
Devina masih tidak bisa bergerak. Hanya kakinya yang sekarang terasa gemetar. Dia tidak pernah melihat Xavier bisa semengerikan itu. Dia tidak pernah tahu, Xavier bisa begitu.
Xavier terus memandang Devina dengan matanya yang tajam penuh emosi. Hidungnya bergerak-gerak menahan rasa amarah yang begitu memuncak. Napasnya saja begitu berat terasa.
Xavier lalu segera meninggalkan Devina yang sekarang bahkan untuk membuka mulutnya saja tidak sanggup lagi. Dia meluncur jatuh ke lantai karena lemas dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Stevan dan juga anak buahnya langsung keluar dari ruangan itu. Stevan langsung menunjuk ke arah ruangan Devina. Membiarkan anak buahnya kembali mengurus wanita itu sedangkan dia harus mengejar Xavier yang bahkan sudah hilang di ujung lorong.
Stevan harus berlari untuk mengejar langkah Xavier. Xavier melihat tangannya. Tadi saat memukul meja itu dia sama sekali tidak merasakan sakit. Mungkin karena pompaan Adrenalin yang mengisi seluruh tubuhnya hingga membuatnya kurang merasakan sakit.
Sekarang tangannya mulai panas dan dia melihat tangannya sudah memerah. Bahkan di sebagiannya terlihat membiru. Bukti bahwa pukulan itu begitu keras dilayangkan oleh Xavier.
“Xavier, bagaimana keadaanmu?” tanya Stevan yang akhirnya bisa mengejar Xavier.
“Tidak masalah.” Xavier hanya menjawabnya singkat.
“Apa yang kau lakukan tadi. Kau benar-benar membuatku kaget.” Jantung Stevan hampir keluar dengan apa yang dilakukan oleh Xavier tadi.
“Sudah ku bilang aku harus memberikan wanita itu pelajaran. Dia berpikir bahwa aku tidak akan pernah berani untuk marah padanya. Karena itu dia harus sedikit diberikan ultimatum agar tidak lagi mendekati Graciella.”
Stevan tidak menjawab seperti biasanya. Dia hanya melihat ke arah tangan Xavier yang meninggalkan bekas merah cenderung ke arah ungu. Dia tahu pria ini begitu mencintai Graciella. Untung saja dia tidak pernah berpikir untuk bersaing dengan pria ini.
“Lalu sekarang di mana Moira?” tanya Stevan. Dia baru ingat gadis kecilnya yang mungkin sudah tidak kecil lagi. Dia ingin bertemu dengannya.
“Dia ada di markas militer bersama ibu dan nenekku,” ujar Xavier datar saja. Masih belum hilang emosinya.
“Aku boleh bertemu dengannya kan?”
“Hmm.” Hanya itu yang keluar dari mulut Xavier sebagai persetujuan dengan sedikit anggukan kecil. “Aku menawarkan tim ku untuk mencari keberadaan Adrean, apa kau setuju?”
“Tak masalah. Jika ingin bergabung. Kita bisa mencarinya bersama.”
“Baiklah. Aku akan pulang dulu melihat keadaan Graciella. Adrean orang yang licik. Dia bisa saja ada di mana saja. Lebih baik kita harus lebih waspada.” Xavier menghentikan langkahnya tepat di lobi dari kantor polisi itu. Dia harus segera pergi dari sini.
“Ya. Aku mengerti. Aku akan berusaha mencarinya bahkan harus ke lubang semut sekali pun.” ujar Stevan sedikit tersenyum. Tapi lawan bicaranya ini hanya memasang wajah datar dan seriusnya. Stevan jadi menyesal sudah tersenyum tadi. “Kirim salamku pada Graciella. Katakan semoga cepat sembuh,” sambung Stevan yang melihat Xavier sudah melangkah pergi darinya menuju keluar. Ah, temannya itu sangat dingin. Bagaimana wanita bisa begitu suka dengan sosok seperti itu. Bahkan diajak bicara saja susah.
...****************...
Penjagaan di sekitar ruangan Graciella begitu ketat. Ada banyak tentara yang tiba-tiba saja memenuhi lorong dan berjaga di sana. Pemandangan itu sangat tak lazim karena memang rumah sakit ini jarang menerima pasien penting seperti Graciella.
Dari ujung lorong rumah sakit yang dinginnya sedikit menusuk dengan wangi khasnya. Datang seorang wanita berbaju seragam rumah sakit. Dia mendorong kursi roda kosong mengarah ke arah ruang perawatan Graciella.
“Berhenti!” kata salah satu bawahan Xavier yang ditugaskan khusus menjaga Graciella.
“Saya hanya ingin menjemput Nyonya Qing untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.” wanita itu sedikit tampak gugup ketika dia diminta berhenti sebelum masuk ke dalam ruangan Graciella.
“Rontgen, ya, Rontgen!” kata wanita itu.
Bawahan Xavier menyipitkan matanya menatap wanita itu sedikit curiga. Kenapa sepertinya wanita ini sedikit ragu-ragu menjawab tentang pemeriksaan ini?
“Oh, ya, ini adalah catatan dari Dokter untuk melakukan pemeriksaan rontgen.” wanita itu mengambil secarik kertas di sakunya dan memberikannya pada tentara itu.
Bawahan Xavier langsung melihat isi yang tertulis di kertas itu. Dia mengerutkan dahinya. Sama sekali tidak bisa membaca tulisan dokter yang menurutnya sangat-sangat tidak bisa dibaca. Dia bahkan bingung di mana ada tulisan Rontgennya.
“Di mana perintahnya?”
“Ini di sini,” ujar wanita itu menunjuk sebuah tulisan yang memang sepertinya diawali oleh huruf R. Tapi selanjutnya dia sama sekali tidak bisa membacanya.
“Baiklah, kalau begitu kau boleh masuk,” ujar tentara itu. Mereka membukakan pintunya.
Perawat itu tampak berwajah lega. Tapi kelegaannya cuma sesaat. Ada seorang wanita yang ternyata sedang menjaga pasien yang sedang berbaring dengan lelap.
“Siapa kau?” tanya Serin dengan tegas berjalan ke arah wanita berbaju perawat itu. Serin tidak mengizinkan dia untuk lebih dekat.
“Oh, aku ingin melakukan pemeriksaan penunjang lain yang diminta oleh dokter yang menangani pasien ini. Kami akan melakukan Rontgen,” jelas perawat wanita itu sambil menyodorkan kertas yang tadi.
Sering menatap wanita di depannya ini dengan wajah yang sedikit tidak percaya. “Bukannya sinar yang dipakai untuk foto Rontgen itu tidak bagus untuk ibu hamil?” Sering merasa sedikit curiga. Dia pernah belajar tentang sinar Rontgen. Rasanya tidak mungkin dokter kandungan tidak tahu itu. Lagi pula keadaan Nyonyanya sangat baik.
Perawat itu tampak sedikit panik dengan apa yang ditanyakan oleh Serin. Dia menggigit bibirnya dan mengambil sesuatu dari sakunya secara sembunyi-sembunyi ketika Serin melihat dengan sangat fokus apa yang ada di kertas itu.
“Aku rasa ini buka rontgen ….” ujar Serin hendak melihat perawat itu.
Tapi perawat itu tiba-tiba saja dengan sangat cepat langsung menusukkan leher Serin dengan jarum suntik yang sudah di isi obat pelemas otot. Dia langsung memasukkan obat itu bahkan sebelum Serin bisa melawannya.
Efek obat pelemas otot sangat cepat. Baru saja memasukkannya dengan dosis yang sangat tinggi ke tubuh Serin. Serin langsung merasakan kebas di seluruh tubuhnya hingga mati rasa. Dia yang tadinya berdiri tegak tak kuasa lagi menahan kakinya. Dan tiba-tiba saja dia jatuh ke lantai.
Dia bisa melihat perawat itu mulai berjalan ke arah Graciella. Dia ingin berteriak tapi otot di wajahnya tidak meresponnya. Dia bahkan ingin mengambil ponsel dan menghubungi komandannya. Tapi nihil, tangannya bahkan tak sanggup bergerak. Tak berapa lama, kelopak matanya pun tidak bisa lagi dia tahan untuk menutup.
Pandangan terakhirnya adalah melihat perawat itu seperti mengeluarkan jarum suntik lain dan ingin menyuntikkannya ke tubuh Graciella yang masih saja tertidur pulas.
****
Pojok Author:
Aku mau menjadi cenayang dan memprediksi pasti banyak diantara yang baca episode ini akan berkomentar. Lah! apa lagi ini? kapan bahagiannya? dannn! kangen Laura dan Antony. wkwkwkw
Sabar. Laura next episode. Lagi syuting yang lain dia.