
Graciella melihat wajahnya yang tampak tersipu merah. Gulungan handuk dan juga jas mandi tebal berwarna putih menggantung di tubuhnya. Xavier sedang mandi dan Graciella untuk membuka koper yang berisi namanya.
Graciella tidak tahu apa saja yang ada di dalam sana. Dia tidak pernah menyiapkan koper ini. Dia lalu membuka koper itu dan mengerutkan dahinya. Beberapa pakaian yang ada di sana memanglah pakaiannya. Tapi juga ada barang-barang yang sama sekali bukan punyanya. Di lihat dari warnanya sepertinya adalah pakaian baru.
Graciella mengambil sebuah pakaian yang sedikit mencolok warnanya. Dia tidak ingat dia punya pakaian seperti itu. Warnanya hijau stabilo, saat dia mengangkatnya Graciella langsung membesarkan matanya. Itu adalah sebuah bikini two piece bikini yang tampak sangat seksi. Bukan hanya satu, ada tiga dengan beragam model dan juga warna. Graciella langsung memasukkannya kembali. Dia tidak pernah menggunakan bikini, bahkan membayangkannya saja sekarang sudah sangat malu.
Graciella lalu melihat sebuah tali berwarna hitam dan merah. Graciella kembali mengerutkan dahinya dan segera mengangkat pakain tipis yang hanya sepeti kain tile. Graciella kembali membesarkan matanya. Itu adalah gaun malam yang sangat minim. Bagaimana ini bisa ada di dalam kopernya?
Suara pintu kamar mandi ruangan itu terdengar terbuka. Graciella dengan panik langsung memasukkan pakian tidur yang lagi-lagi tak hanya satu. Ada banyak di dalam kopernya. Graciella lalu melirik Xavier yang baru keluar. Dia menggosok rambutnya dengan handuk putih tebal. Bagian tubuh atasnya tampak polos dengan butiran air yang masih mengalir di antara otot-ototnya yang berbentuk. Dia hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggulnya.
“Ehm, Xavier?”
Xavier langsung melihat ke arah Graciella yang sepertinya ingin berbicara dengannya. “Hmm? Ada apa?”
“Kalau aku boleh tahu, siapa yang sudah mengemasi koperku?” tanya Grac★iella mengerutkan dahinya melihat ke arah Xavier yang berjalan mendekatinya. Wangi mint dari sabun yang dia gunakan tercium mulai menusuk hidungnya.
“Mungkin Serin atau Ibu, dia sedikit bersemangat ketika aku memintanya membantu mengemas barang-barangmu,” ujar Xavier melihat Graciella yang akhirnya mengangguk mengerti. Ternyata begitu, tentu saja kalau dari Monica dia percaya. Monica pasti menyelipkan barang-barang seperti itu di kopernya.
“Memangnya kenapa?” tanya Xavier lagi.
“Eh? Ada pakaian-pakaian yang bukan milikku,” ujar Graciella dengan cengiran kuda. Membuat Xavier semakin penasaran.
“Pakaian bagaimana?” tanya Xavier melihat isi koper Graciella.
Graciella dengan ragu mengambil pakaian tidur yang terlihat seksi itu. Dia lalu membentangkannya dan menunjukkannya pada Xavier yang awalnya mengerutkan dahi lalu kemudian sedikit tersenyum melihatnya.
“Pakailah, aku ingin melihatnya,” kata Xavier menggoda Graciella.
“Ha? Menggunakan ini?” tanya Graciella. Dia tahu bahwa pakaian ini pastinya akan sangat mengekspos tubuhnya. Dia hanya takut saat menggunakannya malah terlihat tidak cocok.
“Ya.” Angguk Xavier dengan entengnya dan mengambil baju yang sudah disiapkan oleh Graciella. Xavier sudah mengatakan bahwa setelah mandi mereka akan pergi untuk makan malam. Karena itu dia sudah menyiapkan pakaian semi formal untuk Xavier.
Graciella segera meletakkan baju itu. Dia mengambil sebuah gaun yang ada di sana. Memang bukan gaun yang pernah dia miliki, tapi dia merasa gaun itu cukup cantik dipakai untuk makan malam mereka.
“Ehm, aku ingin ganti pakaian,” ujar Graciella lagi melihat Xavier yang sedang menggunakan celana panjang chinos berwarna abu tua pilihan dari Graciella.
“Ya? Lalu?” tanya Xavier yang bingung. Kalau ingin mengganti baju kenapa harus melapor pada Xavier juga.
“Eh, aku lakukan di kamar mandi saja,” ujar Graciella. Dia hanya belum terbiasa menggunakan baju di depan Xavier. Rasanya aneh.
“Ya, ehm … baiklah," ujar Graciella yang memang merasa harus membiasakan hal ini. Tak mungkin selamanya dia terus mengganti baju di dalam kamar mandi karena tak biasa dilihat suaminya sendiri.
Graciella mulai membuka jas mandinya. Buktinya Xavier sendiri yang menjadi salah fokus dengan apa yang terjadi di dekatnya. Dia memang sudah pernah melihat seluruh bentuk tubuh Graciella tapi tetap saja hal itu menjadi daya tarik, bagai magnet untuknya.
Xavier mendekati istrinya yang baru saja selesai memakai pakaian dalamnya. Mulai mengoleskan lotion tubuh dengan wangi manis yang selalu melekat di kulitnya. Graciella tersenyum melihat pantulan suaminya di cermin yang masih bertelanjang dada di belakangnya. Kilatan nafsu itu kembali terlihat di matanya.
Xavier tiba-tiba saja mencium tengkuk Graciella yang baginya paling menggoda. Putih dengan helaian rambut kecil yang sedikit mencuat dari handuknya. Hal itu tentu membuat pundak Graciella langsung terangkat dan dia merinding karenannya.
"Sayang, jangan dulu," pinta Graciella yang tahu jika tidak dihentikan mereka pasti akan kembali berakhir di ranjang.
"Kenapa?" Polos Xavier bertanya.
"Sudah waktunya makan malam," ujar Graciella berbalik badan menatap suaminya. Dia mengambil gaun yang sudah siap untuk dia gunakan.
Xavier tak menjawab, dia hanya melihat Graciella yang mulai menggunakan gaun di depannya. Dia ingin mengatakan bahwa dia bisa melewatkan makan malam ini. Tapi dia ingat bahwa karena aktivitas mereka tadi siang, mereka melewatkan makan siang. Dan jika ini juga terlewat, dia takut Graciella malah akan sakit karenannya.
"Mari aku bantu," suara itu terdengar lebih berat. Dia inginnya melepas gaun ini dari tubuh istrinya tapi sekarang dia membantu memasangkannya resletingnya.
"Baiklah, aku ingin mengeringkan rambut dulu di kamar mandi," ujar Graciella yang langsung masuk ke kamar mandi. Bukan tak peka akan keadaan suaminya. Tapi jika dia melayaninya, yang ada mereka benar-benar tak makan lagi.
Setelah mengeringkan rambut dan memles sedikit wajahnya dengan riasan. Graciella langsung keluar dari kamar mandi. Dia menemukan suaminya sudah tampak begitu tampan dengan kemeja biru muda dengan celana cinnos abu-abu itu. Xavier memang selalu cocok dengan pakaian berwarna cerah.
Xavier melihat ke arah istrinya yang sudah terlihat anggun tapi tidak berlebihan menggunakan gaun berwarna silver dengan leher berbentuk V dan juga gaun berpotongan garis A. Istrinya memang sangat cantik.
“Sudah siap?” tanya Xavier.
“Apakah ini terlalu berlebihan untuk makan malam?” tanya Graciella.
“Tidak. Kau sudah sangat cantik,” ujar Xavier mendekati istrinya. “Ayo, kita harus ke sana sekarang.”
Graciella mengangguk pelan. Dia segera mengikuti kemana suaminya membawanya. Seperti saat mereka datang tadi. Mereka melewati jalan batu setapak yang berada di sisi tebing beratas lautan. Suara desir ombak memecah karang di bawah mereka menjadi lagu yang mengiring setiap langkah mereka. Dinginnya hembusan angin laut malam tak terasa karena hangat dari genggaman tangan mereka yang saling menaut berdua.
...****************...
Maaf aku lagi sakit kak. Jadi aku upnya semampu ku aja. Lagi demam, udah makan obat, kalo bisa ya aku tambah lagi ya kak. tolong jangan tanya dokter kok bisa sakit? wkwkwk, bisa atuh yaa...