
Graciella bukannya tak tahu bahwa dua orang wanita yang duduk tak jauh darinya itu sedang menatap dirinya. Siapa pun punya insting itu, mereka akan merasa tak nyaman jika diperhatikan seperti itu.
“Stevan, ehm, siapa wanita yang bersama ibu Xavier?” bisik Graciella pada Stevan yang duduk di sampingnya.
“Oh, itu adalah Liliana, dia adalah nenek Xavier,” jawab Stevan segera.
`
Oh … Graciella mengucapkannya panjang dalam hati tapi kenyataannya dia hanya diam saja. Pantas saja wanita itu terus memandanginya. Bahkan di dalam toilet dia terus memandanginya. Apakah nenek Xavier juga tak suka dengannya hingga dia tampak begitu terkejut melihat Graciella. Hah … Graciella menarik napasnya panjang. Kenapa semua keluarga Xavier tak menyukainya, dia salah apa?
Tak lama seorang pria masuk dengan pakaian formalnya. Dia masuk dengan Daren yang memang mengenal pria itu. Dia adalah seorang pengacara yang paling terkenal di negara itu. Pria itu langsung memberikan salam pada Liliana dan juga Monica.
“Keluarga Jenderal Xavier.” seorang pria dengan balutan pakaian dinas polisi militer tampak keluar dan mendatangi ruang tunggu itu. Semua orang yang ada di sana langsung melihat ke arah pria itu dan berdiri. Melihat lima orang yang berdiri secara serempak membuat pria itu kaget. Tentu di wajah mereka tampak harapan untuk bisa masuk dan menemui Xavier. “Yang diizinkan menjenguk sekarang hanya keluarga terdekat dan juga kuasa hukum beliau. Selain itu, keluarga tidak boleh lebih dari tiga orang.”
Graciella mendengar itu mengerutkan dahinya. Ada sorot mata kecewa. Kenapa hanya keluarga, sementara dia belum menjadi keluarga bagi Xavier. Padahal dia sudah berdoa bisa menemui pria itu sekarang.
“Kami sudah menunggu lebih dari tiga jam. Kenapa kami tidak boleh menemui Xavier? tanyakan padanya, pasti dia juga ingin bertemu dengan kami,” ujar Stevan kesal. Sudah tiga jam menunggu tapi hanya keluarganya saja yang boleh masuk. Liliana dan juga Monica tampak hanya melirik ke arah Stevan yang tampak kesal.
“Saat ini penyelidikan masih berlangsung. Karena itu hanya keluarga saja yang diizinkan untuk bertemu Jenderal Xavier.”
“Aku adalah ibunya dan ini adalah neneknya,” ujar Monica langsung. Tentu serasa punya tiket emas untuk masuk dan menemui Xavier.
“Silakan Nyonya,” ujar polisi.
Graciella tentu sangat berharap bisa bertemu dengan Xavier. Wajahnya melukiskan hal itu. Gurat kerinduan tampak begitu pekat. “Apakah aku boleh masuk?”
“Benar, setidaknya izinkanlah dia masuk. Dia adalah ….” ujar Stevan. Dari semua orang di sini. Stevan yakin bahwa Xavier pastinya akan memilih Graciella. Stevan juga tidak tahan melihat sorot mata yang berharap itu.
“Jika begitu, Anda diperbolehkan untuk masuk.” Polisi militer itu mengizinkan Graciella mengikuti Monica dan juga Liliana yang sudah masuk ke dalam sebuah ruangan yang sebenarnya tak jauh dari mereka.
“Berikan salamku padanya. Tanyakan apa yang bisa aku lakukan?” ujar Stevan menitip pesan saat Graciella mulai melewatinya. Graciella hanya mengangguk.
Graciella masuk ke dalam ruangan yang tak terlalu besar. Berdinding putih bersih dengan prabotan minim. Hanya sebuah meja hitam di tengah dengan kursi-kursi ala kadarnya. Tentu terlihat sekali seperti ruang besuk biasanya. Graciella saling menggenggam kedua tangannya. Sedikit merasa dingin dan gemetar, tak tahu karena memang ruangan itu dingin atau dia sedikit tak sabar melihat Xavier.
Pria ini sudah ada dalam kepalanya semalaman. Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana bisa dia seperti ini? Apakah mereka melakukan sesuatu padanya? Semua itu berkutat dalam pikirannya. Graciella menggigit bibirnya sedikit keras. Tak sabar melihat pintu lain di ruangan itu terbuka.
Tak lama pintu di ruangan itu pun terbuka. Xavier masuk dengan tangan terborgol. Ketiga wanita yang ada di sana tampak kaget dan tak percaya. Keadaan Xavier sebenarnya sangat baik. Tidak ada yang berubah dari dirinya. Tapi melihatnya diborgol seperti itu, tentu mengiris semua perasaan yang melihatnya.
Xavier yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu kaget melihat Graciella. Tentu saja dia sudah dikatakan bahwa hanya keluarga saja yang diizinkan untuk dia temui. Dan yang pasti dia sangat ingin bertemu dengan wanita ini. Dia yakin wanita ini sangat panik dan khawatir. Dari matanya, siapa pun bisa menebak. Dia pasti menangis semalaman.
“Xav—” ujar Monica.
“Xavier!” ujar Graciella berbarengan dengan Monica ketika Xavier akhirnya dilepaskan borgolnya. Tapi Xavier tak melepaskan matanya melihat Graciella dan langsung mengarah ke Graceilla. Tanpa ada kata, mereka langsung saling berpelukan dengan erat. Bagaikan sudah bertahun tak pernah bertemu. Monica hanya mengerutkan dahinya. Tapi langsung ditenangkan oleh Liliana.
Xavier memeluk Graciella begitu eratnya. Dari tadi di dalam sel itu yang dia pikiran bagaimana kabar Graciella. Dia sudah kembali gagal memenuhi janjinya. Dia juga berpikir pasti wanita ini sangat sedih mendengar tentang kabarnya. Sial sekali! Bagaimana bisa ada orang yang menyerupai dirinya dan membunuh Robert Kim.
“Maafkan aku, aku belum bisa menyelesaikan tugasku untukmu. Maafkan, aku gagal malam ini,” bisik Xavier mencurahkan semua perasaannya yang sudah tertahan semalaman. Bagaimana rasa khawatir, rindu, sayang dan cinta itu melebur menjadi satu dan teralihkan hanya dalam sebuah pelukan.
Graciella pun tak kalah erat memeluk sosok tegap itu. Dia juga sangat takut bahwa dia akan lama tak bisa merasakan kehangatan ini. Graciella menghirup wangi yang terus cari dari semalam. Keharuman yang selalu bisa membuatnya begitu tenang.
“Tidak ini bukan salahmu. Kita harus cepat mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sini dan mencari dalang semua ini,” ujar Graciella. Baginya Xavier tidak gagal sama sekali. Bukannya pria ini sudah berusaha, tapi memang terlalu banyak aral melintang yang menguji perjalanan mereka. Graciella juga berusaha untuk tidak menangis. Dia tidak ingin Xavier akan melihatnya menangis dan akan menjadi beban baginya di dalam sana. Karena itu sebisa mungkin Graciella hanya tersenyum. Walaupun dia tahu matanya tidak mungkin bisa menutupinya, sekarang saja matanya sudah berkaca-kaca.
“Pasti, aku akan keluar dari sini secepatnya,” ujar Xavier yang segera melihat wajah Graciella. Menghapus air mata yang berkumpul di sudut mata Graciella. Dia tidak ingin melihat wajah itu berhiasakan air mata.