
Mobil Xavier berhenti di depan pintu gerbang markas militer yang di pimpinnya. Dia membuka kacanya sedikit sehingga para penjaga bisa melihatnya. Sebuah peraturan yang dia buat agar tak sembarangan orang bisa masuk ke markas militer. Para penjaga tentunya langsung mempersilakan mereka masuk.
Mobil itu kembali berjalan. Melewati kawasan militer hingga masuk ke tempat asrama militer. Tempat tinggal Xavier tak berbeda jauh dengan milik bawahannya yang lain. Hanya terlihat sedikit lebih bagus dan besar. Mobil mereka segera berhenti di depan asrama itu.
Xavier langsung turun, kebiasaannya yang memang tak mengizinkan siapa pun membukakan pintu untuknya. Dia adalah seorang tentara sejati. Hidupnya untuk melayani masyarakat dan bukanlah dilayani.
Xavier melihat penjagaan berbaju khusus di depan asramanya. Melihat itu dia tahu siapa yang sudah ada di dalam rumahnya. Fredy pun mengerti. Tak seperti biasanya, Fredy tak mengikuti Xavier dan berhenti di dekat para penjaga yang sekarang memberi hormat ala militer pada Xavier.
Xavier hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam rumahnya. Benar dugaannya. Sosok itu sudah berdiri di ruang tengah asramanya yang tak begitu besar.
"Selamat siang Perdana Menteri." Xavier memberikan salam militernya.
Pria berumur lima puluh tahunan itu segera melihat ke arah asal suara. Dia mengangguk pelan tanda merima penghormatan dari Xavier. Dia lalu memandang dua orang pengawal yang menjaga dia di dalam asrama dan memberikan gestur agar mereka meninggalkan dirinya dan Xavier berdua. Para pengawal itu segera pergi meninggalkan ruangan itu setelah memberikan salam pada Xavier.
"Ada apa Perdana Menteri yang sibuk datang ke tempat saya?" tanya Xavier melihat Perdana Menteri itu mendekat ke arahnya. David Qing menaikkan sudut bibirnya, menangkap sebuah salam sekaligus sebuah sindiran halus yang diberikan oleh Xavier
"Kau tidak menjawab panggilanku," suara tua berkarisma itu terdengar. Matanya memperhatikan Xavier dari atas hingga bawah. Tak biasanya tak menggunakan pakaian tentaranya.
"Maaf, aku sibuk."
"Kau membuat ibumu sangat khawatir. Apalagi dia tahu kau turun langsung dalam misi penyelamatan itu, tak bisakah kau memberinya kabar? Dia benar-benar tak bisa tidur," ujar David Qing.
Xavier membuang napasnya sedikit kasar. "Aku akan meneleponnya nanti."
"Ya, teleponlah dia. Dia selalu merindukanmu." ujar David Qing menepuk pundak anaknya. "Pemilihan Presiden akan dilakukan tahun depan. Aku ingin kau bersiap untuk mengikutinya. Kapan kau akan berhenti dari kemiliteran agar kita bisa memulai pencalonanmu?" ujar David serius menatap anaknya.
"Maaf. Tapi aku tidak punya minat menjadi presiden." Xavier tegas menatap ayahnya.
David mendengar itu mengerutkan dahinya, wajahnya tampak tertarik ketat, emosi. "Bagaimana kau tidak berminat menjadi presiden? kakekmu adalah seorang presiden. Jika aku mampu, aku pasti meneruskannya! Kau harus meneruskan jalan keluarga Qing! Jadi bagaimana bisa kau tidak berminat menjadi presiden?"
"Aku hanya tak berminat," ujar Xavier.
"Kau ini! apa yang kau dapatkan sebagai tentara? bahkan kau tinggal di tempat yang tak lebih besar dari rumah pembantu di tempat kita!" ujar David tak menyangka anaknya bisa sekeras kepala ini. Anaknya memang tak pernah mau melibatkan keluarganya. Dia lebih memilih menjadi seorang tentara dan memulai semuanya dari bawah hingga menjadi letnan jendral termuda yang pernah ada berkat prestasinya sendiri.
"Tapi aku mendapat semuanya dengan jerih payahku sendiri. Aku harap Anda menerima keputusan saya," ujar Xavier sopan. Bagaimanapun itu ayahnya, jika tak sebagai ayahnya, pria di depannya ini adalah seorang perdana menteri.
"Sial! kau benar-benar keras kepala." David Qing mengumpat.
"Jika tidak ada lagi keperluan, saya harus kembali bekerja," ujar Xavier tak peduli ayahnya bertampang kesal melihatnya.
"Jika tidak ada pekerjaan. Aku akan datang," jawab Xavier.
"Davina sudah pulang dari luar negeri. Dia ingin sekali bertemu dengan mu. Izinkan dia untuk masuk ke sini nanti."
"Markas militer bukan tempat untuk bercengkrama. Lagipula saya tidak bisa mengizinkan sembarang orang masuk ke dalamnya jika dia tak punya kepentingan."
David mendengar itu semakin kesal dengan ulah anaknya sendiri. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu.
"Devina itu calon istrimu, bagaimana bisa kau tidak mengizinkan dia masuk ke dalam sini?"
"Aku belum menyetujui pertunangan itu," kata Xavier lagi, tak melihat ke arahnya sama sekali.
David Qing menahan kesalnya. Matanya melihat sebuah pigura foto yang terletak dekat pintu kamar Xavier. Memperlihatkan gambaran wajah seorang gadis dengan wajah khas timur tengah sedang tersenyum lepas.
"Kau masih tidak bisa melupakan wanita ini? dia sudah meninggal empat tahun yang lalu! lagi pula kalaupun dia masih hidup, aku tak akan menyetujui hubungan kalian." David Qing menegaskan hal itu. Xavier melirik tajam pada ayahnya. Otot di rahangnya tampak menegang. Dia tak suka kehidupan pribadinya dicampuri oleh ayahnya.
"Bagaimana bisa kau membawa wanita asing itu ke negara kita dan ingin menikahinya! aku bersyukur dia sudah tewas," ujar David tanpa perasaan.
Xavier menggenggam tangannya dengan erat. Dia menggertakkan giginya kuat. Menatap sosok ayahnya dengan sangat sinis.
"Jangan pernah berani mengatakan apapun tentangnya lagi!" kata Xavier dengan suara gemetar menahan amarahnya. Bagaimana ayahnya mengatakan hal itu.
"Kau harusnya memikirkan masa depanmu! Devina adalah wanita yang paling cocok untukmu. Dia dari keluarga yang baik, berpendidikan sejak kecil dan juga cantik. Apalagi yang kau cari? tentu dia jauh lebih layak dari pada wanita yang bahkan negaranya tak pernah aman dari perang! bagaimana kau bisa mencintai wanita seperti itu!" ujar David Qing yang memang tak pernah sepaham dengan putranya ini.
"Apa Anda sudah selesai!" Xavier mencoba untuk menahan dirinya. "Jika Anda sudah selesai, lebih baik Anda keluar dari tempat saya."
"Kau mengusirku?" tanya David Qing tak percaya. Hanya karena wanita yang sudah meninggal seperti ini Xavier berani mengusirnya.
"Itu hakku, ini adalah kediamanku. Hak ku untuk meminta siapapun keluar dari sini bahkan presiden sekalipun," tegas Xavier. Dia tak ingin lagi mendengar ocehan dari ayahnya yang merendahkan cinta pertamanya.
David Qing menatap Xavier dengan tatapan marah. Tapi dia tak mengeluarkan sepatah kata pun dan langsung pergi meninggalkan Xavier sendiri. Entah sejak kapan, setiap kali mereka bertemu dan berbicara, pasti berakhir pertengkaran.
Xavier masih meremas tangannya sendiri. Otot-otot lehernya juga masih tampak tegang. Dia melirik ke arah foto gadis yang begitu tampak ceria di gambaran wajah itu. Malagha, nama itu tertulis di ujungnya.
Empat tahun yang lalu. Gadis itu dibawa oleh Xavier ke negaranya. Dia beranggapan bahwa di negaranya Malagha akan aman. Tapi dia salah, wanita itu malah meregang nyawa di negaranya. Dia tewas terbunuh ditangan seorang pencuri, tapi Xavier yakin dia bukan pelaku sesungguhnya.