Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 9. Aku yakin kalian cocok!


"Tiga tahun ini. Bukannya sudah cukup untuk menebus dosaku padamu? aku kira kita sama-sama sudah dewasa. Aku janji tak meminta seperser pun dari hartamu. Jika kau tak punya waktu, beri aku sertifikat pernikahan kita, akan ku urus semuanya sendiri," pinta Graciella mencoba, itu lah halangannya selama ini. Adrean memegang sertifikat pernikahan mereka hingga Graciella tak bisa melayangkan tuntutan perceraian.


"Dan membiarkanmu pergi setelah kau melakukan semua ini padaku?" tanya Adrean dengan penuh emosi. Dia benci jika Graciella meminta cerai padanya.


"Apakah tiga tahun belum cukup menebus kesalahanku?" mata Graciella berkaca-kaca mengingat bagaimana kehidupannya tiga tahun ini dalam neraka.


"Belum! kau pikir sakit hatiku bisa ditebus hanya dalam waktu tiga tahun! jangan harap aku melepaskan mu! kau wanita yang tak punya malu! menjijikkan!" Adrean memandang Graciella dengan tatapan jijiknya.


Graciella mencoba menghirup udara lebih banyak lagi. Berharap dia masih menahan dirinya, tapi perkataan pedas dan juga tatapan merendahkan itu tak lagi bisa dia tahan. Akhirnya dia takluk juga dengan amarahnya.


"Kenapa kau harus begitu! aku hanya sekali melakukan kesalahan dan kau ingin menghukumku seumur hidup! bagaimana denganmu! sudah berapa wanita yang kau tiduri! apa kau tak tahu sakitnya! bukannya kau lebih menjijikkan dariku!" histeris Graciella mengatakannya. Dia tak lagi bisa melihat bagaimana ekspresi Adrean karena sudah tertutup oleh air mata.


Plakkk!!!


Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Graciella. Awalnya terasa mati rasa namun berubah panas dan nyeri. Pipi Graciella memerah dan ujung bibirnya terasa perih. Anyir darah menyeruak di mulut Graciella. Dia hanya memandang Adrean dengan ujung matanya.


"Adrean? ada apa?" suara halus dan manja terdengar. Mata Graciella bergulir menatap seorang gadis belia yang berdiri menatapnya. Graciella menekan rahangnya. Bukan sakit di pipinya yang sekarang dia pikirkan, tapi harga dirinya yang terinjak-injak.


"Tunggu saja di luar, aku akan segera datang," lembut suara Adrean mengatakannya. Hal itu membuat hati Graciella semakin hancur. Bukan, bukan karena dia berharap. Tapi! apa bedanya dia dan pelacur itu? kenapa hanya karena kesalahannya sekali saja, Adrean memperlakukannya lebih rendah dari wanita yang jelas tidur dengan suami orang.


Wanita itu terlihat bingung tapi dia hanya mengikuti apa perkataan Adrean. Begitu wanita itu berpaling, Adrean langsung mencengkram leher Graciella. Dia mencengkram nya begitu erat hingga Graciella tercekat. Bahkan udara tak bisa melewati tenggorokannya. Awalnya Graciella berontak tapi pelan-pelan dia mulai pasrah. Jika memang ini waktu dia sudah menerimanya.


Adrean melihat Graciella yang tak berontak pasrah menjadi terdiam. Dia melepaskan cengkramannya membuat Graciella langsung jatuh ke lantai. Graciella tersengal mencari udara. Kaget ketika paru-parunya kembali bisa bernapas.


"Kau ingat ini setiap kali kau ingin bercerai denganku! tak akan ku biarkan kau pergi dariku! selamanya kau terikat padaku! bahkan Kematian mu pun tak akan ku izinkan begitu mudah! Graciella! hidup dan matimu ada di tanganku! camkan itu!" ujar Adrean dengan mata memerah menujuk batang hidung Graciella yang tergeletak tak berdaya. Lemas karena hampir kehilangan semua oksigen dalam tubuhnya.


Graciella melihat langkah Adrean yang keluar dari kamarnya. Air matanya mengalir begitu saja. Kenapa? bahkan meminta mati saja begitu susahnya?


---***---


Laura berjalan menuju parkiran rumah sakit. Dia diminta oleh Graciella menemui dirinya di sana. Laura langsung mengenali mobil Graciella yang sudah terparkir sempurna. Tanpa berpikir panjang langsung membuka pintunya dan masuk.


"Gracie?!" tanya Laura kaget melihat sudut bibir Graciella yang membiru, matanya pun tampak sembab, "Apa yang dilakukan Adrean padamu?"


Graciella hanya menatap ke arah Laura. "Malam ini aku boleh menginap saja di tempatmu?" Graciella memberikan senyuman tipis. Laura mengangguk pelan. Pasti pria pecundang itu sudah menyiksa Graciella lagi.


"Gracie! kenapa sih kau tidak lepas saja dengan pria itu? dia itu tak ada apa-apanya! ya, kecuali tampan dan punya kedudukan tinggi! apa kau takut tanpa dia kau tidak bisa bekerja sebagai dokter lagi?" tanya Laura.


"Inilah akibatnya jika aku meminta berpisah dengannya. Laura, aku rasa lebih baik membatalkan makan siang ini. Aku sedang tidak ingin pergi ke mana-mana," ujar Graciella lemah.


"Itu dia! kalau sedang seperti ini! lebih baik kau pergi makan siang dengan siapa itu! ya, siapapun namanya. Kalau kau mendekam saja di kamar, kau pasti akan menangis lagi! percayalah!" kata Laura lagi.


"Tapi, kau yakin dengan penampilanku seperti ini?" tanya Gracilella.


"Tenang saja! kau di tangan yang tepat! ayo! aku akan menutupinya dengan sempurna!" ujar Laura segera turun dari mobil Graciella. Graciella awalnya ragu, tapi karena dia punya maksud tinggal di asrama rumah sakit bersama dengan Laura. Mau tak mau dia pasrah saja.


---***---


Fredy menjemput mereka tepat pukul sebelas dan membawa mereka langsung ke sebuah restoran mewah bergaya eropa. Sebuah restoran fine dining yang terkenal. Laura sampai tak menyangka bahwa mereka akan dijamu di sini.


Fredy mengarahkan mereka ke sebuah ruangan pribadi. Mata Laura berbinar ketika melihat sosok yang duduk menunggu mereka. Dia kira Letnan Jendral yang akan mereka temui adalah pria yang jauh lebih tua dari mereka. Tak menyangka pria itu masih muda. Berwajah tegas dengan kesempurnaan terpahat di wajahnya yang terkesan dingin tapi sorot matanya malah melelehkan hati wanita mana pun.


Graciella punya penilaian lain. Baginya pria itu tampak sombong. Walaupun harus diakuinya, Xavier yang menggunakan jas formal terlihat lebih menarik dari pada menggunakan seragam tentaranya.


"Dokter Graciella, silakan duduk," ujar Fredy yang menjamu mereka. Laura duduk di sampingnya.


"Terima kasih," ujar Graciella memberikan sedikit senyumannya.


Xavier memandang Graciella. Mengamati senyumnya yang kaku.


Makanan mereka segera keluar setelah mereka selesai memesan. Laura mengerutkan dahinya. Makan siang ini tak sesuai dengan pemikirannya. Pria ini bahkan belum mengucapkan satu patah kata pun. Mereka makan dengan sangat formal dan kaku. Kalau begini tentu saja tak seru, pikir Laura.


"Tuan, boleh aku bertanya? Bagaimana Anda bisa bertemu dengan Gracie?" tanya Laura memberanikan berbicara setelah makan siang mereka selesai. Kalau tidak, hanya sunyi senyap yang terasa.


"Dokter Graciella membantu misiku semalam," ujar Xavier akhirnya buka suara.


"Rahasia. Kami tidak bisa membicarakannya dengan pihak luar. Saya harap Dokter Graciella juga bisa merahasiakannya." Xavier melirik ke arah Graciella hanya diam saja. Tak bisa banyak memakan steak T bone yang ada di depannya karena setiap mengunyah bibirnya terasa sakit. Untung saja Laura bisa menyamarkan lukanya.


"Tenang saja, aku bukan orang yang sembarangan berbicara," ujar Graciella.


"Baguslah kalau begitu," ujar Xavier terkesan datar.


Laura yang ada di antara mereka entah kenapa menjadi geram. Pembicaraan seperti apa ini?


"Aku berterima kasih untuk niat baik Anda merekomendasikan saya menjadi kepala IGD. Tapi, saya orang yang suka mengikuti peraturan, jadi maaf jika saya menolak kenaikan jabatan itu. Lagipula, Anda tak perlu membantu saya lagi," ujar Graciella memandang tegas ke arah Xavier. Fredy yang juga ada di dalam ruangan itu hanya melirik Graciella. Wanita yang punya nyali, pikirnya.


"Kami hanya berterima kasih. Jika Anda menolaknya, kami akan mengerti," ujar Xavier dengan formalnya.


"Aku juga berterima kasih untuk makan siang ini tapi lebih baik jangan menghubungi saya lagi. Di sana saya juga hanya menjalankan sumpah saya sebagai dokter untuk menyelamatkan semua nyawa, jadi jangan terlalu sungkan," ujar Graciella lagi menegaskan bahwa dia tidak ingin lagi bertemu dengan pria ini.


Xavier menegakkan tubuhnya dan memandang Graciella dengan matanya yang tajam. Melihat Xavier dan aura yang di timbulkannya membuat Graciella sedikit ciut, apakah dia terlalu kasar mengatakan hal itu.


"Apa yang membuat Anda berpikir Saya akan menghubungi Anda lagi?" tanya Xavier.


Laura membesarkan matanya. Dia merasa pertanyaan Xavier itu sangat telak pada Graciella. Benar saja, Graciella jadi bungkam karenanya. Ah! kenapa kesannya Graciella malah seperti ke ge-eran?


"Ya, baiklah. Ya, itu bagus. Ehm? kalau begitu saya undur diri dulu, sekali lagi terima kasih untuk makan siangnya." Entah kenapa Graciella malah jadi salah tingkah dengan pertanyaan Xavier tadi.


"Silakan." Xavier dengan entengnya mempersilahkan.


Graciella memandang Laura. Jujur dia bingung harus bagaimana, pria ini terlalu kaku. Graciella langsung berdiri dan memberikan sedikit penghormatan lalu segera berjalan keluar diikuti oleh Laura yang juga bingung. Kenapa malah seperti ini?


"Ah! kenapa makan siangnya seperti itu sih?" kata Laura yang akhirnya bisa berbicara. Di dalam tadi suasananya sangat seperti penuh tekanan.


"Memangnya kau ingin makan siang yang bagaimana? kan sudah aku bilang lebih baik tidak makan siang dengannya, kau yang memaksa," kata Graciella lagi.


"Ya, aku kira mana tahu bisa menambah kenalan. Ah! pria itu kaku sekali!" entah kenapa malah Laura yang kesal. "Tapi dia sepertinya orang yang baik. Dia cocok denganmu."


"Cocok bagaimana? pria seperti itu siapa yang bisa tertarik?" ujar Graciella yang hampir mendekati mobilnya.


"Eh! Gracie!" kata Laura tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Graciella berhenti melihat Laura meringis.


"Aku sakit perut, bisa menungguku sebentar?"


"Kau ini! baru makan siang di restoran seperti ini saja langsung sakit perut. Cepatlah! aku tunggu sepuluh menit!"


"Iya, iya, tunggu ya!" kata Laura melenggang pergi meninggalkan Graciella.


Laura langsung berbelok. Sebenarnya itu hanya alasannya, tadi saat berbicara dengan Graciella. Dia melihat Xavier dan Fredy berjalan di sisi yang lain. Entah kenapa dia berpikir untuk kembali mendekati pria itu, dia punya sebuah rencana.


"Hei! Tuan!" Laura menyapa Xavier yang sudah masuk ke dalam mobilnya, mengetuk jendela mobil. Tak lama Xavier akhirnya membuka jendela mobilnya.


"Ada apa?" tanya Xavier.


"Nanti malam ada pesta perkumpulan para dokter. Aku akan membawa Graciella ke sana. Jika kau ingin, kau boleh datang," kata Laura memberikan secarik kertas undangan pada Xavier.


Xavier mengerutkan dahinya tapi dia segera menerima kertas itu.


"Datang ya! Graciella memang wanita yang sangat sulit di dekati. Ehm, kau tidak perlu khawatir jika dia mengatakan dia sudah memiliki suami. Asal kau tahu! suaminya itu pria br*ngs*k! tadi siang saja dia melukai Graciella. Graciella itu hanya kesepian dan terlalu terluka hingga tidak bisa cepat menerima seseorang. Aku minta kau membantunya," jelas Laura pada Xavier yang hanya mendengarkan dengan wajah datar dan dinginnya.


Tak mendapatkan respon apapun membuat Laura jadi bingung sendiri, "Baiklah, sekali lagi, jika kau mau datanglah. Aku harus cepat kembali! aku yakin kalian cocok!" ujar Laura kembali mengutarakan pendapatnya. Tak tahu entah kenapa yakin akan hal itu. Laura tak menunggu jawaban Xavier dan langsung saja pergi.


"Jalan," perintah Xavier memerintahkan supirnya untuk pergi dari sana.


Xavier melirik pada sosok Graciella yang dia lihat sedang menunggu di parkiran. Dia lalu melihat ke kartu undangan yang diberikan Laura padanya. Memutarnya sejenak dengan wajah yang tampak berpikir.


Xavier lalu membuka sedikit jendela mobilnya lalu dengan entengnya membuang kertas yang diberikan oleh Laura yang terbang dan tergeletak di pinggir jalanan.