
"Kau membawaku ke mana?" ujar Graciella membuka matanya. Bangun karena merasakan mobil mereka tak bergerak. Xavier melihat Graciella yang jelas masih di bawah pengaruh alkohol.
"Ke tempat ku," ujar Xavier. Penjaga gerbang utama markas militer itu memberikan salam padanya.
"Hem!!!" gumam Graciella. Menyipitkan mata sambil terus melihat ke arah Xavier. Memandangnya lekat-lekat. Xavier yang dipandang terus menerus menjadi risih juga.
"Kau! tampan tapi terlalu dingin!" Graciella menunjuk ke arah Xavier yang membuatnya sedikit kaget. "Apa sudah dua jam? aku ingin pulang! oh! jangan! nanti dia akan memukulku lagi, aku ingin ke tempat Laura." kembali Graciella meracau.
"Tak akan ada yang berani menyakitimu jika di sini," ujar Xavier sambil menutup jendela mobilnya. Mobil mereka mulai masuk ke dalam markas militer itu.
"Benarkah? kalau begitu boleh aku tinggal di sini saja?" Graciella memasang wajah memelasnya. Xavier hanya melirik wanita itu. "Bolehkah berhenti! aku mual!" pekik Graciella yang tampak seperti ingin muntah.
"Hei!" Xavier sedikit khawatir melihat gelagat Graciella, "Kau tidak *** ...."
"Huek!!"
Xavier terdiam. Graciella nyatanya sudah memuntahkan isi perutnya dan sebagian terkena kaki dan sepatu Xavier. Fredy Dan supir yang melihat itu segera membesarkan matanya. Melihat Xavier sudah bertampang ketat. Mereka segera melaju secepat mungkin ke kediaman Xavier.
Begitu mobil berhenti. Fredy langsung mengambil tisu untuk membersihkan celana dan sepatu Xavier.
"Tak perlu," ujar Xavier.
"Kalau begitu, Komandan masuk saja. Saya yang akan mengurus dokter Graciella. Saya akan membawa beliau pulang." Fredy melihat wanita itu sudah kembali tertidur. Fredy menyimpulkan bahwa Xavier pasti kesal Graciella sudah membuat dirinya kotor. Karena sudah mengenal sifat Xavier, pasti dia tak mau lagi berhubungan dengan wanita yang merepotkannya. Apalagi sudah memuntahinya.
"Biar aku saja." Xavier segera berjalan ke sisi pintu tempat Graciella. Fredy melihat itu hanya mengerutkan dahinya. Bagaimana Komandannya bisa begitu berubah dalam beberapa jam saja? Fredy segera membukakan pintu untuk Xavier yang langsung membawa Graciella ke kamar tidurnya.
Xavier perlahan meletakkan tubuh Graciella di ranjangnya yang tampak sederhana. Hanya beralaskan seprai berwarna abu-abu tua.
Xavier menatap wajah Graciella yang nyaman tidur di ranjangnya. Terlihat lelap tak terganggu. Wajahnya tampak teduh sekali. Xavier jadi tak enak untuk mengganggunya. Xavier langsung keluar meninggalkan Graciella.
"Panggilkan pelayan wanita, perintahkan untuk mengganti bajunya."
"Baik komandan," kata Fredy. Dia melihat Xavier menyusun bantal di sofa ruang tengahnya. Fredy tahu di asrama Xavier hanya ada satu kamar tidur. "Komandan, apa Anda ingin tidur di asrama saya saja? saya akan tidur di tempat yang lain," tawar Fredy. Merasa kasihan melihat Xavier tidur di ruang tengah.
"Tak perlu, setelah ini beristirahat lah," kata Xavier acuh. Dia segera mengambil buku tebal miliknya dan mulai membaca.
"Baik, Komandan, Terima kasih," ujar Fredy setelahnya segera keluar dari asrama Xavier.
...****************...
Mata Graciella mengerjap beberapa kali saat dia mulai bangun. Kepalanya masih pusing tapi tidurnya sangat nyenyak bahkan termasuk tidur paling nyenyak yang pernah dia dapatkan. Setelah beberapa saat dia baru sadar, tempat dan suasana kamar ini tak dikenalnya.
Graciella langsung terduduk. Matanya mengedar di sekitar tempat itu. Semua asing baginya. Graciella memegang kepalanya karena bingung dan baru sadar dia hanya menggunakan kaos besar yang sepetinya milik seorang pria. Mata Graciella menangkap baju dan celana jeans miliknya di salah satu tempat duduk yang ada di sana.
Graciella membesarkan matanya! apa yang terjadi semalam? apa dia melakukan kesalahan yang sama lagi? kenapa setiap dia mabuk dia pasti berakhir di tempat tidur asing!
Jantung Graciella terpacu kencang. Apa yang sudah dia lakukan? tempat siapa ini? Graciella segera turun dan menuju tempat yang dia yakini adalah kamar mandi.
Graciella duduk di atas kloset duduk itu. Mencoba mencari tanda-tanda per$etubuhan. Dulu, saat dia tidur dengan pria misterius itu. Dia menemukan bercak darah yang sudah mengering dan rasa pegal juga nyeri di bagian intimnya. Apakah sekarang ada? Graciella tak menemukannya.
Seketika otak Graciella mulai bekerja memunculkan potongan potongan ingatan yang terekam di dalam otaknya. Pesta! lelang! mabuk! pria galak dan ....
Graciella memegang bibirnya. Mengingat apakah benar dia telah mencium Xavier. Aneh, dia lupa semuanya sesaat yang lalu, sekarang dia bahkan ingat bagaimana pautan pria itu.
Saat Graciella terdiam, dia mendapatkan lagi potongan ingatannya. Graciella membesarkan matanya sempurna melihat wajahnya di cermin itu. Benarkah dia muntahi Xavier?
Graciella melihat sekelilingnya. Perlengkapan mandi pria, baju besar berbau maskulin yang khas. Graciella menahan napasnya, seperti dia tahu dimana dia sekarang! tiba-tiba saja merasa panik.
Graciella langsung membuka pintu kamar mandi itu, niatnya adalah segera keluar dari rumah ini. Dia tak boleh berlama-lama di sini. Apa yang akan dikatakan orang kalau dia ketahuan menginap di rumah seorang pria? dan sejujurnya dia tak ingin bertemu dengan Xavier! mumpung sepetinya dia tak ada, lebih baik Graciella pulang sekarang.
Namun, langkah Graciella terhenti seketika melihat sosok yang berdiri tegap lengkap dengan pakaian tentaranya. Menatapnya dengan tajam menunjukkan sisi jantan dan dominan. Graciella langsung ciut dan salah tingkah karenanya.
"Baru bangun?" suara berat itu terdengar tak begitu ramah.
"Ya." Graciella menggigit bibirnya. Haruskan dia minta maaf karena sudah merepotkan Xavier? apalagi kemarin dia bertingkah diluar kontrolnya? bahkan dia sempat memuntahi Xavier. Tapi bagaimana meminta maafnya? apa lebih baik dia pura-pura lupa saja?
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Xavier dengan nada lebih lembut.
"Oh, ya aku baik-baik saja." Graciella tampak salah tingkah bahkan senyumannya tampak garing sekali. "Boleh bertanya, apa yang terjadi semalam sampai aku ada di sini?" Graciella mulai melakukan aksinya pura-pura lupa..
Xavier diam tak langsung menjawab. Sorot matanya tajam menatap Gracilella, membuat Graciella semakin ciut. "Semalam kau menggodaku dan kita tidur bersama." Lugas Xavier mengatakannya.
Mata Graciella membesar dan pipinya memanas. "Kita tidak tidur bersama! mana mungkin! aku kan tak sadarkan diri setelah muntah di mobilmu!" ungkap Graciella sendiri.
Xavier menaikkan satu sudut bibirnya menatap Gracilella. Tatapan itu seperti menghakimi Gracilella yang baru ketahuan berbohong. Graciella menggigit lidahnya sendiri. "Baguslah kau tidak jadi amnesia," sindir Xavier.
"Eh? maaf. Semua yang terjadi semalam diluar keinginan ku karena aku mabuk," ujar Graciella dengan nada rendah. Berusaha menunjukkan rasa bersalahnya.
"Jadi ...." Xavier menatap Graciella dengan lebih tajam. Graciella seolah terperangkap dengan tatapan mata sehitam langit malam. Xavier melangkah tengas ke arah Graciella, membuat Graciella spontan mundur ke belakang. Xavier terus berjalan ke arah Graciella yang bingung harus apa. Apalagi sekarang langkahnya terhenti karena terhalang westafel di kamar mandi itu. Xavier terus merapatkan dirinya pada Graciella yang bertampang ketakutan. "Setelah menggoda dan menciumku. Kau hanya ingin minta maaf dan bertingkah seolah tak berdosa? beraninya kau mengatakan itu semua diluar keinginanmu, Dokter Graciella?"
Suara Xavier itu semakin membuat Graciella gemetar. Matanya itu benar-benar bagaikan lubang hitam di angkasa yang rasanya bisa menyedot semua keberanian Graciella. Graciella bingung, apalagi sekarang jarak mereka begitu dekat. Pria ini! maunya apa?
"Xavier! Xavier!" suara wanita terdengar memanggil Xavier dari luar. Graciella mendengar itu langsung teralihkan.
"Ada yang mencarimu," ujar Graciella dengan senyuman kaku sambil menunjuk kecil ke arah luar.
Xavier memainkan otot rahangnya tapi tetap melihat ke arah Graciella yang menyengir kuda tanda dia salah tingkah. Panggilan wanita itu terdengar lagi.
"Kau selamat kali ini! lain kali, aku tak akan memaafkanmu jika kau mempermainkan diriku lagi!" terdengar seperti sebuah ancaman buat Graciella. Tapi Graciella saat itu tak ambil pusing. Dia akhirnya bernapas lega saat Xavier sudah mulai menjauhinya.
"Jangan keluar sebelum aku mengizinkannya," perintah Xavier. Graciella cepat mengangguk kuat.
Xavier langsung keluar dari kamar itu. Graciella yang sedikit penasaran segera berjalan cepat ke arah pintu keluar kamar, menemukan celah karena pintunya tak tertutup sempurna.
Mata Graciella membesar melihat Xavier yang sedang dipeluk oleh seorang wanita dengan sangat mesra.
"Devina ...."