
Graciella duduk di atas ranjang kamar hotelnya. Dia berbagi kamar hotel itu dengan Helena. Graciella sedang sibuk menatap layar laptopnya seraya menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
Helena yang baru selesai mandi mengamati apa yang dilakukan Graciella. Sedari tadi, sesampainya di hotel. Graciella sama sekali tidak beristirahat. Hanya mandi lalu tenggelam dengan hal-hal yang dia lakukan.
“Kak, kau tidak ingin mandi sore?” tegur Helena yang bahkan sudah tidur siang dan mandi sore ini. Udara di sana sangat membuat gerah walaupun kamar mereka selalu dingin oleh pendingin ruangan.
Graciella yang sedang mengetik langsung terdiam sejenak. Dia lalu melirik ke arah Helena yang tampak sudah segar. “Apa sudah sore?” tanya Graciella.
“Ya, ini sudah sore kak, kakak juga belum makan kan? Bagaimana jika kakak mandi dulu lalu kita pergi mencari makan. Tuan Daren juga mengatakan untuk mengingatkan kakak jangan terlalu fokus bekerja,” ujar Helena sambil duduk di ranjangnya.
Graciella hanya diam saja dengan wajahnya yang masih saja serius. Dia memang orang yang tidak beristirahat dengan tenang atau menikmati keadaan jika masih ada yang menyangkut di kepalanya. Kasus ini sebenarnya cukup mudah bagi Graciella. Tapi hingga sekarang, dia tidak menemukan motif yang kuat agar pelaku yang dia curigai bisa membunuh lima orang dalam satu anggota keluarga. Graciella menelaah semua data yang dikirim oleh Cindy. Tapi dari tadi pula dia menemukan jalan buntu.
Tiba-tiba saja ponsel Graciella yang memang sedang dia isi daya baterainya di meja nakas samping tempat tidurnya bergetar. Graciella langsung melihat ke arah ponsel yang layarnya menyala itu. Dia segera ingin menggapainya, tapi karena di pangkuannya sekarang ada laptop dan juga banyak catatan. Dia sedikit kesulitan.
Melihat Graciella kesulitan. Helena berinisiatif untuk membantu Graciella. “Ehm, dari siapa ya?” tanya Helena.
“Dari siapa?” tanya Graciella dengan sangat penasaran. Walaupun otaknya sedang begitu penuh dengan spekulasi-spekulasi. Tapi tak dipungkiri. Ketika Graciella lengah sedikit dari apa yang sedang dia pikirkan. Dia akan langsung teringat tentang Xavier. Tetap saja dia menunggu pria itu untuk menghubunginya. Padahal seharusnya dia tidak perlu menunggu pria itu bukan?
“Ehm, Jenderal Stevan?” ujar Helena yang langsung membesarkan matanya melihat ke arah Graciella.
“Oh, biarkan saja. Aku akan mandi dulu,” ujar Graciella segera membereskan barang-barangnya. Bukan dia tidak ingin mengangkat panggilan dari Stevan. Tapi Graciella memang ingin mandi dahulu. Berbicara dengan Stevan bisa memakan waktu yang cukup lama.
“Eh, jadi biarkan saja ini?” ujar Helena yang perlahan meletakkan kembali ponselnya.
“Ya, nanti juga dia akan meneleponku lagi,” ujar Graciella santai sambil masuk ke dalam kamar mandi hotel itu.
Helena masih membesarkan matanya. Dia tidak percaya Graciella punya hubungan dengan Jenderal Stevan? Helena kenal dengan pria yang cukup galak jika berhubungan dengan penyelidikan. Bagaimana Graciella punya hubungan dengannya? Apa jangan-jangan pria yang tadi dikatakan oleh Graciella adalah Jenderal Stevan. Pantas saja dia tidak gentar melihat polisi sekelas Brigjen Howard. Di belakangnya ada Jenderal Stevan.
Pintu kamar hotel itu segera terketuk. Helena langsung bergegas membuka pintu itu. Sosok Ferdinand segera muncul di depan pintu itu. Dia langsung tersenyum, tapi begitu melihat yang membuka pintu adalah Helena. Senyuman itu cepat memudar.
“Di mana Nona Graciella?” tanya Ferdinand.
“Sedang mandi. Kau ingin mendekatinya ya?” tanya Helena segera tanpa basa basi.
“Kau ini berpikir apa sih?” tanya Ferdinand yang bingung. Baru saja datang sudah disambut wajah ketat dari Helena.
“Jenderal Stevan? Jenderal Stevan yang itu?” kata Ferdinand tidak percaya.
“Ya, yang mana lagi, berapa orang Jenderal yang bernama Stevan yang kau kenal?” tanya Helena lagi.
Ferdinand langsung terdiam. Dia juga kenal dengan Jenderal itu. Walaupun banyak bercanda tapi dia juga terkadang suka sedikit keras kepada mereka terutama jika saat melakukan penyelidikan.
“Masuklah, cepat,” ujar Helena lagi.
*****
Graciella duduk dengan serius di salah satu sudut restoran yang ada di hotel itu. Ferdinand dan juga Helena hanya melihat Graciella dan tak menyangka Graciella ternyata adalah orang yang begitu gila bekerja. Pada saat makan malam seperti ini saja dia masih membaca profil orang-orang yang dia curigai.
“Ini adalah Tuan Ming, dia adalah keponakan jauh dari Tuan Sato. Ada beberapa saksi seminggu sebelum ditemukan meninggal. Tuan Sato memarahi Tuan Ming habis-habisan di depan semua pegawai karena masalah penggelapan uang. Tuan Sato bahkan mengatakan bahwa keledai saja akan tahu balas budi jika sudah diberi makanan. Sepertinya itu cukup kuat untuk sebuah motif. Belum lagi dia juga memiliki kunci rumah itu,” ujar Fedinand.
“Berat badannya terakhir adalah 98 kg, dan tingginya adalah 180 cm. Dengan berat dan tinggi badan seperti itu, dia tidak mungkin muat menggunakan sepatu berukuran 40,” ujar Helena yang melihat profil dari Tuan Ming.
“Jangan berpatok dengan ukuran sepatu 40 itu. Bisa saja orangnya sengaja menggunakan sepatu yang lebih kecil agar mengelabui para penyidik. Walau tidak tertutup kemungkinan dia memang adalah seorang wanita atau pria bertubuh kecil. Tapi bisa saja itu juga dia gunakan untuk mengecoh kita. Mencari seseorang yang tidak bisa kita temukan.”
“Benar juga. Hah, aku masih bingung siapa yang kira-kira ingin membunuh keluarga yang begitu hangat ini? Tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Apa jangan-jangan isu tentang wanita itu benar adanya? Wanita itu tidak senang karena Tuan Sato lebih memilih keluarganya dan sangat membenci keluarga ini, lalu ingin menghabisinya semua agar mereka tidak bahagia di atas penderitaannya,” ujar Helena menggebu-gebu.
“Kau sepertinya kebanyakan nonton sinetron,” ujar Ferdinand melirik aneh ke arah Helena.
“Bisa saja,” ujar Graciella.
“Tuh! Kak Graciella saja mengatakan bisa saja,” ujar Helena lagi. Ferdinand jadi menyipitkan matanya menatap Helena.
“Tapi itu terlalu dini menyimpulkannya. Bahkan hingga sekarang siapa yang mengirimkan surat itu tidak ada yang tahu. Apalagi semua ditulis menggunakan komputer. Satu lagi, siapa yang bisa memastikan itu adalah seorang wanita?” ujar Graciella dengan analisanya.
“Jadi menurut kakak, bisa saja Tuan Sato berhubungan dengan pria? Wow! Pufh! Mind blowing sekali!” ujar Helena yang lagi-lagi berlebihan.
“Aku tidak tahu pasti bagaimana. Bisa saja itu terjadi karena kita tidak bisa melihat siapa yang mengirimkan pesan itu. Tak ada sedikit pun tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu seorang wanita selain kata-kata merayunya,” ujar Graciella.
“Hah, tapi yang pasti, aku kasihan melihat Yuki. Bagaimana rasanya melihat ayah dan ibu kandungmu, juga adik-adikmu yang menggemaskan pergi begitu saja. Aku dengar dia sangat tertekan hingga tak ingin keluar kamar.” Ferdinand menunjukkan foto Yuki yang berumur lebih kecil.