ke arah lemari yang ada di sana. Dengan cepat dia masuk.


Begitu melihat Greciella sudah aman. Xavier memegang telinganya. "Kirimkan sinyal ke kapal utama!" ujar Xavier sambil berjalan kembali ke arah mereka tadi masuk.


Mereka bertiga saling pandang dan menganggukkan kepala. Xavier langsung naik ke atas dan memperhatikan keadaan sekitar. Sebuah Speedboat langsung mengarah ke arah mereka.


"Sepertinya Adrean sedang beristirahat. Ada dua orang penjaga yang berjaga di depan kamarnya," lapor tentara yang mengintai keadaan tadi. Sengaja tidak lumpuhkan agar tak memancing curiga.


Setelah melihat Speedboat sudah cukup mendekat. Dua orang tentara itu langsung berjalan ke arah samping kapal. Menyisakan Xavier sendiri yang menatap tajam ke arah pintu itu.


Xavier membuka penutup wajah yang dia gunakan agar Adrean mudah mengenalinya. Dia mengambil senapan yang digunakan oleh penjaga Adrean lalu menembakkannya beberapa kali ke arah pintu kapal itu. Tentu suaranya langsung menggaung di seluruh ruangan. Greciella saja sampai kaget mendengarnya.


Adrean yang sedang beristirahat langsung terbangun. Dia melihat sekitanya dan sekali lagi mendengar suara tembakan.


Dengan cepat dia segera turun dari tempat tidurnya dan bergegas keluar. Saat dia keluar dua orang penjaganya sudah tampak sedikit menjauh darinya.


"Ada apa?" tanya Adrean kaget.


"Seseorang menyerang kita, Tuan," lapor penjaga itu melihat salah satu temannya sudah tersungkur di lantai.


Adrean langsung membesarkan matanya. Dia langsung berjalan cepat ke arah ruangan Graciella. Dia mengepalkan tangannya kuat melihat ruangan itu sudah kosong!


Pasti ini adalah pekerjaan Xavier! Tapi dari mana dia mendapatkan koordinat mereka? Bukannya dia sudah cukup jauh ke tengah lautan?


"Tuan, sepetinya ada orang di atas," lapor penjaga itu lagi.


Adrean yang emosinya sudah memuncak langsung saja berjalan menuju ke atas kapalnya. Dia tidak akan membiarkan Xavier mengambil kembali Greciella! Apa pun yang terjadi, dia harus mendapatkan wanita itu kembali.


Penjaga Adrean naik pertama kali. Begitu melihat penjaga itu, Xavier langsung berancang-ancang untuk melompat ke Speedboat yang dikendarai oleh Sebastian.


"Itu dia!" Teriak penjaga Adrean yang akhirnya menemukan penyusup di sana. Mereka segera membidik ke arah Xavier yang langsung melompat ke Speedboat Sebastian. Adrean yang melihat itu adalah Xavier langsung mengejar pria itu dengan cepat.


Adrean yang melihat Xavier meloncat ke sebuah Speedboat. Dia yakin di sana pasti ada Graciella. Tanpa pikir panjang lagi dia segera melompat ke arah Speedboat itu sebelum mereka bergerak pergi, setidaknya itu pikiran Adrean.


Xavier yang berdiri menunggu Adrean untuk masuk ke perangkapnya hanya menatap tajam pria itu dari atas speedboatnya. Xavier yakin, amarah Adrean yang memang sangat tinggi pastilah akan membuatnya tak berpikir panjang. Dan bernar saja, pria itu langsung melompat ke arahnya. Begitu dia ada di atas speedboat itu. Sebastian segera melajukan Speedboat itu menjauh dari kapal Adrean.


Dua orang penjaga Adrean tentu kaget dan bingung. Jika mereka menembaki Speedboat itu, maka mungkin saja bisa mengenai Adrean. Tapi belum sempat mereka berpikir. Kepala mereka langsung dipukul dan mereka akhirnya pingsan.


Laju Speedboat itu membuat terkadang tubuh mereka limbung. Tapi tatapan mata mereka beruda tak terputus. Ada kebencian dan amarah yang nyata yang terlihat di antara kedua pria ini.


"Mana Graciella?" tanya Adrean dengan mata yang memerah. Tanpa amarahnya sudah begitu memuncak.


"Kau tidak berhak menanyakan di mana istriku!" Dingin suara Xavier bahkan lebih dingin dari angin malam itu.


Adrean menggenggam tangannya erat. Wajahnya gemetar karena gertakan giginya yang kuat. "Dia tidak ada di sini bukan?"


"Tidak! Di sini hanya antara kau dan aku!" Jawab Xavier juga dengan genggaman erat yang siap dia layangkan ke pria ini. Pria yang selalu mengganggu kehidupannya dengan Greciella. Lagipula dia juga menaruh dendam karena pria ini pernah menyakiti wanitanya dan juga anaknya.


"Aku adalah orang pertama yang dia cintai! Dan kau hanya pria kebetulan tidur dengannya! Kau yang membuat hidupnya begitu menderita hingga dia harus kehilangan semua ingatannya tentangmu, dan kau merasa bisa membahagiakannya?" decih Adrean dengan senyuman remehnya.


"Pertemuan aku dan Greciella malam itu bukan kebetulan. Tapi takdir! Seberapa pun jarak kami, bukannya kami tetap kembali bersama?" jawab Xavier lagi yang semakin membuat emosi Adrean tersulut.